Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya

Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya
Semua yang Ruben Ketahui Dari Diri Reynof


__ADS_3

Ruben semakin yakin jika Chelsea memang wanita yang tepat untuk Reynof. Lantaran semakin hari, Reynof menunjukkan perubahan ke arah yang lebih positif. Selain mulai meninggalkan kebiasaan untuk ke klub malam, tempat perjudian, serta beberapa tempat gelap lain, saat ini Reynof telah membuat keputusan besar. Sebuah keputusan yang sempat membuat Ruben sampai terkesiap serta mengerutkan dahinya lantaran merasa heran sekaligus tidak menyangka.


Sudan satu tahun Robby Wangsa dimasukkan ke dalam rumah sakit karena beberapa macam penyakit tua, terutama demensia alias pikun, tetapi Reynof sama sekali tidak pernah mengunjungi ayahnya tersebut. Bahkan tak hanya tidak mau bertemu dengan Robby, selama ini Reynof justru kerap berharap agar ayahnya itu cepat mati. Dan malam ini, Reynof tiba-tiba saja ingin menemui ayahnya.


Ruben belum tahu alasan pasti mengapa Reynof mendadak mengambil keputusan tersebut, tetapi ketika baru mendengarnya saja, di benak Ruben sudah terlintas wajah Chelsea. Dan ia yakin gadis itu yang telah mendorong Reynof untuk menemui orang tua satu-satunya.


“Anda ingin berangkat sekarang juga, Tuan? Atau menunggu setengah jam lagi agar pas di jam tujuh malam? Pasalnya Anda juga belum makan,” ucap Ruben yang ingin memastikan waktu keberangkatan.


Reynof menghela napas dan tetap menatap lantai kamarnya yang begitu indah. Saat ini ia tengah duduk di sofa setelah sempat mengutarakan keputusannya pada Ruben beberapa menit yang lalu.


“Apa Chelsea sudah makan?” tanya Reynof yang justru membahas masalah lain.


“Mm ... sepertinya belum, Tuan. Bukankah selama ini Nona Chelsea selalu menunggu Anda sebelum memulai jadwal makan?” sahut Ruben.


Embusan napas Reynof terdengar cukup kasar, tetapi bukan karena merasa jengah atau kesal, melainkan hanya sekadar ingin melakukannya saja. “Siapkan mobil untukku saja. Aku akan menemui Chelsea dulu, dan langsung berangkat setelah selesai berbicara dengan dia.”


“Baik, Tuan. Dan ... apa Anda tidak memanggil Kayla? Karena mau bagaimanapun, Kayla yang selalu mengurus beberapa hal mengenai Tuan Besar, Tuan? Dia pasti juga paham bagaimana kondisi Tuan Besar.”


“Tidak.” Reynof menjawab tanpa banyak pertimbangan. “Dia terlalu emosional ketika bertemu dengan Chelsea. Kau saja yang mengantarku, biarkan Kayla beristirahat untuk malam ini.”


“Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu.”


Ruben segera pergi dari kamar itu untuk menunaikan tugas yang Reynof berikan, dengan membawa perasaan iba yang mendadak muncul di hatinya dan tertuju pada Kayla. Kayla memang kerap menyebalkan ketika semua keinginannya tidak terealisasikan. Namun wanita itu tetap rekan kerja Ruben selama kurun waktu lima tahun lebih. Ruben tahu betul tentang kinerja serta kesetiaan Kayla pada Reynof yang sungguh luar biasa.


Bahkan Kayla sampai mencintai Reynof, meskipun Reynof adalah pria yang sangat kejam. Sayangnya, meski terbilang cantik dan seksi, Kayla bukanlah tipikal wanita yang Reynof sukai, sehingga Kayla merasa disingkirkan setelah kemunculan Chelsea. Padahal Kayla tak jarang merasa ge-er setelah dikecup oleh Reynof di bagian pipinya, tetapi pada akhirnya ia bukanlah siapa-siapa selain sekretaris bagi tuannya.


Ruben sendiri tidak tahu pasti tipikal wanita idaman tuannya tersebut. Reynof tak selalu menerima wanita yang datang untuk menawarkan diri. Tak juga asal menarik wanita ke dalam kamarnya. Bahkan ketika menatap sosok Chelsea melalui foto saja, Reynof justru sudah tertarik, padahal tidak hanya satu-dua wanita-wanita cantik kerap menawarkan service secara langsung pada Reynof. Dan setahu Ruben, Reynof akan mendekati wanita lugu nan polos yang mudah ketakutan. Namun, setelah puas melihat wanita itu menangis sampai jejeritan, Reynof langsung membuat keputusan untuk melepaskan tanpa melakukan hal ‘intim’ yang lebih jauh.


Pada Chelsea pun, Ruben yakin awalnya Reynof hanya ingin sedikit melecehkan sampai gadis itu meminta ampunan. Demi bisa merasa terpuaskan oleh penderitaan sang gadis, Reynof sampai memakai banyak uang. Karena jarang bertemu gadis yang masih polos nan suci yang bisa disiksa secara mental agar menangis sesenggukan, tentu saja Reynof langsung setuju setelah mendapatkan penawaran untuk membeli Chelsea, hanya demi memenuhi kebiasaan konyolnya yang hampir ke arah gangguan mental berjuluk ‘sadisme’, karena sesuatu yang mungkin disebabkan oleh trauma yang mendalam. Namun Ruben tidak yakin pada penilaian mengenai gangguan tersebut, sebab sekejam apa pun Reynof, Reynof masih memiliki rasa sayang pada beberapa orang.


Dan yang pasti, Reynof memang bukan pria suci, Reynof tetap dikategorikan sebagai playboy kelas kakap dengan selera yang bagi Ruben tetap sukar untuk dijelaskan. Demikianlah semua hal yang Ruben ketahui sekaligus menjadi penilaian pribadinya terhadap sang tuan.


“Mungkin menyiksa wanita lemah sampai wanita itu meronta adalah cara Tuan Reynof membalaskan dendamnya pada Nyonya Besar—ibu kandung Tuan Reynof sendiri. Selama ini beliau memang kerap memandang rendah kaum wanita, apalagi yang datang menawarkan diri meskipun Tuan Reynof juga menerima tawaran dari beberapa di antara mereka. Beruntung Kayla memiliki kualifikasi, sehingga dia masih bisa selamat dan ‘cukup’ disayangi oleh Tuan Reynof,” gumam Ruben sebelum keluar dari elevator yang ia tumpangi. Dan setelah keluar dari alat itu, ia berkata lagi, “Aku sungguh berharap, Nona Chelsea berkenan untuk menemani Tuan sampai kapan pun, termasuk setelah kesepakatan mereka berakhir.”

__ADS_1


Sementara itu, ketika Ruben sudah bergegas untuk menunaikan tugas, saat ini Reynof sudah berada di depan pintu kamar Chelsea yang berada di lantai dua. Jika biasanya ia akan langsung mendobrak masuk, kali ini ia memutuskan untuk mengetuk pintu terlebih dahulu. Dan tidak membutuhkan banyak waktu, Chelsea datang membukakan pintu itu.


Penampilan Chelsea hampir rapi, tinggal bagian rambutnya saja yang belum sepenuhnya kering. Namun kaos hitam tanpa motif serta celana jeans denim sudah membalut tubuhnya. Chelsea memang tidak akan pergi ke mana-mana. Setiap hari ia memang memakai pakaian se-kasual itu ketika sedang berada di kediaman tuannya.


“Ada apa? Aku baru saja hendak memastikan berkas yang kau berikan tadi siang,” ucap Chelsea.


“Aku ingin masuk,” sahut Reynof.


“Cih ... seharusnya kau bertanya apakah boleh masuk, bukannya langsung to the point seperti itu.” Chelsea mendengkus kesal. “Ya sudahlah, masuk saja. Aku rasa kau memiliki sesuatu yang ingin dibicarakan denganku.”


Reynof tersenyum. Detik berikutnya, ia melangkah untuk memasuki kamar itu. Ia juga merampas handuk kecil yang Chelsea pegang untuk mengeringkan rambut yang memang masih basah. “Ayo. Aku akan membantumu.”


“Membantu apa?” sahut Chelsea dan terpaksa mengikuti keinginan Reynof lantaran pria itu sudah menggandengnya ke dalam kamar. Dan tak lama berselang, ia didudukkan di kursi rias. “Ah, kau mau membantuku mengeringkan rambut? Memangnya kau bisa?”


“Aku bisa melakukan segalanya.”


“Oh ya?!” Chelsea menatap pantulan wajah Reynof di cermin dengan tatapan tak yakin. “Kau sering melakukannya untuk Kayla? Meski dia tinggal di luar, tak jarang aku melihatnya menginap di mansion ini. Atau mungkin gara-gara keberadaanku, dia lantas memilih minggat.”


Chelsea mengernyitkan dahinya sembari menaruh curiga. “Kenapa? Kau tak suka jika aku menjelek-jelekkannya ya?”


“Bukan, aku hanya tidak ingin melihat kau marah-marah karena cemburu jika aku salah menjawab pertanyaanmu.”


“Enak saja! Kenapa aku harus cemburu?!”


Reynof menyeringai. “Mungkin karena kau sudah mencintaiku.”


“Tidak! Aku tidak akan pernah mencintaimu. Aku melunak bukan karena jatuh cinta padamu, tahu! Tapi, agar kita tidak bertengkar!”


Reynof semakin mempertajam seringai di bibirnya. “Baiklah mungkin kau tidak jatuh cinta, melainkan sudah terobsesi padaku.”


“Jangan gila, Tuan Reynof!” Chelsea sampai menggebrak meja rias. “Boleh saja kau menganggapku sedang kesurupan, tapi aku tidak gila! Aku rasa kaulah yang terobsesi padaku!”


“Hmm ... ya, ya, ya.”

__ADS_1


“Iiiih ... pria ini!” Chelsea langsung bangkit dan mencabut kabel hair dryer. Detik berikutnya, ia berusaha merapikan rambutnya hanya dengan jari-jarinya. “Pergilah jika hanya ingin sekadar iseng!”


“Waaah! Kau ini sensitif sekali, Nona? Kau sedang datang bulan?”


“Iya! Jadi, pergilah! Tidak ada yang bisa aku berikan padamu untuk memuaskan hasratmu itu!”


“Kau ini!”


Reynof menyentil dahi Chelsea sampai gadis itu terkejut hingga mengaduh kesakitan. Melihat Chelsea yang tampak kesakitan, Reynof langsung menarik wajah Chelsea. Ia membubuhkan kecupannya di dahi Chelsea, di bagian bekas sentilannya. Namun upaya Reynof justru membuat Chelsea semakin kesal. Tatapan mata gadis itu pun tampak tak bersahabat sama sekali.


“Kau kasar, Tuan Reynof!” tegas Chelsea.


“Maafkan aku.” Reynof hanya mengatakan hal itu untuk ungkapan kekesalan Chelsea padanya. Namun sebelum Chelsea mengajaknya bertengkar hebat lagi, Reynof langsung berkata, “Aku ingin mengajakmu untuk menjenguk ayahku.”


“Hah?” Chelsea melongo. Kedua tangannya yang sebelumnya sibuk mengusap dahi, kini berangsur jatuh. Ia tidak menyangka Reynof hendak melakukan saran yang baru ia katakan tadi siang. “Kau serius?”


“Ya, aku serius, Chelsea.”


“Itu bagus ....” Chelsea menghela napas lalu menurunkan arah pandangnya. “Tapi kenapa mengajak aku? Aku mendengar dari kepala pelayan bahwa yang mengurus segala hal tentang ayahmu adalah Kayla. Bukankah seharusnya kau mengajaknya saja?”


“Kenapa kau cenderung ingin mengatur keinginanku, Nona? Terserah aku, aku akan mengajak siapa. Dan jika kau menolak, aku akan langsung mengangkat tubuhmu dan akan masukkan ke dalam mobil.”


“Angkat ... masuk ... ke dalam mobil?”


Mata Chelsea mengerjap-ngerjap dengan durasi yang sangat cepat. Perutnya mendadak bergolak, kepalanya pun terasa pening. Beberapa keping ingatan lantas muncul di benaknya. Tubuh sekaratnya diangkat oleh suaminya. Suara Nora dan Ronald terdengar, deru mobil, ah ... mereka berisik sekali. Mobil merah, senada dengan darah yang menetes. Aroma wine yang pekat sekali.


Apakah ingatan itu adalah ingatan yang aku lupakan? Apakah aku masih sadar ketika tubuhku dibawa masuk ke dalam mobil merah milikku? Tapi kenapa setelah sadar dari koma, aku hanya mengingat sampai Ronald memukul saja? Lantas ingatan ini mendadak muncul sebagai tanda apa? Apakah ada bukti yang tersisa dan aku lupakan begitu saja? Batin Chelsea. Dunianya serasa berputar-putar.


“Hei! Chelsea?! Kau tak apa?”


Suara Reynof terdengar samar. Chelsea hampir tidak sadar. Namun ia tidak mau pingsan. Ia harus tetap terjaga. Ia tidak boleh membuat Reynof membatalkan keinginan untuk mengunjungi Robby Wangsa, karena di lain waktu, Reynof bisa langsung berubah pikiran.


***

__ADS_1


__ADS_2