
Tak ada! Sungguh tidak ada apa-apa. Apa memang benar-benar tidak ada? Padahal Ronald sudah memeriksa kamar itu sebanyak dua kali, dan nyaris di seluruh tempat. Namun Nora tidak menyimpan barang yang tampak mencurigakan. Hanya saja, alih-alih tenang, Ronald justru semakin diliputi kecemasan. Sebab jika tidak ada barang bukti yang bisa ia rampas, kehidupannya sudah pasti akan dikendalikan oleh Nora lebih lama lagi.
"Aaaarrrggghhh!” Ronald terpekik geram. Kacau dan bingung. Ia tidak mau dibuang dan jatuh miskin seperti dahulu.
Menyesakkan sekali harus hidup seadanya. Memiliki ayah yang kerjanya bergaji kecil, ibunya jualan sayuran dan selalu tampak menyedihkan. Kerja di kantor orang pun, Ronald selalu mendapatkan banyak tekanan. Dan sekarang, setelah membunuh Bowo Rukmana, Asri Dewidanti, serta Emily, selaku istrinya sendiri, Ronald justru tak mendapatkan sepeser pun harta mereka!
Sialan! Sungguh sial! Selama ini, mengapa Ronald begitu bodoh karena termakan bujuk rayu Nora? Mengapa hal itu bisa terjadi pada dirinya?
Air mata Ronald meluruh seiring dengan gerakan tubuhnya yang terduduk lesu di tengah-tengah kamar itu. Kepalanya mendongak, benaknya membayangkan wajah Emily yang cantik dan selalu tersenyum manis di hadapannya. Dulu, wanita itu sama sekali tidak Ronald cintai, karena Ronald hanya mengincar harta Emily seperti yang Nora inginkan selama ini.
Dulu, Emily adalah wanita yang amat membosankan dan tidak seseru Nora yang bisa Ronald ajak untuk menggila. Namun sekarang, Ronald menyadari bahwa ia lebih membutuhkan Emily, wanita yang benar-benar akan mengangkat derajatnya, bahkan juga kedua orang tuanya.
“Emily sayang, maafkan aku. Maafkan aku, Sayang.” Ronald merintih. ”Aku benar-benar merindukanmu. Aku benar-benar menyesal karena telah membuatmu meninggalkan dunia ini. Aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu, Emily, adik sepupumu yang merencanakan semuanya. Sekarang aku harus bagaimana jika aku sampai kehilangan semuanya, Emily?”
Sayangnya, Ronald masih saja memikirkan tentang kemungkinan ia akan kehilangan kehidupan mewahnya, daripada rasa bersalah yang sebenarnya sudah muncul walau masih sebesar biji merica.
Butuh waktu setidaknya lima menit bagi Ronald untuk meronta, hingga kesadarannya pun pulih kembali. Ia membangunkan dirinya secara perlahan setelah sempat mengusap air matanya. Mata Ronald yang masih basah lantas menatap foto Nora yang terpasang di pigura besar di kamar itu. Rasa cinta yang selama ini ia curahkan pada Nora seolah menguap tanpa tersisa sama sekali.
__ADS_1
“Wanita iblis itulah yang bersalah. Kalau aku harus hancur, maka dia juga harus hancur. Aku tidak akan membiarkannya mendapatkan kebahagiaan baru, termasuk keinginannya untuk mendapatkan Fabian.” Seringai tajam nan mengerikan terlukis di bibir Ronald yang pucat pasi. “Jika selama ini dia menganggapku sebagai algojo, maka aku pun akan menjadi algojo untuk mengeksekusi nyawanya! Perlahan tapi pasti, aku juga bisa menghabisinya. Barangkali dengan cara ini, istriku bisa memaafkanku.”
Setelah berkata demikian, Ronald mengambil langkah untuk meninggalkan kamar milik Nora. Ia berjanji pada dirinya sendiri, bahwa ia tidak akan tunduk pada Nora lagi. Meski tidak akan membunuh wanita itu dalam waktu dekat, lantaran masih harus menutupi kejahatannya pada Emily yang ternyata dianggap masih banyak kejanggalan, setidaknya Ronald harus merusak apa pun yang Nora inginkan.
***
Di ruang kerja pimpinan utama, Nora begitu histeris. Berkas-berkas yang awalnya tersusun rapi di atas meja, kini sudah berhamburan tidak karuan. Dan Fabian hanya bisa diam. Mengenai hal yang membuat Nora sampai marah besar, adalah karena belum lama ini Nora berbicara melalui telepon dengan Gaspard Cassel yang bahkan bersedia berbicara setelah selama ini hanya sang sekretaris yang menjadi juru bicara.
Gaspard mengatakan ingin membatalkan pertemuan dengan Nora sekaligus semua pihak penting yang ada di Pano Diamond Group. Pasalnya, Gaspard mengaku bahwa sudah mendapatkan calon mitra yang jauh lebih menjanjikan. Lagi pula, Nora adalah pimpinan baru dengan kemampuan yang belum sepenuhnya dapat dipercaya. Gaspard memang mengucapkan turut berbela sungkawa atas kematian Emily, tetapi pengusaha asing itu tak memberikan kesempatan untuk Nora sama sekali.
“Bagaimana ini? Aku harus bagaimana?!” ucap Nora sembari menggigiti ibu jarinya. Ia berjalan ke sana kemari. Matanya bergerak-gerak tak karuan, ia benar-benar bingung dan cemas. Karena sudah pasti, posisinya di Pano Diamond akan terancam. ”Tidak bisa, aku sudah berbuat sejauh ini. Aku tidak mau turun jabatan! Tidak mauuu!”
“Tenang, Nona, tenang. Mau bagaimanapun Anda adalah pemegang saham terbesar dan Andalah yang berkuasa,” ucap Fabian tanpa berkenan menyentuh Nora, apalagi memeluk untuk menenangkan wanita itu.
”Tapi, bagaimana jika mereka tidak mau membantuku dan lantas ingin melengserkan diriku, Fabian?!” sahut Nora.
“Itu tidak akan terjadi. Mereka juga tidak akan mau rugi.”
__ADS_1
Nora menelan saliva dengan susah-payah. “Y-ya, kau benar. Kau benar, Fabian. Seharusnya aku tenang, aku yang berkuasa. Sungguh aku yang berkuasa!”
Sejujurnya, Fabian sendiri tidak yakin bahwa semua petinggi tetap akan mendukung Nora. Sebentar lagi mereka pasti akan melontarkan banyak protes pada Nora yang tidak sanggup melanjutkan rencana bisnis Emily. Tekanan demi tekanan pasti akan Nora dapatkan. Sebagai seorang pimpinan, tidak hanya masalah berkuasa saja, tetapi bagaimana pimpinan itu bisa bekerja dan menjaga kejayaan perusahaan. Jika tidak kompeten, Nora akan hancur beserta Pano Diamond. Orang-orang di bawahnya akan menuntut ganti rugi jika Pano Diamond sampai bangkrut.
Andai Emily masih ada, dia pasti bisa bersikap lebih tenang dan lantas mencari solusi daripada panik seperti itu. Lagi pula, belum ada dana besar yang dikeluarkan untuk rencana mega proyek tersebut, lantaran memang belum menemui kesepakatan apa pun. Tapi, Nora malah histeris dan ketakutan jika dirinya akan dilengserkan, seolah dia sudah mengidam-idamkan posisi Emily sejak lama, batin Fabian.
***
Chelsea tengah berada di toilet kantor, setelah baru kembali dari makan siang bersama Reynof. Ia sibuk memandangi wajah cantik milik tubuh yang ia tinggali saat ini. Ia melihat energi super besar yang terpancar di matanya. Sebuah energi yang pastinya bisa ia gunakan untuk menghancurkan para pembunuhnya.
Jika Gaspard Cassel sudah menghubungi Nora dan mengatakan soal pembatalan rencana kerja sama dengan Pano Diamond, sudah pasti saat ini Nora sedang kalang kabut, karena citranya sebagai pimpinan baru akan langsung memburuk. Membayangkan hal itu saja, Chelsea rasanya ingin tertawa. Namun untuk tertawa lebih keras, sepertinya masih terlalu dini. Sebab langkah Chelsea belum sepenuhnya terayun pasti. Akan ada banyak halangan jika ia sampai salah walau sedikit saja.
“Ronald?” Chelsea melebarkan mata ketika teringat akan pria itu. ”Dia tidak menghubungi sama sekali setelah pertemuan kami di restoran dekat rumah sakit. Apa yang dia lakukan? Dan ... apakah dia telah mendengar semua ucapanku pada Nora tadi malam?”
”Sebelum dia kehilangan kepercayaan padaku, aku harus meluruskan masalah itu,” lanjut Chelsea lalu mengambil ponselnya dari saku blazer moccanya.
Sesaat setelah itu, Chelsea menghubungi Ronald untuk mengklarifikasi ucapannya pada Nora, seandainya Ronald memang sudah mendengar.
__ADS_1
***