Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya

Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya
Sikap Manis Fabian


__ADS_3

Fabian ingin menyentuh tangan Nora yang tergeletak di atas meja kafe, ketika wanita itu juga sampai menjatuhkan kepala di tempat yang sama. Namun Fabian teringat akan ucapan Chelsea yang memintanya untuk terus berhati-hati. Jika ia memilih memberikan sentuhan, di saat ia pernah menolak disentuh, tentu saja sikapnya akan cenderung mencurigakan. Nora memang tidak secerdas dan sedetail Emily, tetapi Fabian harus tetap berhati-hati.


“Fabian,” celetuk Nora mulai bersuara. Detik berikutnya, ia memutuskan untuk menegakkan tubuhnya meskipun pada akhirnya ia tetap bersikap lesu. Matanya pun menyorot netra hitam legam milik Fabian. Paras manis pria itu sungguh menggugah selera, yang lantas membuat Nora tak lagi enggan untuk mengulas senyumannya.


Fabian memang berbeda dari para pria yang sempat dekat dengan Nora, untuk waktu yang lama atau hanya sekadar beberapa hari saja. Fabian jauh lebih lugu dan kerap gugup, padahal secara postur, pria itu benar-benar menakjubkan. Parasnya memang tak setampan paras Ronald, karena wajah Fabian cenderung lebih manis daripada ganteng. Hidung Fabian yang mancung lancip-lah yang membuat wajah Fabian tampak jauh lebih menarik.


“Ya, Nona. Bagaimana? Apa perasaan Anda sudah membaik?” ucap Fabian memberikan reaksi yang lebih halus, dan ia tidak ingin membahas soal pekerjaan terlebih dahulu.


Nora menghela napas, lalu tersenyum tipis. ”Berkat dirimu, aku merasa sedikit lebih baik,” sahutnya. Senyumannya kian melebar. ”Apa kau percaya padaku, Fabian? Aku tahu kok, kinerjaku memang benar-benar buruk. Tapi, seharusnya semua orang memahamiku yang baru mendapatkan jabatan itu. Sayangnya, mereka sudah sibuk menghujat, bahkan sampai ingin mengusirku dari perusahaanku sendiri.”


Rahang Fabian mengeras ketika Nora berangsur menurunkan arah pandang. Klaim Nora terhadap perusahaan milik Emily, jujur saja, terdengar sangat memuakkan. Wanita yang kata Chelsea alias Emily, adalah salah satu pembunuh, sungguh tidak tahu malu termasuk juga tak sadar diri. Terlepas dari keserakahan Nora dari keinginannya untuk menguasai harta keluarga Rukmana, sebagai sepupu Emily, apakah sama sekali tak ada rasa bersalah di hatinya? Jika memang tidak ada, mungkinkah sosok Nora sudah bisa dianggap sebagai seorang psiko? Atau hanya sekadar iblis bettina yang tak punya hati nurani?


“Anda harus bersabar demi sesuatu yang lebih besar, Nona Nora. Kadang kala kita memang harus menghadapi situasi yang sulit dulu, dalam perjalanan menggapai sebuah pencapaian,” ucap Fabian berlagak bijak. “Lagi pula, yang namanya jalan hidup tak selamanya tenang dan selalu berjalan dengan lancar, bukan? Anda harus lebih bersabar lagi. Sebagai sekretaris Anda, saya akan memercayai dan terus berada di pihak Anda, Nona Nora.”

__ADS_1


Mata Nora melebar, menatap haru ke wajah manis rupawan milik Fabian. Bibirnya agak terbuka, ketika hatinya pun berangsur menghangat oleh pernyataan Fabian yang akan terus berada di pihaknya. Sudah lama sekali, Nora tidak dipandang dan dibela dengan sedemikian rupa. Ketika diasuh oleh keluarga Rukmana pasca ayahnya meninggal dunia pun, ia hanya menjadi bayang-bayang Emily saja. Ia tidak dibela dan seperti orang asing di antara anggota keluarga Rukmana. Jadi, bagaimana tidak haru, jika ada seorang Fabian yang tentu tidak memiliki hubungan khusus dengan Nora, tetapi pria itu malah memilihnya, bahkan di saat banyak orang yang tengah menyudutkan Nora, Fabian akan terus menemaninya.


“Kau ... kenapa bersikap baik padaku ketika masih banyak orang yang meragukanku? Bahkan kau sampai bersujud di hadapan Reynof demi aku.” Nora menggigit bibir bawahnya. ”Apa kau bersikap seperti itu karena aku adalah adik dari Kak Emily?”


“Untuk masalah Tuan Reynof, ... mm, karena sebagai seorang sekretaris, tentu saja saya wajib membela dan memihak Anda sebagai atasan saya, Nona Nora.” Fabian tersenyum tipis, tetapi tetap membuat wajahnya tambah manis. “Dan untuk masalah Anda adalah adik Nyonya Emily, ya, memang benar. Saya wajib menjaga Anda karena hubungan Anda dengan Nyonya Emily. Tapi terlepas dari hal itu, sebagai orang yang sudah sejauh ini menemani Anda, hati saya tentu saja tersentuh dan turut sedih ketika Anda berada di posisi tersudut. Mau bagaimanapun kondisi Anda, saya pastikan saya akan terus membela Anda, Nona. Sekali lagi, karena saya adalah sekretaris Anda.”


”Mm, ....” Nora berangsur mencondongkan tubuhnya ke depan, kedua siku tangannya pun berdiri di atas papan meja. Ia menangkup wajahnya sendiri kemudian kembali berkata, ”Fabian? Apa kau benar-benar hanya ingin menjadi sekretarisku saja? Tak bisakah ... kita berteman? Aku tidak ingin kau bersikap terlalu profesional padaku. Umur kita hanya terpaut satu tahun, bukan? Bahkan mungkin tak sampai satu tahun dan hanya beda tahun lahir saja. Mm, aku ... ingin akrab denganmu. Maafkan aku, ketika aku terus berkata kasar atau terkadang bersikap aneh padamu. Sebenarnya aku hanya ingin dipandang tegas olehmu, tapi sejujurnya aku ingin berteman denganmu juga.”


Menariknya, rencana Fabian untuk mendekati Nora justru berjalan dengan sangat lancar. Dari awal, wanita di hadapannya itu memang telah menunjukkan ketertarikan tersendiri padanya. Bahkan Nora sampai ingin menyentuh tubuhnya secara kurang ajar. Jika pada saat itu Fabian menolak, karena selain risih, ia juga tak seharusnya tergiur oleh sikap Nora, saat ini dirinya justru akan berusaha menahan diri seandainya Nora akan melakukan hal itu lagi.


Berkat ketertarikan Nora pada Fabian itulah yang mungkin membuat perjalanan rencana Fabian berjalan lancar layaknya bus yang tengah melaju di tol Jagorawi. Dan semoga saja, tujuan akhirnya bisa Fabian dapatkan dengan sangat baik, kendati dirinya harus berkorban untuk sesuatu yang mungkin tak pernah ia lakukan.


“Ya, tentu saja kita bisa berteman, Nona. Suatu kehormatan bagi saya bisa menjalin hubungan persahabatan dengan Anda.” Fabian berucap lalu tersenyum. Ia pun sampai mengangguk hormat.

__ADS_1


Nora terkekeh pelan. Sikap Fabian masih saja profesional meskipun sudah menerima pertemanan yang ia tawarkan. “Panggil aku Nora ketika kita sedang berdua, Fabian. Agar pertemanan kita tidak terlihat kaku. Dan lagi, setelah kita berteman, aku harap kita bisa sering bermain di mana pun berdua. Ah, maksudku tentu saja sebagai teman!”


”Baik, No ... ra.” Fabian tertawa kecil dan berlagak malu-malu. ”Ah, masih terasa aneh sekali. Tapi, saya ... maksudnya aku, akan mencobanya, No ... ra. Ja-jadi, ka-kamu tidak boleh sedih lagi. A-aku akan terus berada di pihakmu, demi perusahaan tempat a-aku mengais rezeki juga.”


”Hihi, kau sungguh imut, Fabian.”


”Pria yang imut dan manis, sepertinya banyak disukai para wanita akhir-akhir ini, Nora.”


”Kau benar! Hahaha.”


Keakraban itu segera terjalin. Mungkin karena sudah terlanjur tak memiliki pendukung, Nora sampai terlalu bodoh dalam menerima perubahan sikap Fabian yang terlalu drastis. Namun mau bagaimanapun, akting Fabian pun tidak bisa dianggap remeh. Ketika mencoba untuk bersikap manis, Fabian masih tetap menonjolkan kegugupan serta kecanggungannya. Dan hal itu, tentu saja akan membuat sandiwara Fabian terlihat lebih nyata.


Dengan begini, Fabian bisa terus mendekati Nora dan mendapatkan bukti. Baik berupa pengakuan wanita itu sendiri, atau bukti fisik lainnya yang bisa ia jadikan sebagai acuan untuk membuka kembali kasus kematian Emily.

__ADS_1


***


__ADS_2