
Chelsea langsung mendorong tubuh Reynof yang tengah memeluknya, ketika Ruben mendadak muncul setelah membuka pintu ruang pimpinan itu tanpa mengetuk terlebih dahulu. Ah, rasanya seperti deja vu. Kejadian yang sama pun pernah terjadi. Chelsea seharusnya tak terlalu kaget lagi, tetapi nyatanya ia sampai reflek memberikan dorongan terhadap tubuh Reynof. Karena selain memeluk, pria itu nyaris memberikan kecupan manis untuknya.
“Hei, kau bukan karyawan magang yang masih harus diajari tata krama dulu, 'kan, Ruben?” ucap Reynof sembari berkacak pinggang. Memang cukup kesal, ketika Ruben membuatnya harus menunda keinginannya dalam bermesraan dengan Chelsea. ”Ada apa?! Tak mungkin kau terburu-buru begitu, jika tak ada kabar mengejutkan. Apa Nora membuat masalah lagi setelah aku meminta Kayla untuk mengurusnya?”
Ruben yang sudah berada di hadapan Reynof dan Chelsea langsung menggelengkan kepala. ”Tidak, Tuan, bukan mengenai Nora,” jawabnya.
”Sebaiknya saya keluar saja, sepertinya ada sesuatu yang jauh lebih serius,” sela Chelsea.
”Tidak!” Alih-alih Reynof yang menahan, kali ini justru Ruben yang menghentikan niat gadis itu. ”Nona harus turut mendengarkan karena berkaitan dengan permintaan Anda.”
”Ah, saya?” sahut Chelsea sembari menuding dirinya sendiri.
Dahi Reynof mengernyit dan sepasang matanya tampak memicing. ”Ada apa? Apa kau tidak bisa langsung to the point saja, Ruben?”
Ruben menatap Reynof lagi. “Begini, Tuan dan Nona. Menurut informan kita yang bekerja di bandara, atau lebih bisa dianggap sebagai salah satu kenalan saya, seseorang dengan nama Nurhan berusia lima puluh delapan tahun dan persis dengan wajah Nurhan yang pernah Nona Chelsea tunjukkan, telah masuk ke Indonesia sejak dua hari yang lalu.”
Mata Chelsea membelalak, perasaannya pun turut terkejut. Mengenai Nurhan yang adalah pengacara keluarga Rukmana, sepertinya telah Ruben temukan. Sebenarnya Chelsea tidak hanya meminta Ruben dan Reynof untuk mencari pria yang sudah tua itu hanya dengan nama saja, melainkan dengan sebuah foto. Chelsea sempat membuka akun sosial media miliknya ketika masih hidup sebagai Emily dan terpaksa mencari sampai ke dasar postingan, karena ia ingat setidaknya ada foto yang mencantumkan sosok Nurhan pada saat itu.
Dan memang benar, postingan dari tiga tahun yang lalu sempat Chelsea temukan. Sebuah foto lama yang entah diambil di tahun berapa, mungkin kondisi wajah Nurhan pun pastinya sudah banyak berubah di tahun. Namun Ruben ternyata jauh lebih berbakat daripada yang Chelsea kira. Mungkin Ruben termasuk juga Reynof tidak hanya sekadar menghubungi satu informan saja, melainkan juga beberapa orang agar dapat menemukan sekaligus mengenali Nurhan yang bisa saja telah berubah.
”Apa Anda yakin jika orang itu adalah Pengacara Nurhan, Tuan Ruben?” tanya Chelsea, ingin lebih memastikan lagi. “Karena mau bagaimanapun, foto yang saya tunjukkan adalah foto lama yang tentu akan berbeda dengan fisik Pengacara Nurhan di tahun ini. Selain itu, banyak sekali yang memiliki nama Nurhan, bahkan mungkin ada yang seusia.”
Ruben berangsur mengangguk mantap. “Saya yakin, Nona, saya sudah menunjukkan foto Nurhan pada informan saya tersebut sejak lama. Dan beruntung, dia bisa mengenali Nurhan. Setelah mendapatkan informasi tersebut, saya langsung mengirim orang untuk mengikuti Nurhan. Saya pun telah memastikan identitas bahkan alamat tinggal Nurhan yang pernah Anda katakan ke beberapa pihak yang ahli di bidangnya. Dan setelah meyakini bahwa segalanya sudah pasti, saya baru melaporkan hari ini, karena saya tidak ingin memberikan harapan palsu.”
”Jangan meragukan kinerja Ruben, Chelsea. Dia bisa melakukan hal apa pun, bahkan meski dengan menggunakan cara aneh sekalipun demi setiap tugas yang harus dia selesaikan. Itulah mengapa, meski aku juga tak terlalu menyukainya, aku tetap mempertahankan dirinya,” sahut Reynof.
Hati Ruben agak kesal karena setelah dipuji, tetapi langsung dijatuhkan. Namun bukan Reynof namanya jika tidak mengatakan kalimat yang cukup pedas untuk didengar. Anehnya, meski memilik mulut pedas dan kejam, belakangan ini Reynof malah kerap bersikap manis pada seorang gadis muda.
__ADS_1
Chelsea memilih tidak menyahuti ucapan Reynof, selain hanya menatap sekilas netra abu-abu pria itu. Sepasang kaki Chelsea mulai berjalan ke sana kemari, sementara benaknya terus berpikir. Dewi Fortuna tampaknya sedang berpihak padanya. Tak hanya mampu mengadu domba Ronald dan Nora, lalu membuat Nora terpuruk, termasuk juga meyakinkan Fabian, kini sang pengacara juga muncul. Keadaan nyaris sepenuhnya berada di genggaman Chelsea, dan akan lebih sempurna jika ia sudah mendapatkan bukti, baik dari Ronald ataupun dari Fabian yang sudah ia tugaskan untuk mendekati Nora.
Namun semakin dekat dengan puncak rencana untuk balas dendam sekaligus mencari keadilan, kemungkinan waktu hidup sosok Emily di tubuh Chelsea Indriyana pun akan kian menipis. Dan seandainya dugaannya tentang jiwanya akan lenyap benar-benar terjadi, artinya ia pun harus siap berpisah dengan Reynof.
Chelsea menelan saliva. Ia tak menampik rasa senang sekaligus lega yang sudah membuat sarang di salah satu ruang hatinya. Namun perasaan perih lainnya juga turut menghuni sanubarinya. Ia benar-benar khawatir pada Reynof yang akan ia tinggalkan begitu saja. Seandainya ada petunjuk tentang posisi jiwanya saat ini, mungkin Chelsea yang sejatinya adalah Emily bisa membuat persiapan. Namun, sampai saat ini ia tak memiliki petunjuk apa pun, baik untuk posisinya maupun keberadaan jiwa asli Chelsea Indriyana.
”Tidak hanya sekadar menemukan, tapi aku ingin kau menghubungi pengacara itu, Ruben,” celetuk Reynof mengenai titah lanjutan.
Ruben mengangguk. ”Saya pun sudah menemukan di mana Nurhan tinggal, Tuan. Memang bukan di hotel atau apartemen, melainkan sebuah rumah di kawasan kota hujan. Saya akan segera menghubungi beliau,” jawabnya.
”Pergilah dan segera laksanakan.”
”Baik, Tuan, saya permisi dulu.”
Untuk menunaikan tugas lanjutan, Ruben memutuskan untuk segera keluar dari ruangan itu. Sementara, Reynof mulai melangkah untuk menghentikan aktivitas Chelsea yang belum juga berhenti. Sebenarnya Reynof cukup heran, karena Chelsea malah tampak bimbang daripada senang setelah mendengar kabar ditemukannya Nurhan.
”Nona, apa yang kau pikirkan?” tanya Reynof sembari menarik paksa lengan Chelsea. ”Hentikan perjalanan bolak-balikmu itu, dan katakan padaku. Apa yang sedang kau rencanakan saat ini?”
Chelsea masih merasa bertanggung jawab, dan sebisa mungkin harus membawa pergi raganya sebelum jiwanya menghilang. Oleh sebab itu, belakangan ini pun, ia tak lagi memikirkan apartemen untuk Dahlia, karena ia memang harus membawa ibu dari pemilik raga tersebut untuk pergi sejauh mungkin agar Reynof tak lagi dapat menjangkau.
”Tuan Reynof?” ucap Chelsea. ”Kau ... apa kau mencintaiku? Jika iya, apa yang kau cintai dariku? Wajahku atau sifatku?”
“Ke-kenapa kau mendadak bertanya seperti itu?” sahut Reynof.
”Jawab saja pertanyaanku, Tuan Reynof!”
Tidak, tidak mau! Kau sedang mengujiku, bukan? Apa yang kau rencanakan, Emily? Setelah memastikan perasaanku disebabkan oleh paras dari raga itu atau malah sifatmu, lantas apa yang ingin kau lakukan padaku? Apa kau berpikir bahwa kau juga bisa saja lenyap? Apa kau memiliki ketakutan atas posisi jiwamu sama seperti yang aku takutkan? Batin Reynof. Namun ia tidak bisa mengatakan apa pun secara gamblang, karena ia memang takut. Benar-benar takut jika Chelsea alias Emily membuat rencana yang mengacu pada keputusan untuk putus hubungan.
__ADS_1
”Yaaah, aku menyukaimu karena kau adalah milikku. Memangnya apa lagi?” ucap Reynof cukup ambigu.
Chelsea menghela napas sembari sejenak memejamkan matanya. ”Kesepakatan kita akan segera berakhir jika tujuanku sudah tercapai,” katanya setelah membuka mata kembali. ”Dan aku harus membuat keputus—”
”Kau sudah berjanji untuk selalu ada di sisiku meskipun kesepakatan kita sudah selesai. Jadi apa lagi yang kau rencanakan, Nona? Kau berencana untuk meninggalkanku? Jika memang demikian, lebih baik aku hancurkan saja rencanamu itu! Aku tidak akan membiarkan dirimu pergi!”
”Ti-tidak! Bukan begitu!” Chelsea langsung panik. ”A-aku hanya ... takut kau sudah bosan dan tak ada lagi alasan untuk mempertahankan diriku.” Sialnya Chelsea malah membuat alasan yang akan membuat Reynof semakin menahan dirinya.
”Tidak, aku tidak akan membuangmu sampai kapan pun, Chelsea!” Reynof menghela napas. “Baiklah, aku tidak akan merusak rencanamu, tapi kau jangan pernah berpikiran untuk pergi atau bahkan lenyap.”
Mata Chelsea langsung mengerjap. ”Apa? Lenyap?”
”Ya, lenyap.”
”Kau ... melihatku sebagai siapa?”
”Sebagai wanita yang memang ingin aku pertahankan.”
”Jawabanmu sangat ambigu, Tuan!”
“Pemikiranmu tampaknya juga cukup ambigu.”
Chelsea mendengkus kesal. ”Sudahlah, aku tidak jadi bertanya. Aku ingin segera bertemu dengan Pengacara Nurhan, dan aku membutuhkan bantuan darimu untuk bisa berbicara dengan beliau. Karena kau memiliki jabatan, latar belakang, dan nama yang kuat. Sementara aku tidak, beliau bisa menolak jika hanya aku yang datang. Dan ... tampaknya aku juga harus membawa Fabian, karena Pengacara Nurhan sudah mengenal Fabian. Tapi aku tidak ingin melihatmu cemburu lagi, oleh sebab itu kau juga harus turut mendampingiku agar aku tidak hanya bersama Fabian saja.”
Reynof tidak mengatakan apa pun, selain hanya segera mendekap tubuh Chelsea dengan erat. Ia menduga kuat bahwa Chelsea alias Emily pun memiliki pemikiran sekaligus ketakutan yang sama dengannya. Kemungkinan besar, si Jiwa tengah kalut dalam menunggu waktu di mana jiwanya akan lenyap. Dan sungguh, Reynof tak kuasa membayangkan seberapa takut Emily pada tibanya hari kemungkinan tersebut.
”Kau benar-benar tidak boleh pergi dariku setelah semua rencanamu berhasil,” bisik Reynof.
__ADS_1
Chelsea menghela napas dengan getir. ”Ya, Tuan,” jawabnya.
***