Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya

Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya
Ide Gila Reynof yang Membuat Chelsea Kesal


__ADS_3

“Oh, ka-kalian memang sangat cocok,” ucap Nora.


Hati Nora sungguh kecewa. Rupanya, setelah ditolak oleh Fabian, belum apa-apa, dirinya sudah tertolak oleh Reynof Keihl Wangsa. Sebenarnya ia tidak pernah berencana untuk menggoda Reynof, dan malam ini, ia hanya berpikir 'barangkali' memang bisa menjalin hubungan lebih dekat dengan pria itu. Namun tetap saja, Nora merasa kecewa dan kalah hanya karena gadis cilik yang ketus itu. Menyebalkan!


Karena tidak mau ketahuan jika sedang malu, Nora langsung menarik lengan Fabian dan membawa Fabian masuk ke dalam private room itu. Ketika pintu sudah ditutup kembali, Chelsea baru menghadapkan dirinya pada Reynof dan menunjukkan protesnya. Detik berikutnya, Chelsea menarik Reynof ke tempat yang lebih sepi.


“Kenapa kau bilang bahwa kita sepasang kekasih, Tuan Reynof yang terhormat?” tanya Chelsea. Suaranya pelan, tetapi penuh penekanan.


Reynof menyeringai. “Bukankah memang begitu?” sahutnya.


“Tidak begitu. Aku ini budakmu, dan kau tuanku. Dari segi mana, kita bisa dianggap sebagai sepasang kekasih?”


“Alaaah ... kita kan pernah tidur bersama!”


“Ssstttt! Gila memalukan!” Chelsea mencubit keras pinggang Reynof. “Aku terpaksa melakukannya! Dan kau tahu itu, 'kan?! Aku bahkan masih merasa sangat kotor serta berdosa! Aku merasa diriku sudah hina, tapi kau malah memanfaatkan dosa itu untuk membohongi orang lain?”


“Ucapanmu sungguh membuatku merasa bersalah, Chelsea,” ucap Reynof lalu menghela napas. “Nora tampak tertarik padaku, dan sepertinya dia sangat membencimu. Aku hanya ingin mempermalukan dia saja! Seharusnya kau berterima kasih padaku, Nona! Dan makan bersamanya, bukankah akan menjadi kesempatan bagimu untuk membuatnya semakin kesal? Aku yakin pertemuan pertama kalian berlangsung dengan buruk, sebab setelah aku perhatikan, di antara kalian seperti ada aliran listrik yang siap saling adu tegangan.”


“Kau pikir, aku membuat keputusan untuk mempermainkanmu, Chelsea? Bukankah aku sudah bilang, bahwa aku akan membantumu bagaimanapun caranya? Aku bukan orang bodoh yang mengambil keputusan tanpa pertimbangan apa pun, Nona! Dan baik, aku memang telah membuatmu menjadi wanita yang hina, lantaran sudah memaksamu untuk memenuhi hasratku. Tapi, apa tidak ada kesempatan bagiku untuk menebus kesalahan itu?”


“Kau bilang kau akan menerimaku dan bersikap lebih ramah padaku, jika aku bertobat, bukan? Saat ini, aku sedang berusaha, Nona. Aku juga tidak tahu kenapa aku menjadi seperti ini. Hanya karena kau, aku meninggalkan banyak kebiasaanku, dan tentu saja aku mengalami banyak kerugian secara materi. Meskipun berkat kau perusahaanku bersinar, tapi tetap saja usahaku yang lain langsung mundur. Tapi aku tak pernah keberatan soal kemunduran itu, Nona! Aaah ... tapi, sampai saat ini tampaknya kau masih enggan untuk percaya padaku?”

__ADS_1


Rahang Reynof mengeras, dadanya terasa sesak. “Tunggu aku, jangan masuk dulu. Aku akan mengurus pesanan.”


Setelah mengakhiri ucapan panjang-lebarnya, Reynof segera mengambil langkah. Ia meninggalkan Chelsea yang masih terpaku diam untuk melakukan sesuatu yang memang harus ia lakukan. Mata Chelsea terus menatap punggung Reynof. Kini dirinya yang menjadi merasa bersalah. Rupanya ia memang sudah salah sangka. Kalau dipikir-pikir, Reynof memang sudah banyak berubah. Namun Chelsea tidak pernah memberikan sedikit kesempatan agar Reynof mendapatkan kepercayaannya.


Untuk bisa percaya pada orang lain, sejujurnya telah menjadi kesulitan tersendiri bagi Chelsea. Saat hidup sebagai Emily, ia justru dibunuh oleh dua orang yang paling ia sayangi. Dan bagaimana bisa ia memercayai penjahat macam Reynof yang sudah melakukan banyak tindak kriminal? Bahkan seingat Chelsea, Reynof sempat mengaku bahwa pernah melakukan pembunuhan.


Hanya dengan dalih 'bertobat', bisakah Reynof benar-benar berubah dan meninggalkan segala kebiasaan jahatnya? Dan nanti, ketika jiwa Emily sudah lenyap, sementara raga Chelsea sudah diisi oleh jiwa Chelsea yang sebenarnya, bisakah Reynof menerima gadis pemilik tubuh ini?


“Aku tidak tahu ... aku sama sekali tidak bisa percaya pada siapa pun. Dan aku tidak punya petunjuk dengan keberadaan jiwa asli dari tubuh ini. Jika Reynof berubah demi diriku yang hanya palsu, lantas bagaimana dia bisa menerima perubahan sikap dari 'Chelsea' jika jiwa yang asli telah kembali? Dia terlalu pintar dan teliti. Jika ada perubahan pada diri ini, dia pasti langsung tahu. Aku khawatir jika dia kecewa dan malah melampiaskan kekecewaan dan kemarahannya pada gadis ini. Seharusnya dia berubah untuk dirinya sendiri, bukan karena aku!” ucap Chelsea yang merasa bingung.


Kemudian Reynof pun datang. Pria itu berdiri di hadapan Chelsea setelah berjalan dari arah lain. Reynof mengulurkan tangan pada Chelsea kemudian berkata, “Aku tahu kau masih kesal, tapi kita harus terlihat lebih mesra, 'kan? Kita harus masuk, sebelum hari semakin malam, Nona.”


”Aku tahu,” sahut Chelsea kemudian meraih telapak tangan pria bernetra abu-abu itu.


“Hei, Nona. Aku harus bagaimana agar wajahmu tidak sekaku itu lagi? Apa kau masih tidak bisa memaafkan kesalahanku karena telah membuat rencana secara sepihak?” bisik Reynof pada Chelsea.


”Bukankah saat ini yang kecewa adalah kau?” sahut Chelsea.


”Tapi, aku terlalu pintar menyembunyikan kekecewaanku. Berbeda dengan kau, Chelsea.”


“Kalau begitu, bisakah kau melucu agar wajahku lekas membaik?”

__ADS_1


“Sayang sekali, aku bukan seorang pelawak, aku hanya bule tampan yang kebetulan kaya raya.”


“Oh, baik, 'hanya' bule kaya, ya?” Chelsea tersenyum tipis. “Baiklah, itu sudah cukup lucu.”


“Apa ini? Selera humormu sangat rendah, Nona.”


”Ya.” Chelsea menjawab sembari menyipitkan matanya. “Bisakah kita segera masuk dan menghadapi mereka. Katamu aku bisa memanfaatkan momen ini, bukan? Dan sekarang, aku sudah tidak sabar.”


”Benarkah?”


”Ya dan ... mm, terima kasih dan maafkan aku.”


“Apa? Kau bilang apa barusan?”


Chelsea menggeleng. “Tidak, bukan apa-apa.”


Karena tidak ingin terus didesak oleh Reynof, Chelsea segera membuka pintu itu, dan ia tetap memegang telapak tangan Reynof. Saat ini, ia justru kepikiran soal ucapan Reynof mengenai Nora yang kemungkinan memiliki ketertarikan tersendiri pada Reynof yang ... baik, Chelsea akui memang tampan. Membuatnya ingin memamerkan kesuksesannya menjalin kedekatan dengan Reynof, meski sangat disayangkan ia bukan lagi Emily, melainkan Chelsea.


Kehadiran Reynof dan Chelsea yang cukup mesra membuat Nora benar-benar kesal dan muak. Ini sih namanya bukan makan bersama untuk menjalin keeratan jalinan kerja sama, melainkan untuk berperan sebagai nyamuk di antara sepasang kekasih yang sepertinya masih dimabuk asmara. Ah! Nora cukup menyesal karena menyetujui ajakan Reynof, meski bila waktu bisa diputar, ia tak akan berani menolak penawaran pria itu.


Sementara Fabian masih terus berpikir untuk mencari cara agar bisa berbicara empat mata dengan Chelsea tanpa memprovokasi Reynof maupun Nora.

__ADS_1


***


__ADS_2