
Chelsea berpikir sampai pagi ini tiba, Reynof mungkin masih tetap menganggapnya gila, atau bahkan kesurupan. Namun meski begitu, ia lega ketika akhirnya Reynof menyetujui permintaannya. Sejak selesainya pertengkaran hebat yang terjadi antara dirinya dan Reynof tadi malam, hingga membuatnya benar-benar lelah serta frustrasi, Reynof justru tetap setia menemaninya sampai saat ini. Bahkan pria itu terus memeluk dirinya meski dalam keadaan sedang memejamkan mata.
Reynof terlihat tidur cukup pulas selama sisa malam, tetapi ketika Chelsea yang beberapa kali hendak menyingkirkan tangan Reynof justru gagal lantaran pria itu malah semakin mengeratkan pelukan di tubuhnya. Tak ada yang bisa Chelsea lakukan selain terdiam di sepanjang sisa malam sekaligus terpaksa menikmati hangatnya dekapan sang pria kejam. Karena ia pun juga tidak berani menganggu macan yang sedang tidur. Meski pada kenyataannya ia justru benar-benar merasa damai karena pelukan Reynof sudah seperti sebuah perlindungan untuk dirinya.
”Anggaplah aku gadis gila selamanya, aku tidak peduli, asalkan kau tetap mendukungku, Tuan Reynof,” gumam Chelsea sembari menatap wajah Reynof yang berada tepat di hadapannya.
Wajah luar biasa tampan itu memang kerap membuat Chelsea menghela napas. Ada sedikit penyesalan yang seharusnya tak perlu ia rasakan. Ia menyesal mengapa pria yang tampan dengan fisik sesempurna Reynof justru harus berakhir menjadi orang jahat. Memang benar bahwa hidup Reynof penuh penderitaan ketika sang ayah masih sehat, tetapi Reynof malah menjadi nyaris seperti sang ayah yang kejam, alih-alih menghindari sikap buruk yang membuatnya tersiksa sepanjang waktu.
Ketika Chelsea hendak menyentuh pucuk hidung Reynof yang lancip, tiba-tiba saja pria itu membuka mata. Reynof sudah terjaga sampai membuat Chelsea terkejut dan cepat-cepat memejamkan matanya. Melihat Chelsea yang tengah bersandiwara, bahkan meski sudah terbilang sangat telat, membuat senyum Reynof tersungging tipis. Detik berikutnya, ia mengecup kening gadis itu.
“Baiklah, aku akan terus membantumu. Jangan khawatir, dan jangan kesurupan lagi sampai nyaris menjatuhkan diri.” Reynof berkata sarkastik dan memang dimaksudkan untuk menyindir Chelsea.
"Ugh ...." Chelsea mendengkus setelahnya. Ia kembali membuka matanya setelah yakin bahwa Reynof mengetahui fakta tentang sandiwara kecil yang baru saja ia lakukan. “Jadi, kau memang sudah bangun?”
“Suaramu-lah yang sukses membuatku terjaga, Nona,” sahut Reynof. “Aku rasa kau juga tidak tidur sepanjang malam, bukan?”
“I-itu ... ah, iya. Aku sama sekali tidak bisa tidur.”
__ADS_1
“Hmm ... maafkan aku, aku justru tidur dengan nyenyak. Di malam sebelumnya aku sama sekali tidak tidur, dan sepertinya aku terlalu lelah. Apalagi setelah marah-marah dan bertengkar denganmu.” Sampai saat ini Reynof masih belum melepaskan dekapannya dari tubuh Chelsea.
“Apa kau tidak takut jika aku membunuhmu di saat kau menutup matamu dengan lelap, Tuan Reynof?”
Reynof menggelengkan kepala. “Tidak. Bahkan meski aku tidur nyenyak, aku masih bisa merasakan pergerakan. Aku sudah terbiasa hidup lebih waspada di segala situasi. Karena selain memiliki ayah kasar yang bisa kapan saja menghajar, aku juga pernah memiliki ibu yang sama kasarnya. Jika sedang stres berat, ibuku datang di malam gelap ke kamarku, lalu melampiaskan kekesalannya dengan mencekikku. Dan hal itu terjadi secara berulang, sampai aku memiliki kebiasaan tidur tapi tetap waspada.”
“Su-sungguh?”
Chelsea menutup mulutnya ketika matanya juga turut mengerjap-ngerjap. Chelsea sudah mendengar sebagian besar kisah hidup Reynof dari Ruben, tetapi cerita tentang tindakan si ibu terhadap Reynof kecil kembali membuat Chelsea benar-benar tidak habis pikir. Pria kejam di hadapannya itu memiliki terlalu banyak luka. Sayang sekali, di saat masih perlu perhatian, kasih-sayang, dan bimbingan dari kedua orang tua, Reynof justru diberikan contoh tak baik sampai membuat kepribadiannya menjadi buruk.
Ah tidak! Pada dasarnya Reynof memang super penggecut. Chelsea yang lemah saja bisa menghukum Hery Padiman dengan segala cara, tetapi kala itu Reynof justru menyerah begitu saja.
“Aku benci ketika ditatap penuh iba seperti itu, Nona. Akan lebih baik jika kau terus menatapku penuh dengan kebencian,” ucap Reynof.
Chelsea langsung mengubah ekspresinya menjadi lebih ketus seperti sebelum-sebelumnya. “Kau senang karena aku menatapmu penuh rasa benci? Tapi belum lama ini kau cemburu di saat aku tersenyum ramah pada Ruben Diego, dan sepertinya kau menginginkan aku seramah itu padamu. Kenapa kau malah bersikap begitu labil, Tuan Reynof?”
“Aku juga tidak tahu,” sahut Reynof lalu menghela napas. “Sejak kau datang, aku terus-terusan bersikap tidak konsisten. Kau membuatku kerap bingung bahkan nyaris gila.”
__ADS_1
“Baiklah ... kalau begitu maafkan aku.”
”Untuk kesekian kalinya aku berkenan untuk memberikanmu kata maaf, Nona Kecil.” Sembari tersenyum manis, Reynof bergerak untuk menyentil pucuk hidung Chelsea yang mbangir. Detik berikutnya, ia mengecup tipis bibir gadis itu. “Hari ini kau libur saja. Kau sudah tidak tidur, dan kondisimu tampak belum membaik. Kau boleh ke rumah sakit, tapi setelah tidur dengan cukup. Jangan khawatir, aku akan menepati janjiku untuk tidak akan membunuh Ronald. Kau boleh menjalankan semua rencanamu, tapi kau tidak boleh sampai menyerahkan dirimu pada Ronald, atau bahkan pria lain. Dan lagi aku memiliki syarat lain, setiap kali kau bersama Ronald, ponselmu harus terhubung denganku. Agar aku tahu apa saja yang kau lakukan bersamanya, dan agar aku bisa memastikan keselamatanmu.”
“I-iya,” jawab Chelsea singkat tetapi cukup gugup. “Te-terima kasih.”
“Kalau menurut begitu kau tampak lebih manusiawi, alih-alih gila, Nona.”
Lantaran masih tidak yakin apakah gadis itu adalah Chelsea atau memang benar-benar roh Emily, Reynof akhirnya memutuskan untuk bersikap yang wajar-wajar saja. Ia tidak peduli siapa pun yang ia hadapi saat ini. Ia tidak mau terlihat lebih gila jika dirinya justru tetap menganggap gadis itu adalah Emily.
Bahkan meski gadis itu memang dirasuki oleh jiwa Emily, rasanya pun tidak mengapa. Reynof tahu betul siapa Emily, bahkan sebelum tergiur pada Chelsea, Reynof lebih dulu menyukai Emily yang memang sempat membuatnya tertantang.
Bahkan sebelum Emily menikah dengan Ronald, Reynof sempat membuat taruhan dengan Ruben. Pada saat itu ia begitulah yakin bahwa dirinya akan berhasil mendapatkan Emily. Jika ia gagal ia akan membayar Ruben dengan gaji tiga kali lipat lebih besar daripada biasanya. Dan Reynof justru berakhir kalah telak ketika kabar pernikahan Emily dengan seorang pria miskin justru tersebar.
Namun terlepas dari semua itu, untuk saat ini Reynof tetap ingin memegang jalan logikanya sendiri. Biar semesta saja yang menyimpan rahasia Chelsea dan Emily, serta dari keduanya entah siapa yang saat ini ia hadapi. Asalkan Emily tidak menampakkan diri dengan wujud menyeramkan, selama itu pula, Reynof tidak mempermasalahkan. Karena di sisi lain, Reynof masih berharap ada alasan medis yang bisa membuat tingkah Chelsea yang seolah-olah adalah Emily menjadi jauh lebih masuk akal.
***
__ADS_1