
Sebelumnya, Fabian yang ingin menghubungi Chelsea harus membatalkan niatnya ketika seseorang menelepon. Adalah Daffa Gajendra yang akhirnya muncul setelah sekian lama. Di mana saat ini pun, Daffa dan Fabian tengah bersama di sebuah kafe kecil dan terhitung jarang dikunjungi oleh orang-orang kaya atau beberapa karyawan kantoran yang merasa sudah hebat.
Di tempat itu, Daffa ingin berbicara dengan Fabian setelah belum lama ini ia menyadari bahwa Fabian terus menghubungi ponselnya. Dan memang ada beberapa hal yang membuat Daffa sulit bergerak, padahal ia sudah mengumpulkan sejumlah informasi yang pasti bisa membuat kasus kecelakaan Emily menjadi jauh lebih masuk akal, sekalipun akan terdengar sangat tragis.
“Apa Anda sudah memutuskan untuk menghentikan penyelidikan yang sudah susah-payah Anda lakukan selama ini?” tanya Fabian dengan paras yang menggambarkan sejumlah kekecewaan.
Daffa tahu betul besarnya rasa kecewa yang Fabian miliki. Mungkin setelah bertemu dengannya untuk pertama kali, Fabian sudah berharap lebih pada dirinya, agar ia bisa mengungkap kejadian sebenarnya di balik tragedi kematian Emily. Namun nyatanya, bergerak sendiri dan tanpa izin, benar-benar membuat Daffa mendapatkan banyak sekali kendala.
“Ponsel saya disita oleh atasan saya, termasuk buku catatan penting saya, Sekretaris Fabian. Anda tahu, bukan, jika saya hanya bergerak sendiri dan tanpa izin sama sekali? Saya pun memiliki pekerjaan lain, yang membuat saya tidak bisa terus memikirkan kasus Nyonya Emily,” jelas Daffa.
Fabian menghela napas. “Jadi, maksud Anda memanggil saya kemari adalah untuk mengatakan bahwa Anda ingin menyerah, Tuan Daffa? Hei, ayolah! Anda adalah seorang polisi, seorang penyidik! Setidaknya jangan mencoreng jabatan yang sudah Anda miliki sekarang!”
“Tidak, tidak! Saya sungguh tidak akan menyerah. Saya bahkan sudah berhasil mempengaruhi tim saya, termasuk atasan langsung saya. Tapi atasan kami yang jauh lebih tinggi, belum ingin membuka kasus ini lagi. Kami memerlukan waktu lebih lama untuk mendapatkan izin, Sekretaris Fabian!” tandas Daffa. Detik berikutnya ia langsung menghela napas. “Meski atasan langsung saya sudah menerima tindakan yang saya lakukan, saya bahkan beliau akan tetap dipersulit. Entah Nora atau Ronald, sepertinya mereka benar-benar memberikan uang yang tak sedikit!”
Fabian menggigit bibir bagian dalamnya, dan berangsur melunakkan hatinya yang sejak tadi terisi oleh banyaknya kekecewaan. Ia harus lebih mengerti posisi Daffa yang meski beridentitaskan sebagai penyidik, nyatanya tetap masih memiliki atas seorang atasan yang paling berkuasa. Daffa tidak bisa sembarangan bergerak, atau jika nekat, Daffa akan kehilangan pekerjaan. Yah, seperti kasus yang sedang viral baru-baru ini. Di mana seorang bawahan harus tetap manut dengan setiap perintah atasan, sekalipun harus menjadi algojo untuk menewaskan seseorang.
“Jadi, ... apa yang hendak Anda lakukan dalam keadaan sedemikian rupa ketika Anda pun belum berniat untuk mundur, Tuan Daffa?” Dengan suara yang lebih lembut, Fabian bertanya. ”Saya akan membantu Anda. Saya ... akan benar-benar membantu Anda!” yakinnya.
Daffa mulai mencondongkan tubuh ke depan. ”Harus ada sesuatu yang bisa memancing pendapat massa. Terutama warganet. Meski saat ini mereka sudah menciptakan beberapa konspirasi karena kasus kecelakaan Nyonya Emily memang mencurigakan, tapi harus tetap ada dari pihak Nyonya Emily yang bertindak, Sekretaris Fabian,” bisiknya.
”Pihak Nyonya Emily?” Fabian memicingkan mata. Ia pun bergabung dengan Daffa yang sedang mencondongkan tubuh ke depan, dengan dua lengan yang ditekuk di atas meja. “Apa maksud Anda? Anda tahu, bukan, jika Nyonya Emily tidak memiliki keluarga lain selain Ronald dan Nora? Sementara mereka berdua sudah pasti merupakan tersangka!”
__ADS_1
”Anda, Sekretaris Fabian! Anda harus menuntut dibukanya kembali kasus ini!”
”Mana mungkin? Saya bukan keluarga Nyonya Emily, kendati kami sudah mengenal sejak kami masih kecil!”
“Setidaknya jika ada seorang reporter yang melihat Anda sedang membuat tuntutan, otomatis tuntutan Anda akan diterima. Kabar kedatanga Anda dengan keinginan Anda, agar kasus Nyonya Emily kembali dibuka pasti akan menimbulkan kehebohan. Karena saya pun sudah mengantongi beberapa informasi, termasuk informasi dari dokter forensik yang telah melihat jasad Nyonya Emily, meski hanya melalui foto, beliau tahu bahwa luka di kepala Nyonya Emily adalah luka bekas pukulan senjata tumpul.”
“Baik, saya mengerti. Tapi ... bagaimana dengan bukti? Kasus kematian Nyonya Emily sudah lama terjadi, saya tidak yakin masih ada bukti fisik. Saya yakin tersangka sudah menghilangkan barang bukti jenis apa pun!”
“Hal itu ... adalah tugas saya. Jika laporan Anda diterima dan kasus kembali dibuka, pihak kami bisa melakukan penggeledahan dan menginterogasi beberapa pihak, termasuk menggali kembali makam Nyonya Emily.”
Fabian manggut-manggut. Ia sudah sangat mengerti dengan ide yang Daffa katakan. Namun ia yakin jalan yang akan ia lalui tidak akan semudah yang ia bayangkan. Apalagi saat ini Pano Diamond sedang dalam keadaan terguncang. Meski Fabian bukan pemilik perusahaan itu, ia tetap orang yang paling loyal dengan sang pemilik yang belakangan ini 'katanya' ada di dalam raga Chelsea Indriyana. Itu artinya ia harus turut berusaha menjaga Pano Diamond.
Fabian menghela napas, lalu berkata, ”Saya minta waktu dulu, Tuan Daffa. Ada beberapa hal yang masih harus saya pikirkan. Mengenai Nora dan Ronald pun pasti akan segera menyingkirkan atau bahkan malah melimpahkan segala kesalahan pada saya, nanti ketika saya mendadak ingin membuka kasus kematian Nyonya Emily. Kendati kita bisa menggerakkan massa, mereka berdualah yang tetap menjadi pihak berkuasa. Sebelum permintaan saya dikabulkan pun, pasti saya akan langsung dihentikan, oleh oknum yang terlibat. Dan kabar yang kita pikir bisa menggerakkan massa malah bisa menjadi malapetaka, ketika mereka justru memberikan klarifikasi tak benar. Kita harus berhati-hati ketika berususan dengan 'mereka', Tuan Daffa.”
“Hmm ... sulit ya? Tapi, ... Baiklah. Tapi saya harap Anda tidak terlalu lama menunda-nunda, Sekretaris Fabian. Saya cukup mengerti posisi Anda. Karena saya pun adalah seorang bawahan. Dan benar, termasuk jika kerja sama kita terbongkar, 'mereka' yang punya kuasa pasti akan langsung menuduh kita. Hal ini memang cukup beresiko. Tapi, setidaknya saat ini kita sudah memiliki beberapa senjata. Tinggal menentukan waktu yang tepat bagi Anda untuk meminta membuka kasus kematian Nyonya Emily,” sahut Daffa.
Kedua pria berbeda profesi tetapi satu pemikiran itu lantas terdiam. Mereka memikirkan beberapa kemungkinan yang memang sempat terlewatkan, sembari menyesap kopi hitam. Untuk Fabian yang sudah mengetahui kondisi Nora, tetap masih merasa harus lebih berhati-hati. Lantaran Ronald pun bisa menjadi sosok yang sangat berbahaya. Namun yang pasti, ia harus segera menemui Chelsea yang kemungkinan adalah Emily.
***
“Kau ... bisakah kau tinggal di sini sebentar saja, Tuan Reynof?” celetuk Chelsea sebelum Reynof keluar dari kamarnya, selepas pria itu mengantarkan dirinya.
__ADS_1
Reynof yang sudah nyaris berjalan keluar lantas menoleh dan kembali menghadapkan diri pada Chelsea. Keadaan Chelsea memang cenderung lebih muram, kendati gadis itu masih kerap menjawab pertanyaan dari Reynof. Sejak kembali dari rumah Ronald dan tentu diantarkan oleh Ronald, baik ketika memasuki rumah hingga keluar, hawa yang tertera di wajah Chelsea tampak lebih mendung. Dan sejauh ini Reynof menduga, mungkin saja perasaan Chelsea justru menjadi kacau balau setelah mampir ke rumah kediaman yang dulunya Chelsea miliki ketika masih hidup sebagai Emily.
Reynof tersenyum kemudian berangsur melangkahkan kaki untuk menghampiri sosok yang ia cintai itu. Detik berikutnya, ia melebarkan kedua lengannya dan lantas berkata, “Kemarilah, Nona.”
Chelsea menelan saliva, lalu menggeleng pelan. ”Aku lelah dan ingin duduk sekaligus ditemani olehmu,” jawabnya.
“Dengan senang hati.”
Baiklah, untuk saat ini Reynof tidak boleh kecewa apalagi marah hanya karena dekapannya tidak diterima. Karena nyatanya ketika sedang dalam keadaan sendu, Chelsea sudah mulai mengandalkan Reynof sebagai sandaran. Reynof tahu jika ada kemungkinan waktunya bersama si Jiwa memang tak akan lama, dan ia berharap bisa menjadi sandaran terbaik selama Jiwa itu masih ada.
Namun Reynof selalu meminta pada Tuhan di atas sana, agar setidaknya sosok Emily harus tetap hidup mengingat tragedi kematian mengerikan yang sudah dilalui. Sebagai gantinya, Reynof rela menyerahkan dirinya yang jauh lebih pendosa, sementara Emily adalah wanita bercitra baik dan luar biasa. Oleh sebab itu, daripada Reynof—si Pendosa—lebih baik Emily saja yang masih bertahan di dunia ini, Reynof akan menyerahkan sisa umurnya untuk wanita itu.
Sesaat setelah duduk bersama di sofa yang tersaji di dalam kamar itu, Chelsea menghela napas dan berangsur meletakkan kepalanya di pundak Reynof.
“Kau boleh tidur di pangkuanku, Nona, posisimu hanya akan membuat dirimu semakin lelah,” ucap Reynof.
”Bolehkah?” sahut Chelsea.
”Tentu saja.”
***
__ADS_1