Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya

Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya
Kau Seperti Bukan Putri Ibu


__ADS_3

Kedatangan Chelsea di salah satu ruang rawat rumah sakit terkait, disambut dengan deraian air mata oleh Dahlia. Betapa Dahlia senang sekaligus tetap sedih setelah sekian lama tak berjumpa putrinya. Ia sesenggukan dalam keadaan yang masih lemah. Tubuhnya masih terbaring karena kondisi tubuhnya belum benar-benar pulih, meskipun sudah dirawat selama empat hari.


Tak hanya fisik yang dipenuhi banyak memar, karena nyatanya Dahlia juga kekurangan gizi. Tekanan darahnya sangat rendah. Beruntung wanita berusia 48 tahun itu masih bisa diselamatkan, kendati jika terlambat sudah pasti jiwa Dahlia akan berpindah alam.


Sebagai orang yang saat ini harus berperan sebagai Chelsea sejak hidup di tubuh Chelsea, Chelsea yang sejatinya adalah Emily sungguh merasa miris. Hatinya turut teriris. Selama 27 tahun ia hidup nyaman dan serba diberikan di dalam istana keluarganya, dan ia nyaris tutup mata pada kondisi orang-orang miskin saking asyiknya menikmati kekayaan yang begitu banyak. Padahal ada gadis yang sedang menderita karena dijual oleh sang ayah kandung, gadis itu juga memiliki ibu yang tak bisa berjalan.


Chelsea, kau kuat sekali, meskipun pada akhirnya kau pun memilih mati. Dan sekarang, di mana kau berada? Apakah kau masih berada di tubuh ini juga? Jika iya, tolong beri waktu lebih lama untukku. Aku tidak hanya akan mencari keadilan untuk diriku sendiri, melainkan juga ingin memperbaiki hidupmu. Kembalilah ketika aku sudah berhasil, ya, Gadis Kecil, batin Chelsea yang memosisikan dirinya sebagai identitas jiwanya.


“Ibu, tidak boleh menangis lagi. Sekarang Chelsea sudah ada di sini, dan selamat. Bahkan Chelsea bisa hidup lebih baik. Soal Ayah ....” Chelsea menghentikan ucapannya ketika teringat akan Hery Padiman yang tak ia ketahui bagaimana kondisinya. Reynof berjanji akan menjebloskan pria tua itu ke penjara, tetapi Reynof belum mengatakan apa-apa.


Dahlia menggenggam tangan Chelsea dengan erat. “Ayahmu di mana, Nak? Apa dia membuat masalah lagi?” tanyanya hendak memastikan. “Tolong jauhi dia, Nak!”


“Tenang saja, Ibu,” sahut Chelsea lalu tersenyum manis. Ia membalas sentuhan tangan ibunya dengan belaian yang lembut dan sarat akan ketulusan. “Ayah tidak akan pernah menghampiri kita lagi. Dan sekarang, Ibu bisa di sini dulu dengan tenang. Tapi, mungkin Chelsea akan jarang berkunjung, karena saat ini Chelsea sudah mendapatkan pekerjaan. Cheslea berjanji, Chelsea akan tetap mengunjungi ibu, meskipun satu minggu sekali. Chelsea akan membelikan rumah yang pantas untuk Ibu, jadi Chelsea harus bekerja dengan keras.”


“Kau ... seperti bukan putri Ibu,” ucap Dahlia secara tiba-tiba.


“Hah?!” Chelsea melongo. Dan tak berselang lama, ia lantas menelan saliva dengan susah-payah. Memang benar bahwa firasat seorang ibu sangatlah kuat, tetapi apakah mungkin jika saat ini Dahlia juga menyadari bahwa jiwa yang bernaung di dalam tubuh Chelsea Indriyana bukankah Chelsea yang sebenarnya?

__ADS_1


“Ke-kenapa Ibu bicara seperti itu?” Chelsea resah dan khawatir, tetapi ia tidak punya pilihan lain untuk tetap memastikan apakah Dahlia memang menyadari apa yang terjadi.


Dahlia mengusap air matanya. Lengkungan senyum tulusnya lantas terulas manis di bibirnya yang sudah dipenuhi keriput. “Kau menjadi lebih dewasa, kau juga jauh lebih cantik. Padahal, kau selalu menunduk dan sedih karena terus-terusan disiksa oleh ayahmu. Tapi, sekarang kau terlihat lebih bahagia, Nak. Tapi, apakah benar bahwa kau memang sudah bahagia? Ibu ... Ibu benar-benar menyesal karena tidak mampu menjadi orang tua yang baik untuk dirimu. Ibu bodoh dan gagal, Ibu sama sekali tidak bisa membahagiakan dan menyelamatkan dirimu, Nak. Maafkan Ibu, Nak, maaf ....”


Niat hati tak ingin menangis, pada akhirnya Dahlia kembali menderaikan air matanya. Karena memang benar bahwa ia sangat menyesal. Ia gagal menjadi orang tua yang bisa terus melindungi putrinya. Bahkan ketika Hery menyeret Chelsea untuk dijual pada sang lawan judi, Dahlia tetap tidak bisa berbuat apa-apa.


Lebih menyesal lagi ketika Chelsea kabur dari Hery yang Dahlia pikir Chelsea mungkin bisa selamat, tetapi tak lama berselang, ia justru mendengar kabar bahwa putrinya ditemukan di sebuah sungai karena melakukan percobaan bunuh diri. Sembari meringkuk menangis, kala itu Dahlia hanya menerima sepucuk surat wasiat yang basah dari salah satu anggota kepolisian. Namun beruntung, putrinya masih bisa diselamatkan.


Melihat wanita paruh baya yang menyalahkan dirinya sendiri membuat Chelsea turut menitikkan air mata. Ia benar-benar tidak mampu membayangkan seberapa mengerikan hidup yang Dahlia dan sang putri jalani selama ini. Chelsea yang sekarang adalah Emily, yang tahunya hanyalah sebuah kenikmatan sekaligus kehormatan. Ia sendiri tidak tahu mengapa takdir memintanya untuk hidup lagi di tubuh Chelsea Indriyana yang sebenarnya. Apakah takdir ingin membuatnya membuka mata agar dirinya bisa melihat kehidupan yang jauh lebih mengerikan daripada sekadar dibunuh oleh seorang suami?


“Ibu, Ibu harus istirahat dulu. Beberapa menit yang lalu, Ibu baru dicek dan minum obat dari Dokter. Jadi, lebih baik jika Ibu beristirahat. Chelsea akan keluar untuk mencari makan sebentar. Dan Chelsea berjanji akan berjaga di sini sampai esok hari. Chelsea juga sudah membawa baju ganti agar bisa langsung berangkat kerja,” ucap Chelsea sembari membelai telapak tangan Dahlia. Ia memperlakukan wanita paruh baya itu layaknya ibu kandungnya sendiri. Dan memang benar bahwa Chelsea merasa cukup senang setelah mendapatkan kesempatan untuk memiliki seorang ibu lagi.


Sesaat setelah menyelimuti tubuh Dahlia dan memastikan Dahlia sudah berbaring aman, Chelsea memutuskan untuk keluar dari ruang rawat tersebut. Ia harus mengurus administrasi setelah pembayaran pertama yang ia lakukan empat hari lalu. Meski ruangan Dahlia bukan termasuk ruangan VVIP kelas tinggi, tetap saja ruangan itu membutuhkan banyak dana.


“Hei! Kau mau ke mana?” Suara Reynof terdengar. Ia memang sudah berada di sana dan bahkan mengantarkan Chelsea menggunakan mobilnya.


Chelsea menoleh ke arah pria yang sedang duduk di ruang tunggu itu. “Aku hendak mengurus biaya,” jawabnya.

__ADS_1


“Aku sudah mengurusnya. Dan mulai besok ibumu akan dipindahkan ke ruangan yang lebih aman.”


Dahi Chelsea berkerut samar. “Kenapa kau melakukannya? Maksudku kenapa kau mengurusnya?”


“Entah. Mungkin karena aku banyak uang, atau sekadar ingin iseng saja, karena malam ini aku tidak ke kasino maupun tempat perjudian. Belakangan ini tak banyak orang yang meminjam uang di perusahaan peminjaman uangku juga. Jadi, aku hanya bingung mau menggunakan uangku untuk apa.”


“Kau membantuku dengan uang harammu? Dan kau pikir aku akan berterima kasih?”


Reynof menyeringai. Detik berikutnya, ia berjalan untuk mendekati Chelsea. Sesaat setelah sampai di hadapan gadis itu, ia kembali berkata, “Uang yang kau miliki saat ini, bukankah sama saja? Kau menggunakan uang haram untuk pengobatan ibumu?”


“Seharusnya tidak,” tandas Chelsea. “Aku bekerja untukmu bukan karena aku budak ranjangmu saja, melainkan juga untuk perusahaanmu sekaligus rumahmu. Dan kau tidak membayar tubuhku dengan uang, melainkan sebuah kesepakatan. Meski pada akhirnya aku juga dibayar dengan uang haram, tapi setidaknya aku bekerja dengan hal yang wajar.”


“Selalu saja ada jawabannya.” Reynof menyentil pucuk hidung Chelsea yang lancip. “Ayo kita makan, aku lapar. Barangkali ada restoran mahal di sekitar rumah sakit jelek ini.”


“Tidak ada rumah sakit yang jelek, yang jelek itu hatimu, Tuan Reynof! Hargai para petugas medis yang sudah menyelamatkan banyak nyawa! Mereka juga telah menyelamatkan nyawa ibuku! Dasar!”


Chelsea lantas mengambil langkah dan berjalan lebih duluan ketimbang Reynof. Sikapnya membuat pria itu langsung mengumpat. Reynof yang super bengis dan gila kehormatan sampai rela berlari untuk menyusul Chelsea. Mereka berakhir berjalan bersamaan, dan sampai menjadi pusat perhatian. Keberadaan Reynof yang bervisual bule tampan dan tampaknya tidak asing menjadi bahan omongan orang-orang, tetapi omongan mereka berisi kalimat yang takjub sekaligus penasaran.

__ADS_1


***


__ADS_2