Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya

Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya
Pengakuan Chelsea Pada Fabian


__ADS_3

Pertanyaan Fabian yang bertubi-tubi sukses membuat Chelsea merasa tersudut. Sejak awal pun, pria itu memang tidak pernah mendapatkan jawaban yang pasti. Jadi, tidak aneh jika sampai sekarang di benak Fabian terisi banyak pertanyaan bahkan mungkin saja sejumlah kecurigaan.


”Dan sekarang Anda ingin mengendalikan saya untuk menghancurkan Nona Nora sekaligus Pano Diamond Group, begitu?” tebak Fabian yang memang tidak bodoh.


Chelsea menggigit bibir bawahnya. Sungguh panik dirinya, tetapi ia harus tenang demi melindungi Fabian. ”Saya hanya tidak mau Anda disalahkan apalagi sampai bersusah-payah demi wanita jahat itu!” tegasnya.


”Jahat? Karena kinerjanya yang buruk, lantas Anda menganggap Nora adalah sosok yang jahat? Ah, baik. Tapi untuk apa Anda sampai berniat untuk melindungi saya? Apa kita pernah saling mengenal sebelumnya? Tidak, 'kan?” Fabian tertawa kecil dan terkesan meremehkan. ”Jangan-jangan Anda memang ingin sekali menjadi Nyonya Emily ya? Apa Anda memang seorang penguntit? Atau Anda pun sampai ingin merebut Pano Diamond yang ketika sudah di ambang kehancuran akan langsung diambil-alih oleh Reynof, begitu? Rencana Anda sungguh terlihat jelas, Nona Chelsea! Demi menjadi Nyonya Emily, Anda melakukan banyak hal ya? Ck, ck, ck.”


”Fabian!” bentak Chelsea.


”Jangan menggunakan mulut lancang Anda untuk menyebut nama saya, hanya karena sebegitu inginnya Anda menjadi Nyonya Emily!” balas Fabian. ”Jika Anda memang begitu mengidolakan Nyonya Emily, dan telah melakukan penguntitan sampai akhirnya Anda menjadi seorang saksi kunci, seharusnya Anda membantu mengungkap kasus kecelakaan itu, daripada harus berusaha untuk menjadi sosok idola Anda, bukan?”

__ADS_1


”Fabian! Dengarkan aku dulu!” Chelsea kalang-kabut. ”Aku bukan seorang penguntit! Jika aku mengatakan bahwa aku adalah Emily, apa kau akan lantas memercayai ucapanku?”


”Waaah! Rupanya Anda sudah benar-benar sudah teramat sangat-sangat gila akan obsesi Anda tersebut ya, Nona?”


Mata Chelsea mengerjap-ngerjap. ”Benar, 'kan, apa yang aku bilang? Kau hanya akan menganggapku gila. Tapi, Fabian, dengar, aku memang Emily. Aku sungguh Emily. Orang yang kau jaga sejak kita masih kecil,” ucapnya dengan suara yang pelan tetapi penuh penekanan. ”Orang yang selalu ikut Ayah hadir ke panti asuhan, lalu berteman denganmu. Dan aku masih memercayai dirimu sampai sekarang. Oleh sebab itu, aku sekarang berkata jujur ...!”


Ucapan Chelsea yang benar-benar jauh dari kata masuk akal, membuat Fabian langsung tertawa. Ia masih menganggap jika Chelsea hanyalah gadis gila yang sudah termakan penyakit obsesi sekaligus halusinasi. Namun hebatnya, dalam keadaan mental yang seburuk itu, Chelsea masih bisa mengulik berbagai informasi. Sampai kejadian masa kecil antara Emily dan Fabian pun, Chelsea tahu. Sungguh gadis yang hebat bin edaaan!


”Tampaknya psikis Anda benar-benar mengalami suatu gangguan. Anda harus segera memeriksakan diri, Nona Chelsea,” sindir Fabian.


“Jika kau masih sulit untuk memercayai ucapanku, kau bisa menanyakan apa pun tentang masa kecil kita, tentang kehidupan Emily, dan lain sebagainya. Fabian, ....” Chelsea mencondongkan tubuhnya ke depan dan lantas berbisik, ”Aku adalah Emily yang mati karena dibunuh oleh Ronald dan Nora. Dan aku sedang berusaha membalas perbuatan mereka sebelum jiwaku lenyap begitu saja, Fabian.”

__ADS_1


Fabian tak lagi tertawa, melainkan menelan saliva. Jiwanya cukup terguncang oleh pengakuan yang baru saja ia dengar. Sebuah pengakuan yang menurutnya benar-benar tidak masuk akal. Namun sekalipun ada sosok penguntit yang andal, mungkinkah sosok itu bisa mengetahui hal yang sangat detail, yang bahkan jarang sekali Fabian dan Emily bicarakan? Mengenai pohon dan kotak mainan yang ditanam ketika mereka masih kecil pun, bahkan saat ini mulai terlupakan.


”Ini tidak masuk akal ...,” lirih Fabian dalam keadaan syok dan terguncang.


Chelsea menarik tubuhnya lagi lalu menghela napas. ”Benar, ini sama sekali tidak masuk akal. Tapi, inilah yang terjadi, Fabian. Brankas di dalam kediamanmu yang berisikan berkas-berkas penting tentang aset rahasia Emily di Pulau Bali pun aku tahu, dan hanya Emily yang tahu nomor sandi, bahkan meski brankas itu ada di dalam kamarmu. Karena aku memang Emily, aku adalah Emily, Fabian. Sosok yang sudah mati, tapi jiwaku malah hidup di dalam tubuh ini.”


“Dan di saat aku sulit untuk memercayai orang lain, aku masih berusaha untuk tetap percaya padamu, Fabian. Aku melihatmu yang sudah bersusah-payah menjaga Pano Diamond, dan aku yakin kau melakukannya demi diriku. Padahal aku sendiri yang merusak perusahaan peninggalan ayahku,” lanjut Chelsea. ”Jika ternyata kau malah mengatakan pengakuanku pada Nora, baik, tak masalah. Lakukan saja jika kau memang mau, karena mungkin kau pun akan dianggap sama gilanya. Dan seandainya Nora justru percaya, aku rasa dia malah akan menggila serta panik. Sebab dia pun terlibat di dalam tragedi kematianku. Tapi, Fabian, aku sungguh berharap kau percaya dan masih setia padaku. Karena untuk mengungkap kasus kematianku, aku pun masih membutuhkan bantuan darimu.”


Chelsea sudah mempertimbangkan segalanya sebelum memutuskan untuk mengakui jati diri jiwanya. Mungkin masih ada kemungkinan setidaknya dua puluh persen Fabian tak akan percaya dan malah mengadu pada Nora. Namun seperti yang ia ucapkan barusan, aduan Fabian hanya akan berakhir sia-sia, atau justru malah menyiksa mental Nora. Di bagian hati Chelsea yang lain, Chelsea yakin Fabian akan berada di pihaknya.


Sementara Fabian tentu masih sangat bingung. Karena di saat dirinya ingin menolak pengakuan itu, semua yang Chelsea ungkapkan justru mengacu pada banyaknya kebenaran mengenai Emily. Bahkan Chelsea tahu jika ada brankas rahasia yang dulu sempat Emily pasang di dalam kamar Fabian, karena berisikan berkas-berkas dari aset rahasia.

__ADS_1


Aku yang gila, apa hanya sekadar telingaku saja? Batin Fabian. Ia tidak tahu apakah dirinya harus memercayai gadis itu, atau tetap memegang jalan logikanya. Namun jika memang benar Emily ada di dalam tubuh gadis itu, tentu saja Fabian akan jauh lebih bahagia.


***


__ADS_2