
Reynof mencondongkan tubuhnya ke depan dan memutuskan untuk menopang dagu tirusnya di atas kepalan kedua telapak tangannya. Namun matanya terus menatap Nurdin dengan saksama. Ia tidak akan membuat pria tua itu sampai meragukan dirinya.
”Saya sendiri sudah melakukan penyelidikan secara pribadi. Saya yang sudah terhitung tak asing dengan beberapa klub malam, tentu tahu di mana saja klub yang kerap didatangi oleh para pesohor hebat. Bahkan klub kecil sekalipun, bisa saya selidik. Dan hampir semua klub malam yang berada di kota tempat tinggal Emily, saya sudah memastikan Emily tidak pernah bertandang di semua tempat itu. Lagi pula, lokasi kejadian perkara juga terbilang jauh dari keberadaan tempat-tempat hiburan malam,” ucap Reynof lagi.
”Sebelum waktu kejadian yang sudah ditentukan oleh pihak berwajib pun, sebenarnya saya bersama Nyonya Emily sampai mm ... kalau tidak salah sampai jam delapan malam. Di mana Nyonya Emily tidak dalam keadaan sedih yang mengharuskan beliau menenggak minuman. Bahkan, setahu saya, beliau sedang menyusun rencana untuk membuat kejutan teruntuk Tuan Ronald, di usia pernikahan mereka yang menginjak satu bulan. Saya yakin, setelah dari perusahaan, Nyonya Emily akan pulang ke rumah beliau, Tuan Nurhan,” sahut Fabian sesuai permintaan Chelsea. Namun ekspresi sendu di wajahnya benar-benar asli.
Ruben tidak ketinggalan. “Konspirasi-konspirasi pun sudah bermunculan. Karena nyatanya warga negara ini tidak langsung menutup mata begitu saja pada kenyataan adanya banyak kejanggalan di kasus kematian Nyonya Emily, Tuan Nurdin.”
”Seorang penyidik yang pada saat itu nyaris ditugaskan untuk mengusut kasus kematian Nyonya Emily, dan meski pada akhirnya penyelidikan dihentikan karena kasus diyakini terjadi akibat kecelakaan tunggal, nyatanya masih bersikeras untuk mengungkap kasus tersebut, Tuan Nurdin.” Fabian berkata lagi. ”Sebenarnya masih banyak pihak berwajib yang ingin mendalami kasus ini lagi, termasuk juga seorang dokter forensik yang yakin bahwa luka di kepala Nyonya Emily bukan diakibatkan karena benturan, melainkan karena pukulan benda tumpul. Tapi ... beberapa okknum yang lebih berkuasa telah membatasi pergerakan mereka.”
“Tunggu, tunggu!” sahut Nurdin yang kembali syok karena kekompakan ketiga pria yang lebih muda darinya itu, yang mana ketiganya ingin sekali mengungkap kasus kematian Emily. “Saya pun tahu, ketika masih rawat jalan di Aussie, saya pun mendengar banyaknya kejanggalan di kecelakaan Nona Muda. Saya pun ... benar-benar terpukul, karena beliau sudah seperti putri saya sendiri. Sebelumnya, saya memutuskan untuk menghilang, karena saya dalam keadaan sakit sampai sulit bergerak. Dan saya melarang anak-anak saya untuk menghubungi Tuan Bowo Rukmana, karena saya tidak mau merepotkan beliau yang sudah banyak memberikan bantuan pada saya. Dan sama seperti Nak Fabian, dengan kedekatan kami, saya berhak ikut mengusut kasus ini. Tapi ... Tuan Reynof? Kenapa Tuan Reynof ikut turun tangan juga?”
”Karena Tuan Reynof adalah salah satu orang yang paling Nyonya Emily percayai,” ucap Chelsea ambil giliran.
__ADS_1
Dan ucapannya cukup membuat Reynof terkejut dan tersentuh. Ucapan Chelsea sungguh di luar skenario. Mungkin Chelsea memang pernah mengaku bahwa sudah sepenuhnya memercayai Reynof, tetapi kali ini gadis atau wanita itu mengatakannya di depan semua orang, bahkan tanpa memedulikan Fabian yang tentu sangat paham bagaimana hubungan Reynof dengan Emily di masa lalu.
Tak lama berselang, Chelsea menatap Fabian dan memberikan kode melalui mata yang berupa tiga kali kedipan. Fabian yang sudah mengetahui arti kedipan tersebut, segera mengeluarkan sebuah map berisi surat peninggalan. Detik berikutnya, Fabian bangkit dari duduknya dan segera menyerahkan map yang masih tersegel tersebut pada Nurdin.
Lantas, apa saja kalimat yang tertera di surat tersebut?
Perasaan Nurdin campur-aduk ketika menatap map yang sudah berada di tangannya tersebut. Ia masih belum mengetahui apa isinya, tetapi ia yakin ada sesuatu yang berkaitan dengan Emily. Rasanya ingin menangis karena nona muda yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri tersebut harus lenyap di usia yang masih sangat muda, dan disebabkan oleh sebuah misteri yang belum terpecahkan sama sekali, kendati sudah jelas-jelas ada banyak kejanggalan.
Tertanda,
Emily Panorama Rukmana.]
Demikian isi yang tercantum di surat tersebut, di mana ada sebuah stempel yang menguatkan keaslian benda itu. Membuat Nurdin benar-benar tidak menyangka, dan sejujurnya masih agak ragu. Mengapa Emily dalam bahaya, dan malah diam saja sebelum kematiannya tiba? Siapa yang memberikan ancaman sampai membuat Emily tidak mampu berkata-kata?
__ADS_1
”Fabian, kau menemukan surat ini di mana?” tanya Nurdin pada Fabian.
”Di brankas rahasia Nyonya Emily yang memang ada di dalam kediaman saya. Belum lama ini saya bisa membukanya, dan saya menemukan benda tersebut. Saya yakin Nyonya Emily memang sempat diancam, dan saya yakin si Pengancam adalah orang terdekat beliau. Saya pun menghubungi Tuan Reynof sesuai permintaan beliau, karena saya memang tak memiliki bukti untuk langsung mengusut masalah ini, Tuan Nurdin. Sebenarnya saya sudah memastikan keaslian surat itu, tulisan dan tanda tangannya pun persis milik Nyonya Emily. Tuan Reynof juga telah membantu saya untuk lebih memastikan kesamaan tulisan itu pada ahli yang lebih andal,” jelas Fabian.
Kemudian Fabian kembali melanjutkan, ”Saya yakin bahwa tulisan tersebut memanglah Nyonya Emily sendiri yang menulisnya. Dan karena ada pihak berwajib yang sepertinya telah berkomplot dengan si Penjahat, saya memutuskan untuk tidak membuat statement apa pun, atau membuat laporan, karena khawatir laporan saya malah akan ditolak mentah-mentah. Fatalnya jika saya turut dilenyapkan sebelum misteri kematian Nyonya Emily terungkap. Oleh sebab itu, saya meminta bantuan pada Tuan Reynof, yang mungkin saja lebih bisa dipercaya oleh Nyonya Emily, yang sampai mempertaruhkan seluruh saham beliau.”
Nurdin manggut-manggut. Kini ia paham mengapa Reynof sampai rela ikut melibatkan diri untuk mengusut kasus kematian Emily secara diam-diam. Nyatanya, pemilik Neverley Group yang dikenal buruk tersebut memang hanya mengincar saham saja. Namun jika Emily sampai mempertaruhkan seluruh sahamnya, sudah pasti pada saat itu hidup Emily memang benar-benar terancam. Entah apa yang terjadi, Nurdin sungguh tak bisa membayangkan betapa takutnya Emily.
“Jadi, apa tugas saya?” ucap Nurdin.
Reynof langsung menyahut, ”Muncul dengan membawa surat tersebut, sekaligus mengaku bahwa surat itu sudah dikirim langsung oleh Emily untuk Anda. Jadi, Anda harus tetap ada di sini Tuan Nurdin. Saya akan memastikan keamanan Anda beserta semua anggota keluarga Anda, Tuan Nurdin. Biarkan kami berempat yang mencari bukti fisik, mengungkap siapa pelakunya, sekaligus menghukum siapa pun yang terlibat dalam kejahatan menutupi kejadian sebenarnya di balik kasus kematian Emily!”
***
__ADS_1