Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya

Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya
Sebuah Strategi


__ADS_3

“Nora sudah dibutakan oleh uang dan kekuasaan, Nona, bahkan saat ini dia sudah mengabaikan saya. Jabatan yang dia berikan pada saya di Pano Diamond pun sangat rendah. Dia bilang, dia tidak mau dicurigai oleh banyak orang jika mendadak membuat keputusan besar dengan menaruh saya di jabatan yang menjanjikan. Dia bilang dia tidak mau ada spekulasi yang tidak-tidak, sehingga tanpa pikir panjang dia menaruh saya di tim paling buruk!” ucap Ronald memulai ceritanya.


Chelsea mendengar cerita Ronald dengan saksama. Betapa kesalnya pria itu. Wajah Ronald benar-benar tampak emosional. Yah, wajar saja. Pria itu sudah sampai membunuh istrinya sendiri. Dan tentunya setelah sang istri mati, Ronald ingin menguasai harta keluarga Rukmana. Sayangnya, rencana tersebut tidak sesuai ekspektasi, di mana justru Nora yang bergerak lebih gesit dan cepat. Bahkan Ronald tidak diberikan sepeser pun. Posisi Ronald sebagai kekasih Nora sepertinya juga tengah terancam.


Hanya dengan penuturan Ronald saja, Chelsea sudah tahu bahwa situasi Ronald dan Nora memang sedang tidak baik-baik saja. Kadang kala uang dan harta memang mengalahkan segalanya, terutama cinta! Cinta mereka terancam bubar hanya karena perebutan kekuasaan yang sudah diambil oleh Nora secara sepenuhnya. Chelsea selama ini menganggap bahwa Nora, adik sepupunya, adalah seorang adik yang manis.


Nora memang agak centil, tetapi tak pernah sekalipun Chelsea alias Emily terlalu menganggap serius tingkah ceria Nora yang memang kerap membuatnya tertawa. Namun untuk saat ini penilaiannya terhadap Nora sudah benar-benar berbeda. Mungkin Nora memang jauh lebih kejam daripada Ronald. Entah siapa yang pertama kali membuat ide agar Ronald membunuh Emily, siapa pun itu, Chelsea alias Emily akan tetap menjalankan semua rencananya. Memanipulasi Ronald, dan membuat Ronald tak lagi memercayai Nora. Itulah langkah yang perlu ia ambil secepatnya.


“Mm, Anda harus lebih bersabar, Tuan. Barangkali Nona Nora memang tidak ingin ada kecurigaan dari pihak lain, apalagi setelah saya sempat mencurigai beliau,” ucap Chelsea dengan lembut dan penuh perhatian. “Biasanya ... orang yang memiliki kesalahan memang takut sekali jika ketahuan. Ah, tentu saja, saya tidak berniat untuk menuduh Nona Nora lagi, tapi melihat Anda yang semakin terdesak seperti ini, saya hanya memikirkan beberapa kemungkinan saja. Termasuk kemungkinan keterlibatan Nona Nora di kecelakaan yang menimpa Nyonya Emily.”


Secara gamblang, Chelsea mengatakan kecurigaannya lagi. Ia sudah yakin dirinya mampu memanipulasi Ronald, sehingga serangan itu langsung ia luncurkan. Lagi pula, ia ingin menguji apakah Ronald masih tetap ingin membela Nora yang ia curigai, bahkan setelah Nora membuat pria itu kesulitan.


“Ya! Dia pasti menyembunyikan sesuatu. Saat ini sayaa berpikir seperti itu,” celetuk Ronald yang sesuai keinginan Chelsea, tetapi dalam waktu bersamaan keputusan Ronald sungguh membuat Chelsea sampai terkesiap. “Dia pasti terlibat di dalam kecelakaan yang menimpa istri saya!”


Cih, ... rupanya kau sudah benar-benar muak pada Nora ya, Ronald? Lalu senyuman anehmu tadi ...? Benarkah tulus karena sebuah penyesalan yang kau rasakan setelah menyadari bahwa aku—istrimu—memang jauh lebih baik daripada kekasihmu? Dan sekarang kau sungguh-sungguh ingin menyingkirkan kekasihmu setelah kehilangan kesempatan untuk menguasai seluruh hartaku? Pria gila! Batin Chelsea.

__ADS_1


Muak, rasanya jauh lebih muak setelah teringat akan perbuatan Ronald terhadap dirinya kala hidup sebagai Emily. Pria itu sungguh mampu meninggalkan siapa pun hanya demi harta dan kekuasaan. Dan setelah membunuh sang istri, Ronald ingin menyingkirkan Nora dengan cara melimpahkan kesalahan pada Nora. Ronald menemui Chelsea, mungkin karena sosok Chelsea yang pertama kali menaruh curiga terhadap Nora, sosok Chelsea bisa dipengaruhi, dan sosok Chelsea yang memiliki jabatan kuat di samping Reynof tentu bisa membantu rencana Ronald untuk menghancurkan Nora.


“Kalau Anda sudah berpikir seperti itulah, bukankah ... Anda harus memulainya, Tuan Ronald?” Chelsea mulai bertransaksi, atas sesuatu yang harus mulai Ronald bayarkan untuk dirinya yang mati sebagai Emily.


Ronald berangsur menatap Chelsea, kemudian berkata pelan, “Maksud ... Anda?”


“Yah, demi istri yang Anda cintai, seharusnya Anda mulai mencari bukti ketika sudah merasa curiga pada seseorang yang ... bisa dianggap tersangka, mungkin.” Chelsea tersenyum lebar. “Itu sih hak Anda. Cuma, kalau saya jadi Anda, saya pasti akan segera mencari bukti. Apa gunanya merasa curiga kalau kita hanya diam saja? Toh, bukti juga akan membuat rasa curiga terobati. Seandainya kecurigaan kita tidak benar, ya tidak apa-apa, itu artinya kita tidak perlu lagi mencurigai seseorang yang tidak bersalah. Tidak ada ruginya kok!”


“Tidak ada bukti!” sahut Ronald yakin. Sebab ia sudah memastikan segalanya sebelum mengeksekusi Emily pada malam itu, dan setelahnya pun ia sudah menghancurkan segala bukti yang ada. Bahkan untuk CCTV, ia dan Nora telah melewati titik buta ketika sedang membawa jasad Emily, sehingga tidak ada rekaman apa pun.


“Kenapa Anda begitu yakin, Tuan Ronald? Maksud saya wajah Anda tampak yakin sekali,” serang Chelsea. “Tapi, saya rasa pasti ada yang tertinggal! Apa pun itu!”


“Bu-bukan ya-yakin,” jawab Ronald gugup. “Hanya saja, ha-hanya saja, mm ... se-sebenarnya saya sudah menyelidiki beberapa kali. Bahkan saya sampai memasuki kamar Nora, tapi tidak ada! Tidak pernah ada bukti, Nona. Sepertinya memang tidak ada.”


Memasuki kamar Nora? Aku rasa bukan untuk mencari bukti, melainkan untuk bercumbu! Batin Chelsea, dirinya sudah semakin muak. Dan ingin sekali untuk menyudahi pertemuan ini. Hanya saja ia belum mencapai tujuan sebenarnya.

__ADS_1


Chelsea menghela napas, lalu berkata, “Kalau begitu, teror saja dia, Tuan!”


“Hah?!” Ronald melongo. “Teror bagaimana?”


“Mudah saja, Anda kan punya banyak barang milik Nyonya Emily. Anda pasti juga masih menyimpan ponsel Nyonya Emily. Hanya meneror sampai Nona Nora ketakutan dan akhirnya mengakui kesalahannya. Namun jika sampai teror paling parah, beliau tidak mengaku, stop saja, mungkin beliau memang tidak bersalah, Tuan.”


”Ta-tapi, kalau sampai membuatnya tersiksa, bukankah itu sudah keterlaluan, Nona?”


”Yah, anggap saja sebagai hukuman baginya karena beliau sudah membuat Anda kesulitan. Lagi pula, teror kan tidak harus yang kejam, yang tidak sampai mencelakai beliau.”


”Aaah begitu ya?” Ronald menelan saliva dengan susah-payah.


Chelsea melihat keraguan yang besar di wajah pria itu. Namun ia yakin Ronald akan lantas setuju. Dan setelah Ronald setuju, ia akan langsung mengatur segala teror untuk Nora, dan ia akan mengendalikan Ronald sesuka hatinya. Satu orang dari mereka memang harus dijinakkan terlebih dahulu, dan keduanya akan dihancurkan bersama-sama ketika sudah tiba di waktu yang paling tepat


***

__ADS_1


__ADS_2