
Pada akhirnya, Chelsea tidak bisa menginap di tempat tinggal sementara Dahlia dengan tenang. Karena ternyata, Reynof tidak hanya sekadar ingin mengantarkan Chelsea saja, melainkan juga menginap di salah satu kamar hotel yang berada di depan kamar Dahlia.
Mengenai Chelsea yang bisa mengetahui keberadaan pria itu adalah ketika dirinya ingin keluar sebentar untuk membeli makanan kesukaan Dahlia, lantaran Dahlia masih asing dengan menu-menu yang disajikan oleh pihak hotel. Namun baru keluar saja keluar, Chelsea justru menemukan sang tuan.
Entah mengapa, Chelsea justru merasa gugup. Hanya karena mengetahui keberadaan Reynof yang seharusnya sudah bukan hal asing baginya, ia malah sampai sulit mengendalikan debaran jantungnya. Dirinya seolah berada di situasi sedang menyembunyikan seorang pacar di belakang sang bunda. Dan hal itu membuat Chelsea menjadi serba salah, meskipun pada akhirnya ia berakhir berjalan bersama Reynof.
“Aku tidak tahu kau ingin ada di sini. Dan jujur saja, aku cukup kaget, Tuan Reynof. Jika ibuku tahu, dia pasti malah akan cemas. Mau bagaimanapun kita tinggal di negara dengan kultur yang berbeda dengan negara barat. Jika seorang gadis muda yang belum menikah terus ditemani seorang pria, nantinya akan menjadi fitnah. Yah, mungkin akan kedengaran konyol ketika aku yang sudah pernah tidur dan bahkan tinggal satu atap denganmu mengatakan hal ini. Tapi mau bagaimanapun juga, diri ini adalah putri dari seorang ibu. Aku hanya tidak ingin membuat Ibu merasa khawatir,” ucap Chelsea di sela-sela aktivitasnya dalam melangkah bersama Reynof di lobi hotel.
Reynof tersenyum kecut. Awalnya ia pikir Chelsea akan senang dengan kehadiran dirinya, yang bahkan sampai rela menginap di hotel milik perusahaannya tersebut. Namun rupanya Chelsea justru merasa gusar.
“Maaf,” ucap Reynof.
Seketika itu juga, Chelsea menghentikan langkahnya, padahal tinggal dua langkah lagi ia bisa keluar dari lobi utama. Ia menatap Reynof dengan dahi yang sudah berkerut samar. “Kenapa meminta maaf? Kau tidak salah kok. Mau bagaimanapun akulah yang bersalah karena tidak jujur padamu, sampai kau memutuskan untuk terus mengawasiku. Iya, 'kan? Yang aku katakan barusan hanyalah sejumlah kata hatimu. Lagi pula kau sudah memutuskan dan kau berhak tinggal di salah satu aset perusahaanmu sendiri.”
”Tapi kau tampak gusar, Chelsea.” Reynof menghela napas lalu menelan saliva. Ia menunjukkan sikap bingung dan serba salah. “Aku hanya khawatir padamu dan tanpa kau di mansion, aku tidak akan bisa tidur dengan nyenyak.”
Chelsea tersenyum, kemudian berangsur melanjutkan langkahnya lagi. ”Ayo, jalanan di depan cukup bagus dan tampaknya nyaman untuk digunakan pejalan kaki. Apa kau mau menemaniku mencari makanan? Ibuku mengidam sate ayam bumbu kacang. Kita cari sambil jalan kaki, kalau tak menemukan, kita baru naik taksi. Sekali-kali naik angkutan umum, tak masalah, bukan?”
“Kau ... tak marah dengan keputusan sepihakku?”
__ADS_1
”Tentu saja tidak, aku kan bukan Tuan Reynop! Aku Chelsea Indriyana!” Chelsea berkata demikian sesaat setelah sejenak menghentikan langkahnya lagi dan menatap Reynof. “Kau lihat sendiri, saat ini aku hanyalah seorang gadis yang baru akan berusia dua puluh satu tahun. Dan akan tetap kalah, kendati berulang kali aku berusaha untuk melawan dirimu, Tuan.”
Tapi, di mataku kau tetap Emily. Karena aku sudah tahu bahwa kau memang Emily. Jika kau bukan Emily, melainkan Chelsea yang sesungguhnya, mungkin aku sudah membuangmu sejak lama. Bisakah aku memberikan sisa umurku, agar kau tetap hidup, Emily? Batin Reynof.
Belakangan ini Reynof memang lebih melow daripada bengis dan kejam. Dugaannya tentang jiwa Emily yang mungkin saja akan lenyap sungguh membuatnya ketakutan. Di sisi lain, berkat dugaan itu, ia memilih untuk selalu berusaha meredam emosinya. Ia ingin menorehkan kenangan manis dengan wanita yang ia cintai.
Keduanya berjalan bersama dengan langkah yang pelan dan sesekali saling bercanda, meski ucapan Reynof kerap kali terdengar kaku dan canggung. Dan hal yang membuat Chelsea gugup pun sudah menghilang. Mungkin karena pria itu adalah Reynof, sehingga Chelsea mampu mengurai segala rasa tak bagus yang sempat menerpa hatinya. Lagi pula, ia memang sudah terbiasa dengan segala sikap Reynof selama ini.
Jika aku tidak sedang merencanakan balas dendam, apakah aku bisa fokus mengubah pria ini, sekaligus juga terus menemaninya sampai jiwaku lenyap? Hubungan kami memang buruk, bahkan sejak aku masih hidup sebagai Emily. Tapi sekarang ... aku rasa, dia adalah satu-satunya pria yang memprioritaskan diriku setelah Fabian. Meski terkesan terobsesi, tapi dia pun berusaha untuk mengubah diri. Tapi, Reynof, sebenarnya siapa yang kau cintai? Aku atau Chelsea? Benarkah kau tak percaya pada pengakuan tak masuk akalku? Batin Chelsea ketika Reynof sibuk membicarakan progress kerja sama dengan Gaspard Cassel.
***
“Hentikan mobilnya di sini saja,” ucap seorang pria tua pada sang sopir pribadi. Dan latar keberadaannya saat ini adalah sebuah kawasan elite, terutama di sekitar kediaman keluarga Rukmana. Sayangnya kediaman mewah itu tak lagi dimiliki oleh keturunan Rukmana.
Perasaan pria tua itu sungguh getir dan sangat sedih. Andai saja ia tidak sedang dalam pengobatan serius sejak dua tahun yang lalu, ia mungkin sudah datang ke tempat ini dari dulu. Bahkan ketika Emily Panorama Rukmana meninggal dunia, pria tua itu masih tak bisa hadir. Sakit stroke yang ia alami sempat membuat tubuhnya mati rasa. Beruntung, meski saat ini tidak bisa berjalan dengan benar, ia sudah diperbolehkan untuk pulang kampung, setelah sebelumnya ia berada di Australia bersama anak terakhirnya.
“Rusmana. Kenapa harus keturunan Rusmana yang mewarisi segalanya?” gumam pria tua itu lagi, setelah akhirnya sebuah mobil hitam keluar dari gerbang utama kediaman yang seharusnya milik keluarga Rukmana.
***
__ADS_1
“Nona Nora, Anda baik-baik saja?” tanya Fabian sambil terus melajukan mobilnya, setelah sempat menatap Nora secara sekilas di kaca yang tergantung di hadapannya.
Nora menatap Fabian dengan ekspresi yang dingin dan malas. Bisa-bisanya pria itu masih bertanya di saat sudah tahu situasi panas yang sedang terjadi di perusahaan! Pikir Nora diam-diam. Baik Fabian maupun Ronald, keduanya malah berlagak bodoh, padahal sudah pasti mereka ingin sekali menertawakan. Saat ini kondisi Nora memang buruk, tetapi tidak sepatutnya kedua pria yang lebih rendah darinya itu lantas kurang ajar.
Dan pada akhirnya Nora memutuskan untuk mengabaikan ucapan Fabian. Ia menghela napas lalu menatap keluar. Entah apa yang akan ia hadapi setelah ini. Mungkin kritik dan kritik lagi. Mengenai penawaran dari Ronald tadi malam pun, ia sama sekali tidak ingin mempertimbangkan. Sampai kapan pun ia tidak mau menyerahkan posisi pada pria itu, sebab memang sudah terlanjur.
Jika sudah dicurigai, Nora malah akan semakin dicurigai ketika mendadak mundur. Malah, mereka bisa saja menuduhnya sedang melarikan diri dari kenyataan.
”Anda ingin minum kopi dulu, atau mungkin cokelat hangat?” tanya Fabian lagi. “Di depan sana ada kafe yang buka selama dua puluh empat jam. Untuk kopi dan cokelat hangat pun selalu cepat mereka sajikan. Anda tenang saja, saya yakin hidangannya sesuai dengan selera Anda, Nona. Ah, ma-maaf jika saya terkesan lancang. Saya hanya ... mencemaskan Anda. Sungguh, Nona!” lanjut Fabian meyakinkan.
Pengakuan Fabian akhirnya mampu menarik perhatian Nora. Di mana setelah itu, Nora langsung kembali menatap Fabian dari arah belakang. Ketika Fabian setengah menoleh, hidung Fabian yang mancung terlihat lebih jelas sampai membuat Nora harus menelan saliva.
“Bagaimana, Nona? Setidaknya Anda harus tenang sebelum menghadiri meeting satu jam mendatang. Jika berkenan, saya akan menemani Anda. Tapi jika tidak, saya akan menunggu Anda di mobil sampai Anda menghabiskan minuman Anda,” ucap Fabian dengan jakun seksi yang tampak naik turun.
Nora menggigit bibir bawahnya. Ia sedang mempertimbangkan sekaligus juga menebak. Semakin lambatnya laju mobil, membuat Nora berprasangka bahwa tidak lama lagi kafe akan segera dilewati. Oleh sebab itu, ia harus segera membuat kesepakatan!
Lagi pula, meskipun sempat berlagak bodoh seperti Ronald, Fabian bukanlah pria macam Ronald yang gila uang. Mungkin saja, Fabian bisa menjadi satu-satunya pihak yang akan membela Nora apa pun yang terjadi, sekaligus akan menjadi sandaran baginya mulai detik ini. Mengingat kesetiaan dan betapa profesional-nya Fabian, membuat Nora tak boleh terlalu meragukan pria itu.
”Ya, tolong mampir, dan kau ... temani aku minum,” titah Nora, yakin.
__ADS_1
Fabian mengangguk mantap dan detik itu juga, ia memutuskan untuk kembali mempercepat laju kendaraannya. Keberadaan kafe memang sudah dekat, tetapi lebih cepat sampai tentu akan lebih baik. Dengan begitu, Fabian pun bisa segera bergerak untuk mengelabuhi Nora. Seringai tajam lantas menarik salah satu sudut bibir Fabian dan tanpa sepengetahuan atasan barunya tersebut.
***