
Sudah lima hari Chelsea tidak keluar sama sekali. Ia benar-benar menuruti permintaan Reynof yang memintanya untuk tetap berada di mansion selama satu minggu. Kali ini, ia tidak pernah berniat untuk keluar kendati rasa bosan sudah kerap membuatnya hampir gila. Namun berkat beberapa pelayan yang sudah akrab dengannya, Chelsea mampu meredam rasa bosan itu untuk sementara waktu.
Mengenai Ronald, Chelsea tahu bahwa suaminya ketika hidup sebagai Emily tersebut memang dikurung di salah satu ruangan di mansion ini. Namun ia sama sekali tidak tahu di mana tepatnya, Ronald disekap. Lima hari tentu menjadi hari yang panjang bagi Ronald. Untuk sementara waktu, Reynof mengirimkan pesan pada Nora menggunakan ponsel Ronald yang berisikan bahwa Ronald tidak akan pulang dalam dua minggu, Ronald mendapatkan segepok uang dari lemari Emily dan berniat untuk liburan.
Namun tentu saja Chelsea dan Reynof masih harus mencari cara untuk mengantisipasi risiko yang akan datang, ketika Nora mulai sadar dan curiga. Apalagi jika Nora malah berspekulasi bahwa Ronald kabur untuk melimpahkan segala kesalahan pada Nora, sudah pasti Nora akan berulah dan mencari Ronald bagaimanapun caranya. Untuk saat ini, Reynof malah berusaha untuk mengobati luka-luka di tubuh Ronald, agar nanti, ketika sudah mendapatkan bukti, setiap luka yang diderita Ronald tidak sampai menimbulkan kecurigaan bagi para anggota pihak berwajib. Semua hal memang harus dipikirkan, bahkan meski hal sesepele apa pun.
“Aku harap, aku atau mungkin Reynof bisa segera mendapatkan bukti. Dan nantinya kami bisa mengeluarkan Ronald dari ruangan yang entah di mana, dan langsung menjebloskan Ronald ke penjara,” gumam Chelsea lalu menghela napas dalam, sementara matanya menatap ke arah luar jendela yang masih terang kendati hari sudah beranjak petang.
Di sisi lain, setelah tergopoh-gopoh dan sampai bersimpuh di hadapan Reynof, Fabian yang saat ini sudah berhasil memasuki ruang utama mansion Reynof sedang memohon agar dirinya dipertemukan dengan Chelsea. Ia pun sudah mendengar kabar bahwa Chelsea alias Emily sempat dijebak sekaligus diserang oleh Ronald. Dan kabar tersebut memang sempat membuat Fabian sampai terburu-buru untuk melakukan sesuatu yang akhirnya memberinya sebuah keberhasilan. Dan demi memastikan kondisi Chelsea, ia sampai bersikap layaknya seorang pengemis di hadapan Reynof yang masih menentang keinginannya sejak tadi.
“Kau mendapatkan lokasi tempat tinggalku dari Chelsea? Meski kau sudah melibatkan diri di dalam rencananya, kau pikir aku akan menerima kehadiranmu begitu saja, Sekretaris Fabian? Dan lagi, kau pikir aku akan membebaskan Chelsea bertemu dengan siapa pun setelah apa yang dia alami? Aku heran, mengapa kau yang hanya orang luar begitu inginnya bertemu dengan kekasihku. Heh? Kau menyukainya?” ucap Reynof dengan tatapan mata yang ketus.
Fabian menelan saliva. ”Ya, saya menyukainya,” jawabnya tanpa berniat untuk berbohong.
”Apa?” Dahi Reynof mengkerut. Ia sampai bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Fabian yang masih duduk bersimpuh.
__ADS_1
Gemetar, tangan bahkan tubuh Fabian. Namun ia tidak bisa mundur lagi. “Tolong izinkan saya untuk menemui nyonya saya, Tuan Reynof.”
Ucapan Fabian langsung menghentikan langkah kaki Reynof. Mata Reynof pun sampai melebar. Sungguh tidak menyangka bahwa Fabian tidak hanya melihat Chelsea sebagai seorang gadis berusia hampir dua puluh satu tahun. Fabian melihat Chelsea sebagai Emily! Pantas saja, mereka sempat tertawa dan bercanda ketika di basemen apartemen Fabian. Belum lagi ketika sikap Fabian yang terlampau sopan sampai merundukkan badan ketika Chelsea hendak menuju mobil. Jadi, memang tidak hanya Reynof saja yang mengetahui jati diri jiwa Chelsea, melainkan juga Fabian? Dan berkat hal itu pula, akhirnya Fabian bersedia untuk bergabung dalam pengungkapan kasus Emily?
“Saya yakin, Anda pasti sudah mengetahui tentang siapa dirinya, bukan?” ucap Fabian lirih. Detik berikutnya, ia lantas mendongak dan menatap Reynof penuh harap. ”Saya harus bertemu dengan beliau. Untuk memastikan kondisi beliau dan ada yang ingin saya sampaikan dengan beliau. Tuan Reynof, Nyonya Emily berkata, beliau mungkin bisa lenyap kapan saja dari diri Chelsea Indriyana. Beliau—”
“Jangan sembarangan berbicara!” gertak Reynof sembari menarik kerah kemeja yang Fabian kenakan. ”Dia tidak akan lenyap, tidak akan pernah!”
“Saya juga berharap seperti itu, tapi selama kita tidak bisa memastikan di mana keberadaan pemilik yang sebenarnya, kemungkinan tersebut bisa terjadi, Tuan Reynof. Tolong izinkan saya menebus kesalahan saya yang tidak mampu menjaga beliau sama sekali, selama ini.”
“Apa yang mereka bicarakan?” Kayla Hannes yang hampir keluar dari ruangan lain, dan saat ini menyelinap di balik dinding ketika mendapati Fabian meringkuk di hadapan Reynof langsung memasang wajah kebas. Ucapan kedua pria itu sungguh membuatnya bingung. Mengapa pula Chelsea akan lenyap? Dan apa maksud perkataan Fabian mengenai Emily yang akan lenyap dari diri Chelsea Indriyana?
”Tuan Reynof? Fabian?” Suara Chelsea mendadak terdengar. Dan Chelsea terlihat baru keluar dari elevator. Meski tidak diperbolehkan keluar dari mansion, nyatanya ia memang tidak sampai dikunci di dalam kamar. Ia masih leluasa untuk ke mana pun selama masih di area tempat tinggal Reynof tersebut.
“Apa yang terjadi?" tanya Chelsea sesaat setelah menghampiri kedua pria dengan tipikal ketampanan yang berbeda tersebut.
__ADS_1
Reynof dan Fabian kompak menatap Chelsea yang memasang ekspresi polos. Mereka berdua pun sama kompaknya memikirkan si Jiwa yang menumpang di dalam tubuh itu akan menghilang. Baik Reynof maupun Fabian sama sekali tidak rela. Mereka berharap bisa menggantikan Emily untuk mati. Jika ada cara untuk menyerahkan sisa umur, mungkin mereka akan dengan senang hati menyerahkannya.
“Ke-kenapa kau turun?” tanya Reynof.
Chelsea berpikir sejenak dengan wajah cantik yang imut. “Sejak jadi pengangguran, aku memang kerap ke dapur untuk bergabung dengan para pelayan. Dan sepertinya memasak menjadi salah satu hobi baru bagiku. Aku berencana untuk ikut menyajikan makan malam. Kedua sekretarismu kan juga ada di sini sampai malam karena kesibukan kalian untuk mengurus rencana mega proyek.”
Detik berikutnya, Chelsea menatap Fabian dan bertanya, “Kau ingin menemuiku dan tidak diperbolehkan oleh Reynof?” Chelsea tertawa kecil. ”Kau terlalu nekat, Fabian. Tapi aku harap Tuan Reynof juga tak terlalu mencurigai Fabian. Karena kita berada di pihak yang sama. Jadi, aku boleh, 'kan, berbicara sebentar dengan Fabian, Tuan Reynop?”
Reynof menelan saliva. Ia masih ingin menolak, tetapi ia tidak sanggup melakukan hal itu lagi. Mungkin hal tersebut malah bisa menjadi salah satu permintaan terakhir dari Chelsea alias Emily.
“Ya, tapi jangan lebih dari dua puluh menit,” ucap Reynof lalu bergegas pergi.
”Terima kasih, Tuan Reynof. Aku akan membuatkan dessert untukmu,” sahut Chelsea sembari menatap punggung Reynof.
Masih tetap berjalan, dan tak mau sedikit pun menolak, Reynof mengulas senyuman senang sekaligus dengan perasaan sedih.
__ADS_1
***