Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya

Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya
Posisi Nora yang Berada di Zona Tidak Aman


__ADS_3

Nora harus menghentikan langkahnya tepat di depan pintu ruangan pertemuan yang tidak tertutup rapat. Entah disengaja oleh semua orang yang ada di dalam ruangan itu, atau hanya sekadar ketidaksengajaan yang dilakukan oleh seseorang. Hal yang membuat Nora tak langsung masuk ke dalam ruangan itu, dikarenakan adanya perbincangan panas yang terjadi di dalam ruangan itu.


“Waaah ... perusahaan ini lama-lama akan hancur kalau masih dipegang oleh wanita itu. Benar tidak, sih? Gilanya, ketika Nyonya Emily berusaha keras untuk menahan Gaspard Cassel agar Mr. Gaspard tidak mengumumkan rencana kedatangannya. Nyonya Emily bahkan sampai memberikan banyaknya janji yang bisa menarik minat tuan besar itu. Eh, si wanita egois dan sok pintar itu malah menghancurkan rencana brilian kakaknya! Halaaaah ....” Suara seorang pria terdengar.


“Memang benar, Tuan Ibra,” sahut suara pria yang lain. “Saya sendiri benar-benar tidak habis pikir. Setiap hari nilai saham terus turun! Pengunjung hotel pun menurun drastis. Gara-gara dia tidak mau mengadakan promosi khusus hari raya dan malah menaikkan harga, jadinya malah berantakan semua! Nora itu benar-benar sok pintar, padahal otaknya tumpul!”


“Saya malah mulai menerka-nerka, apa Nona Nora sama sekali tidak pernah bersekolah manajemen dan bisnis! Kok bisa sebodoh itu dalam mengambil kebijakan? Bahkan kebijakan yang sudah ada sejak zaman generasi pertama, semuanya ingin dia hapus begitu saja. Dia mengubah regulasi besar-besaran dan membuat kita rugi bandar!” Seorang wanita tidak ketinggalan dalam menggibahi sang pemegang saham terbesar.


“Sangat berbeda dengan Nyonya Emily, ya? Betul-betul jauh perbandingan kemampuan keduanya. Bahkan ketika kita membahas rencana bisnis Nyonya Emily saja, wanita sok pintar itu langsung murka. Apakah hal itu tidak aneh bagi kalian semua? Saya pikir itu aneh lho!” sahut yang lain lagi.


Si pria pertama yang bernama Ibra langsung menimpali, ”Ya, aneh! Sangat aneh! Nora itu seperti tidak suka semua hal yang dibuat oleh kakak sepupunya sendiri. Padahal, kalau sadar bahwa dirinya tidak kompeten dan justru berotak tumppul, ya dia tinggal jalankan saja semua hal yang sudah Nyonya Emily susun. Eh, dia malah enggan dan sok pintar! Dia itu jatuhnya malah seperti anak SMP yang keras kepala! Menyebalkan!”


”Karena dia merasa sudah memiliki segalanya, Tuan Ibra, sehingga dia sampai tidak menyadari kebodohannya sendiri.” Seorang wanita lain mulai ikut bicara. “Padahal kita juga memiliki kaitannya dengan perusahaan ini. Meski dia pemegang saham terbesar, jika tanpa kita dia pasti bakal hancur! Maksud saya perusahaan ini. Kita masih berhak atas perusahaan ini. Sebagai sesama pemegang saham, kita wajib menggugat Nora! Ini sudah keterlaluan! Kalau bisa, kita segera lengserkan saja dia dari posisi utama!”

__ADS_1


“Itu benar, Bu Dewi!” sahut pria yang lainnya lagi. “Saya sangat setuju. Kita berhak menggugat Nora yang telah memberikan banyak kerugian!”


“Hei, hei, tunggu. Dengarkan saya ... saya memiliki satu kecurigaan lho.” Pria lain mulai ambil suara juga. “Apa kalian tidak merasa bahwa kecelakaan yang dialami Nyonya Emily itu aneh? Masih banyak warganet yang menyoroti kasus itu hingga sekarang, karena dianggap masih ada banyak hal yang janggal, sampai muncul beberapa konspirasi. Bayangkan saja, Nyonya Emily yang ibaratnya adalah seorang ratu, untuk apa melewati jalan sepi dan terpencil itu? Untuk apa?! Mabuk? Hei, ayolah, kita tahu Nyonya Emily tidak menyukai alkkohol jenis apa pun! Setiap kali ada pesta pun, Nyonya Emily selalu memesan minuman lain!”


Deg! Jantung Nora seperti dihentak. Ucapan pria yang ia pikir adalah Tuan Surya membuatnya langsung menelan saliva. Di mana keringatnya pun turut keluar, membahasi dahi dan lehernya. Sudah pasti gawat jika mereka sampai ingin memikirkan kasus kematian kakak sepupunya.


Bahkan saat ini pun, tubuh Nora sudah gemetaran. Sialnya, ia mengalami kejadian yang buruk di hari yang sama, setelah beberapa saat yang lalu, ia benar-benar dipermalukan oleh Reynof Keihl Wangsa serta Chelsea Indriyana. Dan memang benar, setelah kabar pertemuan antara Reynof dan Gaspard Cassel beredar, para petinggi Pano Diamond langsung meminta konferensi dadakan.


”No, no, itu tidak masuk akal.” Sosok yang bernama Surya kembali menyahuti. ”Karena nyatanya Ronald malah bekerja di divisi yang dianggap buangan oleh para staf perusahaan ini, Nyonya Dewi. Saya malah berpikir bahwa ... Nona Nora-lah yang ada di belakang tragedi itu. Marilah kita sedikit mengulik masa lalu, di mana hubungan Tuan Rukmana dan Tuan Rusmana itu memang tidak bagus. Setelah dipecat karena telah melakukan penggellapan dana atas penjualan unit apartemen, Tuan Rusmana langsung diusir. Lalu Tuan Rusmana meninggal. Kabarnya pada saat itu, Tuan Rukmana enggan untuk membantu dan sampai membuat sang adik tidak selamat.”


“Tuan Surya benar, tapi ada salahnya, karena nyatanya Tuan Rukmana bukan tak ingin membantu. Faktanya beliau sudah membantu, tapi lagi-lagi, Rusmana itu bikin ulah lagi. Dan kematian Rusmana pun diakibatkan oleh dirinya sendiri yang sudah kecanduan alkkohol,” sahut pria yang lainnya.


Surya terdengar tertawa. “Memang benar, Tuan Mario. Tapi untuk Nora yang pada saat itu juga masih kecil, tentu yang dia percayai hanyalah apa yang terlihat saja. Bisa saja dia marah dan ingin mengambil perusahaan ini demi balas dendamnya. Meninggalnya Tuan Rukmana dan sang istri memudahkan Nora untuk mendekati sekaligus lantas membunuh Emily. Karena nyatanya, kita pun tahu bahwa setiap kita membahas semua hal mengenai kinerja dan sosok Nyonya Emily, Nora langsung naik pitam. Padahal kita sama sekali tidak menyinggung hatinya sama sekali, bukan? Tapi dia malah kebakaran jenggot sendiri. Hal itu saja sudah sangat cukup untuk dijadikan sebagai bahan kecurigaan. Apalagi setelah Nyonya Emily tiada, semua harta langsung jatuh di tangan Nora.”

__ADS_1


”Benar, benar!” timpal Ibra. ”Wanita semuda Nyonya Emily, bahkan meski beliau adalah orang yang pintar, saya rasa belum tentu lho beliau sampai memikirkan surat wasiat. Tapi ... ah kalian tahu sendirilah!”


Di dalam sana, perbincangan yang membahas tentang Nora masih berlanjut, tetapi dua pria memutuskan tetap diam. Adalah Hikman dan Barun, dua sosok pria yang pernah turut mendengar pembacaan surat wasiat. Namun meski keduanya tidak ambil suara, perasaan mereka tentu tak sama. Hikman yang telah berkomplot dengan Nora dan Ronald, cenderung kerap menelan saliva karena takut jika surat wasiat yang ia ketahui palsu itu terungkap. Sementara Barun yang sudah merasa aneh sejak dulu, terus tersenyum-senyum.


Barun berharap semua yang ada di dalam ruangan itu benar-benar bersepakat untuk menggugat Nora yang sudah banyak memberikan kerugian, di saat kedudukan Nora pun belum terlalu lama. Dan hal-hal janggal yang masih diperhatikan oleh banyak orang, bisa mereka manfaatkan untuk menyudutkan bahkan melengserkan Nora dari kursi pimpinan. Jika seandainya Nora adalah seorang tersangka, tentu saja mereka bisa mengusir Nora yang sudah pasti terancam masuk penjara.


Sementara itu, Nora yang sudah kena mental, mulai menangis tanpa suara. Ia yang menyadari bahwa saat ini dirinya tak memiliki pendukung satu pun, akhirnya semakin tak punya nyali sama sekali.


Dan tak lama berselang, Nora memutuskan untuk pergi tanpa menghadiri pertemuan yang sebenarnya mengharuskan dirinya untuk datang. Mau bagaimana lagi, ia tidak ingin menemui para penghujatnya ketika dirinya berada dalam keadaan terpuruk dan frustrasi. Di mana ketakutan pun sudah mulai merajai sekian rasa yang mengisi relung hatinya saat ini. Ia takut jika fakta kematian kakak sepupunya diketahui.


Karena meski sudah berencana untuk melimpahkan segala kesalahan pada Ronald, nyatanya posisi Nora malah sama sekali tidak aman. Andai saja yang naik sebagai pimpinan utama adalah Ronald, sudah pasti pria itu yang akan dicurigai. Namun sayangnya, Nora justru menaruh Ronald di bagian paling bawah, yang justru membuat pria itu aman dari kecurigaan orang-orang.


***

__ADS_1


__ADS_2