Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya

Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya
Tangis Fabian


__ADS_3

Chelsea sedang membereskan mejanya sebelum memutuskan untuk keluar dari ruangan. Setelah ini, ia berencana untuk menuju ruang kerja Reynof, ketika ia pun sudah berpikir untuk makan siang bersama pria itu. Namun di sela-sela aktivitasnya, Chelsea dikejutkan oleh suara getar ponselnya yang meski tidak disertai nada dering tetap kedengaran. Chelsea menghela napas dengan gerakan agak malas. Ia pikir yang menghubunginya saat ini adalah Ronald.


Namun ... ketika Chelsea terpaksa meraih ponsel dari dalam saku blazer, lalu menatap layar, bukan Ronald yang sedang menghubungi, melainkan sebuah nomor tanpa nama. Detik itu juga, Chelsea menekan tombol terima. Sebab sudah pasti Fabian-lah yang tengah menghubungi dirinya saat ini. Yah, memangnya siapa lagi, ketika hanya pria itu yang ia berikan kartu nama setelah Ronald?


“Ha-halo?” ucap Chelsea. Dan entah mengapa dirinya malah dirundung kegugupan, padahal berbicara dengan Fabian yang sudah ia kenal sejak kecil bukanlah sesuatu yang bisa dikatakan spesial.


Chelsea menelan saliva kemudian kembali berkata, “Kau-kah ... itu, Fabian?”


“Ya.” Akhirnya sebuah jawaban lantas Fabian berikan. Satu detik setelahnya, terdengar dirinya tengah menghela napas. “Bisakah kita bertemu, ... Nona?”


“Y-ya!” Chelsea menyahut cepat, dan cenderung antusias. “Mari kita bertemu. Di mana? Di restoran? Atau di panti tempat kau tumbuh besar?”


”Di tempat tinggalku.”


”Hah? A-apa?” Chelsea sempat melongo bingung, tetapi ia segera tahu apa yang tengah Fabian rencanakan. “Kau ingin mengujiku untuk membuka brankas itu, bukan?”


“Anda bisa datang saat ini juga, 'kan? Saya akan segera pulang.”


Chelsea menghela napas, kemudian berangsur memejamkan matanya. Setelah itu ia tetap menganggukkan kepala, kendati Fabian tak akan melihat sikapnya. “Ya, aku pun akan segera ke kediamanmu, Fabian. Aku akan berangkat sekarang.”


”Baiklah, Nona, akan saya tunggu. Atau mohon tunggu jika Anda sampai lebih cepat.”


“Tidak, tampaknya kau yang akan tiba duluan.”


“Baik, Nona, akan saya tunggu.”


Chelsea menurunkan ponsel dari sisi telinganya sesaat setelah mendengar bunyi telepon sudah dimatikan. Dan ia tidak memiliki banyak waktu untuk terus melamun. Tanpa memedulikan apa pun, bahkan termasuk Reynof, Chelsea langsung bergegas. Ia tidak mau Fabian berubah pikiran dan lantas menganggapnya sedang berbohong. Untuk urusan Reynof, sepertinya Chelsea sudah mulai mampu menjinakkan pria itu.


Setibanya di basemen perusahaan di mana mobilnya terparkir, Chelsea langsung melesakkan diri ke dalam kendaraan pribadi pemberian Reynof tersebut. Tanpa pikir panjang lagi, Chelsea langsung melajukan mobil dengan terburu-buru. Ia tahu, Reynof pasti bisa mengetahui keberadaannya karena memang ada alat pelacak yang dipasang di mobil tersebut, dan Chelsea tidak pernah tahu ada di mana pemasangannya. Lagi pula, ia pun tak memiliki hak termasuk waktu untuk mencari-cari benda tersebut.


***


Setelah sekitar lima belas menit mengarungi perjalanan dari Pano Diamond ke gedung apartemennya, Fabian memutuskan untuk langsung masuk ke dalam tempat tinggalnya tersebut. Ia bahkan tidak ingin lagi memedulikan kondisi Pano Diamond yang sedang panas, apalagi ketika hari ini Nora malah tidak masuk untuk bekerja.

__ADS_1


Seharusnya Fabian ada di sana, bahkan meski jam makan siang telah tiba. Namun dirinya pun tak punya banyak waktu, ketika Daffa sudah meminta agar dirinya segera membuat pertimbangan, maka ia pun juga harus segera memastikan siapa yang hidup di dalam tubuh Chelsea Indriyana.


Jujur saja, Fabian agak gugup, bahkan takut. Seandainya Emily masih ada, tentu ia akan senang. Namun di sisi lain, ia tetap merasa bersalah lantaran tidak mampu melindungi wanita yang seharusnya ia jaga selama seumur hidup tersebut. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana ketika nanti sosok Chelsea Indriyana yang ternyata adalah Emily ada di tempat ini.


Tepat setelah Fabian menghela napas, bel pintu tempat tinggalnya itu terdengar. Fabian menelan saliva dan berusaha mempersiapkan dirinya untuk kemungkinan apa pun yang akan terjadi nantinya. Kalaupun gadis itu memang bukan Emily, siapa tahu sosok Chelsea Indriyana bisa membantu mengungkap kejadian sebenernya di balik kasus kematian Emily.


“Hai,” sapa Chelsea pada Fabian yang sudah membukakan pintu untuknya.


Fabian cukup salah tingkah, yang membuatnya tidak mampu menjawab ucapan gadis itu karena memang serba salah. Jika Emily yang hidup di dalam raga itu, tentu saja ia harus bersikap lebih hormat. Namun jika ternyata bukan, Fabian tidak mau bersikap hormat. Karena bisa jadi sosok Chelsea adalah seorang penguntit.


Namun ... mata Fabian langsung melebar, ketika ia menyadari bahwa sebelumnya ia tidak memberikan alamat tempatnya tinggal sama sekali. Apartemen itu merupakan salah satu aset, dari beberapa aset yang ia miliki. Dan Chelsea bisa datang ke tempat ini, daripada ke tempat lain yang Fabian miliki!


“Kenapa kau menatapku seperti itu, Fabian?” ucap Chelsea. “Apa yang kau pikirkan? Setidaknya bersikaplah lebih sopan, karena ragaku sudah mati, jiwaku tetaplah atasanmu, Tuan Sekretaris yang lugu.”


Oh! Sebutan itu! Bahkan sebutan itu hanya Emily saja yang mengetahui.


”Si-silakan masuk,” ucap Fabian dengan gugup.


Fabian masih bingung kendati sudah ada sejumlah kejelasan. Namun fenomena pertukaran jiwa memang sulit sekali untuk dipercaya. Kendati ada yang bangkit setelah mati, tentu saja bangkitnya bukan di raga orang lain, melainkan di alam akhirat. Kalaupun rohnya menggila, mungkin akan lebih masuk akal jika menjadi hantu penasaran yang menuntut balas.


Ah, Fabian hanya akan pusing jika memikirkan kejadian aneh dengan logikanya. Lebih baik ia yakini saja apa yang sudah ia tetapkan sebelumnya. Ia pun bergegas menutup pintu kediamannya itu. Dan ketika sedang berjalan, Fabian lagi-lagi harus dibuat tercenung diam. Pasalnya sosok Chelsea sepertinya sudah menghafal setiap area di dalam apartemen itu.


”Dia ... sungguh Emily,” gumam Fabian lalu menelan saliva. Dan selanjutnya, ia pun bergegas untuk menyusul Chelsea yang sudah terlihat hendak memasuki kamarnya.


Di dalam kamar Fabian, Chelsea bergerak ke area ruang kerja. Sebuah brankas yang ia ketahui ada di belakang tempat duduk Fabian, menjadi satu-satunya tempat yang ingin segera ia hampiri.


Mata Chelsea menatap tombol-tombol yang berada di kotak penyimpanan itu. Sudah lama ia tidak datang untuk memastikan dana yang masuk ke dalam rekening rahasianya. Tampaknya setelah diri Emily-nya dinyatakan tiada, Fabian masih mengurus aset itu dengan baik, bahkan kemungkinan besar Fabian masih belum mengatakan keberadaan aset itu pada orang lain.


“Kenapa kau tidak melaporkan aset itu pada Nora yang sudah menjadi pimpinanmu, Fabian?” tanya Chelsea setelah menyadari Fabian sudah berada di belakangnya.


Fabian menelan saliva. “Karena rahasia,” jawabnya singkat.


“Baiklah, kau memang yang paling setia padaku. Tapi, jujur, awalnya aku tidak ingin melibatkan dirimu. Karena setelah terbangun di tubuh ini, aku sulit memercayai orang lain, Fabian. Pengkhianatan yang telah dilakukan oleh suami dan sepupuku sungguh membuat mentalku terguncang. Aku bahkan sampai menyerahkan diriku pada Reynof, demi tujuanku untuk menghukum mereka.”

__ADS_1


“Begitu ya?”


Sahutan Fabian yang cenderung singkat membuat Chelsea menyadari bahwa pria itu masih ragu walaupun sudah memutuskan untuk meyakini. Dan tentu saja Chelsea tidak mau jika Fabian berakhir seperti Reynof, yang tetap enggan untuk memercayai bahwa dirinya adalah Emily. Untuk mencegah hal itu terjadi, Chelsea segera mendekatkan diri pada brankas di hadapannya. Detik berikutnya, ia memencet setiap angka yang masih tertera jelas di benaknya.


“Aku benar-benar Emily, Fabian. Jika kau masih tak percaya, mari kita ke panti asuhan dan mencari pohon yang kau tanam untuk diriku,” ucap Chelsea sembari membuka pintu brankas, sementara dirinya bergerak untuk menatap Fabian.


Satu-satunya benda dengan kunci angka-angka yang tidak mungkin diketahui oleh seorang penguntit itu terbuka lebar oleh tangan Chelsea. Satu-satunya hal yang akhirnya membuat keyakinan Fabian tak lagi disisipi sejumlah keraguan. Sebuah fenomena tak masuk akal benar-benar terjadi. Jiwa yang seharusnya mati, kini hidup kembali, kendati harus berada di raga orang lain.


Pada saat itu juga, air mata dari kedua netra Fabian langsung tumpah begitu saja. Rasa bersalah sungguh membuatnya tak bisa bertahan terlalu lama, dari sebuah guncangan hebat yang benar-benar telah meluluhlantakan jiwanya. Bahkan tak hanya sekadar menangis, karena Fabian sampai sesenggukan hingga meluruhkan tubuhnya. Kedua telapak tangan dan kedua lututnya sudah menyentuh lantai kamarnya tersebut.


“Maafkan saya, sungguh maafkan saya, Nyonya. Karena saya ... Anda harus mengalami hal buruk itu ... maafkan saya,” ucap Fabian di sela-sela isak tangisnya. Ia yang sudah mengubah bahasanya menjadi lebih formal sejak menjadi sekretaris Emily, terus memohon maaf dan pengampunan.


Chelsea alias Emily sampai tidak mampu menahan diri untuk tidak turut menuangkan air matanya. Di mana ia pun ikut menangis, setelah menyadari bahwa kematiannya sungguh membuat satu-satunya orang yang paling setia sampai menderita. Fabian pasti mengalami banyak hal sulit setelah Emily tiada. Pria itu tidak hanya berusaha terus mendampingi Nora yang ternyata jauh lebih bodoh daripada yang Emily kira.


”Fabian ...,” ucap Chelsea alias Emily sesaat setelah menghampiri sekaligus mendudukkan diri di hadapan sekretarisnya. Ia menarik dagu Fabian dengan pelan, lalu berangsur menangkup kedua pipi pria itu. Detik berikutnya, ia mengusap air mata yang telah membasahi nyaris seluruh pipi Fabian. Ia bahkan tidak peduli dengan air matanya sendiri. “Kau tidak perlu meminta maaf. Aku sangat berterima kasih, karena kau membuat diriku menjadi lebih berarti, Fabian. Maafkan aku yang tidak bisa berada di sisimu terlalu lama, maafkan aku karena membuatmu menderita, maafkan aku karena aku tidak bisa melihatmu menikah dengan gadis yang jauh lebih cantik dariku. Maafkan aku, Fabian ....”


Salah satu telapak tangan Emily langsung dicengkeram oleh Fabian yang sudah mulai mengubah sikap. Namun tangisannya sama sekali masih belum kelar. Wanita yang selalu ia jaga itu kini sudah berganti rupa sekaligus identitas. Dari yang sebelumnya merupakan nyonya kaya-raya, kini malah menjadi salah satu wanita Reynof Keihl Wangsa yang memang playboy dan bercitra buruk.


Namun untuk kali ini saja, Fabian ingin membayangkan wajah Emily, kendati rupa wanita itu adalah milik Chelsea.


“Nyonya, pasti Anda menderita sekali,” ucap Fabian tanpa melepaskan tangan Emily.


“Kau yang jauh lebih menderita daripada aku, bukan?” sahut Emily.


”Maafkan saya, Nyonya. Sungguh maafkan saya ....”


”Aku masih hidup. Tuhan memberiku kesempatan. Dan aku akan menggunakan kesempatan ini untuk mencari keadilan. Aku tidak akan menyerah, aku akan menghukum mereka. Jadi, selama aku ada, kau harus membantuku, Fabian. Sepertinya waktuku di dalam tubuh ini pun tidak akan banyak.”


”Tidak! Anda tidak boleh pergi lagi!” Fabian semakin menguatkan cengkeramannya tangannya di jemari Emily yang masih menempel di pipinya. "Anda harus hidup. Saya akan menyerahkan sisa umur saya untuk Anda! Kalau Anda bisa masuk ke dalam raga itu, pasti ada kemungkinan saya bisa memberikan umur saya untuk Anda juga, 'kan! Atau bahkan tubuh saya! Kendati tubuh saya adalah tubuh seorang pria, Anda harus hidup di sini, daripada harus pergi lagi, Nyonya Emily!”


Emily menggeleng pelan. Senyumannya begitu kecut. Dan perasaannya memang betul-betul kecut, meski sejumlah rasa senang pun sudah ia dapatkan. Mau bagaimana lagi, setiap kali membayangkan dirinya akan lenyap, Emily menjadi tidak baik-baik saja. Apalagi saat ini Fabian malah ingin menyerahkan sisa umur untuk dirinya. Emily hanya berharap, semoga Fabian tidak melakukan sesuatu yang aneh untuk membuatnya terus hidup. Karena tujuan Emily memang hanya untuk mencari keadilan, alih-alih hidup lebih lama lagi setelah ia berhasil mendapatkan hal yang ia inginkan.


***

__ADS_1


__ADS_2