Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya

Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya
Tolong Gali Kembali Kuburan Emily!


__ADS_3

Reynof semakin gelisah sejak Chelsea meninggalkannya untuk menemui Ronald di siang hari ini. Ia pun sampai tak berselera untuk makan siang, kendati sudah berkali-kali Kayla mengingatkan. Sayangnya, Ruben yang kerap memaksanya juga sedang tidak ada di tempat, karena harus mengurus beberapa perusahaan peminjaman uang yang ia miliki. Dan sekarang, Reynof hanya sendiri. Sibuk berjalan ke sana kemari.


Bahkan meski sudah mendiskusikan mengenai hal mistis dengan Ruben tadi pagi, dan yakin bahwa Chelsea tidak dirasuki oleh roh Emily, saat ini Reynof justru kepikiran kembali. Jika kejadian konyol dan tidak masuk akal itu benar-benar terjadi, artinya saat ini Chelsea yang 'mungkin saja' dirasuki oleh roh Emily sedang bertemu dengan sang suami. Analisa bodoh itu semakin membuat Reynof cemas. Seandainya hal tak masuk akal tersebut adalah sebuah kenyataan, sama saja ia sudah mempertemukan dua insan yang sempat hidup bersama untuk saling melepas kerinduan.


"Tidak, tidak, tidak!" ucap Reynof sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Dia adalah Chelsea, bukan Emily. Ruben saja mengatakan bahwa kerasukan roh wanita mati itu tidak masuk akal. Aku pasti hanya overthinking karena cemas jika mainanku diambil oleh Ronald!" Yakin, Reynof berusaha untuk tetap meyakini jalan logikanya.


***


Sementara Reynof yang terus dibuat pusing oleh pikirannya sendiri, saat ini Chelsea sudah duduk di hadapan Ronald. Ia bahkan sengaja memasang ekspresi senang lantaran Ronald telah memberikan tas branded yang dulunya memang sangat ia sayangi ketika masih hidup sebagai Emily. Dan ia tidak menyangka, Ronald akan mudahnya memberikan barang yang sama saja sebuah aset itu pada orang lain.


"Apa Anda menyukai kenang-kenangan itu, Nona Muda?" tanya Ronald harap-harap cemas.


Chelsea tersenyum manis. “Tentu saja! Barang ini mahal sekali, Tuan! Tapi meski senang, saya tetap merasa bersalah.” Wajahnya berubah lebih murung. “Akan lebih baik jika Nyonya Emily masih ada sampai saat ini.”


"Memang benar, kenyataan ini sangat menyakitkan, Nona. Padahal saya sangat menghormati istri saya sekaligus juga mencintainya. Namun jalan hidup siapa yang tahu, dia justru sudah pergi duluan.”


Tak mau kalah dalam hal bersandiwara, Ronald berangsur menunjukkan wajah yang tampak sendu. Ia benar-benar lihai mengelabui orang lain. Saking lihainya, Chelsea yang adalah Emily sampai tertipu selama satu tahun lebih, sejak pria itu muncul sampai saat pria itu mempersunting dirinya. Kelihaian Ronald dalam menipu mungkin juga telah membuatnya sukses mengambil jasad Emily dengan cepat.


Namun saat ini Chelsea bukan lagi Emily yang mudah memercayai orang lain. Ia akan lebih berhati-hati. Kendati banyak orang yang memercayai kasus kematiannya, ia masih yakin masih banyak pihak yang menganggap kematiannya penuh kejanggalan. Dan ia harus menekan Ronald, sekaligus juga merencanakan sesuatu yang lain.


“Tuan Ronald ....” Pelan, Chelsea berucap. Ia berangsur meraih telapak tangan Ronald yang memang tergeletak di atas meja restoran itu.


Sikap Chelsea sukses membuat Ronald tercengang, tetapi kegirangan langsung mengusir kesiap yang sempat hinggap pada dirinya. “A-ada apa, Nona?”

__ADS_1


“Bukankah kasus kematian istri Anda sangat aneh?” Chelsea mulai menyerang. “Bagaimana bisa Anda mengambil jasad Nyonya Emily tanpa ingin melakukan otopsi terlebih dahulu?”


Rasa senang yang sempat melanda hati Ronald kini berangsur pergi ketika pertanyaan Chelsea membuatnya jauh lebih tercengang. “I-itu karena saya tidak mau jika tubuh istri saya dirusak. Se-semasa hidup dia sangat merawat dirinya. La-lagi pula, kecelakaan yang dia alami murni karena kecelakaan tunggal yang disebabkan oleh kesalahannya sendiri. Sa-saya hanya tidak mau kasusnya semakin panjang dan justru membuat nama istri saya tercemar. Ka-kalau Anda curiga karena mengingat pola hidup istri saya, sejujurnya ... Emily tidak sampai menghindari alkohol, Nona, dia masih sering menyantapnya.”


Tidak! Tidak pernah sama sekali! Aku jamin aku tidak pernah menyantapnya sama sekali, Sialan! Batin Chelsea yang tidak terima karena dirinya sama saja dianggap telah membohongi banyak orang dengan menunjukkan pola hidupnya yang terbilang sehat.


Chelsea menghela napas, berusaha untuk menenangkan dirinya. Detik berikutnya, ia kembali berkata, “Tuan, kenapa Anda gelagapan? Saya kan tidak menuduh Anda macam-macam. Anda bisa memberikan penjelasan dengan lebih tenang kok!”


“I-itu karena saya ... sa-saya terlalu tertekan karena anggapan Anda sejak pertemuan awal kita," sahut Ronald dengan alasan yang ia sendiri tidak yakin apakah mampu untuk membuat Chelsea percaya.


Chelsea tersenyum. Ia tetap mengusap telapak tangan Ronald dengan lembut. “Saya memercayai Anda kok,” ucapnya halus. Sedetik kemudian, ia berbisik, “Sejujurnya ... saya sedang mencurigai sepupu ipar Anda, Tuan.”


“Apa? Kenapa Nona Chelsea mencurigai Nora?”


Ronald terdiam seribu bahasa, selain hanya kerap menelan saliva. Ia lega karena Chelsea jauh lebih mencurigai Nora daripada dirinya. Namun ia yakin suatu saat Chelsea juga akan menemukan sesuatu yang salah pada dirinya. Dalam keadaan yang sepelik ini, lantas apa yang hendak Ronald lakukan? Haruskah dirinya kabur dan membatalkan rencananya untuk mendekati gadis muda itu? Hanya saja, ada risiko lain yang akan datang ketika Ronald memutuskan untuk menghindar. Sudah pasti Chelsea yang tampaknya begitu cerdas itu akan menaruh curiga padanya yang mendadak menghilang.


Dalam kegamangan yang berisikan kecemasan tersebut, Ronald tetap berusaha untuk berpikir keras. Sampai suatu ide akhirnya muncul. Sebuah ide yang ia pikir akan mampu menipu gadis muda itu, bahkan juga pihak-pihak yang masih memperhatikan kasus kematian istrinya. Dengan melimpahkan segala kesalahan pada Nora, pasti akan membuat posisi Ronald jauh lebih aman. Syukur-syukur jika ia bisa merampas harta milik mendiang Emily dari kekasih serakahnya itu.


“Apa tidak sebaiknya Anda membuka kasus ini lagi dan menggali kembali kuburan Nyonya Emily untuk melakukan otopsi? Bukankah lebih baik menegakkan keadilan, daripada mempertahankan tubuh cantik Nyonya Emily yang pasti juga akan rusak karena tergerus waktu dan tanah, Tuan?" Serangan kedua telah Chelsea luncurkan. Dan ia cukup penasaran dengan reaksi yang akan Ronald berikan, selain ekspresi terkejut dan kebingungan.


Ronald menelan saliva dengan susah-payah. Bergetar, ia mencoba menutup matanya. Sampai saat kesiapan telah didapatkannya, ia lantas membuka matanya lagi lalu menunjukkan sandiwara baru. “Nora. Nora itu yang memegang kendali atas rumah dan perusahaan istri saya sepeninggalan istri saya, Nona Chelsea. Dan dugaan Anda memang benar bahwa Nora menginginkan saya, dia jatuh cinta pada saya. Ketika saya memutuskan untuk pergi dari rumah Emily, dia justru melarang saya dan malah mengancam akan membeberkan segala aib mendiang istri saya. Saya terpaksa tetap tinggal karena tidak mau nama baik mendiang istri saya menjadi tercemar."


Munafik! Hina! Penipu! Ronald merupakan salah satu orang paling bejat dengan segala kemampuan tipu muslihat yang ia miliki. Bahkan sepertinya Reynof jauh lebih baik, karena Reynof masih berkenan untuk menjaga orang-orang yang disayangi.

__ADS_1


Chelsea sungguh menyesal karena pernah mencintai Ronald, bahkan sampai bucin akut. Ketika pernikahannya dengan Ronald baru menginjak usia satu bulan saja, Chelsea alias Emily rela menggelontorkan banyak uang demi memberikan kejutan manis. Namun pria yang betul-betul ia cintai selama lebih dari satu tahun ternyata sangat biadab!


“Saya tidak bisa membuka kasus kematian Emily secara sembarangan, lantaran pastinya Nora akan menolak mentah-mentah, apalagi jika ternyata dia adalah dalang di balik tragedi itu. Yah ini memang hanya sebatas dugaan kita saja, Nona, tapi betul kata Anda, siapa yang tahu ada oknum yang membuat mendiang istri saya meninggal dunia,” lanjut Ronald yang kali ini disertai tetesan air mata yang keluar dari pelupuk mata beriris hitam legam miliknya. “Seluruh aset Emily juga sudah jatuh di tangan Nora. Saat ini dia jauh lebih berkuasa, Nona. Apalagi ketika nantinya pihak Neverley benar-benar memberikan bantuan untuk mendongkrak nama serta kemampuannya. Membuat saya semakin tidak bisa bergerak lebih leluasa.”


Chelsea menghela napas. Kesal memang, tetapi apa boleh buat. Ia harus terus bertahan demi ambisi yang sudah terpatri jelas. “Tampaknya Anda sangat tertekan ya, Tuan? Kasihan sekali. Seharusnya Anda yang merupakan suami Nyonya Emily mendapatkan lebih banyak warisan, tapi Nora justru merampas semuanya. Membuat saya semakin yakin bahwa kematian Nyonya Emily memang disebabkan oleh dirinya. Anda harus lebih bersabar, Tuan. Saya berada di pihak Anda.”


Sukses besar! Batin Ronald yang merasa sudah berhasil membuat Chelsea memercayai ucapannya. Dengan begini ia tidak harus menghindar lagi. Dan posisinya tetap aman!


“Melihat Anda yang tampak kesepian serta tertekan, membuat saya justru ingin menjadi teman dekat untuk Anda, Tuan. Saya adalah penggemar berat Nyonya Emily, dan saya rasa saya bisa lebih memahami posisi Anda.” Serangan ketiga telah meluncur. Chelsea harus bisa mengendalikan suami biadabnya, meski tawarannya akan tetap membuatnya kesulitan mengingat Reynof yang pasti akan menolak mentah-mentah. “Itu pun jika Anda berkenan untuk berteman dengan gadis semuda saya.”


“Oh, tentu, tentu!” sahut Ronald antusias. Ia tak hanya mendapatkan sebuah kepercayaan, karena gadis itu akhirnya juga menawarkan sebuah keinginan untuk menjalin pertemanan. “Kita bisa berteman dengan baik, Nona!”


“Waaah! Terima kasih, Tuan Ronald. Saya benar-benar sangat senang!”


Setelah misi pendekatan diri pada Ronald sukses, tentunya Chelsea berharap dirinya bisa memasuki rumahnya sendiri, alias kediaman yang ia miliki ketika masih hidup sebagai Emily. Siapa tahu setelah memiliki akses masuk ke rumah itu, ia akan lebih leluasa untuk menjalankan semua rencananya. Barang-barang yang ia miliki di rumah itu mungkin bisa menjadi pendukung paling kuat.


Di sisi lain, Reynof yang berada di meja lain di restoran itu sudah sibuk mengepalkan kedua telapak tangannya dengan erat ketika menyaksikan si gadis kesayangan tersenyum begitu manis pada pria lain, yang tidak lain adalah Ronald. Dan bahkan, Chelsea tak segan untuk menyentuh telapak tangan Ronald. Benar-benar menyebalkan!


Meski tidak tahu isi perbincangan mereka, Reynof tetap merasa sangat kesal. Jika pemikiran konyolnya mengenai tubuh Chelsea telah dirasuki oleh roh Emily benar-benar terjadi, itu artinya saat ini Chelsea sedang kasmaran.


“Haruskah aku membunuh Ronald saja? Entah dia adalah Chelsea, atau bahkan Emily, mereka tidak akan bisa menemui Ronald jika Ronald sudah tidak ada di dunia ini lagi!" ucap Reynof disertai rasa geram yang kian membesar.


***

__ADS_1


__ADS_2