
Selepas pulang kerja, Ronald justru sibuk mondar-mandir di dalam kamarnya. Ia memikirkan keinginannya untuk menjadi pimpinan utama yang malah ditolak mentah-mentah oleh Nora, di saat wanita itu sebenarnya masih berada di ujung tanduk. Padahal Ronald tidak hanya sekali dua kali mendesak agar Nora setuju, dengan banyaknya kalimat bujukan serta janji-janji dalam kesepakatan yang baginya tetap akan saling menguntungkan. Namun rupanya, Nora tetap tidak mau melibatkan Ronald dalam urusan Pano Diamond Group, apalagi sampai membuat Ronald menjadi pimpinan utama yang ditunjuk.
“Aku harus berbuat sesuatu,” gumam Ronald sembari menghentikan langkahnya. Namun tak sama seperti sepasang kakinya yang terhenti, otaknya masih saja bekerja keras untuk mencari rencana terbaik demi keinginannya merampas perusahaan mendiang istrinya.
Karena bekerja sebagai salah satu karyawan di divisi paling rendah, Ronald sama sekali tidak betah. Memang benar, bahwa selama ini ia selalu bekerja asal-asalan, karena apa gunanya bekerja keras untuk tim yang hanya tim buangan, tetapi para rekannya justru kurang ajar dan sok mengatur. Tak ada satu pun yang hormat pada Ronald, ketika Ronald sudah jelas-jelas adalah suami dari mendiang atasan utama mereka.
”Aku tidak mau berakhir seperti ayahku yang menjadi pesuruh edan, dan aku tidak mau terus-terusan direndahkan! Kalau aku berakhir menjadi orang rendahan, setelah apa yang aku lakukan terhadap istriku sendiri, sungguh! Aku tidak mau! Noralah, harus Nora yang disingkirkan!” omel Ronald. Kemudian ia menggigit bibirnya sembari menggaruk-garuk kepalanya.
Perjalanan Ronald untuk ke sana kemari di dalam kamar yang seharusnya digunakan oleh tamu tersebut kembali berlanjut. Sebelum nama baik Nora mulai pulih dan Nora kembali mendapatkan kepercayaan, Ronald harus mencari cara untuk mencegah situasi tersebut.
“Para petinggi!” ucap Ronald ketika langkahnya turut terhenti. Salah satu telapak tangannya terangkat, di mana jari telunjuknya ikut muncul. ”Aku bisa mempengaruhi mereka dan menghasut agar mereka tidak percaya lagi pada Nora, bukan?”
Sebuah senyuman lantas terulas licik di bibir Ronald, yang membuat salah satu sudut bibirnya terangkat. “Kalau tidak salah, Emily mempunyai satu ponsel cadangan. Mengingat dia yang sangat teliti dalam pekerjaan, aku yakin nomor-nomor penting pun dia simpan di ponsel itu,” ucapnya yakin. ”Aku harus mencari ponsel itu sebelum Nora pulang! Aku harap ponsel itu bisa memberikan banyak keuntungan bagiku, karena ponsel yang dibawa Emily sudah aku hancurkan.”
Tanpa pikir panjang lagi, Ronald bergegas untuk keluar dari kamarnya dengan rencana tunggal, yaitu ke kamar pengantinnya. Ia tidak peduli nuansa mengerikan yang kerap ia rasakan di tempat ia menumbangkan mendiang istrinya tersebut. Lagi pula, ia yakin tidak ada yang namanya hantu di dunia ini. Orang mati, rohnya sudah pasti akan terbang ke alam lain.
Setelah celingak-celinguk dan memastikan bahwa Nora belum pulang, Ronald langsung membawa kakinya untuk memasuki sebuah elevator yang memang tersedia di rumah besar itu. Ketika naik menggunakan alat tersebut, rasa senang dan sebuah harapan yang besar sudah menyelimuti seluruh sanubari Ronald. Mungkin Chelsea telah membantunya untuk memberikan rasa kapok pada Nora, tetapi ia belum mendapatkan keuntungan apa pun, lantaran Nora juga tak mau memberikan kesempatan baginya dalam memimpin Pano Diamond Group. Oleh sebab itu, ia harus melakukan hal lain demi sebuah kekuasaan.
Dan akhir-akhir ini, Ronald sangat sulit menghubungi Chelsea. Padahal ia hanya ingin sekadar berterima kasih, tetapi Chelsea selalu berkata sibuk. Yah, mau bagaimana lagi, pada akhirnya Ronald tak bisa memaksa gadis itu. Lagi pula, ia juga sudah tak terlalu berselera untuk mendekati Chelsea lantaran Reynof juga tengah mendekati gadis tersebut.
__ADS_1
Pintu elevator terbuka secara otomatis ketika sudah sampai di lantai terkait, dan membuat Ronald tak perlu susah payah untuk keluar dari alat tersebut. Ronald masih waspada, karena barangkali Nora sudah menunjukkan batang hidung, sampai Ronald tetap melongok ke bawah dari lantai tertinggi rumah itu.
Aman, belum ada tanda-tanda kedatangan Nora. Para pelayan pun masih sibuk beberes. Mereka juga tak akan berani mengusik apalagi memedulikan apa yang tengah Ronald lakukan. Mereka bahkan langsung tunduk dan patuh ketika Ronald pernah meminta mereka untuk tak mengatakan apa pun pada pihak berwajib selain pernyataan tentang Ronald dan Nora yang selalu di rumah, seandainya pada saat itu memang ada salah satu pihak berwajib yang bertanya.
Ronald segera membuka pintu bekas kamar pengantinnya dengan Emily. Hanya sekali saja ia memastikan keadaan, lalu berangsur memasuki ruangan tersebut. Setelah berada di dalam dan memastikan keamanan dirinya, Ronald mulai fokus. Ia menatap seluruh barang yang berada di kamar itu.
”Di mana Emily menyimpan ponsel itu? Dia bukan orang yang pandai menyembunyikan sesuatu dariku. Bahkan rencana kedatangan Gaspard Cassel yang sudah dia kunci untuk perusahaannya sendiri pun malah dikatakan padaku. Jadi, tak mungkin dia menyimpan ponsel cadangannya dengan sangat aman,” gumam Ronald. Ia pun memejamkan matanya, mengingat-ingat kembali setiap kegiatan Emily.
”Nakas! Pasti di laci nakas dia menyimpannya!” celetuk Ronald lalu tersenyum lebar. Ia yakin di tempat itulah Emily menyimpan ponsel cadangan. Karena Emily pun pernah menggunakan dua ponsel sekaligus untuk urusan pekerjaan, tetapi tetap sambil duduk nyaman di atas ranjang. Dan kalau tidak salah, ketika Ronald datang, Emily langsung memasukkan salah satu ponsel ke dalam laci nakas.
Ronald mulai mengambil langkah, sangat terburu-buru karena memang terlanjur tidak sabaran. Nanti ketika dirinya berhasil mempengaruhi para petinggi, maka kesempatan untuk mendapatkan perusahaan milik Emily semakin besar. Ronald bisa membuang Nora kapan saja, bahkan kalau perlu membalikkan keadaan dengan melimpahkan segala kesalahan pada mantan kekasihnya itu.
”Benar, 'kan! Hahaha!” Ronald begitu girang setelah menemukan ponsel cadangan di tempat yang sudah ia tentukan. Dan tanpa pikir panjang, ia mengambil ponsel tersebut.
Namun ... seperti ada sesuatu yang salah dari benda tersebut. Seperti sebuah ponsel yang baru saja dibeli. Sambutan pertama yang muncul, kondisi ponsel yang bening tanpa goresan, serta menu kontak yang kosong.
”Ini ...?” Ronald menelan saliva. Wajahnya kebas. “Apakah ponsel ini ponsel yang aku cari? Bahkan meski Emily adalah wanita yang rapi dan bersih, tak mungkin ponsel yang kerap dia gunakan tak ada sedikit pun goresan. Benda ini ... benda yang berbeda ....”
Gemuruh hebat langsung terdengar dari dalam diri Ronald. Marah dan kecewa menjadi dua rasa yang menguasai relung hatinya. Ia yakin ponsel itu bukan ponsel cadangan milik Emily yang ia cari. Meski selalu dirawat, yang namanya benda lama dan benda baru pasti ada bedanya! Apalagi tak tersimpan satu pun nomor di dalam menu kontak ponsel itu.
__ADS_1
Braaak!
Ronald menggebrak nakas, sampai lampu tidur yang terdapat di atas benda itu ikut bergetar. Rahang Ronald mengeras, ketika otot-otot hijau pun mulai bermunculan di wajah dan tangannya. Hatinya sungguh geram setelah meyakini ada yang sengaja menukar ponsel cadangan milik Emily.
“Siapa? Siapa yang berani menukar benda milik istriku?! Kaukah itu, Nora?!” Geram, Ronald bertanya-tanya. Namun akal pintarnya langsung bekerja. “Tak mungkin. Nora paling anti memasuki kamar ini, dia hanya masuk ketika aku dan Chelsea menakut-nakutinya. Dan setelah teror itu terjadi, sudah pasti akan membuatnya semakin anti dengan kamar ini. Lalu siapa? Pelayan? Tidak, tidak, itu sama sekali tidak masuk akal!”
Ronald mengambil langkah. Namun bukan untuk keluar, melainkan kembali berjalan ke sana kemari sembari sesekali menggertakkan gigi. Ia harus tahu siapa pun yang menukar benda tersebut. Tak mungkin Emily membeli benda baru sebelum meninggal dunia. Ronald betul-betul ingat Emily pernah memainkan ponsel cadangan untuk mencatat sesuatu katanya, termasuk juga menyimpan beberapa kontak milik orang lain yang pada saat itu tidak Ronald pedulikan. Namun yang pasti Emily mengatakan harus menyimpan semua kontak di dua tempat, untuk mengantisipasi kerugian jika ponsel utama hilang atau rusak.
Mata Ronald melebar, dan langkahnya langsung terhenti. Sebuah dugaan muncul di benaknya. “Jangan-jangan ... Chelsea? Gadis itu ... mau bagaimanapun, dia bekerja dengan Reynof yang licik. Kedatangan Gaspard Cassel saja bisa mereka ketahui, dan aku yakin hal itu bukan sebuah kebetulan,” ucapnya setelah itu.
“Jangan-jangan setiap kalimat yang aku ucapkan untuk memprovokasi Nora mengenai Reynof yang sengaja menawarkan kerja sama adalah untuk mencuri sesuatu yang besar, malah ... menjadi sebuah kebenaran? Jangan-jangan dugaanku itu adalah sebuah kenyataan? Itu artinya ... selama ini pun bukan hanya Nora, tapi ... juga aku?”
”Chelsea, Reynof. Mereka ... mencoba memanipulasi otakku untuk menghancurkan Nora? Mereka sengaja menggunakan diriku? Dan Chelsea selama ini, benarkah kau menipuku dengan berpura-pura menjadi penggemar berat Emily? Kalau dipikir-pikir ... untuk apa juga Chelsea ingin membantuku tanpa keuntungan sama sekali?”
Ronald mengepal kedua telapak tangannya dengan erat. “Chelsea Indriyana, rupanya kau memang sudah menipuku ya? Dan setelah mendapatkan ponsel berisi banyak sekali nomor orang-orang penting, kau memilih menghindariku? Waaah, masuk akal! Mungkinkah Reynof memintamu untuk mencuri benda berharga milik istriku? Entah bagaimana kau bisa tahu bahwa ada ponsel cadangan, bahkan sampai membeli ponsel yang sama. Tapi, melihat latar belakang Reynof yang licik, tak aneh jika hal sekecil itu pun dia tahu. Sial ... aku sudah masuk perangkap mereka! Sialan! Chelsea, karena kau yang turun tangan untuk berhubungan denganku, maka kau yang akan mati di tanganku!”
Ronald benar-benar sudah dipenuhi kemarahan. Ia sudah yakin dengan dugaannya bahwa Chelsealah yang menukar ponsel itu. Karena jika ditilik dari jati diri Reynof yang kerap menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkan keuntungan, maka dugaan Ronald tentu akan masuk akal.
Teror untuk Nora hanyalah kamuflase dari rencana Chelsea yang ingin mencari keuntungan sesuai permintaan sang tuan. Gadis yang Ronald pikir cukup naif dan kekanak-kanakan itu nyatanya adalah gadis yang sangat berbahaya. Dan hanya karena sedang terpuruk serta terus dijatuhkan oleh Nora, Ronald sampai lupa untuk berhati-hati, padahal ia sempat mempertanyakan mengapa Chelsea yang tak ada hubungannya dengan Emily selain hanya seorang penggemar sampai rela melakukan sesuatu untuk turut menghukum Nora. Dan sekarang Ronald mengetahui apa yang disembunyikan oleh gadis itu.
__ADS_1
Pada akhirnya, Ronald memang kembali dimanfaatkan. Dan hal ini merupakan sebuah kesialan yang tidak bisa Ronald toleransi lagi. Ronald harus membuat perhitungan, karena ponsel cadangan itulah yang menjadi harapan terakhirnya. Setidaknya ia harus mendapatkan semua nomor para petinggi!
***