
Daffa Gajendra, seorang anggota penyidik berusia tiga puluh lima tahun, masih saja berkeliaran di TKP kecelakaan Emily dan jatuhnya seorang gadis ke dalam sungai. Padahal waktu terbilang sudah cukup larut. Penerangan yang minim dan sepinya tempat itu tak membuat Daffa gentar apalagi menyerah. Ia yang masih menaruh banyak kecurigaan atas peristiwa kematian Emily Panorama Rukmana merasa harus tetap mengusut, kendati kasus itu sudah ditutup.
Meskipun Ronald dan Nora yang merupakan dua anggota keluarga Emily sudah membuktikan alibi mereka di waktu kejadian perkara, dengan memberikan kesaksian para pelayan yang kompak mengatakan bahwa pada saat itu Ronald dan Nora memang berada di rumah saja, tetap saja membuat Daffa sulit untuk percaya. Kekompakan para pelayan justru menimbulkan rasa aneh yang tumbuh subur di dalam dirinya. Dari sekian pelayan, mengapa tak ada satu pun yang merasa ragu dalam berkata-kata? Seolah mereka memang sudah didoktrin sedemikian rupa.
Daffa ingat, ada kasus pembunuhan tak berencana. Terdakwa yang seharusnya dihukum selama lima belas tahun justru mendadak dibebaskan meski baru dibui selama dua tahun. Menurut kabar yang beredar di lingkup tempat kerjanya, pihak keluarga Terdakwa memang menebus si Terdakwa dengan sejumlah uang serta sebuah mobil dan ini adalah kisah nyata! Membuat Daffa semakin yakin bahwa memang ada setumpuk uang yang membuat kasus Emily bisa langsung ditutup secara cepat. Kendati Ronald selaku suami Emily yang sudah membuktikan alibi memang berhak mengambil keputusan untuk mengamankan jasad sang istri, Daffa tetap merasa berkewajiban untuk terus curiga!
“Aku tak akan menyerah. Aku bukan orang seperti mereka. Bagiku kebenaran dan keadilan memang harus ditegakkan! Aku yakin aku bisa mengusut kasus ini sampai tuntas!” ucap Daffa dengan yakin.
***
Dugaan Chelsea terbukti benar. Bahwa semua keputusan serta rencananya akan membuat Reynof menolak bahkan marah besar. Ketika ia sudah mengatakan laju rencananya untuk bisa memasuki rumah Emily dengan menggunakan Ronald, Reynof langsung naik pitam.
Malam ini pun Reynof sudah mengurung Chelsea bersamanya di dalam kamarnya, dan membuat gadis itu tetap bersimpuh, tanpa ia perbolehkan melakukan apa pun.
“Aku ingin membunuhnya, aku benar-benar ingin membunuhnya! Kau bilang kau yakin bahwa Ronald adalah pembunuh Emily, itu artinya membunuh Ronald juga bisa aku lakukan juga dong! Karena dengan melakukan hal itu, aku sudah terbilang telah membantumu untuk mencari keadilan!” ucap Reynof dengan tegas dan tetap keras. “Jika dia sudah mati, kau tak perlu bersusah-payah lagi, Chelsea!”
Chelsea menghela napas. Tubuhnya sudah gemetaran sejak tadi. Meski terlihat cukup tenang, sebenarnya ia sangat panik. Ia takut jika Reynof merusak segala rencananya. Karena ia tak hanya ingin menghukum Ronald saja, ia ingin memperbaiki namanya sebagai Emily yang disalahkan karena sudah berkendara dalam keadaan mabuk, bahkan meski dirinya sudah dianggap mati. Ia juga harus mengambil segala asetnya. Jika Ronald mati begitu saja, rasanya tetap tidak akan adil. Akan fatal jadinya, jika Ronald akan mengalami hal serupa seperti yang Chelsea alias Emily alami, saat sudah mati tetapi jiwanya malah merasuk ke dalam tubuh orang lain. Bukankah jika hal itu terjadi, justru akan membuat keadaan jauh lebih mengerikan?
“Tuan Reynof, bisakah kau memercayai aku? Bisakah kau hanya cukup mendukungku dan membantuku? Toh, kau juga sudah mendapatkan yang kau inginkan,” ucap Chelsea sembari menunjukkan ekspresi memohon. Ia berharap Reynof tidak terlalu ketat dalam menjaga pergerakannya. “Aku harus memperbaiki nama Nyonya Emily, dan menurutku, kematian adalah sesuatu yang bisa sangat menguntungkan bagi Ronald, Tuan. Setidaknya dia harus dibuat malu terlebih dahulu.”
__ADS_1
“Hei, Nona!” ucap Reynof sembari menarik dagu milik Chelsea dengan agak kasar. “Bahkan sekalipun kau benar-benar adalah Emily, kau itu sudah melakukan hal yang bodoh! Jika kau adalah Emily, seharusnya kau menggunakan kesempatan bisa merasuk ke dalam tubuh ini untuk membunuh Ronald! Kematian adalah hukuman yang paling pas! Alih-alih mendekatinya demi mencari keadilan, dan justru akan membuatmu kembali jatuh cinta padanya atau semakin berada dalam bahaya, seharusnya kau memintaku untuk membunuhnya saja! Bukan perkara sulit bagiku untuk melakukannya! Dan aku lebih andal dalam menyamarkan sebuah pembunuhan!”
“Ugh ... katanya kau tidak percaya bahwa aku adalah Emily!”
“Aku memang tidak percaya!” Reynof mengeraskan suaranya, memutuskan untuk melepaskan cengkeraman tangannya di dagu Chelsea dan sampai membuat kepala gadis itu terguncang ke kanan saking kasarnya gerakan tangannya. “Aku juga yakin Emily tidak akan melakukan rencana bodoh, seperti rencana konyolmu itu, Nona! Aku yakin dia akan memilih untuk memohon agar aku membunuh Ronald. Dia tahu betul seberapa jahatnya diriku, dan aku yakin dia juga sudah tahu bahwa aku pernah melakukan pembunuhan. Dia tidak akan membiarkan suaminya menikmati harta yang dia miliki!”
“Mulai malam ini dan sampai seminggu ke depan, kau tidak boleh keluar sama sekali! Kau harus ada di mansion, tidak, tapi di kamar ini! Kau tinggal menunggu kabar kematian Ronald dan bisa bernapas lebih lega!” lanjut Reynof yang telah membuat keputusan tidak masuk akal.
Detik itu juga, mata Chelsea langsung melebar. Dengan cepat Chelsea meraih kedua betis pria itu dan memberikan cengkeraman kuat. “Aku mohon jangan lakukan itu! Jangan merusak semua rencanaku, Sialan! Aku sudah sampai sejauh ini! Aku harus mendapatkan perusahaanku lagi, juga rumahku! Kau pikir aku bisa memiliki semuanya lagi setelah Ronald mati?! Aku ini Chelsea bukan lagi Emily! Kau bilang aku tidak boleh menjadi pembunuh! Bahkan sekalipun aku menggunakan jasamu, hal itu tidak bisa menghapus kenyataan bahwa aku sudah melakukannya! Sama saja aku sudah melakukan pembunuhan bahkan meski lewat tanganmu, Reynof!”
“Setidaknya aku harus bisa menghukum suami serta sepupuku dengan hukum di negara ini. Hukuman atas pelaku pembunuhan berencana adalah hukuman mati, bukan?! Aku ingin mereka mendapatkan dakwaan itu, dibuat malu, bingung, dan menderita sebelum mereka ditembak mati oleh yang berwajib! Aku yakin di negara ini masih banyak pihak yang mencurigai kasus kematianku! Aku yakin, Reynof! Tolong! Toloooong! Jangan merusak segalanya! Aku ingin mencari bukti dan mendapatkan semua asetku kembali meski nantinya akan aku serahkan padamu! Tapi setidaknya jangan mereka yang memiliki semuanya!” lanjut Chelsea sangat emosional, sampai deraian air matanya bercucuran.
“Kau boleh saja kesurupan, tapi aku tidak akan berkenan untuk dikendalikan olehmu, Nona! Aku yang berkuasa, dan kau harus tunduk padaku!” ucap Reynof tegas. "Ketika aku sudah memutuskan untuk membunuh Ronald, maka aku akan benar-benar melakukannya!”
Chelsea yang sudah tidak sanggup menahan segala perasaan buruk mendadak berteriak sekencang-kencangnya. Biar saja Reynof menganggapnya memang tengah kesurupan. Ia tidak peduli!
Sayangnya, alih-alih takut pada Chelsea yang histeris, Reynof justru menghela napas sambil terus menunjukkan wajah marah. Ia tetap ingin membunuh Ronald, tanpa memedulikan alasan Chelsea yang memintanya untuk tak merusak segala rencana yang telah disusun rapi. Detik berikutnya, Reynof memutuskan untuk mengambil langkah demi bisa keluar dari kamarnya sendiri. Dan ia tetap akan mengurung Chelsea di kamar tersebut.
Melihat Reynof yang tampak abai serta tak dapat dibantah sama sekali, Chelsea langsung bangkit. Detik berikutnya, ia berlari sekencang-kencangnya ke arah jendela besar yang memang bisa dibuka. Cepat, ia membuka jendela kamar yang berada di atas lantai keempat itu.
__ADS_1
“Apa kau benar-benar tidak pernah mendengar bahwa Chelsea Indriyana sempat melakukan percobaan bunuh diri, Tuan Reynof?!” tanya Chelsea dengan suara sekeras mungkin, sampai membuat langkah Reynof yang nyaris mendekati pintu keluar menjadi terhenti.
Reynof tercenung. Kemudian ia memutar badannya dan sudah melihat Chelsea duduk di ambang kusen jendela. ”Apa maksudmu?” balasnya bertanya.
”Karena telah dijual padamu, Chelsea tidak bisa menerima kenyataan itu serta memutuskan untuk terjun ke dalam sungai yang memiliki arus deras. Chelsea yang sekarang juga mampu melakukannya, daripada menjadi tahanan yang tak bisa berbuat apa-apa. Barang kali roh di dalam tubuh ini akan kembali bertransmigrasi. Sekarang aku benar-benar tidak takut mati! Karena aku yakin sebelum semua rencanaku berhasil, jiwaku masih bisa hidup di mana pun! Dan jika aku hidup kembali, kau tak akan pernah bisa menemuiku dalam fisik baruku!”
Reynof bergerak cepat. Ia enggan untuk memercayai ucapan Chelsea, tetapi ia tetap khawatir jika gadis itu meloncat dari jendela. “Kau sudah gila, Chelsea! Kau sudah gangguan jiwa! Turun dari sana! Dan ayo ke rumah sakit jiwa!”
“Tidak! Aku tidak gila! Melainkan sedang kesurupan!” Saat ini Chelsea mulai berdiri di ambang kusen jendela. “Aku pernah takut mati ketika kau mengarah pecahan vas bunga ke leherku, tapi sekarang sepertinya aku sudah lebih pintar. Aku sudah lebih berani, Tuan Reynof. Jangan mendekat, jika tidak ingin aku melompat! Kecuali jika kau memang benar-benar tidak mau memedulikan diriku lagi, dan lantas ingin menyamarkan kematianku setelah aku melompat dari jendela ini.”
Reynof menggertakkan gigi. Saat ini ia sudah sampai tepat di hadapan Chelsea yang sedang berdiri di tengah-tengah jendela besar itu. Ada kemungkinan gadis itu bisa tetap hidup sekalipun sudah melompat, tetapi kemungkinan fatal tentang sebuah kematian tampaknya jauh lebih besar. Apalagi jika yang mendarat duluan adalah kepala Chelsea. Lantas, apa yang harus Reynof putuskan? Ia benar-benar tidak rela jika kehilangan gadis unik bin ajaib yang belum lama ini memosisikan diri sebagai Emily.
”Baiklah! Baiklah, Chelsea! Tidak, maksudku, baiklah, Emily! Aku akan menuruti ucapanmu. Jadi, sekarang raih tanganku dan turunlah. Aku akan sebatas mendukung serta membantumu saja, dan tidak akan membunuh Ronald,” ucap Reynof dengan halus sembari mengulurkan tangannya.
Chelsea menghela napas. Sayangnya ia masih enggan untuk percaya. “Aku tidak percaya padamu, kau bahkan sudah nyaris melanggar kesepakatan kita!” katanya ketus.
“Aku bersumpah, Emily!”
Gila, Reynof sungguh-sungguh sudah gila karena telah menyebut nama Emily pada gadis yang jelas-jelas adalah Chelsea Indriyana. Sepertinya ia pun memang sudah gila! Namun jika mengamankan gadis gila harus dengan cara yang juga gila, sepertinya Reynof tak keberatan untuk melakukannya. Dan beruntung, usaha Reynof membuahkan hasil ketika Chelsea sudah meraih tangannya dan melompat ke dalam pelukannya.
__ADS_1
***