Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya

Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya
Momen Manis Reynof dan Chelsea Bagian 1


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Chelsea mendapatkan panggilan dari Ronald. Entah apa yang membuat pria itu untuk kedua kalinya menelepon, padahal sebagai orang dewasa seharusnya Ronald tahu bahwa hal itu tidak sepantasnya ia lakukan. Namun Chelsea pun langsung sadar, kendati sudah dewasa, suaminya di saat ia hidup sebagai Emily itu bukanlah orang waras, melainkan pembunuh gila yang masih saja menutupi segala kesalahan alih-alih langsung bertanggung jawab.


Dengan terpaksa, Chelsea yang masih sibuk merias wajahnya berangsur meraih ponsel yang memang tergeletak di atas meja rias. Ia menggeser tombol untuk menerima panggilan dan lantas menempelkan ponsel di telinga kiri dan dengan menggunakan tangan kiri, sementara tangan kanannya kembali melakukan aktivitasnya.


Chelsea menghela napas, kemudian berkata, “Ya, halo, Tuan Ronald?”


”Ah, Nona Chelsea, selamat pagi dan maafkan saya jika saya mengganggu Anda pagi ini. Saya khawatir jika saya tidak bisa menghubungi Anda ketika sudah menjelang siang, mengingat kesibukan Anda sebagai salah satu sekretaris dari Tuan Reynof,” sahut Ronald dari kejauhan.


Masuk akal juga, batin Chelsea yang akhirnya mengerti alasan di balik keberanian Ronald dalam meneleponnya sepagi ini.


”Tidak masalah, Tuan Ronald. Memangnya ada apa? Apa Anda sudah berhasil meletakkan alat efek suara dan penyadap di kamar Nona Nora?” selidik Chelsea. Sejujurnya ia juga sudah ingin tahu. ”Anda tidak ketahuan dan tidak sampai diusir, bukan?”


Aku harap tidak, karena kau adalah kekasih Nora, tentu tak sulit bagimu untuk meletakkan alat-alat itu, Ronald, batin Chelsea seraya berharap-harap cemas.


”Ya, sudah, Nona Chelsea. Untuk penimbul efek suara saja, tidak dengan alat penyadap,” jawab Ronald.


Mata Chelsea langsung melebar. ”Lho? Kenapa? Justru penyadapnya yang jauh lebih penting! Alat efek suara hanyalah benda untuk menyalurkan suara kita ketika nanti kita menakut-nakuti dia! Sementara penyadap adalah untuk mengetahui apa saja rencananya dan ....” Chelsea langsung menghentikan ucapannya ketika ia nyaris keceplosan. Ia hampir dikuasai emosi ketika rencananya untuk menyadap suara Nora tak kesampaian. “Kita bisa tahu kapan Nona Nora ada di kamar atau tidak. Agar saya pun bisa bergerak cepat nantinya.”


“Ma-maaf, Nona. Saya sungguh tak sempat. Saya tidak pernah datang ke kamar Nora lagi ... ah, maksud saya, saya tidak pernah datang ke sana sama sekali. Dan ketika saya ingin memasang alat itu, dia sudah datang. Sa-saya terpaksa segera mengendap-endap keluar dan melupakan alat sadap,” jelas Ronald.

__ADS_1


Bohong! Chelsea tahu jika Ronald sedang berbohong. Pasti ada alasan lain yang membuat Ronald tak mematuhi sarannya. Ronald sudah pasti tidak mau jika kejahatannya terkuak, ketika Chelsea mendengar isi sadapan dari kamar Nora. Sebagai seorang manusia yang tentu pernah bermonolog sendiri, Chelsea yakin Nora pernah menggumamkan nama Ronald yang telah membunuh Chelsea dalam sosok Emily. Selain itu, jika mereka sedang bercumbu lagi, tentu saja Ronald tidak ingin jika Chelsea sampai mengetahui.


Aku yang bodoh karena sudah menyarankan hal itu tanpa pikir panjang, hanya karena ingin segera mendapatkan hasil rekaman yang bisa menjadi salah satu bukti. Tentu saja Ronald tidak bodoh juga. Jika mereka berada di kamar itu dan kembali membahas perbuatan mereka, tentu Ronald akan langsung ketahuan olehku. Meski mudah dikendalikan, nyatanya dia bukan pria yang ceroboh, batin Chelsea.


“Ahaha!” Chelsea berusaha tertawa, meski ekspresinya terlihat kecut sekali. ”Ya sudah tidak apa-apa, Tuan Ronald. Yang penting Anda selamat dulu. Kita bisa memakai alat penimbul suara itu terlebih dahulu.”


Terdengar helaan napas yang dilakukan oleh Ronald. Sudah pasti Ronald sedang merasa lega karena tidak kehilangan kepercayaan dari Chelsea. Lantaran, selain terpukau pada kecantikan Chelsea, saat ini yang bisa membantunya hanyalah Chelsea. Di mana Chelsea pun memiliki pendukung kuat, yakni Reynof Keihl Wangsa yang bisa menghancurkan Nora dengan sekali libas.


Chelsea kemudian berkata sebelum Ronald ambil suara, ”Kalau begitu, sudah dulu ya, Tuan. Saya harus segera bergegas. Maklum, macet! Nanti Tuan saya malah marah.”


“Oh, iya, Nona. Terima kasih atas pengertian Anda, dan selamat bekerja. Semoga hari Anda menyenangkan.”


”Ya sudahlah. Karena kenyataannya, setiap rencana tidak selalu berjalan dengan lancar. Jika aku berhasil memasang alat sadap, mungkin aku bisa langsung membalas dendam. Tapi, nyatanya tidak semudah yang aku bayangkan. Jika hubungan Ronald dan Nora juga telah merenggang, sudah pasti mereka tak pernah lagi tidur sekamar,” gumam Chelsea diiringi helaan napas yang ia ambil secara dalam.


Tepat ketika Chelsea berdiri dari duduknya, suara ketukan di pintu kamarnya lantas terdengar. Mungkin salah seorang pelayan yang memintanya untuk bergegas ke ruang makan karena sudah ditunggu oleh sang tuan. Namun, Chelsea tetap harus memastikan kendati tebakannya bisa saja benar.


Namun, ternyata tebakan Chelsea salah kaprah, ketika ia justru mendapati sosok Reynof, alih-alih seorang pelayan. Ia menghela napas dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak habis pikir dengan keadaan paginya yang sudah dihiasi oleh kehadiran dua pria.


“Halo, selamat pagi, Tuan Reynop!” ucap Chelsea sengaja mengikuti cara Dahlia memanggil nama Reynof. Saat ini pun Chelsea sedang melipat kedua tangannya ke depan dan berlagak angkuh bak seorang nyonya. Yah, pada dasarnya dirinya adalah Nyonya Besar di Pano Diamond Group. Jadi, tak sulit untuk bersikap seelegan seorang nyonya besar.

__ADS_1


Mata Reynof langsung memicing tajam. Namun alih-alih langsung marah, ia justru tersenyum kecut. “Kau sengaja ingin meledekku? Tak bisakah kau berhenti menyebut namaku dengan salah seperti itu, Nona? Sejak kemarin kau selalu melakukannya! Apa kau tak tahu seberapa kesal nama kebanggaan yang aku peroleh langsung dari kakekku diubah cara sebutnya?!”


Chelsea terkekeh. “Ibuku sangat jenius dan aku rasa, Reynop lebih bagus daripada Reynof. Karena Reynof terkenal jahat, tapi tidak dengan Reynop! Hahaha.”


“Heh?! Kau tertawa? Betapa semakin kurang ajarnya dirimu, Nona!” Reynof ingin meraih wajah Chelsea, tetapi Chelsea langsung bergerak mundur untuk menjauhinya. Reynof yang tidak terima langsung melangkah memasuki kamar itu. Ia menutup pintu kamar dan segera menarik Chelsea ke dalam pelukannya.


”Hei, Reynop! Lepaskan aku!” ronta Chelsea sembari berusaha melepaskan diri dari dekapan Reynof yang terbilang erat.


“Kau nakal sekali! Berhentilah memanggilku seperti itu, Chelsea!”


“Tidak mau! Lidahku sudah terlanjur terbiasa!” sahut Chelsea yang tetap enggan. Suara tawanya kembali terdengar karena melihat kekesalan di wajah Reynof yang saat ini justru terlihat lucu. “Lepaskan aku! Kayla sudah datang, bukan? Aku tidak ingin membuatnya sampai kebakaran jenggot di hari yang masih sangat pagi!”


”Kenapa kau harus memedulikan dia yang kau benci sekaligus membencimu, sementara kau tak memedulikan permintaan kecilku, Nona Kecil?”


”Sudah aku katakan, lidahku sudah terlanjur terbiasa, sehingga aku sudah tak bisa menuruti permintaan kecilmu, Tuan Reynop!”


”Chelsea!”


***

__ADS_1


__ADS_2