
Gadis itu tersenyum sembari melambaikan tangan. Wajahnya yang ayu sungguh berkilauan. Membuat sosok lain yang adalah Emily sampai takjub sekaligus heran. Latar keberadaan dirinya dan gadis itu pun berada di sebuah ruangan yang didominasi warna putih. Bahkan tak hanya sekadar ruangan, karena gadis itu pun terbalut gaun putih sama seperti yang membalut tubuh Emily saat ini.
”Chelsea, ... kaukah itu?” ucap Emily dan mulai berjalan.
Sosok cantik itu tersenyum kalem, tetapi tetap tanpa memberikan suatu jawaban.
Mata Emily melebar. Mungkin sudah waktunya ia menghilang, begitu pikirnya. Tak apa-apa. Ia sudah mendapatkan keadilan, bahkan juga kebahagiaan karena diizinkan untuk bertemu dengan pria yang ia cintai, sebelum dirinya pergi. Tak apa-apa. Tubuh yang ia tinggali memang bukan miliknya. Tentu saja ia harus sadar diri.
Emily menghentikan langkahnya. Gadis cantik itu sudah berada di hadapannya. Wajah cantik gadis yang selama ini melindungi jiwanya, terpampang jelas di depan matanya. Sungguh ayu dan tampak lembut. Senyuman gadis itu membuat Emily sampai menitikkan air mata. Haru, ketika akhirnya ia bisa bertemu dengan sang pemilik raga.
“Chelsea, kau ingin mengambil ragamu kembali?” ucap Emily.
Gadis itu tetap tersenyum. Perlahan tetapi pasti, sang gadis meraih kedua telapak tangan Emily. ”Terima kasih.”
Dua buah suku kata yang memiliki satu makna akhirnya terlontar dari bibir gadis itu.
”Untuk apa? Justru aku yang berterima kasih karena kau sudah meminjamkan ragamu, aku rela jika kau akan memintanya lagi, Chelsea,” ucap Emily.
Namun tak ada jawaban sama sekali. Sentuhan tangan gadis itu juga tak terasa lagi. Sementara Emily menjadi kebingungan sendiri. Sampai akhirnya si gadis memudar kemudian menghilang. Kini hanya Emily saja yang tertinggal di tempat bernuansa putih itu. Sepi tetapi damai. Mungkinkah di tempat ini Emily akan tinggal? Dan benarkah Chelsea sudah kembali hidup dengan jiwa yang asli?
Emily tersenyum, kemudian berangsur memejamkan matanya. Inilah akhirnya.
***
”Haaaah ....” Dalam keadaan menggeragap, Chelsea terbangun dari tidurnya. Ia menatap langit-langit kamarnya. Matanya masih saja melebar, pun dengan rahangnya.
Chelsea memutuskan untuk membangunkan dirinya. Selanjutnya, ia mengamati tangan, kaki, dan hampir seluruh bagian tubuhnya. Tak ketinggalan ia meraba wajahnya. Semuanya masih terasa nyata. Sungguh nyata.
__ADS_1
Terdiam, Chelsea merenung. Mencerna sesuatu yang baru ia alami barusan. Mencerna beberapa hal yang telah tersemat di benaknya sekarang. Ah, sebuah jawaban!
Cepat, Chelsea memutuskan untuk turun dari ranjang. Ia setengah berlari untuk keluar dari kamar tersebut. Setelah berhasil keluar, kecepatan langkah kakinya kian meningkat sampai membuatnya benar-benar berlari. Ia mencari sebuah alat antar untuk naik ke lantai selanjutnya, ya sebuah elevator yang masih sama.
Tergesa-gesa. Waktu satu menit pun terasa lama. Ah, seharusnya Chelsea bersikap lebih tenang. Namun rasanya malah tak sabar. Hingga akhirnya pintu elevator pun terbuka. Chelsea melakukan gerakan lari yang sama seperti sebelumnya. Ia menuju sebuah ruangan di mana seseorang berada.
Dan ....
”Tuan Reynof!” Chelsea memanggil nama Reynof sembari menggedor-gedor pintu kamar pria itu. ”Kumohon bangunlah!”
Reynof yang memang mudah sekali terbangun, segera membuka pintu dari dalam kamar. Ia yang sudah memboyong Chelsea untuk ke mansionnya lagi sejak satu minggu yang lalu, merasa heran sekaligus cemas dan penasaran. Ada apa? Pertanyaan itu yang langsung terlintas di benaknya.
“Kenapa? Ada masalah?” tanya Reynof sembari mencengkeram kedua pundak Chelsea.
Sebelum menjawab, Chelsea langsung memeluk erat tubuh pria itu. ”Aku hidup, akulah yang akan hidup.” Air matanya kembali berderai. ”Aku akan bersamamu, sampai akhir.”
Detik berikutnya, Reynof membawa Chelsea alias Emily ke dalam kamarnya. Lalu meminta wanita itu untuk duduk di sampingnya di sebuah sofa kesayangannya. Namun Reynof masih berusaha untuk menekan rasa penasarannya, ia membiarkan Chelsea alias Emily menangis untuk meluapkan segalanya.
Butuh waktu lima menit bagi Chelsea dengan jiwa Emily untuk meredakan sikap emosionalnya. Kemudian ia menarik diri dari pelukan Reynof lalu mengusap air matanya, pria itu bahkan juga membantunya membersihkan wajahnya.
”Sebelum tidur, sebenarnya aku sempat menangis sejadi-jadinya, karena aku kembali takut dan bingung. Aku tidak tahu kapan pastinya aku ketiduran. Dan dia ... Chelsea Indriyana, si Pemilik Raga muncul di mimpiku. Dia memang tidak mengatakan apa-apa, selain berterima kasih. Tapi, Tuan Reynof, dia menghilang, dia memudar. Di mimpi aku yakin bahwa akulah yang akan tinggal di tempat asing serba putih itu. Tapi nyatanya tidak, aku malah terbangun lagi di tempat ini,” kisah Chelsea.
Reynof harap-harap cemas. ”Ja-jadi?”
“Setelah aku bangun, aku mendapatkan jawaban atas semua kebingunganku. Aku yakin Chelsea sudah menerangkannya tanpa aku sadari sama sekali. Dia tidak dapat mendapatkan tubuhnya lagi, karena pada dasarnya dia memang sudah membuang tubuh ini dengan melakukan tindakan bunuh diri. Sementara aku yang dibunuh dan dibuang di tempatnya bunuh diri, hanya memungut cangkang yang kosong dan lantas menempati. Beberapa hal yang sempat terlupakan pun mulai aku ingat, termasuk ketika Ronald memberikan kecupan di tanganku sebelum mendorong mobilku, lalu Nora yang mencemooh dan mengambil kamera mobilku. Entah kesaksian dari jiwaku, atau memang aku belum sepenuhnya mati, saat melihat aksi keduanya. Tapi itulah yang aku ingat sekarang,” lanjut Chelsea.
Air mata menetes lagi dan segera Chelsea singkirkan. ”Seharusnya, Chelsea Indriyana tidak melakukan tindak bunuh diri seberat apapun masalahnya. Bukan ingin menyalahkan, karena aku juga paham bagaimana dia hidup dengan ayah yang buruk, tapi pasti akan jalan jika dia berjuang, bukan? Kini, dia tak lagi bisa mengambil tubuhnya karena dia memang sudah membuangnya. Mungkin inilah hukuman untuknya. Jiwaku hanya berusaha menyelamatkan diri dan menempati tubuh yang dibuang oleh gadis itu.”
__ADS_1
”Semua ... semua yang terjadi pada Chelsea Indriyana, gara-gara aku juga, bukan? Andai saja, a-andai saja aku tak melakukan transaksi dengan ayahnya, mungkin dia akan tetap hidup." Sungguh menyesal diri Reynof. Ia memang penjahat kelas kakap yang tak boleh dimaafkan sama sekali. ”Aku harus bagaimana untuk menebus kesalahanku?”
Chelsea yang tetaplah Emily berangsur menangkup wajah pria yang semakin hari tampak lebih sehat itu. ”Kau sekarang sedang menebusnya, Tuan Reynof. Kau mencintaiku yang adalah Emily. Tapi kau tidak bisa memiliki raga asliku sama sekali. Kau hanya bisa membayangkan seberapa cantik diriku dengan tubuh asliku. Saat ini kau justru harus menerima kenyataan di mana wanita yang kau cintai ini harus hidup dengan raga seorang gadis yang telah kau hancurkan. Kau harus menatap wajah ini dengan perasaan bersalah yang tidak boleh kau lupakan sama sekali, Tuan Reynof. Mulai sekarang, meski kau bisa bersamaku, kau akan terus dibayang-bayangi oleh dosa yang telah kau perbuat karena sudah melakukan transaksi yang membuat si Pemilik Raga sampai membunuh dirinya sendiri.”
“Maafkan aku, sungguh maafkan aku.”
Reynof tak kalah sedihnya. Dan ucapan wanita yang ia cintai memang ada benarnya. Meskipun bisa hidup bersama Emily, ia harus tetap mengingat dosanya. Bahagia yang ia rasakan, tentu tak akan sempurna. Namun itulah hukum karma. Ia baru sadar setelah Chelsea yang asli sudah tiada.
Chelsea yang sudah resmi menjadi identitas Emily, tentu akan terus hidup sebagai Chelsea Indriyana. Ia akan merawat Dahlia dengan sepenuh hatinya.
Perlahan namun pasti, Chelsea memeluk Reynof dengan erat. Ia akan mendampingi pria itu untuk menebus kesalahan. Namun ia pun tak akan terlalu menyudutkan. Reynof sudah berubah, dan wajib Chelsea bahagiakan.
”Ayo kita menikah, dengan menikah akan membuatmu seolah mempertanggungjawabkan kesalahanmu pada dua wanita sekaligus. Jika kau membelinya untuk bersenang-senang, sekarang kau telah membelinya untuk kau jadikan istri yang akan kau hormati dengan sepenuh hatimu. Dan untuk Emily, kau sudah baik hati mengembalikan perusahaan yang sejatinya milik Emily, hihi. Terima kasih lho, dan terima kasih karena kau sudah berubah. Jika kita menikah, aku akan tinggal di sini, dan akan pulang ke rumahku di siang hari untuk bertemu Ibu. Aku tak akan bekerja, karena kinerja Fabian sebagai CEO juga sudah luar biasa. Jika kau pulang dari kantor, kau harus menjemputku di rumah keluargaku, lalu aku akan menjadi istri yang siap melayanimu, Tuan,” ucap Chelsea dengan haru.
Reynof berangsur menarik dirinya. Ia menatap Chelsea dengan pancaran mata tak percaya. ”Serius? Kau melamarku?” tanyanya.
“Mm." Chelsea mengangguk. ”Aku melamarmu, untuk membuatmu mempertanggungjawabkan segala kesalahan pada raga ini. Dan aku juga ingin membahagiakan dirimu sebagai sosok yang tinggal di tubuh ini, Tuan Reynop! Hehe. Tapi satu hal yang pasti, aku akan tetap menjadi Chelsea Indriyana. Nama Emily, akan aku berikan pada anak kita, jika dia lahir sebagai perempuan nantinya. Biar dia yang mengukir sejarah indah sebagai Emily yang baru. Bagaimana?”
Reynof tak mampu berkata-kata. Ia langsung meraih wajah Chelsea dan memberikan kecupan manis. Wanita itu sudah menyelamatkannya dari rasa bersalah yang sangat pekat. Dan pada akhirnya sosok Chelsea Indriyana—sang pemilik raga—justru memberikan bantuan begitu besar. Selamanya Reynof akan terus memohon ampun pada sosok itu. Selamanya ia tidak akan lupa pada sosok itu kendati ia sudah merasa bahagia dengan Chelsea yang baru.
Sungguh ending yang bahagia. Lamaran dari Chelsea telah Reynof terima. Dua pelaku pun sudah tersiksa si dalam penjara dan sedang menunggu waktu dieksekusi yang sudah pasti, semua pihak yang terlibat satu per satu ketahuan dan semuanya dihukum dengan pidana kurung lumayan panjang. Nurdin selaku pengacara pihak Emily sudah bekerja dengan keras, meskipun dalam keadaan sakit. Sungguh luar biasa.
Perusahaan Pano Diamond Group juga sudah Reynof kembalikan pada si pemilik yang sebenarnya. Namun rupanya Chelsea tidak berencana untuk kembali memimpin, karena sudah sangat memercayai Fabian. Chelsea malah memilih menjadi istri yang baik sekaligus anak yang akan kerap mengunjungi Dahlia. Saat ini pun, Fabian juga dengan senang hati turut merawat Dahlia di rumah keluarga Rukmana. Pelayan-pelayan di rumah itu tak jadi kehilangan pekerjaan, dan meski pernah dianggap terlibat dalam menutupi kasus kematian Emily, mereka dibebaskan karena murni hanya sedang dimanipulasi oleh Ronald dan Nora.
Yang terakhir, adalah kedekatan Fabian dengan Kayla yang dikabarkan sudah menjalani kencan. Yah, tinggal Ronald saja yang menjadi jomblo akut, meskipun sudah melirik salah satu pelayan di rumah Reynof yang paling manis.
***
__ADS_1
...TAMAT...