
“Tuan, Anda tidak boleh tidak makan siang lagi. Biarkan saya yang menemani Anda siang ini,” ucap Kayla yang sudah menghadap Reynof di ruang kerja pria itu.
Reynof menjatuhkan pena, meninggalkan kesibukannya dalam kegiatab menandai beberapa data. Ia menghela napas, kemudian berangsur menatap Kayla. Ini bukan pertama kalinya bagi dirinya mendapatkan peringatan sarat akan perhatian dari Kayla. Wanita yang bertubuh indah bak gitar Spanyol itu begitu rajin untuk mengingatkannya, tak hanya masalah makan, melainkan juga pekerjaan. Namun sejak ada Chelsea, perhatian Kayla rasanya telah hambar. Ketidakhadiran gadis yang sempat mengaku sebagai Emily layaknya orang kesurupan malah sukses membuat hari Reynof menjadi hampa.
“Bagaimana dengan Ruben?” tanya Reynof yang justru membahas masalah lain. “Apa dia sudah kembali?”
Kayla menelan saliva dengan susah-payah. Meski beberapa kali Reynof tampak ramah, tetapi tidak jarang pria itu terlihat dingin. Semua perhatian yang telah ia berikan pun seolah tidak pernah tersampaikan. Belum lagi keinginannya untuk menemani makan dan bahkan tidur, tak pernah Reynof indahkan. Sikap Reynof malah lebih hangat jika berhadapan dengan Chelsea, si gadis cilik yang miskin dan menyebalkan itu!
“Apa mulutmu sudah tidak bisa berfungsi, Kayla? Kenapa kau justru diam saja?” celetuk Reynof yang kesal karena Kayla kurang cekatan, meskipun hanya sekadar memberikan jawaban.
Kayla gelagapan. “A-anu, Tuan, Ruben belum kembali. Ruben masih di Pano Diamond untuk menemui Nona Nora menggantikan Chelsea setelah dia menangani beberapa peminjam uang sejak tadi pagi,” jawabnya gugup.
“Ruben memang jauh lebih peka daripada kau, Kayla. Makan saja sendiri, aku akan pergi.”
Reynof berpikir bahwa saat ini, Ruben tengah mendiskusikan beberapa hal dengan Nora, termasuk juga mencari tahu di hotel mana sang pengusaha dari Benua Eropa akan menginap nantinya. Ruben juga harus bisa mendapatkan akses untuk menghubungi pengusaha tersebut, entah bagaimanapun caranya.
“K-ke mana, Tuan?” tanya Kayla setelah sempat tercengang.
“Apakah aku harus melaporkan setiap tindakanku padamu, Nona Sekretaris?”
“Ti-tidak, tapi mau bagaimanapun hari ini saya yang mengambil alih tugas Ruben dan Chelsea.”
Reynof menghela napas. “Hendak ke rumah sakit, menyusul Chelsea dan tidak ada urusannya dengan pekerjaan. Jadi, kau bisa makan siang sekarang tanpa harus khawatir.”
Reynof berangsur bangkit dari duduknya. Detik berikutnya, ia mengambil blazer, dompet, serta ponselnya. “Berikan saja kunci mobil padaku, aku akan berkendara sendiri. Jangan khawatir, aku akan makan siang bersama Chelsea.”
“Tapi, Tuan—”
Reynof memakai blazer abu-abunya itu sembari memandang Kayla yang menunjukkan wajah kecewa. “Jangan cemburu, Kayla, karena di antara kita memang tidak pernah ada apa-apa. Panggil Ruben saja jika kau kesepian. Bersyukurlah karena aku masih mempertahankanmu, karena mau bagaimanapun kau punya dedikasi yang tidak main-main. Kau juga sangat setia padaku, Gadis Seksi! Aku juga cukup menyayangimu, jadi kau tak perlu terlalu membenci Chelsea.”
Kayla seharusnya senang karena diberikan pengakuan sedemian rupa oleh sang tuan. Namun ia justru kepikiran bahwa pengakuan itu Reynof katakan hanyalah demi menjaga Chelsea dari kebencian berbahaya darinya. Sekeras apa pun Kayla berjuang, nyatanya ia memang hanya dianggap sebagai salah satu sekretaris saja. Reynof tak pernah sekalipun ingin bersamanya, sekadar satu malam saja, Reynof sepertinya tetap enggan. Sebuah kalimat yang mengatakan Kayla seksi dan pasti bisa membuat pria gemetaran, serta perlakuan manis semacam pemberian kecupan dari Reynof, nyatanya memang sebagai ajang keisengan pria itu. Ruben benar, perasaan Kayla memang tak pernah kesampaian.
Sampai Reynof menghilang dari balik pintu pasca menerima kunci mobil dari Kayla, Kayla baru memutuskan untuk keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang sangat kecewa. Dan ia tetap membenci Chelsea!
***
Chelsea tahu Reynof adalah orang yang hebat, lebih tepatnya penjahat yang hebat. Namun yang namanya manusia, pasti memiliki jatah apes, bukan? Jika Reynof sampai membunuh Ronald, dan ketahuan oleh pihak yang berwenang atau kasusnya menjadi viral, tentu saja Reynof akan kelabakan. Apalagi saat ini Ronald sudah terbilang dikenal sebagai suami dari mendiang wanita konglomerat.
__ADS_1
Lagi pula, Chelsea memang tidak ingin membuat Reynof menjadi pembunuh lagi. Entah, semakin lama dirinya merasa tidak boleh terlalu mengandalkan kemampuan kejahatan yang Reynof miliki, kecuali kemampuan Reynof untuk beberapa hal yang tidak membahayakan nyawa orang.
“Ibu sedang tidur, sebaiknya aku makan dulu saja. Tadi pagi hanya memakan setengah potong roti, sekarang tenagaku sudah nyaris habis,” gumam Chelsea yang mulai tersadar dari lamunan sekaligus kesibukannya dalam memikirkan Reynof Keihl Wangsa.
Setelah tersenyum pada Dahlia yang sedang tidur dengan nyaman, Chelsea memutuskan untuk bangkit. Dengan langkah yang pelan dan cenderung gontai, ia meninggalkan ruang rawat tersebut dengan harapan agar ibunya bisa cepat sembuh dan bisa ia ajak pulang ke kediaman yang lebih baik. Sepertinya, Chelsea harus segera mendapatkan apartemen karena saat ini pun ia belum ada persiapan rumah untuk menampung Dahlia. Dan ia juga harus mencari seorang asisten rumah tangga untuk mengurus ibu dari sang pemilik raga itu.
Ketika pintu telah terbuka, pemandangan pertama yang Chelsea lihat bukannya dinding putih, melainkan tubuh bidang terbalut kemeja outih dan blazer abu-abu. Reynof tampak berdiri dengan posisi tangan yang nyaris mengetuk pintu ruang rawat pasien itu.
“Mm? Tuan?” ucap Chelsea. Matanya melebar dan ia tidak menyangka Reynof akan datang. Pria itu tak menghubunginya, meski sudah pasti mengetahui keberadaannya lewat alat pelacak yang memang sudah di pasang di mobil sekaligus ponselnya.
Reynof tersenyum tipis. “Kau mau ke mana?” tanyanya setelah itu.
Chelsea bergerak untuk keluar dan berangsur menutup pintu itu seperti sebelumnya. “Mau keluar mencari makan. Ibuku sedang tidur.”
“Ikut aku saja.”
“Kau datang hanya untuk memastikan bahwa aku tetap di rumah sakit, bukan? Dan sungguh aku memang tidak pernah meninggalkan rumah sakit ini untuk menemui Ronald, Tuan Reynof!”
“Dingin sekali,” sahut Reynof. Ia mendengkus kesal karena sikap Chelsea yang masih saja seperti es batu. ”Aku bahkan tidak memikirkan kemungkinan kau akan bertemu dengan Ronald, Chelsea. Detik ini aku benar-benar ingin mengajakmu makan siang! Kenapa kau masih saja ketus seperti itu, Nona? Sepertinya apa yang membuat kita bertengkar tadi malam sudah selesai, kita juga sudah sepakat, dan aku akan menuruti permintaanmu. Tapi kenapa kau justru masih judes? Tadi pagi sepertinya kau sudah jauh lebih manis.”
“Haaaah ... tidak! Aku hanya ingin menganggap kau adalah Chelsea, itu saja. Sudahlah! Jangan merajuk, ikut aku dan ayo kita makan!”
”Hmm ....” Seringai licik terulas di bibir Chelsea yang saat ini terlihat pucat tanpa polesan lipstik. “Aku mau makan bersamamu, tapi di tempat sebelumnya, tempat di mana kita makan bersama untuk pertama kali—”
“Tidak mau!” potong Reynof dengan cepat. “Ada banyak restoran yang mewah dan aku sanggup membayarnya, bahkan meski kau memintaku untuk mereservasi seluruh meja, aku sanggup membayarnya, Chelsea! Jadi kenapa malah mengajak di restoran kecil itu, hah?!”
”Karena makanan di sana enak! Salah sendiri kau tidak menyentuhnya sama sekali! Kau bodoh!”
“A-apa katamu?! Bo-bodoh?! Waaah! Gadis nakal ini!” Geram karena dikatai bodoh, Reynof bermaksud menarik pinggang Chelsea, tetapi gadis itu justru sudah berlari lebih cepat. Sungguh gadis yang sangat gesit! Batin Reynof kesal.
Mereka berakhir berjalan bersamaan sembari saling serang perkataan. Yang pada akhirnya kenyataan menyatakan bahwa Chelsea kalah telak, karena Reynof tetap tidak mau dikendalikan. Chelsea memasuki mobil milik Reynof dan terpaksa mengikuti ke mana tuannya itu akan membawanya.
Singkat cerita, setelah mengarungi perjalanan kurang lebih sepuluh menit dari rumah sakit, Reynof dan Chelsea sudah sampai di sebuah restoran yang kali ini cukup mewah. Sebuah restoran Nusantara, tetapi berbintang lima. Kali ini mereka berada di room private. Dan beberapa menu makanan pun telah disajikan.
Chelsea juga pernah datang ke tempat itu ketika masih hidup sebagai Emily. Ah, rasanya seperti nostalgia. Sayangnya ada beberapa kenangan tentang kebersamaannya dengan Ronald yang memang lebih menyukai masakan Nusantara. Chelsea menghela napas dan berusaha menepis bayangan kisah masa lalunya bersama Ronald yang sempat ia duga begitu manis. Ia tidak mau terlena apalagi sampai menangis.
“Makanlah, belakangan ini kau tampak lebih kurus,” celetuk Reynof membuka pembicaraan.
__ADS_1
Chelsea berangsur menatap Reynof lalu berkata, ”Kenapa memangnya jika aku kurus? Kau kecewa karena aku tidak seseksi Kayla, Tuan Reynof?”
“Kenapa kau membawa-bawa Kayla?”
“Karena jika dibandingkan dengan Kayla, tentu tubuhku kalah telak! Kau pasti kecewa padaku. Meski begitu, kenapa kau tidak pernah menyentuhnya? Bukankah pria menyukai tipikal tubuh seperti miliknya?”
“Tidak semua, aku tidak suka yang berlebihan.”
“Cih! Aku tahu kau hanya mengelak.”
”Aku sungguh-sungguh, Nona Kecil! Dan lagi, kau juga seksi meski tidak sebesar Kayla!”
“Apanya yang tidak sebesar Kayla?”
“Apa aku harus menjelaskannya secara gamblang, Nona?”
Chelsea langsung menelan saliva. Rona merah pun telah menghiasi nyaris seluruh wajahnya. “Ayahku! Bagaimana dengan ayahku? Apa kau sudah memenjarakannya? Aku sudah mengantongi bukti hasil visum ibuku, termasuk juga foto-foto luka di tubuh ibuku,” ucapnya mengalihkan pembicaraan.
Dan memang benar bahwa Chelsea sudah mengantongi sejumlah bukti. Namun ketika Chelsea mengatakan hal tersebut, wajah Reynof tampak terkejut. Seolah pria itu tidak siap dengan pernyataan yang Chelsea katakan.
”Tidak, aku belum bisa memenjarakan ayahmu,” ucap Reynof mengakui. “Aku masih melepaskannya, tapi—”
“Kenapa?!” Keras dan tegas, Chelsea menyela. Perasaannya sungguh kecewa dengan keputusan gila yang Reynof ambil secara sepihak. “Dia sudah berbuat kejahatan, kenapa kau justru melepaskannya?! Untuk apa?! Untuk membuatku tunduk padamu?! Aku sudah tunduk sekarang!”
“Tidak, Chelsea! Tenanglah. Dengarkan aku, jangan memulai pertengkaran lagi. Kita sedang makan!”
“Baiklah, jika itu maumu. Lebih baik aku pergi saja, daripada kita bertengkar! Tapi satu hal yang pasti, aku benar-benar kecewa karena kau justru melepaskannya, Tuan Reynof!”
“Dengarkan aku dulu, Chelsea!”
Chelsea mengabaikan ucapan Reynof dan bergegas untuk bangkit. Ia membulatkan tekad untuk pergi dari acara makan siang yang bahkan belum dimulai itu. Namun ketika Chelsea hendak mengambil langkah, Reynof dengan cekatan menahan lengan gadis itu.
“Kubilang duduk dan dengarkan aku, Chelsea! Bisakah kau sedikit tenang dan tak kekanak-kanakan, sekalipun kau memang masih anak-anak? Aku rasa Emily tak akan mudah marah, dan tetap mendengarkan sebuah alasan, tapi kenapa kau justru hendak kabur bahkan sebelum aku mengatakan alasanku? Kau itu mau menjadi Chelsea yang lemah yang sampai memutuskan untuk bunuh diri, atau ingin menjadi Emily yang selama ini aku pikir sangat tangguh?!” ucap Reynof.
Chelsea menggigit bibir bawahnya sembari terus menatap tajam ke arah netra abu-abu milik sang tuan. Sepertinya ia memang terlalu terburu-buru dalam menuruti rasa kesal, karena yang menyangkut Hery Padiman itu memang selalu menyebalkan. Satu hal yang pasti, Reynof yang sekali lagi menyebut nama Emily membuat Chelsea akhirnya berkenan untuk duduk kembali.
***
__ADS_1