
Beberapa menit yang lalu ....
Reynof yang masih menerima beberapa laporan dari Kayla tentang perusahaannya sekaligus tentang isu-isu hangat lainnya, memutuskan untuk berdiri dari tempat duduknya di balkon kamarnya. Sikapnya sempat membuat Kayla terkejut bahkan sampai bertanya-tanya. Dan tak lama berselang, Reynof langsung menunjukkan tentang keinginan hatinya pada sekretaris keduanya itu.
”Aku tidak bisa tinggal diam,” ucap Reynof. Detik berikutnya, ia menatap Kayla kemudian kembali berkata, “Siapkan mobil dan antarkan aku ke tempat di mana Chelsea akan pergi, Kayla.”
Kayla menelan saliva. Sungguh gadis cilik itu benar-benar sudah meracuni pikiran Reynof, pikirnya pada saat itu. Karena Reynof yang seharusnya masih mendengarkan persoalan yang jauh lebih penting, justru langsung bangkit dan berencana menyusul Chelsea yang sebelumnya tidak Kayla ketahui gadis itu akan ke mana dan melakukan apa.
Namun pada akhirnya, Kayla hanya bisa mengangguk serta tunduk. Di mana ia pun langsung bergegas untuk menunaikan tugas yang baru didapatkannya. Lantaran, Ruben masih mengurus hal lain, membuat Kayla terpaksa harus menjadi sopir bagi tuannya yang tidak ingin berkendara sendiri.
Nyatanya bukan sekadar tak mau berkendara sendiri, karena Reynof ingin bergegas memasuki mobil milik Chelsea yang ia sendiri sudah membawa kunci cadangan untuk kendaraan gadis kesayangannya tersebut. Sejak saat tiba di area parkir sebuah kafe berkonsep retro dan telah memasuki mobil Chelsea yang sudah ia temukan, Reynof telah mendengar perbincangan Chelsea dan Ronald.
Bukan perkara mudah bagi Reynof untuk terus diam. Berulang kali perasaan ingin menghampiri Chelsea dan Ronald selalu datang di hatinya. Namun karena janji yang sudah ia katakan untuk tidak mengganggu, akhirnya Reynof berusaha keras dalam menekan keinginan itu.
Dan saat ini, tepatnya setelah nyaris satu jam menunggu di dalam mobil Chelsea, akhirnya gadis itu muncul juga. Sikap Chelsea yang begitu ramah pada Ronald, bahkan meski hanya sebuah sandiwara benar-benar membuat Reynof muak.
Setelah kerap tersenyum pada Ruben, gadis itu malah memberikan senyuman pada pria yang merupakan suaminya ketika masih hidup sebagai sosok aslinya. Dan menurut Reynof, hal itu sangat menyebalkan!
“Menyebalkan! Lebih menyebalkan ketika aku tidak bisa membunuh suaminya,” gumam Reynof dengan perasaan geram, di mana kedua telapak tangannya pun sudah mengepal erat. Rahangnya turut mengeras, sampai otot-otot hijau di wajahnya lantas keluar.
__ADS_1
Rasa cemburu yang mendadak muncul itu, membuat Reynof menunjukkan jati dirinya yang bagai seekor singa buas. Namun untuk bisa marah dan menghajar Ronald pun tak bisa ia lakukan begitu saja. Ia harus bertahan dan lagi-lagi demi janjinya pada Chelsea.
Di sisi lain, Chelsea sudah menghaturkan salam terakhirnya pada Ronald yang telah memasuki mobil lebih dulu. Ia menghela napas seiring dengan terjadinya perubahan ekspresi di wajahnya. Matanya terus menatap tajam ke arah mobil Ronald yang merupakan salah satu mobilnya ketika ia masih hidup sebagai Emily. Sebuah mobil mewah berwarna hitam legam yang telah ia serahkan pada Ronald, setelah pria itu menikahinya.
“Tunggu saja, aku benar-benar akan merampas semua yang seharusnya masih aku miliki. Jika aku sudah tak bisa memiliki, maka kalian pun sama sekali tidak boleh memiliki. Lebih baik, semua asetku jatuh ke tangan orang lain saja!” ucap Chelsea.
Ketika mobil Ronald sudah menghilang dari pandangan matanya, Chelsea memutuskan untuk menghampiri mobilnya sendiri. Ia berjalan dengan cepat, dan sesekali menghela napas. Sekarang Chelsea sudah memegang kendali atas segala situasi, dan semuanya akan segera ia akhiri. Tentu jika tidak ada halang rintang yang membuatnya kesulitan, maka rencananya untuk membalas dendam pada Ronald dan Nora pasti akan segera terselesaikan.
“Aaa! Astagaaa!” Chelsea terlonjak kaget, bahkan sampai mengumpat dengan nama-nama hewan saking kagetnya. Seorang pria, yang tak lain adalah Reynof, berada di kursi penumpang di samping ruang kemudi, dan keberadaan Reynof yang tak pernah Chelsea duga sungguh mengagetkan.
Mata Reynof memicing ketika Chelsea masih sibuk melotot dan mengelus bagian jantung.
Sorot tegang dari sepasang mata Chelsea langsung melemah, bersamaan dengan keputusannya untuk mengembuskan napas. Detik berikutnya, ia memutuskan untuk segera memasuki mobilnya itu. Tanpa memedulikan tatapan tajam Reynof, Chelsea bergegas untuk melajukan mobilnya, meskipun sekarang sudah ada sebuah pertanyaan di dalam benaknya; bagaimana bisa Reynof masuk ke dalam mobilnya, di saat keadaan mobil itu tengah terkunci?
Mungkin dia menyimpan kunci cadangan, karena dia hanya memberiku satu kunci saja. Ah, dia memang luar biasa, batin Chelsea.
“Kau sendiri yang mendadak muncul macam jin, sampai membuatku terkejut dan tak sengaja mengumpat, Tuan!” celetuk Chelsea sebagai jawaban atas pertanyaan Reynof yang sempat ia abaikan. ”Lagi pula, kenapa kau ada di sini? Apa kau masih tak mempercayaiku sampai menyusul ke tempat ini?”
“Justru kau yang tak percaya padaku, bukan?” sahut Reynof membalas. “Aku hanya khawatir jika kau ditarik paksa ke sebuah hotel oleh pria itu, lantaran suaramu terdengar sangat genit dan membuat telingaku geli. Aku sampai kesal mengapa kau harus bersikap segenit itu padanya!”
__ADS_1
Chelsea tertawa kecil. ”Aku melakukannya karena terpaksa, Tuan Reynof yang Terhormat! Bukan karena ingin. Aku hanya bersandiwara. Dan kau tahu itu, 'kan? Jadi mengapa harus kesal?”
“Karena kau tak pernah bersikap seperti itu padaku.” Reynof menunjukkan ekspresi yang masih sangat kecewa. Ia menghela napas lalu menelan saliva.
Chelsea menatap Reynof secara sekilas, menyadari bahwa pria itu benar-benar sedang kesal, dan lebih tepatnya cemburu. Inilah risiko yang harus ia terima di saat harus menghubungkan ponselnya dengan ponsel Reynof di sepanjang pertemuannya dengan Ronald. Entah Reynof sudah menaruh hati padanya, atau sekadar tak mau kalah saja, kedua hal itu tetap memiliki dampak yang sama.
”Dan lagi, kau akan berperan sebagai Emily?” ucap Reynof sembari menatap Chelsea lagi. ”Untuk meneror Nora? Apa kau yakin, Nona?”
Chelsea menghela napas. ”Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk memasuki rumahku ... ah, maksudku, rumah Emily,” jawabnya.
”Kau yakin rencanamu benar-benar akan berhasil? Bagaimana jika Ronald justru membahayakan dirimu?”
“Yakin. Toh, aku juga sudah mampu mempengaruhi hati Ronald.”
“Chelsea, dengar!” tegas Reynof. “Akan lebih bagus jika Ronald memercayai dirimu karena kau adalah salah satu bawahanku. Mungkin dia ingin memanfaatkanmu yang memiliki backingan kuat, yaitu aku, demi bisa membuat Nora hancur. Tapi bagaimana jika dia hanya pura-pura percaya padamu, karena kau tampak bodoh dan naif? Bagaimana jika dia justru tergiur pada parasmu? Dan bagaimana jika kalian memasuki rumah Emily bersama, lalu mendadak Ronald menyeretmu ke dalam kamar dan akan langsung meleccehkanmu? Kenapa kau tidak berpikir sejauh itu, Nona?”
Chelsea menelan saliva. Detik berikutnya, ia memutuskan untuk menepikan kendaraannya terlebih dahulu.
***
__ADS_1