
Untungnya Ruben yang sejak awal memang ikut langsung gercep melempar sebuah batu pada Ronald, tepat ketika Ronald hampir membidik punggung Reynof. Meski pada akhirnya senjata api itu tetap meletupkan peluru, setidaknya bidikan Ronald langsung meleset ketika dirinya terhuyung karena tumpukan keras di kepalanya. Dan tak hanya sekadar melempar batu sebesar dua kepalan tangan, Ruben pun sampai menancapkan belati yang selalu ia bawa di salah satu kaki suami mendiang Emily tersebut.
Tentang keberadaan Reynof dan Ronald sebenarnya terjadi berawal dari keinginan Chelsea pada Kayla. Setelah keluar dari ruang kerjanya, Chelsea memang sempat bertemu dengan Kayla.
”Nona Kayla, bisakah kau mengatakan bahwa aku hendak bertemu dengan Ronald dan kemungkinan aku bisa berada dalam bahaya pada Tuan Reynof, ketika Tuan Reynof sudah keluar dari ruang meeting?” ucap Chelsea pada saat itu, di depan pintu ruangan kerjanya.
Kayla yang masih tidak menyukai keberadaan Chelsea, lantas bersikap angkuh dan dingin. ”Kenapa kau tak bilang sendiri? Lagi pula, memangnya aku yang menginginkan kau pergi, akan setuju pada permintaanmu itu? Tidak, Bocah! Aku justru senang jika kau celaka!” tandasnya.
“Aku sudah mengirim pesan padanya, tapi mengingat Tuan Reynof yang bisa sampai lupa segalanya ketika sedang bekerja. Dan juga, dia pasti tetap berpikir bahwa aku sedang bekerja sampai akhirnya tidak melihat ponsel. Jadi, demi mengantisipasi ketidaktahuannya, aku ingin meminta tolong padamu, Nona. Katakan jika aku dalam bahaya, dan minta dia untuk menyusulku lalu menangkap Ronald.”
Kayla menyeringai. ”Tidak mau!”
“Seperti yang kau inginkan, aku berjanji akan meninggalkannya suatu saat nanti. Namun setidaknya, aku harus menyelesaikan tujuanku terlebih dahulu, kemudian baru pergi. Lagi pula, Nona, jika aku meninggalkannya karena sebuah kematian, dia pasti akan terluka, bukan?”
”Cih, percaya diri sekali kau!” tepis Kayla.
Chelsea menghela napas. ”Dia memang sudah jatuh hati padaku, Nona Kayla, entah kau mau percaya atau tidak percaya, kenyataannya memang begitu. Akan lebih baik jika aku meninggalkannya atas kemauanku sendiri, bukan karena kematianku. Dia hanya akan marah jika aku pergi, tapi dia tak hanya marah, melainkan juga terguncang hebat jika aku sampai mati. Dan kau sebagai orang yang kumintai tolong untuk yang terakhir, pasti akan disalahkan olehnya jika terjadi sesuatu padaku, karena yang aku hadapi sekarang adalah seorang pembunuh.”
__ADS_1
Pada saat itu, Kayla sampai menelan saliva karena lagi-lagi ucapan Chelsea membuat hatinya lantas membenarkan. Namun sebelum ia memberikan jawaban, Chelsea sudah memutuskan untuk pergi. Dan pada akhirnya, Kayla langsung berbicara Reynof beberapa menit setelah Chelsea berlalu, padahal Reynof belum sepenuhnya menghentikan rapat. Bukan karena sedang mengkhawatirkan Chelsea, tetapi Kayla tidak mau jika dianggap sebagai dalang penyebab celakanya gadis itu.
Dan kini, kembali ke mansion besar milik Reynof. Di mana Ronald yang sudah dilumpuhkan oleh Ruben telah dikurung di sebuah ruang bawah tanah, yang terkesan seperti penjara penyiksaan. Karena ruang tersebut memang sempat dijadikan sebagai tempat penyiksaan terhadap bawahan Reynof yang membelot. Bahkan, ketika Robby Wangsa masih waras, pria itu pun melakukan hal yang sama seperti yang Reynof lakukan.
”Kau ingin membunuhku! Gila! Lancang sekali kau!” Suara Reynof terdengar keras dan menakutkan, diiringi suara pukulan tangannya yang berkali-kali terdengar.
Sementara target yang sedang Reynof pukuli saat ini bukanlah sebuah samsak tinju, melainkan wajah serta tubuh Ronald. Di mana keadaan Ronald pun sudah semakin melemah. Luka tusuk akibat belati Ruben saja masih luar biasa rasanya, dan kini ia harus merasakan serbuan pukulan dari Reynof membuatnya seolah sedang berada di ambang kematian.
Puluhan atau bahkan ratusan umpatan pun kerap terdengar dari mulut Reynof yang juga mengiringi setiap pukulannya terhadap tubuh Ronald. Kalau saja Chelsea alias Emily tidak melarangnya untuk membunuh pria itu, mungkin Reynof sudah melakukannya sejak tadi. Reynof tahu dirinya pernah menghilangkan nyawa orang lain, tetapi di matanya, Ronald malah jauh lebih hina. Yang Reynof bunuh adalah mereka yang pernah menyerang dirinya, seperti sebuah komplotan dari organisasi yang begitu membencinya, atau seseorang yang berani mencuri uang perusahaannya. Ia hanya membunuh kalangan yang jauh lebih hina.
Namun Ronald! Oh astaga! Ronald yang sangat disayangi oleh Emily, malah tega menghabisi nyawa Emily selaku sang istri. Bahkan terlepas dari status Emily sebagai istri sah, tak seharusnya Ronald membunuh seorang wanita. Reynof tahu dirinya juga sama gilanya jika berkaitan dengan wanita, apalagi kalau sudah menemukan wanita lemah, yang membuat jiwa penyiksanya langsung bangkit. Namun ia tidak tak pernah melukai mereka, meski pada akhirnya ia tetap melakukan sebuah pell*ccehan.
Seringai tajam terlukis di bibir Reynof ketika ia berangsur menarik diri sekaligus menghentikan pukulan-pukulannya. Ia menatap Ronald yang sudah terikat tali di sebuah kursi. Wajah Ronald yang sudah dipenuhi lebam dan darah, menjadi pemandangan paling indah bagi Reynof. Sudah lama ia tidak melakukan olahraga semacam ini.
“Aku heran dengan keputusan Chelsea yang cukup gegabah, tapi aku lebih heran padamu yang berani bermain-main denganku, Ronald. Ini di luar ekspektasiku. Aku pikir kau akan lebih berhati-hati setelah mengetahui kedekatanku dengan Chelsea, tapi ternyata kau masih saja mengentengkan kenyataan itu ya?” ucap Reynof lalu tertawa.
Ronald hanya diam selain melirik wajah psiko milik Reynof dengan matanya yang sudah tiada daya untuk terbuka lebar.
__ADS_1
”Asal kau tahu! Aku ingin sekali menghabisimu sejak lama, tapi Chelsea malah melarangku. Katanya dia ingin turun tangan sendiri dan membiarkanmu hidup dengan segala penderitaan! Dan sampai saat ini pun aku masih kesal, karena aku harus tetap membiarkan kau bernapas, Ronald!” Setelah berkata demikian, Reynof merunduk dan menarik kerah kemeja abu-abu Ronald yang sudah dihiasi banyaknya bercak merah. “Seharusnya kau tahu batasanmu, Tuan Penipu. Kau sudah membunuh istrimu sendiri, lalu sekarang, kau ingin membunuhnya lagi? Bahkan, kau malah berpikir bisa mengalahkanku hanya dengan senjata itu? Waaah! Asal kau tahu, aku benci sekali jika disepelekan!”
Ronald mencoba membuka mulutnya yang sudah terluka parah. ”Emily ... a-apa dia be-benar Emily?” Ia justru mempertanyakan hal tersebut, alih-alih meminta pengampunan.
Seringai tajam di bibir Reynof langsung menghilang. Dengan kasar, ia menarik rambut Ronald. ”Jika dia memang Emily, apa kau ingin membunuhnya lagi? Lakukanlah jika kau bisa. Karena aku tidak akan pernah membiarkanmu, bahkan untuk keluar dari ruangan ini saja kau tak akan pernah bisa, Sialan!”
”Maaf ... sampaikan maafku padanya.” Lirih Ronald berkata, tetapi tetesan air mata sudah membanjiri wajahnya, sampai membuat luka-lukanya terasa sangat perih. Dan memang benar, di sepanjang penyiksaan yang ia terima dari Reynof, yang muncul di benaknya adalah segala ucapan Chelsea.
Chelsea yang bersikap layaknya Emily bahkan sampai menceritakan betapa mencintainya wanita itu pada Ronald. Impian untuk memiliki anak dengan Ronald pun tampaknya sudah Emily rencanakan. Belum lagi ketika Emily malah sudah berencana membelikan aset besar, sekaligus memercayakan jabatan sebagai pimpinan utama di Pano Diamond untuk Ronald, ketika nanti sudah punya anak. Namun ... apa yang telah Ronald lakukan? Ronald justru menghabisi istri yang sudah sebaik dan sesempurna itu.
Ronald benar-benar tidak habis pikir pada dirinya sendiri. Hanya karena harta dan kekuasaan, ia sampai gelap mata. Dan ia pun sempat ingin menghabisi Chelsea termasuk juga Reynof karena tidak ingin hancur sendiri. Ronald betul-betul pantas jika dianggap sebagai iblis, daripada manusia.
“Kau membuatku benar-benar marah! Tangisanmu untuk Emily membuatku semakin muak padamu, Ronald. Penyesalanmu itu sungguh menggelikan! Aku yang sama kotornya saja tidak sepicik dirimu! Dan setidaknya aku masih mau berubah demi Emily, tapi kau? Bahkan sampai akhir pun kau masih tak berubah! Menjijikkan!” ucap Reynof geram dan untuk serangan telak terakhir, ia menendang perut Ronald dengan keras, sampai suami Emily itu memuntahkan cairan merah. ”Membusuklah kau di tempat ini!”
Reynof membuang saliva ke wajah Ronald, kemudian memutuskan untuk pergi. Ia tidak bisa berlama-lama berada di tempat itu, karena khawatir jika ia tidak bisa menepati janji pada Chelsea alias Emily. Ia tidak mau dibenci oleh Chelsea yang meski saat ini gadis itu masih membuatnya kesal sekaligus khawatir.
Reynof sungguh tidak habis pikir dengan sikap Chelsea yang cenderung gegabah, padahal biasanya Chelsea jauh lebih berhati-hati. Dan sungguh, ia benar-benar akan terpuruk jika Chelsea sampai mati lagi di tangan sang suami. Bahkan mungkin Reynof tak segan untuk ikut mati, jika ia sampai kehilangan satu-satunya sosok yang membuatnya jatuh cinta tersebut.
__ADS_1
***