Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya

Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya
Reynof Yakin Untuk Percaya Bahwa Dia Adalah Emily


__ADS_3

Sampai pagi hari ini, Reynof terus terdiam. Ia nyaris tidak berbicara pada siapa pun, termasuk Ruben dan Chelsea. Bahkan ketika sedang duduk di meja makan untuk menyantap sarapan dengan Chelsea pun, bibirnya masih saja membisu. Keadaan Reynof pastinya membuat Chelsea menerka-nerka. Termasuk tebakannya yang menganggap bahwa Reynof telah kecewa pada dirinya yang sudah begitu memuji ketampanan Ronald, dan setelah itu justru memanfaatkan Reynof sebagai kekasih pura-puranya untuk memanasi Nora.


Chelsea tahu jika Reynof tak mungkin mencintainya, tetapi obsesi pria itu terhadap dirinya sangat tidak masuk akal. Hanya karena trik kecil saja, Reynof sampai mendiamkannya. Akan lebih baik, jika Reynof marah lalu kembali bertengkar dengan Chelsea. Karena sejauh ini, setiap mereka bertengkar, pasti ada saja momen untuk mengakhiri pertengkaran, meskipun setiap perbincangan masih kerap terisi keketusan untuk satu sama lain.


Kalau Reynof justru terdiam seperti ini, bahkan sampai tak berselera untuk menyantap makanan, Chelsea menjadi bingung dalam mencari solusi. Haruskah Chelsea memancing menggunakan kalimat provokasi agar Reynof marah dan langsung mengambil suara lebih panjang? Namun bagaimana jika Reynof justru kelewat kecewa, setelah belakangan ini terus Chelsea kecewakan?


Chelsea menghela napas sembari memejamkan matanya dalam beberapa saat. Beberapa detik kemudian, ia membuka mata kembali dan berangsur menatap Reynof.


“Kau masih kecewa padaku? Tak bisakah kau mulai berbicara padaku, Tuan? Hari ini ada pertemuan penting dan kita butuh diskusi sebelum bertemu dengan pengusaha itu,” ucap Chelsea yang akhirnya membuat keputusan lebih bijak, daripada mengeluarkan kalimat provokasi.


Reynof yang sebelumnya terus melamun kini berangsur menatap Chelsea. Rupanya ia memang sudah lama mendiamkan gadis itu, terhitung sejak dirinya turun dari mobil selepas kembali dari restoran. Sebenarnya ia tak lagi kecewa, entah untuk pertengkaran kecilnya dengan Chelsea, maupun ketika Chelsea memuji ketampanan Ronald. Melainkan karena ucapan Nora yang menganggap segala hal yang melekat pada Chelsea memang betul-betul mirip dengan kebiasaan Emily.


Selama ini, Reynof mungkin sudah berkali-kali menganggap Chelsea adalah Emily. Namun selama itu pula, dirinya masih ragu dan bimbang, serta berharap masih ada penjelasan yang lebih masuk akal. Sampai telinganya mendengar semua penuturan Nora, dan akhirnya keinginannya untuk mencari alasan lebih masuk akal menjadi runtuh detik itu juga. Sepanjang malam ia benar-benar kepikiran. Sekarang, gadis yang di hadapannya itu berisikan jiwa wanita yang sudah mati karena kecelakaan yang diduga masih janggal, dan dicurigai adanya kesengajaan dari pihak lain yang sampai membuat nyawa Emily melayang.


Reynof sadar bahwa tatapan judes dan sikap dingin Chelsea memang serupa dengan sikap Emily padanya. Namun karena tidak terlalu mengenal Emily, ia sama sekali tidak tahu sisi-sisi lain dari kehidupan wanita itu. Dan sekarang Reynof mulai berpikir, sebenarnya ... ia sedang bersama hantu atau tetap seorang manusia?


“Kenapa kau justru melihatku seperti itu? Seolah aku ini adalah hantu yang membuatmu terdiam syok sejak tadi malam,” celetuk Chelsea yang mulai resah dengan tatapan aneh Reynof untuk dirinya. ”Aku bukan hantu! Tenang saja, aku juga tidak kesurupan!”


“Kau ... benar-benar tidak akan kesurupan? Kau tidak akan mengamuk macam macan kumbang, 'kan?” sahut Reynof yang akhirnya mulai berbicara. Namun ekspresi berharapnya terbilang unik dan langka.


Chelsea tersenyum. “Jadi, maksudmu aku akan bersikap seperti hewan dan jin secara tiba-tiba? Atau mungkin makhluk astral lain yang menghisap darah atau energi manusia?”

__ADS_1


”Ya, bisa jadi kau akan bersikap seperti itu.”


“Pft ....”


“Kenapa kau malah tertawa? Aku sedang serius!”


“Wajahmu tampak ketakutan,” sahut Chelsea dan tetap tertawa kecil. “Aku bukan hantu, intinya adalah itu! Aku tak akan menjadi roh jahat yang menghisap darah sekaligus kekayaanmu, tenang saja, Tuan Reynof!”


”Kau anggap ini lucu?!”


“Mm ... sedikit.”


“Kau menyebalkan, Chelsea!”


Reynof mengembuskan napasnya secara kasar. Baiklah, memang terlalu konyol jika ia terus memikirkan hal yang tidak masuk akal, kendati memang sudah terjadi. Namun secara keseluruhan, sosok Chelsea memanglah layaknya manusia biasa. Mungkin karena tubuh itu diisi oleh jiwa lain yang lebih bar-bar, sehingga membuat sosok Chelsea yang Reynof ketahui adalah seorang gadis lugu mendadak menjadi gadis yang nyaris kejam, ketus, dan dingin.


Sekarang, Reynof akan benar-benar mencoba untuk memercayai bahwa yang hidup di dalam tubuh itu adalah Emily, dengan banyaknya bukti dan kejanggalan yang sudah ia sadari sendiri.


”Kenapa kau memuji ketampanan Ronald tadi malam? Apa kau merindukannya?” celetuk Reynof mempertanyakan hal yang seharusnya sudah ia lupakan. “Kau ingin bertemu dengan dia lagi karena dia tampan dan ....”


Dia adalah suamimu? Reynof melanjutkan pertanyaannya cukup di dalam hati.

__ADS_1


Chelsea menggeleng sembari menyantap sepotong roti gandum yang sudah dihiasi selai cokelat. “Aku tidak merindukannya, tapi mungkin memang akan bertemu dengan dia lagi,” jawabnya.


“Kenapa? Kau masih ingin menggunakannya untuk memasuki rumahmu, ah, maksudku rumah Emily?”


Chelsea menghentikan gerakan rahangnya yang sedang mengunyah roti tersebut. Ia menatap Reynof yang sudah kembali seperti biasanya. “Apa kau ingin melarangku lagi, Tuan?”


“Apa kau tak akan tergoda padanya, Nona?” Alih-alih menjawab, Reynof malah bertanya. “Kau yakin kau tak akan mencintainya?”


Karena mau bagaimanapun kau dan dia belum pernah bercerai. Dan aku sama sekali tidak tahu tentang ingatan terakhirmu sebelum kau hidup di dalam tubuh gadis itu, Emily. Apa yang dilakukan oleh Ronald dan Nora padamu? Bisa jadi, Ronald malah tidak melakukan apa pun padamu, dan sekarang kau hanya beralasan agar tetap bisa menemui Ronald dan balas dendam pada Nora, karena tampaknya kau hanya bersikap kejam pada Nora saja, batin Reynof. Ia teringat ketika Chelsea memegang tangan Ronald.


“Kenapa aku harus mencintainya?” tanya Chelsea. “Apa kau tak menyimak apa yang aku katakan pada Nora tadi malam? Bahwa aku yakin di antara Nora dan Ronald itu ada sebuah hubungan spesial. Mereka sudah menjalin asmara bahkan meski Emily baru saja mati, itu artinya mereka sudah berselingkuh sejak lama, bukan? Tak mungkin mereka baru menjalin hubungan, tapi sudah begitu berani bercumbu di kantor! Jadi untuk apa aku mencintai pria yang tak setia pada istrinya? Bahkan meski sudah mati, tapi kan masih terhitung baru mati!”


“Kau benar-benar yakin tak akan mencintai Ronald?” Reynof masih tidak percaya.


Chelsea mengangguk mantap. “Tidak akan! Sebenarnya, apa yang kau cemaskan, Tuan? Kenapa kau begitu khawatir jika aku mencintainya? Apa kau sudah percaya jika aku adalah—”


”Karena kau adalah wanitaku. Mendengarmu telah memuji wajah Ronald, aku berpikir bisa saja kau tergiur padanya,” potong Reynof yang tidak mau Chelsea menyebut nama Emily, meski ia sudah mulai memercayai bahwa Chelsea memanglah Emily.


Ada banyak telinga yang bisa mendengar di mansion itu, dan Reynof tidak ingin orang lain menyangka Chelsea adalah gadis yang gila. Biar saja keadaan berjalan sedemikian rupa. Biarlah jiwa Emily tetap bersikap layaknya Chelsea demi keamanan wanita itu sendiri. Karena jika ada satu orang selain Reynof yang mengetahui, Emily bisa berada dalam bahaya, apalagi kematiannya bukan disebabkan oleh sebuah kecelakaan seperti yang santer dibicarakan.


“Kau harus menghubungkan ponselmu dengan ponselku jika kau sedang bertemu dengannya, Chelsea!” ucap Reynof kembali memperingatkan tentang kesepakatan yang sudah ia buat sejak lama.

__ADS_1


Chelsea menelan saliva, mengingat kebohongan yang pernah ia lakukan ketika dirinya terpaksa menemui Ronald saking penasarannya. Di depan mata Reynof, Chelsea langsung mengangguk mantap. ”Aku masih ingat, dan akan selalu ingat!”


***


__ADS_2