
”Untuk apa kau datang kemari? Kau ingin menertawaiku?” tanya Nora pada orang pertama yang mendatanginya sejak dirinya ditetapkan sebagai tersangka, sekaligus sudah diperbolehkan melakukan pertemuan jika ada orang yang berkenan untuk mengunjunginya.
Namun Nora sama sekali tidak menyangka, orang pertama yang saat ini tengah mengunjunginya bukanlah Ronald, apalagi Fabian. Melainkan Chelsea Indriyana, salah satu sekretaris Reynof yang sangat Nora benci. Sikap Chelsea saat ini pun benar-benar memuakkan. Kalau saja tidak ada pembatas antara dirinya dan Chelsea, mungkin Nora sudah mendorong gadis itu agar lekas pergi.
Chelsea tersenyum, kemudian berkata, ”Bagaimana, Nora? Setelah apa yang kau lakukan pada kakakmu, sekarang kau malah dipenjara, bahkan sebelum satu tahun di Pano Diamond Group. Bukankah menakjubkan? Selain itu, aku juga mendengar bahwa kau telah membuat surat wasiat palsu ya? Mm, ah satu lagi, Ronald juga kabur dan melimpahkan segalanya padamu, 'kan? Waaah! Kau sudah benar-benar jatuh miskin dan sendirian, Nora! Ini benar-benar mengejutkan!”
Nora menggertakkan giginya ketika telapak tangannya langsung mengepal kuat, saking benci dan geramnya ia pada sosok Chelsea. ”Kau menyelidikiku? Untuk menghancurkan aku dan Pano Diamond? Kenapa kau selalu bersikap buruk padaku, Chelsea?! Kita tidak pernah bertemu sebelumnya! Tapi kenapa kau begitu ingin menghancurkanku?! Hanya karena kau penggemar berat Emily, dan kau berharap bisa menjadi pahlawan untuknya yang sudah mati? Pft ... kau sama gilanya denganku, Chelsea!”
”Gila seperti kau?” Chelsea tertawa meremehkan. ”Tidak, Adikku sayang. Aku justru masih menyayangimu hingga sekarang.”
Mata Nora kian melebar. Ucapan Chelsea sungguh membuatnya semakin kesal. “Dasar penguntit! Kau sama sekali tidak bisa menjadi Emily!”
”Kau ... masih tak sadar ya rupanya?” Wajah Chelsea berubah datar, ketika matanya memancarkan tatapan yang dingin sekaligus tajam. ”Apa aku memang terlihat seperti seorang penguntit? Bukankah aku benar-benar serupa dengan Emily? Aku ini Emily lho, kakakmu!”
”Gadis gila!”
”Hei, Nora, ayolah! Aku ini memang kakakmu. Kakak yang telah kau bunuh itu. Kau ingat gadis yang ditemukan sekarat di tempat kau membuang mobilku, bukan? Ya, itu adalah gadis ini. Gadis yang raganya sedang aku masuki.” Chelsea menyeringai. ”Kenapa wajahmu mendadak kebas seperti itu? Kau tak percaya? Atau takut, karena berpikir bahwa aku hantu yang merasuki tubuh orang hidup untuk menuntut balas padamu? Mm, akan lebih baik jika aku menceritakan seluruh kisah hidup kita berdua, Nora, agar kau semakin percaya bahwa aku memanglah kakakmu—Emily.”
__ADS_1
Nora terdiam bingung dan juga takut. Perasaannya campur-aduk. Dadanya bergemuruh hebat. Sementara di sisi lain, Chelsea yang sudah mengaku sebagai Emily kini sibuk menceritakan berbagai hal, terutama setiap kegiatan yang selalu dilakukan Nora bersama Emily. Tak hanya momen ketika tumbuh bersama, Chelsea pun mengisahkan tentang kedatangan Ronald di hidupnya.
Ronald yang kala itu muncul di hadapan Emily setelah sempat mengantarkan Nora dari suatu tempat, menjadi awal mula pertemuan mereka. Sikap Ronald yang terlalu sopan, membuat Emily cukup terkesima. Karena tak hanya sekadar sopan, nyatanya wajah Ronald yang cukup rupawan memang sempat membuat Emily terpana. Pada momen itulah, Nora menggoda, dan mendorong agar Emily mengakui ketertarikannya pada Ronald.
Sampai kemudian, Ronald muncul melalui pesan di ponsel Emily yang pada saat itu sedang terpuruk karena kematian kedua orang tuanya. Ronald mengaku bahwa Noralah yang membagi nomor ponsel Emily, karena Nora sangat khawatir dengan kondisi Emily yang tak lekas pulih dari kesedihan. Sebagai kenalan Nora, Ronald tak sulit untuk menggapai Emily. Tak hanya sekali dua kali, Ronald menawarkan sebuah pertemuan dan keinginan untuk membawa Emily ke suatu tempat yang bisa menyembuhkan segala kesedihan. Meski Emily kerap menolak, bahkan sampai ke sembilan kalinya enggan menanggapi, Ronald tetap tidak menyerah.
Ronald sampai datang tanpa memasuki rumah Emily, dan meminta Emily untuk keluar. Berkat dorongan dari Nora yang mengatakan bahwa Emily tak seharusnya menyia-nyiakan kebaikan Ronald, membuat Emily akhirnya muncul di hadapan Ronald. Bahkan di saat itu juga, Emily yang masih muram dan masih merasa kehilangan terpaksa masuk ke dalam mobil pria itu. Keputusan yang Emily buat tak terlalu buruk, karena Ronald membawanya untuk mengunjungi tempat-tempat menarik demi melupakan segala kesedihannya. Dan mulai saat itu, kedekatan antara Emily dan Ronald kian menunjukkan kemajuan.
“ ... dan aku sungguh sudah menaruh semua harapanku pada Ronald yang aku pacari selama hampir satu tahun, setelah Ayah dan Ibu meninggal. Aku benar-benar takjub dengan rencanamu, Nora, kau memasukkan Ronald saat keadaanku benar-benar terpuruk dan membutuhkan sandaran. Hebatnya, Ronald pun pandai memerankan karakternya sebagai pria yang mencintaiku sekaligus sangat memedulikanku. Ah ... bukankah pada saat itu aku benar-benar bodoh, Nora?” Chelsea tertawa kecil.
”Ya, aku memang bodoh, Nora. Seharusnya aku tidak langsung memercayai pria asing, meskipun pria itu adalah kenalanmu. Aku benar-benar wanita yang polos hihi.” Chelsea mencondongkan tubuh ke depan. Pucuk hidungnya sampai menempel pada kaca pembatas yang memiliki lubang-lubang kecil tersebut. Ia pun sampai menekankan telapak tangannya di kaca tersebut. “Tapi, Nora, kau sudah percaya, bukan? Bahwa aku adalah Emily bodoh yang kau bunuh itu, Adikku. Percayalah padaku!”
”Tuhan telah memberiku kesempatan, Nora, aku diberikan kesempatan kedua! Aku hidup lagi demi bisa menghukum kau dan kekasih sialanmu itu, Adikku!” tegas Chelsea agar Nora lebih percaya. “Kenapa kau malah bengong? Kau sungguh masih menganggapku sebagai penguntit? Tidak, Nora! Tidak boleh! Kau harus percaya bahwa aku adalah kakak sepupu yang telah kau bunuh itu, Dik!”
”Aaaaaaa! Pergi! Pergiiii!” Nora langsung histeris sampai menutupi wajahnya. Ia benar-benar ketakutan sekarang. Tidak peduli apakah Chelsea mengatakan fakta atau hanya sedang bersandiwara, bagi Nora sikap Chelsea tetap menakutkan!
”Kau harus menderita, Nora! Kau harus sengsara sembari menunggu eksekusi atas dirimu yang sudah pasti akan mendapat hukuman mati!” ucap Cheslea. ”Sekarang Ronald pun sudah kabur darimu. Suamiku yang kau ajak berselingkuh itu, pada akhirnya juga mengkhianatimu. Rasakan, Nora, rasakan sakitnya menunggu kematian. Rasakan sakitnya pengkhianatan. Rasakan betapa mengerikannya sebuah kesendirian. Ingat, kau sama sekali tidak boleh bahagia, Nora! Ini keinginan terakhirku untukmu, Dik!”
__ADS_1
Nora semakin tak karuan. Ia bangkit dan berusaha menggapai Chelsea, meski pada akhirnya ia hanya bisa menghentak-hentak kaca pembatas itu. “Aku tidak bersalah, aku sungguh tidak bersalah! Kau yang bersalah, Emily! Kedua orang tuamu juga bersalah. Kenapa kalian semua membiarkan ayahku mati? Kenapa?! Kenapa kau hidup bak tuan putri, sementara aku bak dayang untukmu? Kenapa?! Kenapa kau bisa mendapatkan segalanya tapi tidak denganku? Kaliam menghancurkan keluarga dan masa depanku? Tapi, kenapa aku yang berakhir seperti ini?! Ini sama sekali tidak adil, Emily!”
”Apa kau bilang? Kami bersalah? Apa kau sama sekali tidak sadar bahwa semua yang dilakukan oleh ayahmu itu adalah sebuah kejahatan, Nora?! Bahkan ketika diberikan kesempatan oleh ayahku, Paman Rusmana masih saja berulah! Perusahaan lain yang harusnya dia urus setelah dia diusir dari Pano karena kejahatannya, lagi-lagi malah dirusak sampai parah! Dan kau ... seharusnya kau tahu, jika ibumu pergi kabur pun gara-gara ulah ayahmu sendiri! Aku bahkan selalu menganggapmu sebagai adik kesayanganku, ayah dan ibuku pun selalu berusaha untuk menjaga hatimu. Tapi karena rasa iri sialanmu itu, kau sampai membunuhku?! Gila!” Chelsea terlanjur geregetan. ”Sampai akhir pun kau tetap egois dan tak ingin meminta maaf? Nora, ... kau benar-benar iblis!”
”Bukan aku! Bukan akuuu!” pekik Nora sambil menatap Chelsea dengan mata dan wajahnya yang basah, memerah, dan berantakan. “Ronald yang melakukannya! Suami yang kau cintai itu tidak hanya membunuhmu, tapi juga telah membunuh kedua orang tuamu! Jika kau adalah Emily, seharusnya kau bekerja keras untuk menemukannya! Paman dan bibi dibunuh olehnya! Bukan begini, Emily! Aku tidak bersalah! Aku tidak bersalaaaah! Aaaaaa! Aku selalu menderita dan seharusnya kau paham itu, Sialan!”
Dua petugas muncul dan langsung menarik diri Nora yang kian mengamuk. Sementara Chelsea masih terdiam di tempat duduknya dengan kondisi yang syok berat. Pria yang merupakan suaminya dan saat ini masih dikurung oleh Reynof demi membuat Nora merasakan pedihnya pengkhianatan, ternyata tidak hanya membunuhnya. Ronald juga telah membunuh Bowo Rukmana dan Asri Dewidanti, selaku orang tua Chelsea di saat masih hidup sebagai Emily.
Kenyataan apa ini? Sungguh plot twist yang jauh lebih mengerikan. Kedua orang tua yang selama ini Chelsea yakini telah meninggal akibat kecelakaan yang disebabkan oleh sopir truk mengantuk, nyatanya justru sengaja dibunuh. Dan kemungkinan besar, kematian Bowo Rukmana dan Asri Dewidanti malah sudah direncanakan dengan begitu rapi. Seorang sopir truk yang sudah dianggap sebagai tersangka bisa jadi merupakan orang suruhan Ronald, dan Nora pastinya juga turut terlibat.
Kini Chelsea mulai memahami alur rencana Ronald dan Nora. Pembunuhan atas Bowo Rukmana dan Asri Dewidanti dilakukan agar Nora bisa memasukkan sosok Ronald di hidup Emily. Setelah Ronald mampu meluluhkan hati serta menemani Emily di saat paling terpuruk, sembari terus menjalin hubungan baik kerja sama maupun asmara, Ronald dan Nora memanipulasi hingga menipu Emily.
Namun Chelsea alias Emily benar-benar tidak menyangka, imbas dari rasa iri Nora sudah begitu fatal. Tidak hanya dirinya yang dibunuh secara kejam, melainkan juga kedua orang tuanya. Mengapa mereka berdua sangat tega?
Dengan langkah gontai, Chelsea berjalan keluar dari ruangan itu. Ia nyaris sama seperti halnya seonggok mayat hidup. Semua kebisingan yang terjadi di sekitarnya seolah tidak terdengar sama sekali. Rasa syok yang menghunjam dirinya benar-benar jauh lebih menyiksa. Segala rencananya untuk mencari keadilan dan akhirnya hampir berhasil malah menyisakan perasaan hampa.
Kecuali di saat Chelsea mulai menyadarkan dirinya. Ia juga harus mencari keadilan untuk kedua orang tuanya.
__ADS_1
“Ronald ... kau harus bertanggung jawab!” gumam Chelsea dengan geram. Dan tak berselang lama, Fabian muncul menghampirinya.
***