
Mata Nora dan Fabian kompak menatap gerakan tangan Chelsea yang tengah sibuk menyingkirkan toping almond yang menghiasi seporsi kue cokelat. Tanpa kesengajaan, keduanya langsung teringat pada sosok Emily yang memang tidak menyukai kacang almond, bahkan satu butir almond di kue pasti akan disingkirkan. Tak hanya sekadar almond yang menjadi pusat perhatian Nora dan Fabian, tetapi juga cara Chelsea dan semua pergerakan gadis itu sangat-sangat mirip dengan tingkah laku Emily.
Antara Emily dan Chelsea pastinya tidak serupa, meskipun kalau dilihat dari beberapa sudut, wajah keduanya memiliki sedikit kemiripan. Mereka merupakan dua orang yang berbeda. Usianya pun terpaut jauh. Namun gesture keduanya betul-betul mirip.
Lagi dan lagi, gadis itu menunjukkan kemiripan dengan mendiang Emily. Seolah dia sudah terlanjur hafal pada semua gerakan Emily, bahkan masalah makanan, selera keduanya tampaknya cukup mirip, batin Fabian lalu menghela napas.
Kata Ronald, gadis itu adalah penggemar berat Kak Emily. Seberat apa kekagumannya pada Kak Emily, sampai segala tindak-tanduknya betul-betul mirip dengan Kak Emily? Apa dia sengaja menyamakan sikap dengan Kakak? Pikir Nora menerka-nerka.
Sementara Reynof masih terdiam. Matanya kerap menatap Chelsea, Nora, serta Fabian secara bergantian. Aneh juga, jika Fabian pun sampai menatap Chelsea dengan sedemikian rupa, seolah ada sesuatu spesial yang Fabian pikirkan. Mungkinkah pria itu menyukai Chelsea? Atau malah turut membenci seperti halnya Nora pada Chelsea?
Hanya menyantap dessert bersama, tetapi suasana benar-benar canggung. Atmosfer yang bergerak di dalam private room itu terasa aneh. Mungkin hanya Reynof saja yang bisa bersikap lebih santai dan tak terlalu memedulikan kecanggungan itu.
“Bagaimana hubungan Anda dengan Tuan Ronald, Nona Nora?” celetuk Reynof mempertanyakan hal yang tak seharusnya.
Tidak hanya Nora yang terkejut, melainkan juga Chelsea.
“Ma-maksud Tuan?” tanya Nora berlagak bodoh.
“Lho! Bukankah kalian masih tinggal bersama di rumah Nyonya Emily?” serang Chelsea ikut andil. “Mau bagaimanapun kalian kan hanya sepasang ipar, apa tidak berlebihan jika berada di rumah yang sama?”
__ADS_1
Nora menatap sengit ke arah Chelsea, meskipun ia mulai gugup. “Me-memangnya kenapa kalau kami masih tinggal bersama? Kok sepertinya Anda ingin menggiring opini ke sesuatu yang berlebihan dan terkesan memberikan tuduhan, Nona Chelsea?”
”Aaah!” Chelsea membungkam mulutnya sembari melebarkan mata. ”Apa saya lagi-lagi salah dalam memilih kata-kata? Aduuuh, maafkan saya, Nona Nora. Saya sama sekali tidak berniat untuk menggiring opini untuk menuduh Anda! Lagi pula, menuduh soal apa? Saya bahkan tak kepikiran sama sekali lho! Saya hanya bertanya kenapa Anda tidak mengusir Tuan Ronald saja, barangkali Anda merasa tidak nyaman dengan keberadaan beliau.”
“Rumah saya besar! Jadi kenapa harus tidak nyaman? Toh, kami juga jarang sekali bertemu kok!” sahut Nora semakin sengit dan tegang.
Reynof tersenyum dan cukup syok dengan cara Chelsea yang begitu julid, sangat berbeda dengan Chelsea yang ketus dan dingin serta kerap mengajaknya bertengkar. Rupanya gadis itu tetap memiliki banyak jenis ekspresi.
“Anda tidak takut jatuh cinta pada beliau? Beliau kan tampan,” ucap Chelsea lagi. ”Kalau saya sih pasti tidak tahan melihat ketampanan Tuan Ronald hehe.”
Namun ucapan Chelsea barusan langsung mengubah rasa takjub di hati Reynof menjadi perasaan kesal. Senyum lebar yang manis di bibirnya pun langsung menghilang. Yang ada hanyalah sebuah kemasaman, baik di wajah maupun hatinya.
Detik berikutnya, Nora kembali menatap Chelsea, kemudian berkata, “Apa Nona Chelsea menyukai kakak sepupu ipar saya? Wajah Anda tampak berseri-seri ketika membicarakan tentang Kak Ronald.”
”Apa?” Chelsea cukup terkesiap setelah mendapatkan serangan balasan dari Nora. Ia tidak menyangka Nora akan memanfaatkan sedikit celah yang ada.
Sepertinya, Nora ingin menciptakan sebuah kesalahpahaman di antara Chelsea dan Reynof, mengingat Reynof, mungkin saat ini pria itu tengah kesal. Sebab pada Ruben saja, Reynof bisa murka, apalagi ketika Chelsea menganggap pria lain sangat tampan. Oh, sial, Chelsea sempat lupa pada reaksi yang akan terjadi pada Reynof setelah ia membahas tentang ketampanan Ronald.
Sebuah senyuman lantas terulas di bibir Chelsea yang manis. Ia berusaha untuk tetap tenang. “Kenapa Anda berpikir bahwa saya menyukai Tuan Ronald, hanya karena saya mengatakan bahwa beliau tampan, Nona Nora?”
__ADS_1
“Soal itu ....” Nora menyeringai. “Kalau dilihat-lihat, Anda ini mirip sekali lho dengan mendiang kakak saya. Dari penampilan, gesture, cara duduk, cara makan, hingga ketidaksukaan Anda terhadap kacang almond. Hmm ... kenapa begitu mirip ya?”
Deg! Jantung Fabian seperti dipukul menggunakan gada. Ia cukup terkejut lantaran bukan hanya dirinya saja yang menganggap bahwa sikap Chelsea memang kelewat mirip dengan sikap Emily.
“Kata Kak Ronald, Anda adalah penggemar berat Kak Emily ya? Apa saat ini Anda sedang berusaha untuk menyamakan diri Anda pada mendiang kakak saya, Nona Chelsea? Tidak hanya bersikap, dan selera makanan, tampaknya pun Anda ingin mendapatkan Kak Ronald demi bisa sepenuhnya menjadi seperti Kakak saya, ya? Aaaa ... jangan-jangan sebelum Kakak saya meninggal Anda telah menguntit kakak saya, sampai tahu betul tentang kebiasaan beliau. Benarkah begitu, Nona Chelsea? Anda tahu kan jika penguntitan adalah salah satu tindak kriminal?”
Apa? Chelsea adalah penggemar berat Emily? Batin Fabian dengan wajah yang sudah cukup syok setelah mendengar kenyataan itu. Jika yang Nora katakan bahwa Chelsea mungkin telah menguntit Emily adalah sebuah kebenaran, itu artinya kemungkinan Chelsea adalah seorang saksi pun bisa saja terjadi.
Dahi Reynof mengernyit. Ia tidak lagi memedulikan kekesalannya terhadap Chelsea yang telah memuji ketampanan Ronald, karena saat ini penuturan Nora cukup membuatnya penasaran. Rupanya dari segi penampilan hingga gesture, bahkan ketidaksukaan Chelsea terhadap kacang almond begitu mirip dengan Emily. Dengan dari informasi yang Reynof dapatkan dari kalimat provokasi Nora itu, berarti ....
Dia benar-benar Emily ya? Apa aku harus benar-benar memercayai kejadian aneh mengenai pertukaran jiwanya? Apa aku benar-benar sudah tidak boleh merasa ragu, dan mencoba mencari penjelasan yang lebih masuk akal? Batin Reynof.
Ketika Reynof sibuk merenung, tiba-tiba saja Chelsea memeluk salah satu lengannya. “Apa Anda lupa tentang pengakuan Tuan Reynof bahwa kami telah menjalin hubungan spesial, Nona Nora? Kalau Anda tidak lupa, seharusnya Anda bisa berpikir lebih baik lagi dong! Tuan Ronald memang tampan, tapi kalau dibandingkan dengan kekasih saya, tentu kekasih saya yang akan menang, bukan? Kekasih saya juga lebih tinggi levelnya daripada kakak ipar Anda yang masih saja menumpang di rumah mendiang istrinya, di saat warisan sudah sepenuhnya berada di tangan Anda. Hoho ... sekarang saya benar-benar curiga, bahwa di antara kalian memang ada hubungan spesial, soalnya ... ketika saya bertandang ke kantor Anda, saya menyadari ada noda lipstik merah di pipi Tuan Ronald lho. Apakah pada saat itu kalian habis ciuman? Jika dugaan saya benar, tak aneh jika Anda yang seharusnya takut pada kemungkinan Tuan Ronald merampas semuanya dari Anda, justru tetap mempertahankan beliau di rumah itu,” ucapnya panjang lebar.
“Dan satu lagi, memangnya kenapa jika saya dan Nyonya Emily memiliki berbagai kemiripan? Apakah hanya karena terlalu mirip, lantas Anda berhak menuduh saya sebagai seorang penguntit? Seharusnya Anda juga tidak lupa bahwa Nyonya Emily adalah pesohor yang hebat dan terkenal, yang meskipun sudah meninggal saja, nama beliau tetap harum diperbincangkan. Bukan hanya saya saja yang mencontoh cara bersikap hingga berpenampilan beliau. Tentu banyak sekali orang yang meniru! Lantaran beliau memang adalah salah satu trendsetter di negeri ini. Apa pun yang beliau kenakan pasti akan menjadi pusat perhatian, bahkan menjadi panduan bagi penjahit kecil, sehingga tak jarang ada pakaian yang dinamakan baju Emily!” tutup Chelsea.
Nora mulai gemetaran. Kedua telapak tangannya mengepal erat. Noda lipstik di pipi Ronald? Oh, astaga! Mengapa Ronald sangat ceroboh pada saat itu? Setelah mendapatkan cumbuan darinya dan Chelsea mendadak tiba, ia dan Ronald memang sangat terburu-buru untuk membenahi pakaian. Namun ia sendiri tidak sadar jika ada noda lipstik yang tertinggal di pipi Ronald, sampai membuat Chelsea menaruh curiga seperti kala itu hingga saat ini.
Apa ini? Semakin banyak mereka berdebat, semakin banyak informasi yang aku dapatkan. Aku memang curiga bahwa di antara Nora dan Ronald ada sebuah hubungan khusus. Tapi mengingat Nora yang memberikan jabatan rendah pada Ronald, tentu kecurigaanku langsung menguap. Apalagi belum lama ini, Nora justru menggodaku. Nora ...? Kenapa dia seburuk itu orangnya? Jadi, siapa yang membunuh Emily? Nora atau Ronald? Atau justru keduanya? Aaah, sial! Kenapa pula, Daffa tak bisa dihubungi?! Batin Fabian, panas dingin sendiri.
__ADS_1
***