Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya

Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya
Keputusan Fabian-Vitamin Manis Sebelum Beraksi


__ADS_3

Sementara itu ...


Fabian tengah termenung di dalam kamarnya. Dan tak jarang ia sampai menggertakkan giginya. Terhitung sudah setengah jam dirinya terpaku diam di depan sebuah brankas yang terpasang di dinding kamarnya, dan berada di belakang area tempat kerjanya.


Pengakuan Chelsea memang betul-betul telah sukses mengguncang mental Fabian. Masih terdapat sekelumit kegamangan yang mengisi relung hatinya saat ini. Tak ingin percaya, tetapi apa daya, hati Fabian justru memintanya untuk memilih hal yang tak terduga. Perihal ucapan gadis berusia dua puluh tahun itu, tentu saja masih sukar diterima oleh akal sehat Fabian.


Namun meski sudah menganut prinsip berlogika, nyatanya Fabian justru terpengaruh juga. Sebab terlepas dari segala hal yang selalu ia pikirkan dengan logika, Fabian masih mengakui bahwa di dunia ini memiliki segudang misteri yang tak bisa diartikan dengan akal sehat manusia. Pun dengan persoalan merasuknya jiwa Emily ke dalam raga Chelsea Indriyana. Jika hal itu memang terjadi, maka Fabian tak memiliki pilihan lain selain memercayai.


“Jika dia memang Emily, dia pasti bisa membuka brankas ini,” gumam Fabian setelah sekian lama terdiam. Sejak tadi hal itulah yang ia pikirkan.


Mengenai brankas berisi dokumen-dokumen rahasia, baik surat kepemilikan sebuah aset di Pulau Dewata, rekening pemasukan dari aset tersebut, dan beberapa berkas penting lainnya. Sejak lebih dari satu tahun yang lalu, memang hanya Emily saja yang mengetahui nomor sandi benda itu. Fabian yang selalu berada sisi Emily, bahkan merupakan penghuni kamar, nyatanya tidak pernah mengetahui satu digit pun angka yang digunakan.


Emily akan membuka brankas jika sudah ada laporan tentang pemasukan dari Fabian, yang memang ditugaskan untuk mengurus aset tersebut secara diam-diam.


”Aku baru duduk di kursi pimpinan, dan aku tidak tahu kinerjaku akan bagus atau malah buruk, Fabian. Aset rahasia yang aku miliki ini merupakan sebuah villa yang aku yakini dapat memberikan sejumlah dana bantuan jika perusahaanku mengalami keadaan darurat, Fabian. Aku menyimpan brankas penyimpanan di kamarmu, lantaran aku tetap harus menjaga keamanan aset itu. Aku tidak ingin siapa pun tahu, karena jika aku ketahuan membeli aset besar, pastinya akan menimbulkan kehebohan,” ucap Emily di satu tahun yang lalu, beberapa saat setelah selesai memasang kotak penyimpanan itu.


“Mereka yang tidak senang dengan kehadiranku di Pano Diamond sebagai pimpinan utama, pasti akan menuduhku macam-macam. Mau bagaimanapun aku adalah seorang gadis yang terhitung masih muda, dan aku belum memiliki pekerjaan tetap selama ayah dan ibuku masih hidup. Aku akan dituduh mencuri uang perusahaan karena memiliki aset itu secara tiba-tiba. Oleh sebab itu, Fabian, rahasiakan aset itu. Dan apa pun yang terjadi, jangan katakan pada siapa pun keberadaannya. Barangkali dengan dana pemasukan yang besar, aku pun juga bisa mengokohkan jabatanku di Pano Diamond,” lanjut Emily.


Tak lama berselang, Emily langsung menghadapkan diri pada Fabian. ”Aku mempercayaimu, Fabian. Dan meski kau tidak kuizinkan untuk membuka brankas ini, aku tetap ingin kau mengawasi jalannya bisnis aset rahasiaku.”

__ADS_1


Demikianlah ucapan-ucapan Emily yang masih Fabian ingat dengan jelas. Emily tidak hanya sekadar wanita pintar, tetapi juga luar biasa. Sebuah villa yang dibeli dengan harga fantastis disiapkan untuk bisnis rahasia, dan dana pemasukannya akan dicurahkan pada Pano Diamond seandainya terjadi masalah tak terduga. Emily pun berpikir dengan dana pemasukan yang ia miliki, jabatannya di Pano Diamond pada saat itu akan semakin kuat. Dan sepertinya sampai saat ini memang hanya Fabian saja yang mengetahui.


”Tapi ....” Fabian menelan saliva. “Bagaimana dengan Ronald? Apa dia pun sudah tahu? Mau bagaimanapun, Emily pernah begitu mencintainya. Dan lagi, jika Ronald memang benar adalah pembunuhnya, sudah pasti dia mengincar apa pun peninggalan Emily, apalagi ketika Nora malah menguasai segalanya. Tapi, sejauh ini pun Ronald tidak mencariku untuk menemukan berkas-berkas penting aset rahasia tersebut.”


Fabian menelan saliva untuk kedua kalinya. ”Haruskah aku memanggil gadis itu, dan lantas mengujinya untuk membuka kotak penyimpanan ini? Jika dia memang Emily, dia pasti bisa melakukannya, bukan? Karena seorang penguntit handal pun tak akan bisa mengetahui angka-angka yang hanya terekam di otak Emily saja.”


”Nyonya ....” Fabian berangsur memejamkan matanya. ”Apakah Anda memang benar-benar masih hidup dan berada di dalam raga gadis itu?”


Tidak ada cara lain, selain memastikan dengan lebih pasti lagi. Fabian harus mengundang Chelsea, meminta gadis itu untuk membuka brankas pribadi yang sangat-sangat rahasia. Dan di detik berikutnya, Fabian lantas mengambil sebuah kartu nama yang masih terselip di dalam saku celananya.


Chelsea Indriyana. Asisten pribadi Reynof Keihl Wangsa, CEO Nerverley Group. Nama itu yang tertera di kartu nama tersebut, disertai nomor ponsel yang dapat Fabian hubungi.


***


Sebelumnya, Reynof memang benar-benar memaksa, kendati Chelsea kerap menolaknya. Bahkan karena perdebatan yang kembali terjadi, Chelsea sampai telat setengah jam dari waktu yang sudah ia janjikan pada Ronald. Mau bagaimana lagi, memiliki seorang tuan yang super rewel plus cemburuan, memang kerap membuatnya kesulitan. Namun ketika Reynof sampai berteriak tegas, akhirnya Chelsea tak punya pilihan selain menyetujui.


Chelsea menghela napas lalu berkata, ”Iya. Aku sudah sampai dan sudah sejauh ini. Aku pasti akan baik-baik saja, toh, aku sudah kembali memanfaatkan namamu untuk mencegah adanya tindakan buruk yang bisa saja Ronald lakukan padaku, Tuan Reynoop! Aku akan baik-baik saja. Lagi pula, aku sangat hafal setiap detail rumah itu, jika ada bahaya, aku bisa kabur secepatnya melewati jalur-jalur rahasia. Selain itu, aku sudah tahu setiap titik buta yang tak akan tersorot CCTV, jadi aku bisa hadir tanpa diketahui oleh Nora yang mungkin akan memastikan CCTV.”


”Aaah yaaa,” ucap Reynof sembari memicingkan mata. ”Kau benar-benar menghafal tempat tinggal orang lain ya, Nona? Tak aneh sih, kau kan seorang penguntit.”

__ADS_1


Chelsea menelan saliva. Ia baru menyadari bahwa mulutnya sudah keceplosan dalam menjelaskan hal yang ia ketahui tentang rumah besar itu. Mungkin saat ini Reynof akan menganggapnya sedang kesurupan lagi. Namun sungguh! Chelsea tidak terima jika dianggap sebagai seorang penguntit. Lebih baik ia dipanggil hantu atau roh kesasar saja!


“Kau mau ikut-ikutan Nora, ya? Aku bukan penguntit! Justru kau yang seorang penguntit, Tuan Reynof. Kau bisa mengetahui segalanya tentangku, tentang Nora, bahkan Ronald. Dan kau mencari informasi-informasi itu dengan cara menguntit, bukan?” ucap Chelsea disertai perasaan kesal.


Reynof menyeringai. “Aku menjadi penguntit, karena harus membantumu juga, Nona! Ingatlah!” balasnya.


“Ugh ... baiklah, terima kasih!”


“Hei, berhati-hatilah. Aku akan menunggumu sampai kau keluar dari rumah itu. Kau harus baik-baik saja. Kau harus terus terhubung denganku. Jika sampai ada masalah besar yang menimpa dirimu, aku akan langsung menggerakkan para anak buahku untuk menyerang siapa pun yang ada di dalam sana.”


Chelsea tersenyum. Detik berikutnya, ia mengusap pipi Reynof dengan lembut. “Aduh, aduh, kau perhatian sekali! Jadi gemas deh!”


”Kalau gemas, cium aku sekarang juga!” Reynof menyodorkan wajahnya. ”Lakukan dan aku akan membiarkanmu keluar dari mobil setelah ini.”


“Modusnya ada saja kau, Tuan Reynoop!” Chelsea mengubah belaiannya menjadi cubitan disertai suara pelampiasan rasa gemasnya. “Baiklah. Sepertinya bukan sesuatu yang sulit bagiku, dan anggap saja hal ini adalah hadiah kecil untuk dirimu yang sampai ingin menggerakkan para anak buahmu untuk menyelamatkanku.”


Detik berikutnya, Chelsea langsung mengecup pipi Reynof. Namun tidak hanya itu saja, melainkan juga bibir Reynof. Hal yang tentu saja membuat Reynof tidak menyangka, karena terakhir kali ia mendapatkannya adalah ketika di pantai dan itu pun sangat sebentar. Oleh sebab itu, Reynof tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Di mana ia pun langsung memberikan kecupan yang begitu dalam.


Keduanya begitu mesra, di dalam mobil berkaca gelap, di kawasan tempat tinggal Emily, dan di detik-detik Emily yang hidup di raga itu akan memulai aksi lanjutan.

__ADS_1


***


__ADS_2