Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya

Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya
Sebuah Pertemuan


__ADS_3

Baru keluar dari private room yang mereka gunakan untuk makan malam bersama, Reynof dan Chelsea justru dipertemukan dengan Nora dan Fabian. Entah ini takdir atau hanya sebuah kebetulan yang tidak penting. Namun melihat Fabian yang tampak tunduk pada Nora dan bahkan sampai makan bersama dengan Nora, membuat Chelsea lantas menaruh curiga. Bagaimana jika saat ini Fabian sudah melupakannya sebagai sosok Emily dan lantas mendukung Nora? Masa' iya, sebagai orang yang selalu mendampingi sosok Emily sejak kecil, Fabian sama sekali tidak menemukan adanya kejanggalan-kejanggalan di kematian Emily?


Chelsea tahu dirinya tidak pernah mengharapkan banyak hal pada Fabian yang terkadang bersikap penakut dan tidak enakan. Namun akan lebih baik jika Fabian benar-benar tidak tahu dan tidak melakukan apa pun, daripada malah memutuskan untuk mendukung Nora. Chelsea yang notabene adalah Emily tidak ingin pikiran Fabian dikotori oleh sifat jahat yang dimiliki Nora, yang bahkan baru ia ketahui selepas dirinya mendapati Nora bercumbu dengan suaminya.


“Tuan Reynof! Selamat malam! Suatu kehormatan bagi saya bisa bertemu dengan Anda di tempat ini,” ucap Nora yang bersikap begitu sok di mata Chelsea. ”Anda sedang makan malam?”


Reynof tersenyum tipis. “Ya, Nona. Saya—”


”Memangnya apa lagi kalau bukan makan malam, di tempat seperti dan di malam hari?” sahut Chelsea memotong ucapan Reynof.


”Hah? Oh, hahaha! Benar juga. Tampaknya basa-basi saya sungguh tidak berguna ya?” Nora tertawa kecil dengan perasaan kecut untuk menutupi rasa kesal dan malu.


Dan sungguh, Nora benar-benar jengkel pada Chelsea yang terus berlagak sejak pertama kali dirinya bertemu dengan gadis itu. Sekarang pun, Chelsea justru membuat Nora berada di ambang kebodohan lantaran sudah mempertanyakan tentang sesuatu yang memang sudah jelas.


Reynof menoleh untuk menatap wajah cantik Chelsea yang berekspresi dingin, sementara mata gadis itu terus menatap bengis ke arah Nora. Benar juga, ini pertama kalinya bagi Reynof melihat pertemuan antara Chelsea dan Nora. Seandainya yang ada di dalam tubuh Chelsea memanglah Emily, pasti situasi akan semakin panas dan menarik jika Chelsea alias Emily digabungkan dengan Nora di satu meja.

__ADS_1


Di sisi lain, Fabian yang habis kena omel dan segala hujatan dari Nora masih saja terdiam. Namun fokus utama matanya terus saja menatap Chelsea, sementara Chelsea malah terus menatap Nora. Dari tatapan Chelsea yang begitu dingin nan sinis, Fabian tahu bahwa gadis itu sepertinya memang membenci Nora. Hanya saja, Fabian belum tahu pasti apa yang membuat Chelsea membenci orang yang baru ditemui dua kali ini.


Aku ingin berbicara empat mata dengannya. Aku ingin tahu apa yang Chelsea sembunyikan. Tapi, bagaimana caraku untuk mengundangnya? Aku hanya menyimpan kartu nama Sekretaris Ruben dan Nona Kayla. Dan lagi, sepertinya gadis itu memiliki hubungan tak biasa dengan Reynof Keihl Wangsa. Makan malam di tempat mewah ini, serta sulitnya akses untuk menghubungi, membuatku yakin bahwa gadis itu benar-benar dilindungi, batin Fabian.


“Bagaimana jika kita makan dessert bersama? Yah, untuk menjalin hubungan kerja sama kita menjadi lebih erat lagi,” celetuk Reynof dengan ide yang sungguh gila.


Ucapan Reynof membuat Chelsea langsung melebarkan mata, dan tak berselang lama, Chelsea langsung menoleh hingga mendongak untuk menatap wajah Reynof yang memang lebih tinggi darinya.


Bagaimana bisa pria ini membuat tawaran konyol, padahal dia tahu kalau aku sangat membenci Nora? Apa dia benar-benar masih tidak percaya bahwa diriku adalah Emily, padahal dia memanggilku sebagai Emily di beberapa kesempatan? Batin Chelsea menggerutu. Dan ia benar-benar tidak mau duduk dengan Nora. Ia muak dengan adik sepupunya itu. Ia hanya ingin pulang, lalu memastikan lagi data-data yang sempat ia abaikan karena harus menemani Reynof ke rumah sakit.


Sebab, sejujurnya Nora memang tidak ingin cepat-cepat pulang, karena hubungannya dengan Ronald masih belum membaik. Lagi pula, ia terlalu lelah jika Ronald terus merengek dan membanding-bandingkan dirinya dengan Emily lagi. Di satu sisi, ia tidak bisa langsung mengusir Ronald, karena rahasianya pun telah disimpan oleh Ronald. Mungkin ia bisa melimpahkan segala kesalahan pada Ronald, toh, Ronald memang pembunuhnya. Namun untuk saat ini, ia masih harus menjaga nama baiknya agar posisinya di Pano Diamond masih bisa ia pertahankan.


”Silakan masuk kembali, biar saya yang meminta pelayan untuk membersihkan meja sekaligus memesan dessert paling lezat di restoran ini,” ucap Reynof menawarkan diri.


Nora langsung mengangguk-anggukkan kepala. Siapa peduli dengan Chelsea yang menyebalkan, asalkan hubungannya dengan Reynof semakin bagus. Dan setelah itu, ia segera membuka pintu private room yang ia singgahi sebelumnya, tetapi ia tidak mengajak Fabian lantaran ia pikir Reynof hanya ingin berbicara dengannya saja. Yah, barangkali ia justru bisa mendekati secara spesial sosok Reynof setelah gagal mendapatkan Fabian.

__ADS_1


Namun ... pergerakan Nora untuk memasuki ruangan itu langsung terhenti ketika Reynof berkata, “Karena pertemuan ini bukan pertemuan formal, saya rasa sang sekretaris tidak harus berada di luar. Jadi, Sekretaris Fabian juga silakan masuk.”


“Eh, saya?” sahut Fabian sembari menunjuk dirinya sendiri.


Nora menggertakkan gigi. Jika Fabian diminta masuk, sudah pasti Chelsea pun akan ikut masuk. Ah, sial! Padahal Nora sudah mencoba bertahan setelah ditatap sinis oleh gadis itu, rupanya Reynof justru ingin membuatnya berada di satu meja makan dengan gadis udik tersebut!


Ketidaknyamanan Nora pada keberadaan Chelsea langsung disadari oleh Reynof, hanya dengan melihat tatapan mengerikan Nora yang terus tertuju pada Chelsea sejak ia meminta Fabian untuk turut masuk. Sepertinya Nora tidak senang jika Chelsea ikut di dalam perbincangan. Ia menduga sepertinya pertemuan pertama antara Chelsea dan Nora benar-benar tidak bagus. Jika Chelsea adalah Emily, tentu hal itu wajar saja. Memangnya siapa yang akan senang dipertemukan dengan seorang tersangka yang belum tertangkap dan justru malah lebih berkuasa?


Ah, tampaknya aku sudah tidak bisa berkilah untuk menganggap Chelsea sebagai wanita yang dingin bernama Emily itu, batin Reynof yang pada akhirnya tetap menyerah. Kendati dua perasaan berbeda masih saling berbenturan di dalam sanubari paling dalam.


Detik berikutnya, Reynof menarik pundak Chelsea menggunakan tangannya yang bergerak di belakang punggung Chelsea. Sebuah senyuman ia tujukan pada Nora dan Fabian. “Sebenarnya, gadis ini bukan hanya sekretaris saya, melainkan juga kekasih saya,” ucapnya.


Mata Chelsea, Fabian, dan Nora seketika melebar. Meski tidak ada aba-aba, mereka bertiga kompak terkejut. Bahkan Chelsea yang dianggap sebagai kekasih oleh Reynof saja, sangat-sangat terkesiap. Yah, meski hubungannya dengan Reynof terbilang spesial, tetap saja di antara dirinya dan Reynof hanyalah ada sebuah kesepakatan. Dan Chelsea tetaplah seorang budak. Sementara sebagai sepasang kekasih, tentu harus ada cinta di dalamnya, bukan?


Namun, boro-boro cinta, Chelsea tidak yakin apakah ia bisa bertahan di sisi Reynof selamanya. Selain tidak tahu kapan jiwanya akan lenyap ketika jiwa Chelsea asli hadir kembali, untuk saat ini Chelsea yang notabene adalah Emily sama sekali tidak percaya pada yang namanya cinta. Ia sudah cukup dikhianati oleh Ronald saja, bahkan pengkhianatan yang dilakukan Ronald sudah sangat keterlaluan. Kalau masih hidup sebagai Emily, mungkin Chelsea sudah mengalami traumatik dan menggila. Namun karena saat ini dirinya memiliki identitas baru serta telah menyusun suatu rencana, ia berusaha untuk tetap waras, kendati segala aksinya harus menggunakan cara-cara yang juga gila.

__ADS_1


***


__ADS_2