Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya

Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya
Pesan Terakhir


__ADS_3

Daffa yang mendapatkan pesan sekaligus bukti berupa rekaman dari kamera dashboard mobil Emily, langsung bergerak untuk meringkus Ronald, tanpa memedulikan waktu yang masih sangat gelap. Fabian-lah yang memberikan bukti sekaligus memberitahu di mana Ronald berada pada sang penyidik. Hingga akhirnya, Ronald ditemukan di dalam mobilnya dalam keadaan tak sadar diri dengan aroma minuman keras yang begitu pekat, di lokasi tempat Emily terjun bebas ke sungai, di jam dua lebih dua puluh menit dini hari tadi. Bahkan penangkapan atas diri Ronald sudah menjadi berita hangat sejak tadi pagi.


Kenyataan itu yang akhirnya menutup rencana Chelsea alias Emily. Reynof dan Ruben telah menyamarkan situasi Ronald yang telah Chelsea siksa, dengan tuduhan mabuk berat hingga tak sadar mendatangi lokasi kejadian di mana Chelsea alias Emily diterjunkan ke dalam sungai. Suami dan sepupu yang telah mengkhianati sekaligus membunuhnya secara kejam, yang bahkan juga sampai berani menipu publik itu, sudah diringkus oleh pihak berwajib. Dan nantinya dari keterangan kedua pelaku tersebut, Chelsea yakin orang-orang yang terlibat di dalam penyamaran kematiannya akan segera diketahui. Mereka semua memang pantas dihukum!


Dan kini, Chelsea tengah berada di sebuah rutan. Tempat di mana Hery Padiman yang juga telah ia jebloskan ke penjara atas tuntutan kekerasan dalam rumah tangga ditahan. Ada sesuatu yang memang harus Chelsea lakukan, sebelum dirinya meninggalkan segalanya. Di saat ini pun ia sudah kembali bertatap muka dengan ayah barunya yang justru jauh berbeda dari Bowo Rukmana, baik dari segi sifat, penampilan, maupun kekayaan.


“Sialan kau! Berani-beraninya kau muncul setelah menjebloskan ayahmu sendiri ke penjara! Kau benar-benar anak durhaka!” omel Hery.


Chelsea menghela napas lalu berkata, “Chelsea kan bukan anakmu lagi, Paman! Kau sudah menjual Chelsea. Dan itu artinya Chelsea bukan milikmu lagi.”


“Hei, Chelsea. Kalau tak ada aku, memangnya ada kau di dunia ini? Harusnya kau bersyukur, berkat ayahmu ini kau lahir dan hidup! Bahkan sekarang kau malah menjadi kesayangan pria gila itu, 'kan? Sok-sokan menolak, bahkan sampai mencoba bunuh diri, tapi pada akhirnya kau merelakan dirimu menjadi mainannya. Cih, munaffik sekali kau, Nak!”


”Chelsea tidak pernah minta untuk dilahirkan,” ucap Chelsea lalu tersenyum kecut. ”Apalagi lahir karena ayah yang buruk sepertimu, Paman!”


Hery langsung menggebrak kaca pembatas dan meludah. “Lancang sekali! Ingat, Nak, anak yang durhaka itu akan mendapatkan kesengsaraan. Apalagi sebagai anak kau justru mengurung ayah kandungmu sendiri di bui! Ingat, Chelsea, hidupmu tidak akan tenang. Lihat saja. Kau bahkan tidak akan pernah bahagia.”


”Lebih baik Paman memikirkan nasib Paman sendiri, daripada sok mau ceramah, apalagi begitu lancangnya memberi Chelsea gelar sebagai anak durhaka. Karena nyatanya aku bukan anakmu, Paman. Jadi kata durhaka tentu tak pantas kau berikan padaku yang sekarang hanyalah orang lain bagiku, Paman.” Chelsea tertawa meremehkan. “Kau pun sudah tua sekarang, ancaman sepuluh tahun atas kekerasan dalam rumah tangga yang kau lakukan, sampai membuat Ibu sakit berat, sebenarnya masih terlalu ringan. Tapi, Paman, mengingat usiamu yang sudah uzur, bukankah bisa saja kau mati sebelum mencapai sepuluh tahun hidup di penjara?”


”Sungguh durhaka kau, Chelsea!” Hery sampai bangkit dari duduknya. Geram dan kesal memang sangat ia rasakan. Padahal ia sudah tidak mengganggu istri dan anaknya. Namun ia malah dijebloskan ke penjara.


Chelsea tersenyum. “Tapi tenang saja, Paman. Aku akan membantumu keluar sebelum satu tahun kau hidup di tempat ini. Tapi, sebelum itu, aku ingin kau menandatangani surat persetujuan bercerai dari Ibu. Dan ....”


“Dan?” Hery berangsur duduk kembali. Penawaran Chelsea cukup membuatnya lebih tenang dari segala kemarahan yang telah mengungkung dirinya sejak tadi. “Apa yang kau inginkan?!”


”Apa kau bersedia bercerai dengan Ibu? Jika bersedia, aku akan mengirimkan suratnya secepatnya.”


”Itu bukan hal sulit. Tapi apa yang kau inginkan selain itu, Chelsea?”


Chelsea menghela napas lalu tersenyum lebih manis. ”Ronald. Mantan suami Emily Panorama Rukmana. Kau pasti sudah tahu bagaimana wajah pria itu, 'kan, Paman? Pria itu sudah ditangkap dan akan ditahan di tempat ini sembari menunggu waktu eksekusi untuk hukuman matinya. Yah, hukuman mati memang belum ditetapkan, tapi aku yakin dia akan dihukum mati. Bisakah kau ....?”

__ADS_1


Tanpa suara, Chelsea berkata dengan gerak bibirnya, “Me-nyik-sa-nya?”


Hery yang bisa membaca ucapan Chelsea lantas menelan saliva. Ia sungguh bingung, mengapa putri semata wayangnya itu justru menginginkan dirinya menyiksa sosok Ronald. Hery ingin bertanya, tetapi ia merasa enggan. Apalagi ada penjaga yang ada di belakangnya. Yang penting saat ini adalah dirinya bisa cepat bebas dari hukuman. Bodoh amat dengan alasan dari keinginan Chelsea yang aneh tersebut.


”Ya, tapi berjanjilah kau akan membebaskanku.” Suara Hery terdengar lebih lembut.


Chelsea tersenyum lebar. “Oke.”


Setelah kesepakatan terjadi, Chelsea memutuskan untuk pergi. Sekarang, pembalasan dendamnya pada Ronald sudah semakin lengkap. Biar saja Hery yang menyiksa mantan suaminya itu. Dan ia tidak peduli apakah Hery akan sampai membunuh Ronald atau tidak.


Inilah hukuman yang Chelsea alias Emily berikan pada suami yang telah membunuhnya, sebelum eksekusi untuk hukuman mati dilakukan. Untuk Nora, sudahlah, Chelsea sudah cukup puas dengan membuat mental Nora hancur berantakan. Lagi pula, jika Nora lemah apalagi sampai gila, wanita itu akan menjadi samsak bagi para narapidana wanita lainnya. Kedua pelaku pembunuhan atas Emily hingga kedua orang tua Emily tersebut tidak akan selamat dari ancaman hukuman mati, mereka akan menunggu kematian yang sudah pasti dengan perasaan ketakutan.


Terakhir, Chelsea menatap rumah tahanan itu. Hery Padiman akan melaksanakan tugas dari Chelsea, tanpa tahu bahwa Chelsea telah menipu. Demi apa pun, Chelsea tidak akan membebaskan orang tua dari pemilik tubuh tersebut. Ia bahkan berharap Hery juga tewas di penjara.


“Nona Chelsea?”


Suara seseorang terdengar ketika Chelsea hampir memasuki mobilnya. Ketika ia menoleh ke arah sumber suara, Kayla Hannes tampak berjalan ke arahnya. Kehadiran wanita bertubuh bak gitar Spanyol tersebut tentu saja membuat Chelsea merasa heran. Mengapa pula Kayla sampai tahu bahwa dirinya sedang berada di rutan?


Kayla menghentikan langkahnya tepat di hadapan Chelsea, kemudian berkata, ”Tidak. Akulah yang mencarimu.”


“Apa? Kau? Untuk apa? Kau ingin mengajakku bertengkar? Ini kan masih jam kerja, selama aku tidak ada, kau harus mendampingi Tuan Reynof, bukan? Tapi, kau ingin mengajakku berdebat? Di sini? Kau ingin sekalian ditahan di tempat ini?”


Kayla menghela napas, kemudian menggelengkan kepala. ”Tidak. Aku justru ingin meminta maaf padaku.”


”Hah? Apa? Kau salah makan ya? Atau kau sedang merencanakan sesuatu untuk menjebakku?”


”Tidak, Nona, ah ... bukan, maksudku, Nyonya Emily.”


Chelsea melongo. Matanya sampai melebar. Ia sempat tidak menyangka saat Kayla memanggilnya demikian. Namun ia ingat, tadi malam ia sudah mengamuk pada Ronald dan memosisikan dirinya sebagai Emily. Jika Kayla juga diam-diam hadir, sudah pasti Kayla tahu betul tentang siapa sosok di dalam tubuh Chelsea. Ruben saja sampai syok, meskipun Reynof malah biasa saja dan tetap menganggap Chelsea adalah Chelsea.

__ADS_1


”Kau jauh-jauh kemari hanya untuk mengatakan hal itu padaku?” tanya Chelsea.


Kayla menelan saliva, lalu mengangguk. ”Maafkan aku, karena aku tidak bisa berbicara lebih sopan padamu meski aku telah mengetahui siapa dirimu, Nyonya. Maafkan aku juga, karena sejujurnya aku telah mencuri dengar pembicaraanmu dengan Sekretaris Fabian sewaktu di taman, sampai akhirnya aku tahu jika kau bukan Chelsea melainkan mendiang Nyonya Emily. Butuh waktu lama bagiku untuk memberanikan diri menemuimu seperti ini. Karena sejujurnya, kupikir kau adalah hantu.”


”Pft ....” Chelsea langsung tertawa. “Ya, ya, ya, pada dasarnya aku memang sesosok roh asing yang menumpang di tubuh ini, Nona Kayla. Tapi bedanya aku tidak tahu bagaimana caranya keluar dari tubuh ini, seperti yang dilakukan oleh para hantu. Jiwaku seperti melekat dengan tubuh ini, sampai aku merasa bahwa tubuh ini adalah milikku. Tapi, nyatanya bukan begitu. Aneh sekali, bukan? Well, ... terima kasih karena kau berkenan untuk meminta maaf padaku. Tentu aku sendiri juga memiliki banyak salah padamu, Nona Kayla. Aku hanya gadis asing yang merampas posisimu di sisi Tuan Reynof.”


”Tapi, Nona Kayla.” Chelsea melangkah maju, lalu menyentuh lembut bahu Kayla. ”Andai kau tahu saja, Tuan Reynof selalu ingin menjagamu. Meski tidak dikatakan secara gamblang, aku tahu dia telah menganggapmu sebagai seorang adik. Kau yang cukup kompeten dan terutama sangat setia, sudah seperti keluarga baginya. Kau tak perlu menyerahkan dirimu, hanya untuk terus dipertahankan olehnya, Nona Kayla. Percayalah padaku. Kau seharusnya menghormati keinginan Tuan Reynof, dengan terus menjaga dirimu.”


Kayla kembali menelan saliva. ”Tapi, aku mencintainya.”


”Yah, ....” Chelsea menarik tangannya, lalu melipatnya di depan tubuhnya. “Tidak ada yang salah dengan rasa cinta. Dan aku tidak berhak memintamu untuk mundur dari perasaan itu.”


”Nona Kayla?” Chelsea kini berangsur meraih salah satu telapak tangan Kayla. ”Kau bisa memperjuangkan cintamu, dan bisa menjaganya. Aku ... akan menepati janjiku padamu untuk lekas pergi darinya.”


Mata Kayla mengerjap-ngerjap. ”Apa kau ... akan lenyap?”


“Ah, kau sudah mendengarnya sampai situ?”


”Ya, semuanya, Nyonya Emily.”


“Aku tidak tahu pasti. Tapi, kemungkinan itu bisa terjadi. Aku bukan pemilik tubuh ini. Semua rencanaku juga sudah selesai, kini kalau aku harus pergi ke alam selanjutnya, aku sudah siap. Tapi, sebelum aku benar-benar menghilang, aku ingin mengamankan Chelsea Indriyana dan ibunya dari Reynof. Reynof memang sudah berubah, tapi jika dia berubah karena diriku yang adalah Emily, aku khawatir dia malah akan marah pada Chelsea ketika Emily sudah tiada. Oleh sebab itu, aku harus menyingkirkan dan mencari jawaban atas kebingunganku tentang posisi jiwaku. Jadi, Nona Kayla, aku mohon jagalah Reynof dengan baik. Pastikan dia makan dengan benar. Pastikan pekerjaan semakin bagus. Dan pastikan dia tetap menjadi pria yang sangat baik.”


“Nyonya Emily?"


Chelsea menelan saliva. Senyuman masygul lantas terulas di bibirnya. ”Kau bisa melakukannya, bukan? Siapa tahu dia akan jatuh hati padamu. Aku ... aku ingin dia bahagia, sembuh dari rasa traumanya, dan menerima keberadaan ayahnya. Aku tahu kau adalah orang baik, Nona Kayla. Selama kita bekerja bersama, dan meski saling membenci, kau jarang melakukan hal licik untuk merugikanku. Kau memang membenciku dan kerap berkata ketus padaku, tapi sejauh ini kau selalu menjaga sikapmu. Aku sungguh minta maaf atas semua kesalahanku padamu, Nona Kayla. Tolong jaga Reynof dengan baik.”


Chelsea berangsur melepaskan cengkeraman tangannya dari jemari Kayla. Terakhir ia tersenyum lebih ramah, lalu memutuskan untuk menuju mobilnya. Ia tahu dirinya tidak akan langsung pergi, karena ia masih ingin bersama Reynof untuk terakhir kali. Namun pertemuannya dengan Kayla bisa saja hanya hari ini, sehingga ia menyampaikan pesan terakhirnya pada wanita bertubuh seksi itu.


”Nyonya Emily?” ucap Kayla sebelum Chelsea alias Emily berangsur menutup pintu mobil. Detik berikutnya, ia membungkukkan tubuh demi menghormati Chelsea. ”Aku akan melakukannya dengan baik.”

__ADS_1


Chelsea tak menjawab, melainkan hanya tersenyum. Dan hanya berkisar beberapa detik saja, ia memutuskan untuk melajukan mobilnya. Chelsea menyetir dalam keadaan sedih luar biasa. Meski tidak sampai menangis sesenggukan, air matanya tetap meluruh dan menodai kedua pipinya.


***


__ADS_2