
“Mulai besok dan sampai dua minggu ke depan, kau tak boleh hadir di tempat ini sekaligus perusahaanku, Ruben!” ucap Reynof yang sudah kelewat kesal. Tidak hanya karena Ruben melanggar ucapannya, melainkan juga di saat dirinya kalang kabut mencari Chelsea di mana pun sampai napasnya tersendat-sendat, gadis itu justru asyik berbincang bersama Ruben.
Detik ketika Reynof selesai mengatakan hukumannya terhadap Ruben, kedua mata indah milik Chelsea langsung melebar, melotot terkejut karena Reynof sudah keterlaluan. Napas Chelsea juga menggebu-gebu. Dan ia tak lagi duduk diam, melainkan sudah berdiri dengan amarah yang masih belum hilang.
Tak membutuhkan banyak tanya atau pertimbangan berlebihan, tak juga memedulikan ekspresi kesal di wajah Reynof ataupun penyesalan di wajah Ruben, Chelsea langsung mengambil secangkir teh yang masih utuh. Detik berikutnya, ia langsung menumpahkan teh tersebut di sweater yang Reynof kenakan.
“Nona Chelsea!” Ruben terpekik kaget.
Sementara Reynof semakin tidak percaya dengan keadaan yang menimpanya saat ini. “Kau sudah gila?!” ucapnya tegas dan penuh emosional.
“Kenapa?!” sahut Chelsea sembari menjatuhkan cangkir kualitas tinggi itu ke tanah begitu saja. Namun karena masih dilapisi rumput yang terpotong rapi, cangkir itu tidak sampai pecah. Chelsea berjalan ke arah Reynof, kemudian kembali berkata, “Baru disiram pakai air teh dingin saja sudah marah, lalu bagaimana kau bisa memosisikan dirimu di posisi Tuan Ruben sekarang?”
“Apa?!” Dahi Reynof mengernyit. Semakin tidak habis pikir ketika Chelsea justru masih membela Ruben. “Waaah! Rupanya kau sudah benar-benar jatuh cinta pada Ruben ya?”
Ruben yang panik langsung menyela, “Tuan! Sungguh tidak begitu! Kami hanya berbincang sedikit dan—”
”Kenapa memangnya?” sahut Chelsea memotong ucapan sekretaris pertama dari tuannya itu. “Seandainya aku memang jatuh cinta pada Ruben, memangnya kenapa? Toh, kita hanya seorang tuan dan budak saja, bukan? Kau hanya membutuhkan tubuhku, dan aku sudah menyerahkannya. Kau sama sekali tidak membutuhkan hati dan cintaku. Itu artinya aku masih berhak untuk menaruh perasaanku pada siapa pun, bukan?!”
Gemelutuk gigi lantas terdengar dari dalam rahang Reynof. Kedua telapak tangannya pun mengepal erat. Ia ingin sekali memukul wajah Ruben, tetapi jika ia melakukan hal itu, sudah pasti Chelsea semakin membenci tindakannya. Dan pada akhirnya, Reynof meraih paksa kedua pundak Chelsea sampai membuat gadis itu maju ke arahnya.
Ruben semakin panik, juga merasa bersalah. Padahal Reynof tidak pernah seperti ini apalagi hanya karena wanita, dan hal itu sempat membuat Ruben tak terlalu takut ketika sedang berbincang dengan Chelsea. Namun rupanya, Reynof sudah terlanjur terobsesi pada gadis berusia dua puluh tahun itu.
“Kau itu milikku! Dan tak hanya ragamu saja, melainkan keseluruhan yang ada pada dalam dirimu, Nona, termasuk perasaanmu! Daripada menaruh perasaanmu pada orang lain, terlebih pada cecunguk yang berada di bawahku, mulai sekarang, kau harus jatuh cinta padaku, Chelsea!” ucap Reynof tegas dan terus mencengkeram kedua pundak Chelsea.
Chelsea agak kesakitan. Pundaknya terasa perih karena jemari kekar Reynof semakin kuat dalam mencengkeram. Namun ia harus bertahan, sebab ia tidak mau ada orang tidak bersalah mendapatkan murka tak masuk akal dari tuannya itu.
Dan lagi, spekulasi Reynof mengenai Chelsea dan Ruben tengah jatuh cinta itu konyol sekali! Secemburu apa pun, seharusnya Reynof tetap berusaha mengatasi, alih-alih langsung menjatuhkan sangsi berupa skors dua minggu pada kaki tangan terpentingnya yang memang tidak bersalah!
“Bukannya kau memiliki Kayla?!” serang Chelsea. “Kau habis ‘bermain’ dengannya, 'kan?! Oooh! Aku tahu. Kau tidak mengizinkan Ruben untuk datang ke rumah ini sekaligus ke kantor, karena kau memang ingin lebih banyak bekerja dengan Kayla saja, bukan? Bullsyiiiit, kau tidak pernah menyentuhnya, itu kebohongan besar! Aku yakin kau sudah tidur berkali-kali dengannya! Kau itu preddator! Tak mungkin kau tutup mata ketika ada tubuh indah macam tubuh Kayla di hadapanmu, Tuan Reynof!”
“Jaga mulutmu baik-baik, Chelsea!” titah Reynof semakin geram.
__ADS_1
Chelsea menyeringai. “Kenapa? Bukankah itu fakta? Seorang gadis berusia dua puluh tahun yang masih suci saja kau paksa untuk melayani hasratmu. Dengan kenyataan tersebut, bukankah sudah membuktikan bahwa kau memanglah predatooor?!”
“Nona Chelsea, saya mohon tenanglah,” sela Ruben. “Ini salah saya. Saya akan menerima sangsi tersebut. Lagi pula, dua minggu bisa saya gunakan untuk berlibur.”
Chelsea hanya menatap Ruben secara sekilas dan langsung mengabaikan ucapan sekretaris itu. Karena saat ini pertarungannya dengan Reynof belum berakhir. Ia tidak mau kalah, setelah Reynof membuatnya marah. Baiklah. Saat ini Chelsea memang sedang melanggar kesepakatan, karena lagi-lagi ia tidak mau tunduk setelah apa yang Reynof lakukan untuk membantunya. Ia salah karena telah melanggar, tetapi Reynof juga tetap salah!
Perasaan bergemuruh masih terus berisik di dalam diri Reynof. Kejengkelannya belum menepi. Namun melihat Chelsea yang sejak tadi menekannya sembari membawa-bawa nama Kayla, sungguh membuatnya bertanya-tanya. Sebenarnya Chelsea marah karena sangsi yang Reynof berikan pada Ruben, atau marah karena Reynof sempat berpegangan tangan dengan Kayla? Karena nyatanya, Chelsea sempat menutup pintu ruang baca begitu keras dan melarikan diri tanpa bicara apa-apa.
Sesaat setelah menghela napas, Reynof berkata dengan suara yang lebih halus, cengkeraman tangannya pun kian merenggang. “Aku dan Ruben memang seperti ini. Aku tak jarang mengancamnya dengan sangsi berat. Tapi dia juga selalu mengabaikanku dan tetap datang. Lalu kemurkaanku terhadapnya akan mencair. Kau benar-benar tidak paham, dan lantas menuduhku macam-macam. Apalagi sampai mengira bahwa aku telah 'bermain' dengan Kayla. Kau sudah benar-benar gila, Chelsea.”
Mata Chelsea mengerjap-ngerjap, seiring munculnya rasa malu setelah bersikap begitu menggebu-gebu. Pada akhirnya Reynof dan Ruben tetap memiliki ikatan yang jauh lebih spesial. “K-kau sendiri juga sudah gila, kenapa kau mengira kalau aku dan Tuan Ruben saling jatuh cinta? Tuan Ruben itu lebih pantas menjadi pamanku, alih-alih pacarku!” omelnya.
Mendengar ucapan Chelsea, wajah Ruben yang sempat panik kini tampak terkejut. Rupanya aku memang sudah terlihat sangat tua ya? Padahal aku lebih muda satu tahun dari Tuan Reynof, tapi ...? Batinnya dengan ekspresi yang sudah muram nan sendu.
Reynof menatap Ruben dengan tatapan yang masih sengit. “Pergilah kau, Sialan! Kenapa kau masih saja ada di sini? Apa kau ingin aku menambah hukumanmu menjadi lebih berat lagi?!”
“Baik, Tuan, saya pergi dulu,” sahut Ruben dan langsung mengambil langkah cepat untuk menuruti ucapan sang tuan.
Reynof menghela napas setelah menatap bagian lain dari kursi yang terdapat sebuah nampan. Dan lagi keadaan kursi belum benar-benar kering. Ia menelan saliva dan serasa enggan, tetapi pada akhirnya ia tetap menyingkirkan nampan dan menaruh benda itu di atas rerumputan. Cangkir yang tergeletak pun telah Reynof ambil dan ia satukan di dalam nampan tersebut.
“Bajuku basah gara-gara kau,” celetuk Reynof sembari mengusap bagian sweater hitamnya yang basah. Detik di mana Chelsea terdengar mengembuskan napas kasar, Reynof lantas menatap wajah cantik gadis itu. “Kenapa? Kau masih ingin marah padaku?”
“Cih! Kenapa sih kau selalu membuat spekulasi sendiri?!” tukas Chelsea.
“Aku hanya ber-ta-nya! Bukan berspekulasi!”
“Tapi kau selalu memutuskan sendiri jawaban atas setiap pertanyaanmu! Kau itu tidak mau dibantah sama seka—”
Ucapan Chelsea terhenti ketika tiba-tiba saja Reynof menangkup kedua pipinya. Reynof juga telah menarik wajahnya itu, dan lantas mengecupnya begitu dalam. Chelsea lantas mencubit pinggang Reynof dengan sekeras mungkin, sampai pria itu berkenan untuk melepaskannya. Rasa sakit yang diterima dari jemari nakal milik Chelsea membuat Reynof seketika melepaskan Chelsea, dan langsung mengasuh kesakitan.
Tanpa memedulikan Reynof yang tampak menderita, Chelsea sibuk mengusap bibir hingga wajahnya. Kekesalannya saja belum mereda, sementara pria itu justru memaksanya menyerahkan diri. Benar-benar tidak sopan!
__ADS_1
“Jari kecilmu itu bisa membunuhku kapan saja, Chelsea!” ucap Reynof. “Kau pun sama kejamnya dengan diriku.”
“Memang benar! Tapi aku hanya akan kejam padamu saja!” sergah Chelsea. Ia menghela napas, kemudian menggeser tubuhnya untuk menjauh dari Reynof. “Jangan sentuh aku dulu, setelah apa yang kau lakukan bersama Kayla.”
Dahi Reynof mengernyit. Kemudian tawanya terdengar. “Kau pun suka membuat spekulasi sendiri!”
“Bukan spekulasi, tapi kenyataan, Tuan Reynof Keihl Wangsa!”
“Memangnya kau menyaksikan bahwa aku dan Kayla memang telah 'bermain' bersama? Dan kau punya bukti?”
Chelsea menggigit bibir bawahnya ketika kebingungan mendadak menangkup dirinya. “Buktinya ... i-itu! Saat dia memegang tanganmu dengan mesra dan lantas mengajakmu ke kamar! Memangnya apa lagi yang akan kalian lakukan selain 'bermain'?!”
“Baiklah, anggap saja ucapanmu itu benar. Dan sekarang giliranku yang bertanya ... apa kau cemburu, sampai marah-marah bahkan menyiramkan secangkir teh padaku, Nona?”
“Apa katamu?” Chelsea lantas menatap Reynof dengan tatapan jijik, di saat pria itu justru tersenyum-senyum usil. ”Tidak, Tuan Reynof! Tidak akan pernah! Silakan saja kalian bermain sepuasnya! Asalkan kau tak usah mengklaim jika dirimu tak pernah tergiur padanya!”
“Jadi, kau memang memberiku izin untuk bermain dengannya?” serang Reynof. “Kau tak akan menyesal, Chelsea, mm, tidak, tapi, Emily?”
Wajah hingga tengkuk Chelsea menghangat ketika Reynof memanggilnya dengan nama aslinya. Memang sesenang itu rasanya, ketika ada orang yang masih mengingat namanya, yah, meskipun Reynof sudah pasti tengah mempermainkan dirinya. Namun Chelsea tetap merasa sedikit bahagia, lantaran identitas asli jiwanya tidak langsung lenyap begitu saja.
“Itu hakmu. Dan aku tidak berhak melakukan apa pun, aku hanya kesal tadi, karena kau bersikap tak sesuai ucapanmu sendiri,” ucap Chelsea. Suaranya jauh lebih pelan. Segala emosi buruknya pun kian menghilang. “Dan ... maafkan aku ....”
Sembari mengulas senyuman tipis, Reynof menggeser tubuhnya untuk mendekati Chelsea. “Lihat,” ucapnya seraya menunjukkan ibu jari kanannya yang terluka. “Aku salah memegang benda karena terlalu sibuk membaca data-data proyek lama milik ayahku. Yang aku pegang pisau cutter yang terbuka. Ada map yang sudah dilem erat, jadi aku harus menggunakan benda itu tadi. Aku pikir penggaris, ternyata pisau. Kayla hanya membantuku saja, dan ke kamar, ahahaha. Dia hanya ingin membuatmu kesal, Nona. Alih-alih mengikuti tawarannya, aku lebih memilih berkeliling mansion yang besar ini untuk mencarimu, Chelsea, setelah aku tak menemukanmu di kamarmu. Kau pun tak membawa ponsel, jadi aku tak bisa melihat alat pelacakmu.”
“Chelsea ....” Reynof meraih kedua telapak tangan Chelsea dan ia genggam dengan penuh arti. “Percayalah, saat ini hanya kau saja wanitaku. Dan aku melakukan banyak hal untuk membantumu. Aku ke ruang baca untuk mencari data lama sebagai referensi untuk memikat pengusaha dari Benua Eropa itu. Aku tak main-main! Sekarang aku bersungguh-sungguh dalam membantumu, karena aku juga tidak mau jika kau terus-terusan bertemu dengan Ronald. Pria itu sangat berbahaya untukmu, Chelsea.”
“Bahkan aku sudah bertekad tak akan memaksamu melakukan 'hal itu' jika kau memang tidak mau. Aku lelah bertengkar denganmu, apalagi ketika bertengkar kau selalu melihatku sebagai seorang preddator yang telah membeli dirimu. Nyatanya aku belum sehina itu, Nona,” ucap Reynof mengakhiri ucapannya.
Mata Chelsea mengerjap cepat. Hatinya terenyuh karena pengakuan Reynof yang sarat akan ketulusan. Suatu kelembutan serta kesungguhan pun terpancar jelas di mata Reynof yang biasanya berbinar tajam nan kejam. Chelsea tidak tahu saat ini Reynof menganggap dirinya sebagai siapa, apakah sebagai Chelsea atau malah Emily, tetapi yang pasti, pria itu serius sekali.
***
__ADS_1