
Makan siang pun terhenti ketika Ruben mulai menjabarkan apa pun yang ia ketahui tentang Reynof. Tuannya yang selama ini hidup di bawah tekanan Robby Wangsa yang memang tak kalah kejam ketika masih dalam keadaan waras. Reynof memiliki darah Prancis bukan langsung dari Robby Wangsa, melainkan sang kakek yang murni berdarah Eropa. Tekanan demi tekanan kerap Reynof dapatkan sejak dirinya belum genap berusia 10 tahun.
Robby Wangsa yang gila akan kekuasaan selalu mendoktrin Reynof agar menjadi sosok tak terkalahkan. Jika gagal sekali saja di ranking kelas maupun setiap kompetisi mata pelajaran, tubuh Reynof akan dihajar sampai nyaris sekarat. Catherine Paramita—ibu Reynof—yang tidak mampu menghadapi kekasaran sang suami menjadi stress dan melampiaskan kemarahan pada Reynof yang memang memiliki visual begitu mirip dengan sang ayah. Tak jarang Catherine dikurung ketika Robby merasa cemburu buta, tetapi tak jarang juga Robby justru bermain wanita.
Demi memenuhi ekspektasi sang ayah, Reynof tidak hanya berusaha keras dalam belajar dan segalanya. Namun ketika dirinya sudah tidak sanggup, ia langsung mencari alternatif lain dengan berbuat kecurangan. Mental Reynof yang sudah rusak parah, serta kondisinya yang terus didoktrin untuk tak boleh kalah, membuat Reynof menjadi pribadi yang picik dan kejam. Tak jarang Reynof menghajar teman sekolahnya demi melampiaskan emosinya yang telah begitu besar.
Namun ... sebagai manusia biasa, Reynof masih merasa tersentuh ketika diberikan perhatian. Oleh ayah Ruben Diego yang bernama Alsad Aland, Reynof begitu hormat dan sangat berterima kasih. Kebaikan Alsad membuat Reynof akhirnya mengistimewakan sosok Ruben, selalu putra dari Alsad. Reynof juga mempertahankan beberapa pelayan tua, termasuk kepala pelayan karena jasa mereka yang sudah merawatnya, kendati ketika pada orang lain, Reynof akan menjadi singa yang buas.
"Selain saya dan para pelayan, sekaligus juga Kayla yang dianggap berharga sebagai orang yang bisa dianggap keluarga, Tuan Reynof tampaknya juga tertarik pada Anda, Nona," ucap Ruben mengakhiri penjelasannya. "Mungkin karena Anda juga memiliki ayah yang buruk, sehingga hati beliau tergerak untuk lebih memperhatikan Anda."
Chelsea menghela napas, berencana melepaskan rasa sesak di dadanya yang mendadak muncul setelah mendengarkan kisah hidup Reynof yang super menyakitkan. Ia yang tumbuh sebagai Emily selama 27 tahun tak pernah sekalipun dikasari, meski pada akhirnya ia mati secara tragis di tangan suaminya sendiri. Namun Reynof sudah sekuat itu untuk bertahan hidup dengan banyak luka, dan berakhir menjadi orang yang kejam sama seperti sang ayah. Mungkin doktrin yang diberikan oleh Robby Wangsa memang masih berpengaruh besar bagi Reynof.
"Lalu ibunya bagaimana? Saya pernah mendengar kalau ibunya meninggal gara-gara ayahnya, apa itu benar?" selidik Chelsea.
Ruben mengangguk ragu. "Benar. Ketika hendak kabur setelah bertengkar hebat di malam hari, dan akhirnya berhasil keluar, tubuh Nyonya Catherine justru ditabrak oleh Tuan Robby Wangsa menggunakan mobil di persimpangan jalan yang sepi. Dan Tuan Robby mengakui hal itu pada Tuan Reynof. Tuan Robby mengatakan bahwa Tuan Reynof tidak boleh sekalipun membangkang atau lemah, jika tidak mau berakhir seperti ibunya."
"Ouh ... astaga ...." Chelsea menutup mulutnya yang sudah menganga. Matanya pun sampai berkaca-kaca. "Reynof ... pasti kesulitan dan ketakutan sampai sekarang. Dia bertindak kejam karena tidak mau dikalahkan seperti doktrin yang ayahnya berikan."
"Benar, Nona, oleh sebab itu tolong jangan terlalu membenci beliau. Karena mungkin saja Anda-lah orangnya, orang yang bisa melembutkan hati Tuan Reynof."
"Ah, ... saya tidak tahu, dan saya tidak bisa menjanjikan apa pun. Karena saya sendiri tidak tahu sampai kapan saya bisa hidup."
Ruben mengernyitkan dahi. "Anda tidak berencana untuk bunuh diri lagi, 'kan?"
"Hah?!" Chelsea terkesiap. "Anda tahu soal itu?"
"Tentu saja, tapi saya belum mengatakan hal itu pada Tuan Reynof. Beliau juga jarang mengikuti kabar berita, dan jika ada kabar penting, saya yang akan menyampaikannya. Tapi, lambat-laun beliau pasti akan sadar jika Anda sempat melakukan percobaan bunuh diri."
"Yah, saya tidak akan melakukan hal itu lagi. Tapi tetap saja, saya tidak tahu berapa lama ada hidup di tubuh ini. Namanya manusia, rohnya kapan saja bisa terlepas dari tubuh, bukan?"
__ADS_1
"Saya berharap Anda hidup sehat dan panjang umur, Nona Chelsea."
"Saya juga berharap demikian, Tuan, dan terima kasih."
"Oh iya, siang ini Tuan Reynof memutuskan untuk tidak makan siang," ucap Ruben lalu tersenyum. "Katanya ingin menyelesaikan semua pekerjaan karena nanti malam hendak menemani Anda ke rumah sakit."
Lagi dan lagi, diri Chelsea dibuat terkesiap. Ia tidak tahu jika Reynof lebih memilih lembur di jam istirahat hanya untuk menemaninya. Dan entah apakah ia harus berterima kasih, atau tetap bersikap dingin. Ia sendiri masih belum yakin apakah Reynof sudah benar-benar berubah dalam waktu secepat ini, meskipun ia pun sudah mendengar kisah hidup pria itu dari Ruben.
***
“Makanlah dulu,” ucap Chelsea yang sudah menghadap Reynof lagi sembari meletakkan seporsi makanan yang sudah dikemas begitu apik dan indah. "Aku dengar kau menyukai menu makanan ini dari Tuan Ruben," lanjutnya memberi tahu, agar Reynof sekalian tahu jika makanan yang ia bawa merupakan makanan kesukaan pria itu.
Reynof yang sudah dikejutkan oleh kedatangan Chelsea dan telah menghentikan aktivitasnya, kini justru menunjukkan wajah tak senang. “Kenapa tidak langsung bertanya padaku, dan justru pada Ruben? Selain itu kita sudah berkali-kali makan bersama, tapi kenapa kau justru tidak tahu?”
Meski geregetan karena niat baiknya justru dibalas dengan ketus, untuk kali ini saja, Chelsea memutuskan untuk lebih bersabar. Anggap saja sebagai rasa simpatinya terhadap Reynof yang telah menjalani hidup menyakitkan. Namun Chelsea akan melawan lagi jika Reynof masih saja menunjukkan wajah masam padanya.
“Haaaa ... sepertinya kau telah berbincang panjang lebar dengan Ruben, ya?!” sahut Reynof tidak senang. Lebih tidak senang ketika ia mengingat sikap Chelsea yang memang lebih ramah pada Ruben ketimbang pada dirinya. “Jangan-jangan kalian justru telah makan siang bersama?”
Tanpa keraguan apa pun, Chelsea mengangguk. “Benar, Tuan, kami memang makan siang bersama.”
“Kau serius?!” Tegas, Reynof berucap dan sampai bangkit dari duduknya. “Chelsea, apa kau jatuh cinta pada Ruben? Katakan padaku dengan jujur!”
“Cih! Pemikiranmu dangkal sekali, Tuan Besar! Apa kau juga akan mengatakan hal yang sama, jika aku makan siang bersama Pak Kepala Pelayan?” Chelsea menyeringai. “Aku dan Tuan Ruben hanya sekadar makan, bukan berkencan! Lagi pula, kami tadi lebih sering membicarakan dirimu. Jadi jangan terlalu cemburu begitu, karena kau justru terlihat lucu, alih-alih bengis dan kejam.”
“Kepala Pelayan sudah tua, sementara Ruben bahkan lebih muda dariku. Wajar saja jika aku tidak senang. Kau adalah milikku, tapi kau selalu bersikap ramah padanya! Dan tidak begitu padaku!”
“Makanya kau juga harus sebaik dirinya, agar orang-orang termasuk diriku bisa bersikap ramah padamu!" tukas Chelsea. "Ah! Sudahlah, makan saja dulu. Lagi pula, seperti ucapanmu barusan bahwa aku adalah milikmu, budakmu, pelayanmu, mainanmu. Aku akan lebih tunduk padamu, jadi jangan khawatir! Lagi pula, Tuan Ruben bukan tipe pria idamanku, meski kau juga bukan!"
"Chelsea, kau—"
__ADS_1
"Tuan! Tolong segera dimakan, sebelum Kayla Hannes datang, dan membuatku tak bisa ada di sini untuk menemanimu makan."
“Aaaarrrggghhh! Sial!”
“Jangan mengumpat seperti itu. Kau ingin aku bersikap lebih ramah, bukan?”
Chelsea lantas menyingkirkan beberapa barang yang ada di atas meja kerja Reynof, lalu memindahkan makanan itu di tempat yang sudah ia kosongkan itu. Detik berikutnya, ia membawa kursi yang memang memiliki roda untuk mendekati kursi kerja di mana Reynof sudah kembali duduk dengan ekspresi yang belum membaik.
Mau menghindar seperti apa pun, nyatanya Chelsea hanyalah seorang budak dan ia harus memberikan pelayanan terbaik bagi sang tuan. Selain demi rencananya sendiri, kali ini ia ingin menemani pria itu makan karena rasa simpati sekaligus terima kasihnya, sebab Reynof sampai rela melewatkan jam makan siang demi mendampinginya ke rumah sakit nanti malam.
“Aku akan duduk di sini sampai kau selesai makan,” ucap Chelsea.
Reynof memicingkan mata, menaruh curiga. “Apa yang kau inginkan lagi? Kenapa mendadak perhatian begini?”
“Yang aku inginkan adalah kau segera makan dan tidak perlu banyak bicara, Tuan. Kau masih memiliki dua tangan, sehingga aku tak harus menyuapimu, bukan?”
Reynof meraih dagu tirus milik gadis itu. “Meski kau sudah menyerahkan dirimu, nyatanya kau tetap bersikap kurang ajar dan ingin mengendalikanku, Nona. Apakah kau ingin dihukum karena sikapmu kali ini?”
“Silakan saja. Aku sudah tidak peduli akan hukuman yang ingin kau berikan. Asalkan kau cepat makan, Tuan Reynof! Untuk menjadi pria yang kejam, kau juga membutuhkan sejumlah energi, bukan?”
“Gadis nakal ini!”
Kedua sudut bibir Chelsea melengkung naik, membentuk sebuah senyum manis yang ia sendiri tidak menyadarinya. Namun senyuman itu langsung membuat Reynof terdiam dan tak lagi banyak bicara, karena justru terpana. Baru kali ini Reynof melihat Chelsea tersenyum setulus dan semanis itu, tetapi di hadapannya, bukan di hadapan Ruben. Memang benar Chelsea tersenyum tak hanya kali ini saja, tetapi sungguh! Kali ini terlihat jauh lebih berbeda.
Detik itu juga, Reynof seperti kehilangan daya. Ia tak lagi menyudutkan Chelsea, melainkan langsung meraih makanan yang sudah Chelsea hidangkan untuknya.
Seperti kata Tuan Ruben, Reynof lemah pada sebuah perhatian. Tapi, dia tetap kejam ketika dilawan, batin Chelsea.
***
__ADS_1