
Pertemuan Reynof dengan pengusaha dari Prancis bernama Gaspard Cassel berjalan dengan cukup baik, meskipun harus melalui diskusi yang sangat panjang. Dan Chelsea memberikan kontribusi lumayan besar untuk mempengaruhi pengusaha asing tersebut.
Karena sejatinya yang berperan di dalam tubuh gadis itu adalah Emily, sehingga tak sulit baginya dalam berbicara dan memikat Gaspard Cassel yang sebenarnya sangat sulit diajak bicara.
Ada pula ungkapan yang Chelsea katakan mengenai kejanggalan-kejanggalan yang terjadi di tragedi kematian Emily, bahkan masih ada orang yang diam-diam menyelidiki, membuat Gaspard sempat bimbang. Dan akhirnya Gaspard yang sudah jauh-jauh datang dengan segala pertimbangan, memutuskan untuk berada di pihak Reynof dan akan membatalkan kerja sama dengan Pano Diamond karena kehadiran pimpinan baru yang tak dikenalnya. Tentu saja ada syarat dan kesepakatan yang Gaspard berikan pada Reynof, sebelum peresmian kerja sama dilakukan.
Setidaknya hasil pertama sudah cukup melegakan. Dan memang benar bahwa ketika masih hidup sebagai Emily, Chelsea belum melakukan transaksi berlebihan termasuk juga kerja sama secara resmi dengan Gaspard Cassel. Pria asing itu hanya ingin datang untuk berbicara banyak hal, termasuk memastikan tempat untuk mega proyek yang sedang direncanakan. Sehingga Gaspard pun belum sepenuhnya terikat kerja sama dengan Pano Diamond Group hingga saat ini.
Chelsea menghela napas lega setelah keluar dari elevator yang sudah dua menit membawa dirinya beserta Reynof ke basemen hotel. Terhitung tiga jam, ia mencoba merundingkan banyak hal dengan pengusaha dari Prancis tersebut, disertai beberapa gagasan sekaligus rencana yang akan menguntungkan mega proyek nantinya.
Kemampuan Chelsea yang begitu apik tentu saja membuat Reynof semakin yakin dalam mengambil keputusan untuk memercayai bahwa gadis itu adalah Emily. Masuk akal atau tak masuk akal, hal itu memang sudah terjadi. Namun Reynof memilih bungkam dan tetap memperlakukan Chelsea layaknya biasanya, tanpa sekalipun membahas keputusannya, sebab ia ingin melindungi sosok Emily yang sebelumnya sudah mati karena dibunuh entah oleh Ronald atau Nora, atau mungkin malah keduanya.
“Kau sebegitu senangnya?” tanya Reynof sembari memasuki kabin mobil bagian belakang sesaat setelah Ruben yang langsung menyambutnya di depan elevator, membukakan pintu untuknya.
Chelsea belum menjawab pertanyaan dari Reynof lantaran masih harus membuka pintu mobil yang lain.
Namun sebelum Chelsea memasuki kursi penumpang dekat bagian kemudi, Reynof langsung berteriak, “Hei! Duduklah di sampingku!”
__ADS_1
“Kita masih dalam keadaan bekerja, bukan berkencan, Tuan! Dan kita akan menuju kantor, jadi, duduk di belakang hanya akan membuat para karyawan penasaran,” tandas Chelsea.
“Turuti ucapanku, Nona! Aku tidak peduli pada pandangan karyawan. Mereka hanyalah orang yang aku bayar. Lagi pula, kau pun bukan orang yang akan memedulikan orang lain, bukan? Jadi, kenapa harus berkata seperti itu? Dan lagi, ini sudah jam makan siang! Kita makan bersama di luar saja!”
Ruben menatap Chelsea. ”Ke belakang saja, Nona,” katanya.
“Aduh, merepotkan sekali ...,” lirih Chelsea.
Tanpa banyak bicara lagi, Chelsea langsung membawa sepasang kaki indahnya untuk menuju kabin mobil bagian belakang. Ia membuka pintu mobil itu, kemudian bergerak melesakkan diri. Di samping Reynof, Chelsea duduk. Ia memandang Reynof yang juga sedang memandangnya. Dan ketika Ruben sudah melajukan mobil itu, mata Chelsea yang lebar mendadak memicing tajam.
“Apa kau sebegitunya merindukan diriku, Tuan Reynof yang Terhormat?” celetuk Chelsea.
”Apa? Nona Judes?!” Chelsea tidak terima. “Bukankah aku terlalu cantik untuk dianggap sebagai wanita judes yang kerap mengerutkan alis?”
”Dan kau kerap melakukannya. Jadi, aku rasa pantas-pantas saja. Ah sudahlah! Jawab pertanyaanku yang belum kau jawab sama sekali.”
Chelsea menghela napas dan mulai meluruskan tubuh beserta pandangannya. Sebuah senyuman menarik kedua sudut bibirnya. “Ya, aku sudah cukup lega, meski masih banyak hal yang harus aku lakukan, maksudku kita, karena syarat dari beliau juga tak bisa dianggap enteng, tapi setidaknya kita sudah berhasil membuat kesepakatan. Nora pasti akan menangis setelah mendengar kabar tentang pembatalan kerja sama dari Mr. Gaspard. Padahal kerja sama dengan beliau adalah sesuatu yang paling ditunggu-tunggu oleh Emily, dan para petinggi Pano Diamond. Nora akan hancur karena kegagalannya dalam mencapai rencana besar kakak sepupunya.”
__ADS_1
Rahang Reynof mengeras. Ia mulai memikirkan beberapa hal. Mengenai Chelsea alias Emily yang justru memberikan kesempatan besar itu untuknya. Padahal semasa hidup sebagai Emily, wanita itu benar-benar ketus dan enggan untuk bekerja sama dengan pihak Neverley Group yang Reynof miliki.
Dia sampai merelakan perusahaannya hancur, demi melaksanakan keinginan dendam kesumatnya. Emily, ... apa yang sebenarnya terjadi? Tak mungkin kau melupakan semua kejadian terakhir sebelum dirimu mati, bukan? Batin Reynof. Sayangnya ia tidak bisa bertanya secara langsung, karena khawatir jika Chelsea merasa mual dan pusing seperti yang terjadi pada saat ia bertanya di hari sebelumnya.
***
Hari ini, Ronald memutuskan untuk pulang ketika jam makan siang sudah tiba. Ia tidak memedulikan ajakan para rekannya yang baginya tak selevel dengan dirinya. Ketika sudah sampai di rumah peninggalan mendiang istrinya, alih-alih langsung menyantap makanan, Ronald justru menuju kamar milik Nora.
Sebenarnya, Ronald sudah sempat memeriksa seluruh kamar itu tadi malam, ketika Nora tak kunjung pulang sampai larut. Namun Ronald belum menemukan apa pun yang bisa dianggap sebagai sebuah barang bukti. Ucapan Chelsea mengenai kemungkinan masih ada barang bukti yang tersisa dari kejadian kematian Emily, memang cukup menganggu pikiran Ronald akhir-akhir ini, membuatnya sama sekali tidak tenang dan berencana mencari di mana keberadaan benda yang bahkan belum tentu ada tersebut.
“Nora itu licik, dia bahkan yang mengatur kematian untuk pamannya sendiri dengan menggunakan diriku. Dia pasti masih menyimpan jimat bukti itu untuk membuatku tetap bertekuk lutut padanya. Tapi tidak, Nora, cukup sampai di sini saja kau mengendalikan diriku. Aku akan mencari barang itu agar kau yang berbalik bertekuk lutut padaku! Kalau barang bukti kecelakaan Emily memang tidak ada, setidaknya kecelakaan kedua orang tua Emily mungkin masih ada,” gumam Ronald yang sudah memasuki kamar Nora, setelah belakangan tak ia kunjungi karena ia memutuskan untuk tidur di kamar tamu.
“Aku tidak bisa menerima kenyataan seperti ini. Meski kau tak mengusirku, kau tetap mengucilkanku. Membuatku menjadi pria rendahan yang bekerja di tempat yang rendah, dan kau justru mulai menunjukkan keinginanmu pada sosok Fabian! Ini sama sekali tidak adil!” ucap Ronald menutup kalimat super panjangnya.
Ronald yang juga telah bekerja di Pano Diamond, di divisi paling lemah, memang kerap melihat Nora bergelayut manja di lengan Fabian. Tentu Ronald yang sudah mengenal Nora sejak dua tahun yang lalu tahu betul mengenai wanita itu, dan mungkin Nora telah menyukai Fabian. Sekarang posisi Ronald sedang di ambang kehancuran, dan ia tidak bisa hanya berdiam diri sembari menerima sikap Nora yang serakah dan egois.
Satu hal yang baru Ronald sadari, adalah selama ini Nora tidak mencintainya. Nora hanya ingin memanfaatkannya sebagai algojo untuk menghilangkan nyawa Emily beserta kedua orang tua Emily. Lalu setelah mencapai tujuan untuk memiliki seluruh aset mereka, Nora langsung melepeh Ronald begitu saja.
__ADS_1
Andai saja Ronald tetap memilih Emily yang sangat mencintainya, dan menyimpan rahasia pembunuhan yang telah ia lakukan pada kedua orang tua Emily, mungkin hidupnya tetap aman sampai sekarang.
***