Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya

Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya
Akibat Obsesi Chelsea


__ADS_3

Chelsea sudah melihat sebuah video yang direkam oleh Fabian secara pribadi. Video tersebut berisikan Nora serta sebuah pengakuan yang selama ini selalu Chelsea inginkan. Namun latar keberadaan Nora yang ada di dalam video sepertinya adalah sebuah kamar. Entah di mana, tetapi kemungkinan besar di sebuah hotel, dan Fabian sebagai si perekam pun ada di sana!


Nora yang tampak mabuk mengakui setiap pertanyaan yang diajukan oleh Fabian sambil tersenyum bahkan tertawa. Beberapa pengakuan tersebut, berbunyi demikian, “Ya, Fabian. Aku hehe ... dan Ronald tahu kalau Kakak ... enggak mati karena kecelakaan tahuuu! Kami membunuh dia!”


Suara Fabian terdengar, “Waaah, bagaimana kau membunuh Nyonya Emily, Nora? Kau sudah memercayaiku, bukan? Ceritakan padaku, Sayang. Minumlah dulu.”


Nora meneguk minuman yang kemungkinan besar adalah wine dengan kadar alkkohol tinggi. ”Dia tahu kalau aku selingkuh, tidak, tidak, tidak! Dari awal pun ... Ronald itu ... milikku tahu!”


”Apa sekarang pun masih begitu? Lalu bagaimana denganku?” sahut Fabian yang kembali mengulurkan tangan untuk mencekoki Nora dengan minuman yang sama. Fabian sudah memastikan sendiri, kalau Nora memang memiliki kebiasaan berkata jujur setiap kali mabuk berat. ”Aku tahu kau lelah, Sayang, setelah apa yang baru kita lewati. Minumlah lagi, aku siap jadi pendengar terbaik. Aku akan bersamu di sini sampai pagi.”


”Kau manis sekali, Fabian. Oh astaga! Aku sudah membuang Ronald, ugh ... dia bahkan sudah keluar ... dari rumah itu. Sepertinya ... mau kabur! Aaaarrrrggghhh! Dia itu menyebalkan sekali!” Nora tampak mengulurkan tangan dan kemungkinan sedang membelai wajah Fabian. ”Tapi, Fabian, sekarang aku ... ah ini gila! Tapi, aku ... aku mencintaimu, sungguh! Aku bisa ... memberikan banyak hadiah untukmu. Selama kau ... kau berada di pihakku, atau ... bahkan menjadi ... kekasihku, sekaligus membantuku menutupi segalanya hihi.”


”Tentu saja, kita akan menjadi sepasang kekasih, Noraku sayang. Tapi aku ingin pembuktian darimu, tentang cintamu itu. Kau orang yang berkuasa, kau pasti bisa membuangku kapan saja, apalagi di saat aku sudah terlanjur mencintaimu. Aku tidak mau kehilanganmu, Nona.”


”Yah, bantu aku, Sayang. Tolong ... jangan biarkan aku tertangkap, karena ... akulah ... aku yang meminta Ronald menghabisi Emily. Semuanya ... harus dilimpahkan ke Ronald! Kau bisa, 'kan? Ada bukti di tempat duduk sopir mobilku. Rekaman dari dashboard mobil Emily, ada di sana. Dan Ronald terekam di depan mobil itu. Bereskan dia, dan aku ... aku tak ... akan pernah membuangmu, Sayangku!”


Fabian memang merayu Nora yang kesal setelah Ronald tidak pulang-pulang, bahkan sampai mengira Ronald sedang kabur ke luar negeri ketika kasus kematian Emily semakin menjadi sorotan. Awalnya Nora tidak mau berkata jujur. Namun Fabian yang tahu bahwa Nora sedang khawatir pada kemungkinan Ronald akan kabur dan melimpahkan segala kesalahan pada Nora, langsung mengambil kesempatan itu. Fabian menawarkan diri untuk menemani ke mana pun Nora ingin pergi. Bahkan Fabian tak segan, jika harus turut ikut ke klub malam hingga hotel yang Nora inginkan. Toh, Fabian sudah terlanjur berjanji akan selalu ada bagi wanita itu.


Bodohnya atau mungkin karena sudah terlalu pusing, Nora menyetujui permintaan Fabian. Selama dirinya rapuh dan frustrasi, Fabian memang selalu berada di sisinya. Fabian tidak hanya pandai merapikan sekaligus menyelesaikan keadaan perusahaan yang berantakan serta penuh topik panas, nyatanya Fabian juga selalu pandai menghibur Nora. Dan semua pembuktian serta cara bersikap Fabian sudah cukup untuk menarik kepercayaan Nora yang memang mulai tertarik secara hati pada pria itu.

__ADS_1


“Ternyata, semua rencana Anda untuk merusak mental mereka sungguh berhasil, Nona. Saya ... saya pun bisa memasuki hati Nora dengan lancar dan tak seperti sebelumnya. Sejujurnya, sebelum mengetahui bahwa Anda adalah Nyonya Emily, saya serba bingung dan takut. Tapi sekarang tidak begitu, saya memiliki Anda yang bisa memberikan banyak energi serta keberanian untuk saya,” ucap Fabian sembari terus menundukkan kepala, sementara Chelsea alias Emily sudah menatapnya.


Chelsea pun sudah duduk bersebelahan dengan Fabian di kursi di taman belakang mansion, yang selalu menjadi tempat favoritnya. Hanya berkisar beberapa detik setelah berkata, pria itu langsung menyerahkan sebuah flashdisk. Chelsea menatap benda itu lalu menelan saliva, sampai tak terasa bulir bening sudah menodai salah satu pipinya. Sekarang rencananya nyaris sempurna. Namun ....


“Ini rekaman dashboard mobil Anda, dan sepertinya di ambil sebelum mobil Anda diterjunkan ke sungai. Ada sosok Ronald yang mondar-mandir, sepertinya hendak memastikan jarak serta kondisi sungai. Dia juga sempat memanggil Nora di akhir rekaman, tapi sepertinya Nora tidak sadar,” ucap Fabian.


”Fabian,” ucap Chelsea tanpa menerima flashdisk tersebut. “Lihat aku.”


Fabian menelan saliva. Detik berikutnya, ia berangsur menatap mata Chelsea. Dan sejujurnya, ia sama sekali tidak percaya diri, karena memang ada hal yang ingin ia sembunyikan dari wanita yang kembali menjadi gadis dua puluh tahun tersebut.


Sesak melanda diri Chelsea. Air matanya semakin deras meluruh, menodai kedua pipinya. Ia menangis tanpa suara dengan ekspresi yang jauh lebih sendu daripada sebelumnya. Matanya yang bulat berkaca-kaca itu menatap leher Fabian yang dipenuhi banyak plester luka. Tentu saja Chelsea tidak sepolos itu untuk berpikir, bahwa mungkin saja Fabian terluka oleh kecelakaan biasa. Chelsea tahu betul apa yang disembunyikan oleh pria itu darinya, apalagi setelah ia melihat keseluruhan rekaman berisikan sosok serta pengakuan Nora di dalam sebuah kamar.


”Kau ... kenapa kau sampai mengorbankan dirimu, Fabian?!” ucap Chelsea tegas, dan marah. Namun kemarahan yang ia rasakan bukan tertuju pada pria itu, melainkan untuk dirinya sendiri. Sebagai sosok yang selalu didampingi oleh Fabian, Chelsea alias Emily tahu betul betapa polos dan naifnya Fabian. Pria itu bahkan tidak pernah berpacaran meskipun sudah hidup selama dua puluh tujuh tahun.


Fabian tersenyum masygul dan berlagak bodoh. Ia sampai menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal untuk mendukung sandiwara yang sedang ia lakukan. “A-apa maksud Anda, Nona? Berkorban? Ya, saya kan hanya mendekati Nora dan—”


”Kau menyerahkan dirimu padanya. Kenapa kau ...? Semua itu gara-gara aku. Aku ....”


Chelsea mencengkeram kepalanya dan menenggelamkan wajahnya di dalam tundukan. Ia menangis dengan lebih histeris. Hatinya merasa bersalah. Selama ini yang ia pikirkan hanyalah ambisi untuk membalas dendam. Padahal, akan lebih baik jika ia diam dan hidup sebagai Chelsea Indriyana dengan tenang. Namun ia yang merasa tidak mendapatkan keadilan sampai gelap mata. Tak hanya mengorbankan tubuh Chelsea asli untuk Reynof, melainkan juga diri Fabian pada Nora. Mengapa ia harus melakukan hal-hal kotor untuk rencananya dan malah merugikan orang-orang di sekitarnya? Bahkan, Reynof pun hampir mati karenanya.

__ADS_1


“Saya ... adalah seorang laki-laki. Bukankah tidak aneh jika saya melakukan hal itu?” celetuk Fabian berusaha untuk menenangkan Chelsea yang histeris, meski ia sendiri merasa sangat kotor karena harus bermalam dengan Nora di dua hari yang lalu. Ia yang tidak pernah berpacaran, kini malah melepaskan kesuciannya pada wanita jahat tersebut.


“Kau pikir, hanya wanita saja yang bisa hina setelah menjual diri, Fabian?!” sahut Chelsea. Ia kembali menatap Fabian dengan kondisi wajah yang memilukan. “Aku tahu siapa kau. Kau ... tak akan pernah melakukannya dengan siapa pun, kecuali jika kau sudah menikah! Tapi, ... gara-gara aku, gara-gara aku, kau ....”


Chelsea tidak mampu berkata-kata, padahal ia ingin sekali merutuki dirinya. Ia terlampau menyesali segala keputusannya. Meminta Fabian untuk mendekati Nora, adalah sebuah kesalahan besar yang tak bisa termaafkan. Sekarang, pria yang selalu bersikap sopan bahkan tak pernah menyentuh wanita mana pun itu, harus menjadi pria ternoda. Yah, Fabian memang seorang laki-laki, tetapi apa bedanya? Baik laki-laki maupun perempuan, mereka bisa berada di posisi merasa terhina ketika harus menyerahkan diri pada seseorang yang bukan pasangan sah. Apalagi Fabian bukan pria hina macam Reynof versi lama.


“Nona, tidak ... Nyonya Emily, jangan pernah merasa bersalah. Saya juga cukup menikmati malam itu, saya sama sekali tidak menyesal,” ucap Fabian sesaat setelah menarik salah satu telapak tangan sosok cantik di hadapannya itu. ”Jika harus berkorban nyawa untuk Anda pun, saya siap, Nyonya. Sekarang keadilan yang Anda inginkan sudah ada di depan mata. Jangan pernah berpikir untuk mundur, setelah semua pengorbanan Anda, bahkan juga Tuan Reynof. Anda tidak boleh kalah dari rasa bersalah, karena saya pun merasa baik-baik saja.”


Fabian ingin menarik tubuh Chelsea dan memberikan dekapan. Namun ia tidak bisa melakukannya, karena sosok pria yang terus memantau di area taman itu. Yakni Reynof yang sama sekali tidak mau kecolongan. Ia berdiri di teras belakang dan dekat dengan posisi mereka. Dan meski tidak terlibat dalam perbincangan, ia bisa mendengar semuanya, bahkan sekarang pun hatinya benar-benar sakit atas reaksi memilukan dari diri Chelsea yang mengetahui bahwa Fabian telah menyerahkan diri agar bisa mendapatkan pengakuan dan bukti dari Nora.


”Emily ....” Reynof berucap lalu berangsur memejamkan matanya.


Di sisi lain, di kamar tamu, Kayla yang sudah menyembunyikan ponsel lain di taman belakang setelah mengetahui Chelsea akan membawa Fabian ke sana telah mendengar semuanya. Ponsel yang ia selipkan di tanaman dekat kursi taman dan telah terhubung dengan ponsel lainnya, memang cukup merekam semua pembicaraan mereka.


Kayla semakin tidak menyangka dengan kenyataan aneh yang semakin jelas. Chelsea adalah Emily?! Apakah itu masuk akal? Namun, ... entah itu masuk akal atau tidak, Kayla yang sudah mendengar segalanya malah ikut terenyak. Hatinya sakit dan pedih. Pengakuan Nora yang samar-samar ia dengar pun, membuatnya turut marah.


Chelsea adalah Emily. Pada kenyataan ini, sejujurnya membuat Kayla benar-benar takut. Selama ini yang ia benci adalah roh orang mati. Gila! Namun kenyataan tak masuk akal itu justru membuat segala kepintaran gadis berusia dua puluh tahun itu menjadi masuk akal.


“Emily ... jadi, selama ini aku selalu berdebat dengan hantu?” gumam Kayla.

__ADS_1


***


__ADS_2