Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya

Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya
Kecupan Manis Dari Chelsea


__ADS_3

Reynof terhitung jarang melepaskan tangan Chelsea setelah ia mengajak gadis itu untuk berkencan di salah satu kepulauan yang paling dekat dengan kota di mana ia tinggal. Dan segala sesuatunya memang sudah ia rancang sebelumnya, dengan bantuan dari Ruben sekaligus beberapa anak buahnya yang dikepalai oleh Ruben. Setelah momen manis perdana yang ia lalui bersama Chelsea tadi pagi, hari ini ia benar-benar menikmati keindahan alam tanpa melepaskan gadis itu sama sekali, kecuali di keadaan yang memang mengharuskannya melepas tangan gadis itu terlebih dahulu.


Kini ketika sore sudah tiba, di mana Reynof dan Chelsea belum merasa lelah, sedang asyik berjalan di pinggir pantai sembari menunggu datangnya keindahan sunset. Mereka saling bergandengan, sampai nyaris seperti sepasang kekasih yang saling mencintai. Namun apa daya, saat ini hanya Reynof saja yang memiliki perasaan jatuh cinta, lantaran Chelsea tetap menganggapnya sebagai orang yang bisa membantu.


Chelsea yang kerap bersitegang dengan Reynof itu, untuk saat ini memang cenderung menerima semua perlakuan Reynof yang begitu manis. Namun bukan karena ia jatuh cinta pada pria yang selalu membantunya. Chelsea hanya mencoba menghargai Reynof, sekaligus sedikit membuat hati pria itu tenang dan senang.


”Hei, Tuan Reynop! Bukankah kita harus pulang? Kau tak berniat untuk menginap di sini, bukan? Waktu kencan kita hanya dua hari lho!” celetuk Chelsea sesaat setelah bergerak ke hadapan Reynof, di mana saat ini ia pun sampai berjalan mundur dengan keadaan jemarinya yang masih digenggam oleh tuannya itu.


Reynof segera menghentikan langkah kakinya, lalu berkata, “Kenapa kita harus pulang? Aku sudah menyewa penginapam untuk tempat bermalam kita, Nona.”


”Kenapa kau tak bilang? Aku kira, kita hanya di sini sampai matahari terbenam, itu saja!”


“Tidak, aku sudah mengaturnya untuk menginap semalam di tempat ini.”


Chelsea menelan saliva dan ia menunduk dengan salah tingkah. “Kau tak berniat untuk ....”

__ADS_1


”Aku menyewa dua tempat, Nona! Tenang saja, aku benar-benar akan menepati janjiku untuk tidak lagi menyentuhmu secara berlebihan,” jelas Reynof sebelum Chelsea salah paham. “Kau masih percaya padaku, bukan?”


Chelsea berangsur menatap Reynof lagi. Cukup lama ia terdiam sembari mengamati ekspresi teduh di wajah pria itu. Reynof yang kejam sudah berubah, tetapi yang paling membuat Chelsea bingung adalah sikap Reynof yang seolah tak mau kehilangan dirinya. Sejak tadi pun, tergambar gurat kecemasan di wajah tampan pria itu, membuat Chelsea agak khawatir juga. Mungkinkah Reynof hanya sebatas ingin menjaga hati Chelsea, agar Chelsea tak lagi memusuhi?


Sebuah senyum lantas terlukis di bibir Chelsea, membuatnya yang saat ini terbalut gaun putih serta separuh rambut bagian atasnya terikat pita hitam, semakin terlihat menawan. Dan karena sedang berada di pantai yang bersuhu panas, tentu Chelsea sengaja tidak memakai make-up, selain tabir Surya dan krim lain yang bisa melindungi kulit wajahnya dari teriknya matahari. Namun beruntung, raga itu memiliki wajah yang menawan kendati tanpa make-up berlebihan.


Melihat Chelsea dengan balutan gaun putih dan rambut yang dibiarkan setengah terurai membuat Reynof teringat pada foto Emily yang malam itu ia tatap dalam waktu cukup lama. Penampilan Chelsea yang sejatinya memang Emily persis sekali dengan Emily di saat masih berada di raga aslinya. Bagaimana tidak mirip, jika si Jiwa memanglah sosok yang dianggap sudah mati, tetapi malah membuat Reynof jatuh cinta.


”Aku percaya padamu kok. Tenang saja dan tak usah cemas. Mungkin masa lalu kita begitu buruk, tapi aku tahu jika belakangan ini kau telah banyak berusaha.” Chelsea menghela napas setelah berkata demikian, di mana setelahnya ia kembali berkata, “Kau jangan pernah kembali menjadi sosokmu yang dulu lagi, ya? Jangan menjadi baik hanya untuk seseorang saja, tapi jadilah baik untuk dirimu sendiri juga. Aku ingin kau bahagia tanpa memikirkan masa lalu burukmu lagi, Tuan Reynof. Nanti, misalnya aku tidak ada, kau harus—”


”Chelsea, memangnya kau mau ke mana?” sahut Reynof dengan cepat. Ia lantas menggenggam kedua jemari gadis itu dan memberikan tatapan yang tegas dan tajam. ”Kau harus berada di sisiku selama-lamanya. Kau itu milikku, dan jangan berpikir untuk pergi dariku!”


Grep! Reynof kembali memeluk tubuh Chelsea dengan erat. Tidak hanya karena ketakutannya, melainkan juga untuk menyembunyikan air matanya yang pada akhirnya keluar dari pelupuk mata. Ia sudah tidak mampu menahan desakan linangan netra yang selalu ingin keluar ketika benaknya membayangkan bagaimana ia akan kehilangan wanita idamannya. Dan dengan ketidakberdayaan itu, Reynof benar-benar tidak tahu harus bagaimana.


“Tuan Reynof?

__ADS_1


Chelsea yang bingung memutuskan untuk menepuk punggung Reynof dengan pelan, karena saat ini ia mulai menduga bahwa mungkin saja Reynof memang benar-benar takut kehilangan dirinya. Entahlah. Chelsea pun semakin bingung kalau begini caranya, sementara ia sendiri tidak tahu kapan jiwanya akan lenyap. Ia berharap ada kejelasan tentang keberadaan Chelsea Indriyana yang asli, agar setidaknya dirinya bisa menentukan sikap.


Sungguh, jika Reynof sampai menderita karena kehilangan dirinya yang adalah Emily, pria itu akan berakhir menyedihkan. Reynof sudah memiliki banyak luka karena masa lalu yang begitu buruk, dan sepertinya mental Reynof juga belum baik-baik saja. Jika hanya sekadar menyedihkan, mungkin bisa dipengaruhi oleh Ruben agar Reynof bangkit dan bersemangat kembali. Namun bagaimana jika Reynof tidak dapat menerima perubahan pada diri Chelsea setelah jiwa Emily pergi, bukankah pria itu bisa berbuat lebih keji lagi?


“Hei, aku tidak akan pergi kok. Seandainya aku memang harus pergi, aku pasti akan selalu mengingatmu, Tuan Reynop-ku!” ucap Chelsea untuk menenangkan hati pria itu.


Reynof berusaha menghapus tetesan air matanya sebelum melepaskan pelukannya. Detik berikutnya, ia menatap Chelsea lagi dengan keadaan yang sudah lebih baik.


“Kau tidak boleh pergi, mau kau mengingatku atau tidak, kau harus tetap berada di sisiku. Dan itu perintah!” tegas Reynof.


Chelsea menghela napas. “Sudahlah. Toh aku juga masih ada di sini.”


“Chelsea, aku—”


Dengan cepat, Chelsea mengecup bibir Reynof tepat ketika sunset melukiskan jingga indahnya di ufuk barat. Anggaplah Chelsea sedang memberikan hadiah untuk Reynof yang sudah banyak berubah, sekaligus untuk membuat hati pria itu menjadi lebih tenang dan tak lagi ketakutan. Mendapatkan perlakuan yang tak hanya manis, tetapi juga mesra, tentu saja Reynof terkesiap bahkan sampai melebarkan mata. Sosok yang terus memusuhinya justru memberikan kecupan manis duluan.

__ADS_1


”Selama aku bisa, aku pasti akan selalu berada di sisimu. Jadi tenang saja, asalkan kau juga berjanji untuk tidak berubah menjadi kejam lagi,” ucap Chelsea. Berjanjilah, Reynof, meski diri ini berubah, kau harus memperlakukannya dengan sikap manis yang sama. Melihatmu yang sepertinya sudah jatuh cinta, aku tak yakin kau diam saja ketika aku memutuskan untuk membawa tubuh ini pergi. Kau pasti akan mencari, tapi aku harap, setelah kau menemukan, kau tetap mencintai kendati jiwaku sudah pergi, batinnya setelah itu.


***


__ADS_2