
Di sisi lain, Reynof yang baru menyelesaikan pertemuan penting dengan salah satu koleganya sembari makan siang bersama, saat ini sudah kembali ke ruang kerjanya sendiri. Ia tengah duduk, tetapi masih belum memulai pekerjaan, sebab dirinya justru sibuk melamun dan sesekali tersenyum-senyum.
Perasaan Reynof cukup senang lantaran bisnisnya belakangan ini selalu berjalan sesuai rencana dan keinginan. Kehadiran Chelsea yang pintar betul-betul sangat membantu Reynof. Bahkan tak hanya bisa menaikkan peforma perusahaan, nyatanya Reynof juga mendapatkan beberapa kerja sama penting. Terutama dengan pengusaha Prancis yang akan ia temui besok pagi.
Kesepakatan yang Reynof terima dari penawaran yang diberikan oleh Chelsea memang memberikan dampak positif yang signifikan. Reynof tidak rugi, malah justru mendapatkan banyak keuntungan, meskipun ia juga harus melakukan beberapa hal merepotkan. Namun jika timbal baliknya sebesar ini, tentu saja Reynof tak akan keberatan.
“Cih ....” Senyum lebar lantas terulas di bibir Reynof di saat dirinya membayangkan wajah Chelsea dan juga Emily yang memang menawan. “Chelsea. Emily. Chelsea. Emily ...?”
“Aaah!” Reynof lantas menyandarkan punggung dan kepalanya di sandaran kursi kerjanya. Ia menggunakan kedua telapak tangannya sebagai bantal. Matanya menatap ke langit-langit ruangan, sementara pikirannya tengah menerawang setiap kejadian yang telah ia lewati bersama Chelsea. “Bisa-bisanya aku mempertahankan gadis yang sedang kesurupan itu. Sebenarnya dia itu apa? Gara-gara dia aku serasa gila, bahkan aku menjadi orang yang plin-plan dan tak konsisten. Ingin percaya, tapi aku tidak mau gila. Tidak mau percaya, kenyataan justru membuatku harus memercayainya.”
Reynof menghela napas, kemudian kembali berkata, “Kalau dia memang Emily, lantas di mana roh Chelsea berada? Apa mereka hidup di satu tubuh? Lalu, apakah aku pernah berbicara dengan si Chelsea yang asli? Atau hanya Emily? Aaaah!” Ia mengumpat karena merasa buntu setiap memikirkan kejadian tak masuk akal itu. “Aku lebih tidak menyangka ketika mendengar fakta dari Ruben, mengenai kedua gadis itu yang jatuh di tempat yang sama dan ditemukan dalam waktu bersamaan. Apa kejadian itu yang membuat jiwa mereka tertukar?”
“Tak mungkin!” tegas Reynof yang sampai saat ini memang menolak percaya pada kenyataan yang ada. “Sikap si Chelsea yang sekarang memang sangat mirip dengan sikap Emily, yang selalu ketus dan dingin padaku. Dia bahkan selalu memandangku penuh dengan kebencian, hanya karena aku sempat merendahkannya. Secara wajah pun mereka sekilas juga mirip, meski tak sama persis.”
Mata Reynof berangsur terpejam. Senyumnya terulas kembali. Senyumannya begitu manis dan tampak damai. Ia ingin mengabaikan semua yang tak masuk akal itu, meski sesekali memang kerap membuatnya kepikiran seperti saat ini.
Namun wajah yang sekarang hadir di benaknya bukan paras Chelsea yang membuatnya tergiur hanya karena menatap foto gadis itu, melainkan paras Emily yang dulu selalu ketus dan dingin ketika berhadapan dengannya.
Singkat cerita, Chelsea sudah kembali ke Neverley Group. Ia sempat bertemu dengan Kayla, tetapi entah mengapa wanita seksi itu memilih menghindarinya. Mungkin karena Kayla telah dipermalukan oleh Reynof, atau mungkin telah dilarang untuk tidak mengganggu Chelsea lagi. Yah, itu jauh lebih baik, karena Chelsea enggan untuk bertengkar. Bertengkar dengan Reynof sudah cukup melelahkan. Dan jika Reynof tak memercayai keberadaannya di rumah sakit, sudah pasti pertengkarannya dengan pria itu akan kembali terulang.
Chelsea menelan saliva dengan susah-payah sembari terus menatap handel pintu ruang kerja Reynof. Ia sendirian, sebab Ruben tak ada di tempat. Sepertinya Ruben memang belum kembali dari tugas penting lainnya, atau mungkin masih sibuk makan siang, karena jam makan siang juga belum berakhir.
”Dia tahu tidak ya?” gumam Chelsea bertanya-tanya. Gelisah. Bahkan meski sudah yakin pada semua strateginya untuk menipu Reynof, ia tetap cemas mengingat Reynof yang pintar sekaligus detail. “Aku tidak ingin menemuinya, sungguh! Tapi, ... ugh, dia sudah memintaku untuk datang ke ruangannya setelah aku kembali dari rumah sakit. Jika aku menghindar, dia pasti akan sadar bahwa aku telah melakukan kesalahan.”
“Aaah ... kenapa aku mendadak takut begini? Memangnya sejak kapan aku takut padanya?” gumam Chelsea lagi setelah menyadari nyalinya yang menciut. “Sudahlah! Toh, kami memang kerap bertengkar. Bukan sesuatu yang aneh bagi kami jika pertengkaran harus terjadi lagi.”
Setelah meyakinkan dirinya yang sejujurnya masih tidak terlalu yakin, Chelsea lantas mengetuk pintu ruangan tuannya itu. Setelah memberikan tanda tersebut, ia lantas membuka perlahan pintu itu, kemudian melangkah untuk memasuki ruangan.
Namun rupanya yang Chelsea dapatkan bukanlah tatapan tajam nan buas dari mata Reynof, karena saat ini pria itu malah tertidur dengan kondisi tubuh yang menghadap agak ke atas di kursi kerja. Tak mau menganggu Reynof, Chelsea melangkah secara perlahan-lahan. Entah mengapa ia justru tidak ingin pergi begitu saja. Ada desakan yang membuatnya bertahan untuk terus berjalan ke arah sang tuan.
Di hadapan Reynof yang masih terlelap, Chelsea terpaku diam. Sampai tak lama berselang, sebuah senyum terulas manis di bibirnya.
__ADS_1
“Kalau tidur, kau sangat tampan sekaligus manusiawi,” lirih Chelsea. ”Seandainya kau se-manusiawi itu saat membuka mata, mungkin aku akan lebih menghormatimu, Tuan Reynof.”
Setelah mengakhiri senyum tipisnya, Chelsea lantas bergerak untuk ke ruang tamu di ruangan itu. Namun baru tiga kali melangkah, ia menghentikan laju kakinya lagi. Detik berikutnya, ia memutar tubuhnya dan menatap Reynof yang masih terlelap. Suasana yang mendung dan beberapa kali sempat turun hujan terhitung sejak tadi pagi membuat udara terasa jauh lebih dingin, belum lagi AC yang diatur dengan suhu rendah, sementara Reynof hanya bersedekap tanpa menggunakan blazernya, di saat lengan kemeja hitamnya tampak digulung.
Setelah beranggapan jika Reynof sedang kedinginan, Chelsea akhirnya berjalan ke arah gantungan pakaian yang ada di samping pria itu. Ia mengambil blazer abu-abu milik pria itu. Chelsea menyelimuti tubuh Reynof menggunakan blazer tersebut. Namun meskipun ia sudah bergerak dengan pelan-pelan, sikapnya justru membuat Reynof terkesiap sekaligus menggeragap.
Pria itu lantas terjaga dan langsung menatap Chelsea dengan matanya yang tampak memerah.
Aku lupa kalau dia punya masa lalu buruk mengenai ibunya yang bisa datang kapan saja untuk mencekiknya. Pasti dia sangat terkejut dengan sikap serta keberadaanku, batin Chelsea yang baru teringat akan cerita kehidupan Reynof di masa lalu.
”Maaf, aku tak berniat untuk membangunkanmu. Kau tampak kedinginan, jadi aku berpikir untuk menyelimuti tubuhmu, Tuan,” ucap Chelsea.
Reynof menghela napas. Merasa lega lantaran yang ia dapati bukan ibu atau ayahnya, melainkan gadis yang sudah ia tunggu-tunggu kedatangannya. Detik berikutnya, ia lantas menegakkan tubuhnya. “Terima kasih atas niat baikmu, Nona. Jarang sekali kau berbuat baik padaku,” ucapnya.
Dia sudah benar-benar kembali ke wujud aslinya, meski sempat menunjukkan keterkejutannya akibat efek traumanya? Batin Chelsea.
Tanpa Chelsea duga-duga, Reynof langsung menyergap pinggangnya. Pria itu memeluk pinggangnya bak anak kecil yang sedang ingin dimanja. Chelsea yang terkesiap berencana ingin segera melepaskan diri, tetapi ... ia tidak melakukan rencanaku itu karena ia pikir Reynof sedang lelah sampai ketiduran di siang bolong begini. Tak biasanya Reynof sampai tertidur di ruang kerja. Mungkinkah karena terlalu sibuk mempersiapkan segalanya demi menarik perhatian pengusaha besar dari Prancis seperti yang Chelsea inginkan?
Bibir Chelsea masih terkatup rapat. Namun salah satu tangannya sudah bergerak ke atas kepala Reynof. Saat berpikir untuk membelai lembut rambut hitam pria itu, Chelsea mendadak merasa ragu. Nyaris satu menit dirinya mempertimbangkan dan di saat itu pun, Reynof masih belum melepaskan pinggang.
Ya sudahlah, sebagai bayaran karena aku telah membohonginya, sedikit bersikap lembut sepertinya tak masalah, batin Chelsea. Dan detik itu juga, ia membelai rambut Reynof dengan lembut.
Mendapatkan perlakuan yang terbilang istimewa dari gadis yang kerap memusuhinya, mata Reynof yang tadinya terpejam kini telah terbuka lebar. Tentu saja ia kaget. Sebab meskipun ia dan Chelsea sudah melewati beberapa malam bersama, nyatanya hubungannya dengan gadis itu masih saja diselimuti hawa panas.
Namun saat ini Chelsea justru memberikan dua perhatian di waktu yang berdekatan. Membuat Reynof benar-benar tidak ingin melepaskan pinggang Chelsea hanya demi mendapatkan belaian tangan gadis itu.
“Kau ... pasti tidak tidur ya tadi malam?” tanya Chelsea berniat untuk memecah keheningan sembari terus memberikan belaiannya.
“Mm, aku harus mempelajari semua cara kerja ayahku. Meski dia sangat kejam, dia tetap pebisnis yang andal,” sahut Reynof. ”Aku memang harus terus mengikuti apa yang dia lakukan dan katakan, bahkan meski saat ini dia sudah melupakan banyak hal.”
Chelsea menelan saliva. ”Sepertinya kau tak pernah mengunjunginya, ya? Apa kau masih marah, meskipun dia sudah menderita demensia?”
__ADS_1
“Ya, aku juga sangat membencinya. Sama seperti dirimu yang membenci ayahmu.”
“Hmm, tapi jika ayahku yang menderita demensia, aku tak akan terlalu membencinya lagi.”
Reynof melebarkan matanya. Detik berikutnya, ia mendongak demi menatap wajah Chelsea, kendati sudah pasti belaian Chelsea menjadi terhenti. Namun pelukannya belum ia akhiri sama sekali. ”Kenapa? Bukankah ... dia seperti bukan ayahmu?”
Jika kau memang Emily, bukan Chelsea, kau tak seharusnya bersikap baik pada Hery, bahkan ketika Hary berada di ambang kematian sekalipun. Seharusnya seperti itu, bukan? Pikir Reynof.
“Karena jika ayahku menderita penyakit tersebut, artinya Tuhan yang telah memberikan hukuman berupa penyakit itu untuknya. Tuhan sudah turun tangan, jadi kenapa aku masih harus membencinya? Toh dia sudah dihukum dengan sedemikian rupa, tak hanya sebagai karma untuknya, melainkan juga untuk kesadaran agar kita tak lagi mendendam.” Chelsea tersenyum masygul. “Mungkin terdengar menggelikan ketika aku yang mengatakan, di saat aku sedang berencana untuk membalas dendam. Yah, terkadang berbicara memang lebih mudah daripada mempraktekkan.”
Chelsea menatap wajah tampan Reynof, terutama netra abu-abu milik pria itu. Perlahan tetapi pasti, ia menangkup kedua pipi Reynof, sampai membuat wajah Reynof merona. Bahkan tak hanya merona, nyatanya jantung Reynof mulai berdebar tidak karuan.
“Tapi, di kasusmu, yang kau hadapi adalah ayahmu sendiri, bukan pasangan atau sekadar saudara beda orang tua. Kunjungilah dia selama dia masih hidup, Tuan Reynof. Barangkali kau akan mendapatkan permintaan maafnya dan membuat segala trauma yang kau derita menjadi sedikit terobati. Barangkali penilaian kejam yang kau berikan pada Tuan Wangsa berubah, setelah ingatanmu mengenai kekejamannya ditutup dengan ingatanmu mengenai permintaan maafnya, Tuan Reynof.”
Reynof menelan saliva dengan susah-payah. “Chelsea?”
“Ya?”
“Bolehkah aku menciummu?”
”A-apa?” Chelsea mendengkus kesal. ”Aku sedang berceramah panjang lebar, tapi yang ada di pikiranmu justru kemesuman belaka ya?! Ouh! Aku benar-benar menyesal!”
”Tidak, aku mendengar semua ceramahmu,” tandas Reynof. ”Tapi saat ini kau terlalu cantik dan manis, membuatku gemas sendiri.” Reynof berangsur bangkit dari duduknya setelah melepaskan pinggang Chelsea dari pelukannya.
“Sejak kapan kau meminta izin ketika ingin menciumku?” sahut Chelsea.
“Itu ... mulai saat ini dan sampai lima menit ke depan.”
“Cih ... aturan macam apa itu?” Chelsea mendengkus kesal. “Tapi, Tuan, sepertinya tidak bisa. Waktu kerja sudah dimulai kembali. Dan aku tidak memberikanmu izin!”
Reynof tidak mengatakan apa pun selain memasang ekspresi masam. Namun ia juga tidak berniat memaksa gadis itu, karena lima menit memang belum berlalu. Sementara Chelsea yang melihat kekesalan telah mendera diri Reynof menjadi ingin tertawa sendiri. Singa buas yang saat ini tampak jinak itu terlihat lucu sekali.
__ADS_1
***