Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya

Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya
Reynof Kicep Ketika Pertama Kali Berhadapan Dengan ...?


__ADS_3

Chelsea tidak menyangka, kamar yang menjadi tempat transaksi atas penjualan tubuhnya, justru akan ia jadikan sebagai tempat penginapan untuk Dahlia. Dan pada akhirnya, ia harus meminta bantuan dari Reynof lagi dan lagi. Dulu, ia begitu membenci pria itu karena di otaknya sudah terpatri jelas bahwa Reynof adalah pria super bengis, playboy kelas kakap, serta pemilik citra buruk di kalangan pengusaha lainnya. Namun lamban-laun, Chelsea justru mulai melunak pada Reynof, bahkan rencananya untuk turut menghancurkan pria itu nyaris ia lupakan begitu saja.


Chelsea menghela napas lalu mengulas sebuah senyuman, dan saat ini dirinya masih melalui perjalanan untuk menuju rumah sakit. Ya, satu jam sebelum jam makan siang tiba, ia memang telah meminta izin langsung pada Reynof demi mengurus Dahlia yang sudah diperbolehkan pulang. Ia berharap, semoga saja Dahlia senang dengan tempat penginapan yang sudah ia persiapkan, sebelum dirinya mendapatkan sebuah apartemen dengan jangka sewa lebih panjang.


“Setidaknya, sebelum jiwaku ini lenyap, aku harus membuat kehidupan ibu dari si Pemilik Tubuh, serta si Pemilik Tubuh sendiri menjadi lebih baik,” gumam Chelsea. Ia menghela napas lagi. “Mungkin hanya itu yang bisa aku lakukan sebagai rasa terima kasihku pada Chelsea yang asli. Jadi, aku harap kau datang untuk meminta tubuhmu ketika semua misiku sudah selesai, Nona Muda.”


“Jika semuanya sudah selesai, aku tak keberatan untuk pergi dan keluar dari tubuh ini. Hanya saja ... bagaimana dengan Reynof? Bukan ingin ge-er atau terlalu percaya diri, tapi, kalau dipikir-pikir, dia banyak berubah karena diriku, bukan? Sampai Kayla menjadi sengit dan tak jarang, Kayla menganggapku telah membuat Reynof menjadi pria bodoh. Bukankah yang Kayla maksud adalah Reynof yang tak lagi kejam?” lanjut Chelsea memikirkan.


“Aku tidak tahu situasi nantinya, tapi setelah semuanya selesai, aku pasti akan mengakhiri hubunganku dengan Reynof, meski hubungan kami hanya berasal dari sebuah kesepakatan saja. Aku akan menghindarinya dengan tubuh ini dengan pergi sejauh mungkin, agar Ibu dan Chelsea yang asli selamat dari kemarahannya.” Chelsea menutup ucapannya, tepat ketika ia harus membelokkan arah mobilnya.


Memang belum saatnya memikirkan hari yang bahkan belum tiba. Saat ini, Chelsea harus tetap fokus pada rencana yang sudah ia genggam. Tinggal bagaimana dirinya memasuki rumahnya sendiri, yang sudah dirampas oleh Ronald dan Nora. Setelah itu, ia akan menghancurkan mereka. Maksimal hukuman mati bagi keduanya karena telah merencanakan pembunuhan untuknya.


Singkat cerita, Chelsea sudah mengurus segala administrasi yang perlu ia lunasi sebelum membawa Dahlia keluar dari rumah sakit itu. Beberapa barang yang tadinya ada di ruang rawat telah dikemas oleh kedua pelayan yang selama ini telah setia menjaga ibunya tersebut. Mungkin Dahlia memang bukan ibu kandungnya, karena mau bagaimanapun dirinya hanyalah sosok yang menumpang di tubuh itu. Namun Chelsea sungguh turut senang karena bisa melihat Dahlia yang semakin membaik setelah sebelumnya benar-benar kurus dan tak terurus.


”Bagaimana dengan ayahmu, Nak?” ucap Dahlia yang duduk di kursi roda yang didorong oleh Chelsea sendiri, meski ada salah seorang perawat pria yang tetap turut mengantar.


Kedua pelayan yang sejatinya adalah pelayan di mansion Reynof juga turut berjalan di belakang mereka. Kedua pelayan itu sibuk membawa barang-barang dan sisa camilan.


Chelsea menghela napas, lalu menjawab, ”Tidak tahu, Bu. Tapi aku pastikan, Ayah tak akan mengganggu Ibu lagi.”


“Bagaimana kau bisa seyakin itu, Nak? Ayahmu pasti bisa pulang kapan saja.”


”Ibu tenang saja, Chelsea benar-benar yakin Ayah tak akan mengganggu Ibu lagi. Dan ... Ibu tidak perlu tinggal di rumah jelek itu lagi. Seperti yang pernah Chelsea katakan sebelumnya, bahwa saat ini Chelsea sudah memiliki pekerjaan. Kehidupan kita akan segera terangkat.”


”Ibu senang jika kau sudah mendapatkan pekerjaan dengan baik, Nak. Tapi, Ibu ....”


Chelsea tersenyum tipis dan melesakkan diri bersama ibunya serta beberapa orang yang lain ke dalam sebuah elevator. “Jangan risau dan jangan lagi merasa bersalah, Ibu. Sekarang biar Chelsea yang merawat Ibu dengan baik. Chelsea akan memanfaatkan kesempatan ini untuk berbuat baik pada Ibu hehe.”


”Kau ini! Seharusnya kau melupakan Ibu saja dan hidup dengan lebih bahagia.”


”Chelsea bahagia kok, Chelsea sudah diberikan kesempatan merawat Ibu lagi. Meski tetap saja, Chelsea bakal lebih banyak bekerja daripada bersama Ibu. Apalagi pekerjaan Chelsea mengharuskan Chelsea berada di ... tempat tinggal yang disajikan oleh atasan Chelsea. Ah, tapi Ibu jangan berpikir macam-macam. Chelsea bekerja di sebuah kantor besar kok, bukan yang aneh-aneh!”


“Ibu senang mendengarnya, Chelsea. Yang penting, jangan lupa makan sesibuk apa pun dirimu.”

__ADS_1


Dahlia berkata sembari tersenyum masygul. Bukan karena sedih atas keberhasilan yang telah Chelsea capai, melainkan karena sampai saat ini dirinya justru menjadi ibu yang buruk, yang bisanya hanya merepotkan putrinya saja.


Setelah keluar dari elevator dan sampai di area parkir mobil yang berada di halaman samping gedung rumah sakit, kini sang perawat pria langsung mengambil alih kursi roda yang masih diduduki oleh Dahlia. Di mana Chelsea segera bergerak untuk mengambil mobilnya.


Setelah Chelsea menghentikan mobil di hadapan Dahlia dan tiga orang lainnya, sang perawat dan tentu saja Chelsea langsung membantu Dahlia untuk memasuki mobil itu. Kedua pelayan bergegas ke bagasi untuk meletakkan barang-barang. Kemudian, salah satu pelayan diminta oleh Chelsea untuk duduk di depan, sementara yang lain duduk menemani Dahlia di kabin mobil bagian belakang.


Chelsea segera melajukan mobilnya sesaat setelah ia mengucapkan terima kasih pada sang perawat.


***


Setibanya di hotel yang dituju, termasuk juga lantai kamar yang sudah ditentukan, Chelsea justru dikejutkan dengan keberadaan seseorang. Adalah Reynof yang lagi-lagi hadir dan sok mau ikut campur, seperti yang dilakukan pria itu tadi malam. Namun karena sudah cukup terbiasa, Chelsea bisa segera menghilangkan keterkejutannya.


Chelsea berjalan dan masih mendorong kursi roda Dahlia. Kedua pelayan yang ada di belakangnya masih terus menyertai langkahnya. Kehadiran Chelsea lantas diperhatikan oleh Reynof yang sejak tadi terpaku diam sembari bersandar pada pintu kamar yang telah Chelsea tentukan.


“Selamat siang, Tuan Reynof,” sapa Chelsea di hadapan Reynof yang masih membisu.


Dahlia mengernyitkan dahi sembari menatap sosok asing kebule-bulean itu. Ia terkesima dengan sosok Reynof yang begitu tampan, gagah, rapi, serta berkharisma. Dan yang paling penting adalah Chelsea mengenalnya!


Di sisi lain, Reynof menelan saliva. Ia yang selalu berkuasa, kali ini nyalinya justru menjadi ciut ketika menghadapi seorang wanita paruh baya yang adalah ibunda Chelsea, tidak, tetapi ibunda dari sang pemilik raga. Dan meskipun Dahlia bukan ibu dari Emily yang tinggal di tubuh Chelsea, Reynof tetap gugup.


“Siapa, Nak?” tanya Dahlia sambil berusaha menatap wajah Chelsea meskipun tak terlalu berhasil.


“Ah!” Chelsea melangkah maju. Ia berhenti di tengah-tengah Reynof dan Dahlia. “Tuan Reynof ini ibu saya, dan Ibu, ini atasan sekaligus penyelamat saya.” Chelsea berusaha bersikap sopan, agar ibunya tak terlalu curiga. Bonusnya, kemungkinan besar, Reynof akan senang dengan pujiannya.


Dahlia mengangguk sungkan. ”Ah, Tuan Rey ... nop? Saya ibu Chelsea, sa-salam kenal.”


”Ya,” jawab Reynof singkat dan cenderung kaku.


Chelsea menghela napas, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya pada Reynof yang sudah menatapnya. “Yang so-pan ...!" Ia berkata tanpa suara, dan berharap Reynof dapat mengerti.


Permintaan Chelsea adalah sesuatu yang entah mengapa begitu sulit untuk Reynof lakukan. Ia sendiri tidak tahu. Padahal bersikap sopan pada relasinya bukan sesuatu yang sulit. Namun hanya pada wanita paruh baya yang menderita cacat kaki saja, nyalinya justru semakin ciut. Ia seperti menghadapi sosok yang begitu sulit untuk ia atasi, padahal Dahlia juga jelas-jelas terlihat sungkan padanya.


”Saya Reynof Keihl Wangsa. Atasan dan pemilik Chelsea,” ucap Reynof masih super gugup.

__ADS_1


”Hah?” Dahlia melongo. “Pemilik?”


Chelsea memicingkan matanya dan lantas menepuk jidatnya sendiri. Reynof benar-benar konyol pada saat ini. Entah apa yang dipikirkan oleh pria itu, sampai begitu gugup dan salah bicara.


”Maksud Tuan Reynof, beliau adalah pemilik perusahaan di mana Chelsea bekerja, Bu,” ucap Chelsea pada Dahlia, agar Dahlia tak berpikir macam-macam. Karena sepertinya pun Dahlia belum tahu pada siapa putrinya akan dijual.


“Oh, begitu.” Dahlia manggut-manggut. ”Tapi ... kenapa seorang Tuan Besar ada di sini? Apa putri saya harus segera kembali bekerja, Tuan?”


“Ti-tidak,” jawab Reynof sembari mengusap tengkuk bagian belakang. “Saya di sini ... di sini, u-untuk menyambut kedatangan Anda!”


Dahlia terkesiap. ”Ke-kenapa?”


“Itu karena ....” Oh sial, Reynof tak punya alasan lagi.


Chelsea semakin tidak habis pikir, dan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sejak tadi. Namun tentu saja, kedatangan serta kegugupan Reynof membuatnya ingin tertawa. Dari singa bengis, lalu menjadi kucing menggemaskan, pria itu berubah drastis ketika menghadapi Dahlia yang merupakan orang biasa. Seolah-olah, Reynof sedang menjalani pertemuan pertama dengan calon ibu mertuanya.


”Tuan Reynof mencintai saya, Ibu!” tegas Chelsea agar semuanya terselesaikan, meski ucapannya akan terdengar konyol dan menggelikan.


Namun hal itu sepertinya bisa menjawab segala kebingungan Dahlia. Lagi pula, alasan obsesi dan kepemilikan tentu akan membuat Dahlia khawatir, sehingga 'mencintai' menjadi jawaban yang Chelsea pikirkan sebagai cara terakhir. Karena jawaban tersebut cukup masuk akal untuk alasan kedatangan seorang atasan ke tempat di mana sang bawahan berada sekarang. Apalagi Reynof sempat mengatakan bahwa dirinya ingin menyambut kedatangan Dahlia yang jelas-jelas bukan siapa-siapa.


Mendengar ucapan Chelsea mata Reynof dan Dahlia, bahkan kedua pelayan yang ada di sana kompak melebar. Tentu kedua pelayan cemas jika Chelsea mendapatkan hukuman cambuk kalau sampai membuat Reynof marah besar. Namun ekspresi terkejut di wajah Reynof langsung berubah, di mana raut malu-malu sekaligus gesture salah tingkah langsung pria itu tunjukkan. Membuat kedua pelayan refleks saling bertatapan bingung, karena mereka memang tidak terlalu tahu hubungan Reynof dengan Chelsea, selain sebagai tuan dan bawahan. Lagi pula mau sedekat apa pun seseorang dengan Reynof, biasanya orang itu tidak akan seberani Chelsea.


“Sudahlah, Bu, jangan bingung apalagi kaget. Chelsea sudah dewasa kok, bukan anak kecil yang harus dikhawatirkan ketika ada seorang pria yang jatuh cinta pada Chelsea. Apalagi sosok mencintai Chelsea kan orang yang luar biasa!” ucap Chelsea dan untuk kalimat terakhirnya bernada sarkastik serta tertuju pada Reynof. “Mari kita masuk saja.”


“I-iya,” jawab Dahlia masih bimbang dan syok. “Ah, Ibu ingin berbicara sedikit dengan Tuan Reynop, kalau boleh.”


“Reynof, bukan Reynop. Dan untuk apa, Bu?” tanya Chelsea.


Dahlia menelan saliva. “Itu ....”


Reynof mengangguk dan segera berkata, “Sa-saya bisa kok!”


Kenapa Reynop, eh Reynof mau-mau saja sih?! Batin Chelsea yang tidak sejalan dengan keputusan Reynof.

__ADS_1


Namun pada akhirnya Chelsea pun menyerah. Detik berikutnya, ia membawa ibunya, Reynof, serta kedua pelayan untuk memasuki kamar tersebut. Sebuah kamar mewah yang berisikan kenangan buruk bagi Chelsea serta Reynof, tetapi menjadi kejutan istimewa untuk Dahlia yang tak pernah menginjakkan kaki di tempat semegah itu.


***


__ADS_2