Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya

Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya
Bujuk Rayu Nora


__ADS_3

Fabian terus menatap tajam punggung wanita yang tengah berjalan di hadapannya. Tidak lain adalah Nora yang juga tengah sibuk bersenandung, seolah-olah Nora sedang menjelaskan pada semua orang bahwa dirinya memang sedang berbahagia. Namun kebahagiaan yang bisa saja Nora rasakan itu tak lantas membuat Fabian turut senang, lantaran Fabian justru sudah menaruh curiga.


Hasil pertemuan dengan Daffa, di mana salah satu anggota penyidik itu juga yakin bahwa Emily tidak mati karena kecelakaan tunggal, melainkan karena dibunuh seseorang, memang sukses membuat Fabian terus kepikiran. Di sepanjang waktunya di hari ini, ia lebih memikirkan analisa-analisa, sekaligus kemungkinan identitas tersangka.


Jika Nora adalah pembunuhnya, lantaran ia justru tampak lebih senang akhir-akhir ini seolah memang sudah benar-benar mengikhlaskan kepergian Emily, lantas apa yang harus Fabian lakukan untuk mengatasi wanita itu? Lalu motif apa yang disembunyikan oleh Nora, jika Nora sampai berani menghabisi nyawa kakak sepupunya sendiri, padahal Emily begitu menyayanginya selama ini?


Selain itu, memangnya bisa apa diriku? Aku hanya seorang sekretaris rendah yang aji mumpung karena kebaikan Emily. Nora bukan lagi orang yang bisa aku lawan, termasuk juga Ronald. Mereka punya banyak uang dan kekuasaan, sementara aku hanyalah cecunguk rendah yang harus tetap patuh pada siapa pun yang menjadi majikanku saat ini, batin Fabian disusul keputusan untuk menelan saliva.


Meski sudah menaruh banyak curiga pada siapa pun yang dekat dengan Emily, nyatanya Fabian hanya mampu menerka-nerka. Ia tidak yakin dengan kemampuannya. Ia sudah pasti tidak bisa melawan sang tersangka. Untuk saat ini, Fabian hanya bisa berharap pada kemampuan Daffa saja, selama anggota penyidik itu juga masih bisa bergerak dengan lebih leluasa. Pasalnya, untuk saat ini Daffa tengah bergerak sendiri dan merahasiakan segala pergerakannya. Jika sampai ketahuan oleh sang atasan, sudah pasti Daffa akan terkena sangsi dan paling fatalnya pergerakan Daffa menjadi dibatasi.


“Fabian,” celetuk Nora sembari menghentikan langkahnya.


Pemberhentian langkah Nora yang secara tiba-tiba sukses membuat Fabian terkejut, bahkan ia sampai menabrak tubuh ramping proporsional wanita itu.


“Ah!” Panik, Fabian langsung mundur lalu membungkukkan tubuhnya. “Ma-maafkan saya, Nona.”


Mata Nora memicing tajam menatap Fabian, pria yang memiliki ketampanan cenderung ke arah manis dan maskulin jika dibandingkan dengan Ronald. Menurut penuturan Emily di masa silam, Fabian memang memiliki kemampuan cemerlang di bidang olahraga, membuat tubuh pria itu jauh lebih kekar dan memang pantas dijadikan sebagai pengawal pribadi.


Senyuman manis cenderung genit lantas terlukis di bibir Nora yang telah terpoles lipstik merah merona. Menyadari keadaan basemen yang sudah sepi, membuat Nora menjadi jauh lebih berani. Ia melangkahkan kakinya untuk mendekati Fabian yang hanya berjarak satu meter saja darinya. Pria yang tunduk dan tak pernah merengek padanya itu terlihat jauh lebih menggoda, dibandingkan dengan kekasih manjanya.

__ADS_1


“Tidak apa-apa. Aku justru senang ditabrak olehmu, hihi,” ucap Nora sembari membelai tubuh bidang milik Fabian. Bahkan ia sampai iseng membuka kancing paling atas dari kemeja yang dikenakan oleh pria itu. “Kudengar kau rajin berolahraga. Pantas jika tubuhmu bagus. Kenapa ya? Padahal kau adalah asisten kakakku, tapi selama ini kita jarang sekali mengobrol? Mm, apa kau mau menemaniku malam ini, Fa—”


“Nona!” potong Fabian sembari mencengkeram tangan Nora agar kancing ketiga kemejanya tak lagi dibuka. “Maafkan saya, Nona, tapi saya harus menjaga nama baik Anda. Mau bagaimanapun kita masih berada di area dalam perusahaan. Meski sudah sepi dan gelap, masih ada beberapa karyawan dari beberapa divisi yang sedang lembur. Anda hanya akan rugi jika terlibat gosip tak jelas dengan pria rendahan seperti saya.”


Kemudian, Fabian berangsur menaruh tangan Nora dengan pelan dan lembut. Sesungguhnya ia sangat terkejut karena aksi Nora yang terbilang kurang sopan. Apa yang Nora lakukan saat ini justru menunjukkan sikap yang jauh berbeda dengan cerita pribadi Nora yang kerap Emily katakan.


Emily selalu menganggap Nora sebagai adik yang manis dan penuh perhatian, dan Nora tak pernah terlihat tengah menjalin hubungan dengan siapa pun. Namun tindakan Nora barusan justru membuktikan bahwa Nora telah berpengalaman dalam menggoda seorang pria.


Nora menghela napas. ”Baiklah, terima kasih karena kau sudah sangat memperhatikanku, Sekretaris Fabian,” ucapnya cukup kecewa. “Tapi sepertinya untuk menemaniku, kau masih bisa. Kita bisa mencari tempat yang lebih private!”


“Sekali lagi maafkan saya, Nona. Saya tidak bis—”


“Kenapa lagi?! Kenapa kau justru menolak permintaanku terus? Apa mentang-mentang karena sudah berada di luar jam kerja?!”


”Lalu apa?!”


Fabian cukup bingung mencari alasan. Ia sungguh tidak mau bersama Nora. Ia lelah dan masih syok atas kemungkinan yang belum lama ini telah ia dengar dari Daffa. Istirahat atau merenung di apartemennya dengan nyaman jauh lebih baik daripada keluar bersama salah satu tersangka.


Melihat Fabian yang sendu dan tampak kebingungan, membuat Nora semakin geram. Namun ia tidak bisa melakukan pemaksaan terhadap pria itu. Gawat jadinya jika Fabian memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai sekretarisnya, di saat dirinya sudah mulai tergiur oleh pesona dan kharismatik milik pria itu.

__ADS_1


Dan pada akhirnya, Nora memilih meninggalkan Fabian untuk menuju mobilnya. Untuk kali ini ia akan mengalah karena wajah Fabian begitu tertekan. Namun Nora juga tak akan tinggal diam jika ajakannya kembali ditolak mentah-mentah oleh pria itu.


***


Suasana malam ini dihiasi oleh rinai hujan yang tak terlalu lebat, tetapi juga tidak pantas jika disebut sebagai gerimis. Chelsea sudah pulang ke kediaman Reynof lagi, dan saat ini ia berada di kamarnya, di dekat jendela sembari menatap ke rinai hujan. Sementara ibunya masih belum diizinkan pulang karena beberapa hal medis yang belum stabil. Namun ia sudah tak terlalu khawatir karena Reynof juga berkenan untuk mengirimkan dua pelayan wanita untuk menjaga Dahlia di rumah sakit.


Seharusnya Chelsea sudah sibuk mencari tahu di mana ia akan menyewa salah satu apartemen untuk ibunya, tetapi ia justru tak fokus di sepanjang kegiatan mengamati semua laman penyewaan properti. Ia tidak bisa meminta sebuah apartemen pada Reynof, karena ia sudah terlalu malu. Lagi pula, ia juga khawatir jika pria itu akan lebih menguasai dirinya lebih parah lagi.


Hal yang membuatnya tidak fokus tidak lain karena alasan mengapa Reynof enggan untuk memenjarakan Hery Padiman.


“Aku belum ingin berurusan dengan kepolisian. Apalagi aku telah membeli dirimu dari ayahmu. Kau tahu bahwa diriku sangat berkuasa, bukan? Tapi, aku tetap memiliki banyak kesulitan. Ketika ayahmu membuat kesaksian dan membawa-bawa namaku karena kemarahannya padaku, namaku bisa tercoreng. Ayahmu itu bukan sosok yang setia. Dia bisa menghancurkan kita ketika dia merasa kesal dan tidak terima,” jelas Reynof tadi siang.


Chelsea menyeringai. “Rupanya tak semua pihak tunduk padamu, ya? Aku kira kau sudah benar-benar berkuasa, sampai kau bisa membayar semua orang dengan uangmu. Ternyata kau masih punya ketakutan,” sahutnya pada saat itu.


“Aku tidak pernah mengklaim bahwa aku sudah menundukkan semua pihak meski aku memang selalu ingin membuat mereka semua tunduk padaku, termasuk dirimu, Nona. Salahmu sendiri karena berpikir bahwa aku sudah benar-benar berkuasa di dunia ini. Aku hanya tidak mau repot jika kasus ayahmu menjadi berlarut-larut, apalagi pihak rumah sakit sudah tahu apa yang terjadi. Jika kasus ayahmu mencuat dan membuat keramaian, aku akan kehilangan nama baikku. Dan jika aku mendapatkan kerugian secuil saja, untuk membantumu pun aku pasti akan sedikit kesulitan,” ucap Reynof panjang lebar.


Reynof melanjutkan, “Masalahnya saat ini adalah adanya kecanggihan teknologi serta ramainya media sosial. Satu berita yang naik dan viral bisa menghancurkan nama seseorang atau bahkan beberapa orang. Aku hanya sedang berhati-hati, bukannya tidak mampu melawan. Lagi pula, meski tidak memenjarakan ayahmu, aku tetap membuat ayahmu tak berkutik dan dia tak akan mengganggumu apalagi mencari ibumu lagi. Mau bagaimanapun, aku tetap bertanggung jawab untuk menjaga dirimu serta ibumu dari ancaman Hery Padiman. Jadi, daripada mengkritikku, lebih baik kau tetap berterima kasih padaku, Nona.”


Mata Chelsea terpejam ketika membayangkan ucapan Reynof tadi siang. Embusan napasnya yang kasar juga lantas terdengar. Penjelasan Reynof memang bisa diterima jika dipikirkan secara matang-matang. Karena kenyataannya, di atas raja masih ada maharaja. Meski ditakuti oleh banyak pihak, pada kenyataannya Reynof tetaplah seorang rakyat di negara tempatnya tinggal. Pria itu bisa terjerat hukum kapan saja jika tidak berhati-hati, walaupun bisa mengatasi jeratan itu dengan kekuasaannya, tetap saja, sekalinya terjerat nama Reynof akan tercoreng juga.

__ADS_1


Chelsea menghela napas dalam sembari terus menatap rinai hujan di luar jendela kamar lantai duanya. “Haruskah aku meminta maaf padanya karena aku lebih mengedepankan emosi dan kecurigaanku? Aku juga telah membuatnya tersinggung sekaligus tidak senang. Lagi pula, dia telah melindungi aku dan Ibu. Dia pun sudah berhasil mendapatkan akses untuk menghubungi pengusaha dari Prancis itu. Seandainya aku masih memegang ponselku terdahulu, sekaligus juga kartu nama sekretaris pengusaha itu, Reynof pasti tak akan kesulitan,” gumamnya sembari mempertimbangkan.


***


__ADS_2