Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya

Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya
Penangkapan Nora


__ADS_3

Chelsea tahu dirinya bersalah, dan ia memang wajib bertanggung jawab. Apalagi untuk Fabian yang bisa saja sampai terpuruk karena harus melalui one night stand dengan Nora. Chelsea sendiri tidak pernah menyangka bahwa sekretaris pribadinya kala hidup sebagai Emily itu akan sampai menempuh jalan sedemikian rupa. Ia tidak pernah memikirkan hal itu, karena hanya meminta Fabian berperan sebagai teman yang baik bagi Nora. Namun, Fabian malah merelakan diri.


Hal itu bisa saja menjadi keputusan sulit bagi Fabian, setelah mendengar bahwa Chelsea hampir celaka karena Ronald. Keadaan memang semakin runyam. Apalagi untuk perasaan Chelsea yang sudah tidak karuan. Rasa bersalahnya pada Fabian dan Reynof, rasa takutnya perihal ia akan kembali mati, dan kegelisahannya jika pada akhirnya rencananya tak berhasil, sungguh membuatnya nyaris gila.


Namun Chelsea sudah tidak bisa mundur. Meski sempat menangis semalaman dan sampai membuat Reynof cemas hingga tak bisa meninggalkannya sendirian di dalam kamar, Chelsea akhirnya memutuskan untuk bangkit. Ia tidak mau semua pengorbanan mereka yang terlibat menjadi sia-sia. Sudah waktunya menghentikan segalanya agar tidak ada lagi korban yang merelakan kondisi mental hingga kehormatan.


Dengan menggunakan ponsel cadangannya yang berhasil ia ambil dari rumahnya kala hidup sebagai Emily, Chelsea berencana menyebarkan rekaman perihal pengakuan Nora yang sudah tersunting sedemikian rupa. Reynof pun telah meminta Ruben untuk memotong beberapa adegan dari rekaman tersebut agar Fabian tak ikut terlibat. Dan pada akhirnya hanya beberapa penggal dari kalimat Nora, sekaligus juga wajah Nora yang terekam di video hasil suntingan sekretaris utama Reynof Keihl Wangsa tersebut.


***


Sesuai intruksi dari Reynof, ya Reynof, karena kemarin Chelsea benar-benar drop, Fabian meminta Nora untuk kembali menggelar perjamuan di luar perusahaan sekaligus pekerjaan dengan para petinggi, dengan alasan untuk lebih mempererat hubungan dengan mereka. Perjamuan tersebut digelar di salah satu ruang pertemuan di hotel yang masih di bawah naungan Pano Diamond Group. Di momen ini, Fabian meminta agar Nora tenang dan berbicara sesuai sarannya demi mendapatkan kepercayaan dari para petinggi lagi.


Meski sulit, karena beberapa orang masih kerap mencibir diam-diam, Nora terus berdiri sebagai pimpinan yang harus mendapatkan kepercayaan. Ia memimpin jalannya pertemuan tersebut dengan bijak dan tak lagi egois atau kerap menepis saran dari orang-orang. Selama ada Fabian, Nora menjadi jauh lebih tenang. Apalagi belum lama ini, ia dan pria itu sempat bersama dengan momen yang sangat manis.


“Saya sungguh akan bekerja dengan lebih baik lagi, Tuan dan Nyonya, saya tidak akan pernah bersikap kekanak-kanakan lagi, saya mohon bantuannya,” ucap Nora dan mengangkat gelas untuk memulai sulang.


Aku harap, mereka bisa datang lebih cepat. Kata Nyonya Emily, video itu sudah diunggah oleh reporter itu sejak setengah jam yang lalu. Jadi, Daffa tak mungkin mendapatkan penolakan lagi untuk mengusut kasus ini jika video itu telah menjadi pemberitaan terpanas di saat ini, Nora pun masih belum tahu dan hal ini akan sangat tepat untuk membuatnya terguncang. Sebentar lagi, pesan broadcast akan muncul di ponsel para petinggi, batin Fabian harap-harap cemas ketika Nora masih sibuk mendengarkan ucapan dari salah satu anggota dari pertemuan tersebut.


Fabian menatap waktu di tangannya dan ....


”Sudah waktunya,” gumam Fabian.


Usai Fabian selesai berbicara, suara ponsel para anggota pertemuan mulai terdengar. Karena pertemuan memang bukan meeting yang formal, melainkan hanya agenda perjamuan untuk mempererat hubungan, membuat mereka tidak sampai mematikan ponsel.


”Ada apa?” tanya Nora ketika hanya dirinya yang tidak mendapatkan pemberitahuan apa pun di ponselnya.


”Aaaa!” Seorang wanita bernama Dewi sampai terperanjat setelah membuka pesan yang masuk, dan pesan tersebut berisikan video yang merekam sosok Nora yang hanya dengan balutan selimut saja. ”I-ini apa? Coba lihat! Lihat ponsel kalian!” Ia meminta semua yang datang di perjamuan tersebut untuk cepat menyaksikan video yang dikirim, karena ia yakin mereka juga menerimanya. Dewi berpikir demikian karena nada pesan di ponsel mereka terdengar bersamaan.


Suara Nora terdengar ketika video diputar dari ponsel para hadirin. Beberapa pengakuan Nora membuat mereka sampai melebarkan mata, dan langsung menatap jijik ke arah Nora. Sungguh, tak terduga. Awalnya mereka hanya berspekulasi saja, tetapi kenyataan malah terjadi sesuai kecurigaan mereka.


Nyonya Emily mengedit video ini habis-habisan, sampai tak ada satu pun namaku yang terdengar? Batin Fabian yang sudah menyaksikan rekaman tersebut. Detik berikutnya, ia langsung membuka media sosial, dan mencari beberapa akun gosip hingga berita. Rupanya video yang sudah dikirim ke salah reporter kini telah diunggah ulang hingga menjadi berita viral.


Suasana mendadak heboh dan semua orang menuding Nora sebagai penjahat menjijikkan. Bahkan para petinggi wanita langsung melemparkan tisu kotor hingga alat makan ke arah Nora. Nora bangkit, lalu mundur. Ia benar-benar terkejut. Wajahnya menunjukkan kecemasan sekaligus ketakutan yang sudah sangat besar.

__ADS_1


”Dasar pembunuh kau, Nora! Tega-teganya kau melakukan hal itu pada kakakmu!”


”Gila! Serakah! Psiko! Wanita edan!”


”Bisa-bisanya kau menipu kami, Nora!”


“Luar biasa buruk!”


“Dasar pembunuh!”


Tubuh Nora gemetaran, dan sampai terjatuh ke belakang saking bingungnya dalam bergerak. Serangan dadakan yang ia dapatkan setelah sebelumnya memiliki mood yang baik, memang sukses meluluhlantakkan hatinya.


“Tidak! Tidaaak! Bukan aku!” tepis Nora sembari menghalangi puluhan serangan dari para pemegang saham tersebut. ”Tolong! Tidak! Dengarkan saya!”


Fabian hanya diam seribu bahasa. Ia tidak berbuat apa-apa. Semuanya berjalan sesuai rencana. Tinggal menunggu Daffa beserta tim dan sang pengacara saja.


Ketika suasana semakin ricuh, harapan Fabian pun terkabul. Pintu ruangan pertemuan itu dibuka dengan paksa meski salah satu staf hotel tampaknya sudah berusaha mencegah.


”Tolong tenang, kami dari kepolisian! Jika ada yang terluka, kalian bisa menjadi tersangka!” Daffa yang baru masuk langsung berkata tegas, sampai keadaan mulai kondusif. Setelah semua hadirin kembali tenang dan duduk, Daffa mengambil langkah untuk menghampiri Nora.


”Nona Nora,” ucap Daffa pada Nora yang masih terduduk dengan kondisi yang sangat memilukan.


Nora menatap bingung ke arah sang penyidik. Detik berikutnya, ia berangsur menoleh ke arah Fabian. ”Fabian? Bisa kau jelaskan semuanya? Kenapa kau diam saja?! Aku diserang secara brutal! Kau bilang kau akan selalu melindungiku, 'kan?” Ia kembali menatap Daffa. ”Anda polisi, 'kan?! Tolong tangkap mereka semua! Mereka menyerang saya tanpa alasan!”


Daffa tersenyum masygul kemudian berkata, ”Anda harus ikut kami ke kantor, dan Anda ditangkap atas tuduhan pembunuhan terhadap mendiang Nyonya Emily. Saya dan tim sudah membawa surat perintah penahanan. Anda berhak untuk tetap diam dan didampingi pengacara, Nona Nora.”


”A-apa?!” Wajah Nora kebas. Dunianya seolah runtuh detik itu juga. Dan sebelum dirinya dibantu bangkit, Fabian mendadak melemparinya sebuah ponsel.


”Anda harus bertanggung jawab atas perbuatan Anda sendiri, Nona Nora. Saat ini kasus Nyonya Emily sudah dibuka kembali,” ucap Fabian.


Nora menatap video itu dengan bingung. Fabian telah menjebaknya di malam itu!


Detik berikutnya, Nora berusaha bangkit dan menolak bantuan dari dua petugas kepolisian. ”Kau? Kau menjebakku, 'kan?! Aaaaaarrrrrrgggghhh! Fabian, kau!”

__ADS_1


Segala caci maki, sumpah serapah, hingga umpatan langsung keluar dari bibir Nora. Dan tak hanya itu saja, karena saat ini Nora sudah menggila. Ia tak segan untuk memukul-mukul tubuh Fabian sembari menangis histeris. Meski para petugas berwajib sudah berusaha menenangkan, Nora masih enggan untuk diam.


“Tuan Daffa, mohon izin,” celetuk Nurdin yang sejak tadi diabaikan. ”Saya mendapatkan pesan anonim yang meminta saya untuk datang ke tempat ini.”


Daffa berangsur menoleh ke belakang, dan akhirnya menghadapkan diri pada pria yang duduk di kursi roda itu. ”Dengan siapa ya?” tanyanya bingung.


”Nurdin. Pengacara lama keluarga Rukmana. Dan saya telah mendapatkan surat yang dikirimkan langsung oleh mendiang Nyonya Emily, sebelum waktu kematian beliau.”


Pengakuan Nurdin membuat Nora langsung kicep. Matanya yang membulat penuh menatap pria tua itu. Nurdin. Ya, Nora pun mengenal siapa pria tua itu.


”Tapi karena kondisi saya yang belakangan ini memburuk, saya belum sempat menyampaikan surat ini, termasuk ketika Nyonya Emily dikabarkan mengalami kecelakaan. Dan sejujurnya saya tidak bisa memercayai kerabat beliau yang masih tersisa, ditambah dengan penutupan kasus yang begitu cepat, membuat saya harus lebih berhati-hati.” Nurdin meminta sopir pribadinya untuk menyerahkan surat itu pada Daffa. ”Belakangan ini saya mendapatkan pesan dari orang tak dikenal, yang meminta saya untuk menyerahkan surat tersebut ketika sudah tiba waktunya. Saya sudah memastikan bahwa surat tersebut ditulis tangan oleh Nyonya Emily. Dan saya pikir orang tak dikenal yang kerap menghubungi saya adalah Sekretaris Fabian, sebab mungkin saja Sekretaris Fabian telah menemukan sesuatu yang mencurigakan, seperti misalnya keanehan yang tertera di surat wasiat.”


”A-apa?” Nora semakin merasa dikhianati oleh orang yang baru saja hendak ia percayai. Ia pikir Fabian adalah pria yang naif dan baik hati, yang tentu juga akan selalu tunduk padanya. Namun rupanya pria itu justru merencanakan sesuatu di belakang dirinya. Hancur sudah semuanya. Bahkan Ronald saja sudah sukses kabur dari situasi ini.


”Saya harap Anda menangkap Nona Nora dan Tuan Ronald, karena saya yakin mereka dalang di balik kematian nona muda saya. Dan saya harap Anda berkenan untuk melakukan penyelidikan tidak hanya pada hal yang menyangkut kematian nona muda saya, melainkan juga yang berkaitan dengan surat wasiat yang saya yakin merupakan surat palsu. Sebab selama bertahun-tahun, yang menjadi pengacara paling setia hanyalah saya. Saya pun mengenal baik Nona muda saya,” tuntut Nurdin.


”Saya bersedia menjadi saksi atas penyelidikan keaslian surat wasiat, dan saya pun tahu siapa pengacara yang membacakan surat wasiat untuk Nona Nora, Tuan Penyidik.” Barun yang kala itu menjadi saksi pembacaan surat wasiat bangkit dan berkata demikian.


Dan di sisi lain, Hikman yang turut andil dalam membantu Nora dalam membuat surat wasiat palsu mulai ketakutan.


Daffa manggut-manggut. ”Kami akan bekerja semaksimal mungkin, dan terima kasih atas semua informasi yang Anda semua berikan. Termasuk Anda, Tuan Saksi, saya harap Anda bersedia untuk ikut dengan kami.”


”Baik,” sahut Barun.


Nurdin menghela napas. ”Meski saya sudah rapuh, saya yang akan menjadi pengacara bagi Nona muda saya alias Nyonya Emily. Saya juga menuntut, semua orang yang menutupi fakta kematian beliau harus turut ditindak! Karena saya yakin, ada pihak di antara kalian yang terlibat, Tuan Penyidik!”


Daffa menelan saliva. ”Saya akan berusaha, Pengacara Nurdin.”


Tak mau menunggu lama lagi, Daffa kembali memusatkan perhatian pada Nora, ketika wanita itu kian histeris dan merengek. Meski mendapatkan tuntutan dan sedikit sindiran dari Nurdin, Daffa masih tetap merasa lega. Karena setelah melakukan penyelidikan secara diam-diam, kini dirinya bisa menangkap si tersangka. Setelah ini pun penyelidikan besar-besaran akan segera dimulai. Semua pihak yang terlibat di dalam rencana menyembunyikan fakta memang harus dihukum, kendati atasan teratas Daffa sendiri. Otopsi atas jasad Emily juga akan dilakukan setelah membongkar kubur wanita itu.


Dan akhirnya Nora diseret paksa ketika menolak dan mengamuk bak orang sedang kesurupan macan.


Chelsea yang turut datang dan sibuk memantau dari luar ruangan berangsur menghela napas setelah melihat adik sepupu kesayangannya ditangkap. Senang, tetapi juga perih.

__ADS_1


”Rasanya ... tetap menyakitkan,” gumam Chelsea.


***


__ADS_2