
Nora sudah mempercepat langkah kakinya, meninggalkan Ronald yang tengah tergopoh-gopoh. Pagi ini pertengkaran memang telah terjadi lagi, karena Ronald kembali membahas soal posisi di perusahaan. Namun rengekan Ronald sama sekali tidak bisa mengubah keputusan yang telah Nora ambil. Sehingga pertengkaran di antara mereka berdua sempat meledak-ledak. Bahkan berkat hal itu pula, hubungan spesial keduanya telah menjawab segala pertanyaan berkecamuk di hati para karyawan.
”Baiklah!” ucap Ronald sembari meraih lengan Nora, sebelum wanita itu masuk ke dalam mobil milik Fabian yang telah menunggu kemunculan Nora di halaman rumah bagian depan. “Aku akan menuruti permintaanmu. Dan mulai hari ini, aku akan bekerja sebagai staff rendahan di perusahaan itu!”
Nora membalikkan tubuhnya lagi agar bisa menatap Ronald secara sepenuhnya. Kedua lengannya pun sudah terlipat angkuh di bawah dadanya. Seringai sinis nan tajam juga lantas terulas di bibirnya yang merah maroon karena lipstik.
“Bagus kalau begitu! Kau memang orang rendah, yang seharusnya ada di posisi paling bawah. Kau harus selalu ingat posisimu, Ronald, kau itu hanya anak satpam sekaligus pedagang sayuran! Masih mending aku tak mengusirmu dari rumah ini!” tegas Nora yang sudah kelewat muak oleh semua sikap Ronald yang sejak Emily mati, semakin menjadi-jadi dalam hal memerasnya.
Ucapan kejam yang meluncur dari bibir Nora sungguh membuat hati Ronald sakit hati. Rasanya ingin sekali ia menampar pipi mulus bak porselen milik wanita itu. Namun keberadaan Fabian membuatnya harus tetap menahan diri. Ia juga tahu bahwa Fabian sangat menghormati Emily, akan fatal jadinya jika Fabian menaruh curiga terhadap dirinya saat ia memilih untuk bersikap kasar. Selain karena ada Fabian, nyatanya Ronald masih sangat pengecut. Ia tidak bisa melakukan kekerasan terhadap Nora, sebab wanita itu terus mengancam akan mengusir dirinya.
Kalau aku tahu akan begini jadinya, aku akan memilih untuk membunuh Nora saja. Setidaknya Emily sempat tergila-gila padaku, dia bahkan berjanji akan memberi posisi tinggi. Tapi karena wanita iblis ini, aku malah menghabisi istriku sendiri. Sialan, sekarang aku baru sadar siapa yang jauh lebih baik untuk aku pertahankan, batin Ronald yang sungguh-sungguh menyesal.
Sebab, sebelum memutuskan untuk membunuh Emily dengan rencana dadakan, di matan Ronald, Nora memang jauh lebih memikat. Lagi pula, ia dan Nora sudah menjalin hubungan sejak sebelum dirinya menikahi Emily. Dan Nora selalu mendoktrin dirinya, jika Emily tiada, seluruh harta keluarga Rukmana sudah pasti bisa dinikmati dengan bebas! Sayangnya, Ronald justru dikendalikan dan terancam disingkirkan oleh wanita yang ia pilih tersebut.
“Nona, mari segera berangkat, Anda ada pertemuan penting hari ini,” celetuk Fabian sesaat setelah melirik waktu di jam tangannya. Hari memang masih pagi, tetapi karena dua hari lagi, ada pengusaha besar dari Prancis yang perlu Nora temui sebagai pimpinan baru Pano Diamond Group, pagi ini rapat dengan para petinggi akan digelar.
Wajah Nora yang sebelumnya telah dikuasai amarah besar, kini berubah menjadi lebih cerah. Apalagi setelah ia menatap wajah manis maskulin milik Fabian, oh sungguh! Senyumnya menjadi melebar. Bahkan keberadaan sekretaris mendiang kakak sepupunya itu mampu meruntuhkan segala kekesalan yang sempat membuncah gara-gara Ronald.
”Ayo! Aku sudah siap kok! Jangan pedulikan kakak iparku yang memang manja, Fabian!” ucap Nora sembari bergegas untuk melesakkan dirinya ke dalam mobil bagian depan, dan ia mengabaikan pintu belakang yang sudah dibukakan oleh Fabian.
“Aku mau duduk di depan!” kata Nora menegaskan, sehingga Fabian membatalkan niat untuk mempertanyakan keputusannya.
“Kami berangkat duluan, Tuan,” ucap Fabian setelahnya. Ia lantas membungkukkan tubuh di hadapan Ronald. “Saya permisi.”
__ADS_1
“Ya. Tapi tak usah berhati-hati. Bikin dia celaka saja!” ucap Ronald dan ia sudah memastikan bahwa Nora tak akan mendengar.
Fabian terkesiap. Bahkan keputusannya untuk segera memasuki mobil menjadi terhenti ketika Ronald menyelesaikan kalimat aneh tersebut.
Dia memang sedang kesal, tapi mencurigakan juga kalau dia sampai berkata seperti itu. Membuatku menjadi curiga, bahwa dia tersangka yang paling kuat, batin Fabian.
“Hei, ayo!” teriak Nora pada Fabian yang justru termenung diam.
Fabian langsung menoleh ke arah Nora. ”Ah, baik, Nona!” sahutnya.
Perjalanan menuju perusahaan Pano Diamond pun dimulai. Fabian tampaknya sangat fokus dalam menyetir mobil, tetapi sesungguhnya, pikirannya tengah berkecamuk. Meski ia tidak bisa melakukan apa pun setelah mengetahui siapa tersangkanya, ia tetap tidak bisa mengabaikan Nora dan Ronald begitu saja. Barangkali suatu saat dirinya mendapatkan titik terang, sekaligus keberanian bahkan dukungan kuat untuk mengungkap kasus kematian Emily.
”Fabian?” ucap Nora dengan lembut. Detik berikutnya, ia menjatuhkan kepalanya di pundak Fabian, lantaran lampu merah memang masih menyala. Dan ia pikir tak akan berbahaya jika sedikit menganggu Fabian yang terus terdiam.
“No-nona? Apa yang Anda lakukan?” ucap Fabian ketika dirinya sudah bergidik karena sikap Nora yang sangat mengejutkan.
“Kak Emily saja tidak memberinya apa-apa. Bahkan setahuku mereka memiliki surat perjanjian pra-nikah, dan sepertinya Ronald tidak berhak atas harta milik kakakku. Aku hanya mencoba menaati wasiat dari Kak Emily, Fabian. Tapi dia terus mengangguk, dan lagi, dia tidak pernah mau keluar dari rumah itu. Dia itu kejam, membuat aku dan para pelayan ketakutan.”
Nora lantas mengangkat kepalanya, dan saat ini ia menatap Fabian yang sudah kembali sibuk menyetir. Ia membelai halus pangkuan pria itu. “Hari ini hingga malam nanti, temani aku ya! Ini perintah lho! Tenang saja, aku tidak akan melukaimu kok. Jadi kau harus manut! Oke?!”
Fabian melirik jemari Nora yang tak segera menyingkir dari pangkuan. Sesak sekali diperlakukan sedemikian rupa. Ini sih namanya sudah peleccehan. Namun apa daya, Fabian hanyalah seorang bawahan. Tubuhnya memang kekar, dan kekuatannya pasti jauh lebih besar. Hanya saja ia tak memiliki kekuasaan. Ia tidak bisa asal menolak apalagi melawan. Dan kenyataan itu membuat Fabian akhirnya menunduk setuju. Dengan terpaksa ia mengikuti permintaan Nora yang bisa menjadi sangat berbahaya.
***
__ADS_1
Dering ponsel Chelsea terdengar begitu keras, membuat Chelsea dan Reynof yang sedang menyantap sarapan bersama menjadi kompak tersentak. Mereka saling bertatapan, dan lagi-lagi kompak menatap ponsel yang masih berteriak. Nama Ronald yang tertera membuat Reynof langsung mendengkus kesal, sementara Chelsea sibuk mengerjakan matanya.
Dia akan kesal lagi jika aku berbicara dengan Ronald, lebih baik abaikan dulu. Dan lagi, kenapa pagi-pagi Ronald sudah mengangguk sih?! Batin Chelsea.
“Kenapa tidak diangkat?” tanya Reynof ketika Chelsea memilih mematikan panggilan tersebut.
Chelsea menghela napas kemudian menatap tuannya itu. ”Kita sedang sarapan dan aku tidak ingin kau menghentikan sarapanmu karena kesal padaku,” jawabnya.
“Dan kau berniat untuk berbicara dengannya tanpa sepengetahuanku?” serang Reynof.
“Kau bilang kau tak ingin bertengkar lagi, bukan?” sahut Chelsea sembari menatap kesal. “Aku tak menerima panggilan darinya karena kita memang sedang makan, aku tidak mau jika kau meninggalkan makananmu yang masih banyak itu. Seandainya aku berbicara dengannya tanpa ada dirimu, aku pasti akan melaporkan isi pembicaraan kamu denganmu. Tolong percayalah padaku, Tuan Reynof!”
“Baiklah. Aku akan mencoba memercayai ucapanmu lantaran aku memang tidak ingin terlalu banyak bertengkar lagi denganmu. Tapi awas saja jika kau meninggalkan secuil saja semua perbincanganmu dengan Ronald, Chelsea!”
“Aku akan mengingat ancamanmu itu, Tuan!”
“Bukan ancaman, melainkan peringatan, Nona!”
”Sama saja!”
“Berbeda, Chelsea!”
Chelsea mendengkus kesal. “Ah, baik! Terserah kau saja!”
__ADS_1
Reynof akhirnya terdiam, selain hanya mengembuskan napasnya secara kasar. Apa pun yang menyangkut Ronald memang benar-benar membuatnya kesal. Lebih kesal karena ia tidak bisa membunuh pria itu. Seandainya Chelsea memang Emily, mereka bisa saling jatuh cinta lagi, dan hal itu terus-terusan membuat Reynof kepikiran.
***