Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya

Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya
Undangan Temu Dari Ronald


__ADS_3

Di dalam ruang kerjanya yang sudah kosong, Ronald merasa kesal karena saat ini Chelsea justru mengabaikan telepon dan juga pesan-pesannya. Rupanya gadis itu memang sedang mempermainkan dirinya. Daripada ketika dibuang oleh Nora, entah mengapa, harga diri Ronald justru terluka oleh sikap Chelsea yang centil dan sok kecantikan itu. Ronald sangat geram sekaligus gemas dan rasanya ingin segera membuat Chelsea merasa kapok sekapok-kapoknya.


Sayangnya sampai saat ini Ronald masih belum mendapatkan cara untuk bisa memberikan pelajaran pada bocah perempuan berusia dua puluh tahun tersebut. Belum lagi ketika Chelsea memiliki backingan yang sangat kuat. Meski merasa bahwa dirinya harus tetap hati-hati, terutama pada keberadaan Reynof, Ronald yang sudah terlanjur merasa geram serta dipermalukan masih saja mencari cara untuk setidaknya bisa membuat Chelsea sadar diri. Apalagi ketika Chelsea hanyalah gadis kemarin sore, tetapi malah sudah lancang mempermainkan Ronald yang mau bagaimanapun adalah suami dari seorang wanita kaya-raya. Ronald pun masih harus mendapatkan kembali ponsel cadangan milik mendiang istrinya tersebut.


“Aku harus berpikir!” ucap Ronald dengan tegas.


***


Di hari berikutnya ...


Reynof sedang memiliki agenda penting untuk rapat bulanan dengan para petinggi perusahaannya. Dan kali ini, pria blasteran Prancis itu hanya membawa serta Ruben dan Kayla. Chelsea yang masih terbilang sekretaris baru, memutuskan untuk tidak ikut kendati ia sudah memberikan suatu keberhasilan yang luar biasa. Sebenarnya selain masih tidak nyaman, saat ini kondisi Chelsea belum sepenuhnya membaik. Sejak kemarin, perutnya memang kerap melilit. Padahal sejak tinggal di tubuh Chelsea Indriyana, ia terhitung jarang mengalami sakit perut karena tamu bulanan, atau malah seingatnya ia baru mendapatkan tamu bulanan di bulan ini saja.


“Benar juga, kenapa aku baru mendapatkan jatah bulanan di bulan ini? Padahal aku berada di tubuh ini sudah cukup lama. Mungkinkah keberadaan jiwaku yang bukan jiwa asli memang mempengaruhi kondisi tubuh yang lemah ini?” Chelsea menelan saliva sembari terus menekan perutnya. Dan saat ini ia masih bertahan di meja kerjanya. Tak jarang ia menggigit bibir saking perihnya. “Bagaimana siklus masa tanggal merah si pemilik tubuh ini sebenarnya? Apa memang tidak teratur?”


Chelsea memejamkan mata, menghela napas kemudian kembali menghembuskan. “Dia kan mengalami hidup yang sangat keras dan penuh tekanan. Seingatku tingkat ke-stress-an seseorang sangat berpengaruh pada siklus jatah bulanan, bahkan karena mendapatkan tekanan hidup terlalu lama, seseorang bisa sampai tidak haidd sama sekali. Mungkinkah Chelsea yang asli juga seperti itu, sehingga ketika mendapatkan tanggalnya untuk pertama kali setelah sekian lama rasanya jauh lebih sakit?”

__ADS_1


Pucat pasi wajah Chelsea. Padahal ketika hidup sebagai Emily, ia tidak memiliki kebiasaan sakit saat sedang mendapatkan jatah bulanan. Namun kali ini rasanya sungguh menyebalkan. Dan lantas membuatnya langsung memahami situasi dari wanita-wanita yang kerap kesakitan di hari pertama bahkan ada juga yang sampai pingsan.


“Ini baru permulaan sebagai wanita, aku tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang wanita hamil. Aku hampir saja ingin hamil saat masih menjadi istri Ronald, oh astaga ....”


Ucapan Chelsea disahut oleh suara getar ponsel di mejanya yang membuatnya terpaksa harus membuka mata. Ia melihat nama Ronald kembali terpampang nyata sebagai seseorang yang ingin berbincang via suara dengannya. Dan kehadiran pria yang baru saja Chelsea sebut namanya tersebut tentu saja memunculkan perasaan tak senang sekaligus kesal. Yang membuat Chelsea akhirnya memilih mematikan panggilan tersebut, agar di kejauhan sana Ronald sadar bahwa Chelsea sudah tak mau berbicara lagi.


Getaran singkat kembali terdengar, dan ketika Chelsea melirik, sebuah pesan tampak masuk ke dalam ponselnya tersebut. Awalnya Chelsea ingin mengabaikan, karena ia pikir dari Ronald. Namun, meski pada akhirnya yang mengirim pesan tetaplah pria itu, nyatanya isi dari pesan justru membuat Chelsea menelan saliva sekaligus juga melebarkan matanya.


Sejenak, Chelsea berusaha tidak memedulikan rasa sakit di perutnya. Ia membaca dengan saksama pesan yang sebenarnya hanya berisi empat kalimat saja.


“Bukti?” gumam Chelsea dan mulai menerka-nerka. “Jangan-jangan dia—“


Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Chelsea kembali mendapatkan pesan baru dan masih dari orang yang sama.


Ronald: Hei, Nona, Anda juga ingin mendapatkan bukti ini, bukan? Saya tahu apa yang Anda inginkan. Jadi, jika memang sangat menginginkan, temui saya sekarang juga! Dan Anda tidak boleh membawa dan memberitahu siapa pun, atau saya lenyapkan bukti ini! Datanglah kemari di alamat ....

__ADS_1


Chelsea membaca alamat yang disertakan oleh Ronald di pesan tersebut. Sebuah alamat yang cukup asing, tetapi dengan menggunakan fitur maps tentu Chelsea akan mampu menemukannya. Namun keinginan Ronald agar Chelsea tidak boleh membawa siapa pun, serta Chelsea harus tutup mulut, membuat Chelsea lantas merasa curiga.


“Ronald, ... apa yang kau pikirkan tentangku? Kalau dipikir-pikir lagi, akhir-akhir ini pun kau terus menghubungiku dan cenderung sedang menerorku. Apa kau curiga padaku? Dan bukti itu ...? Benarkah sebuah bukti yang aku cari?” gumam Chelsea bertanya-tanya.


Pesan berikutnya muncul. Namun kali ini berupa voice note. Detik itu juga, Chelsea menyetel suara sepelan mungkin dan hanya boleh didengar oleh telinganya.


“Aku memang membunuh...” Tiga suku kata itulah yang terdengar dan tampaknya bukan langsung dikatakan oleh seseorang, melainkan suara dari benda lain yang muncul dan direkam ulang sebagai voice note. Dan Chelsea yakin, suara tersebut adalah suara Nora.


Ronald: Jika Anda ingin mendengar lebih panjang lagi, silakan datang kemari, Nona Chelsea. Saya sudah menunggu Anda di sini, dan suara Nora akan saya persembahkan untuk Anda. Bukankah bukti ini yang Anda inginkan demi misi Anda membantu Tuan Anda untuk menghancurkan Pano Diamond?


Demikianlah pesan lanjutan yang dikirimkan oleh Ronald. Dan dari salah satu kalimat tersebut, Chelsea mendapatkan jawaban atas pertanyaannya dalam mempertanyakan apa yang sedang Ronald pikirkan tentangnya. Rupanya pria itu telah membuat spekulasi sendiri, dan tidak merujuk pada fakta bahwa Chelsea adalah Emily.


“Cih, jika aku tak bisa mengendalikanmu lagi, lantas aku harus melakukan hal apa untukmu, Ronald?” gumam Chelsea pelan, tetapi matanya menatap lurus dengan sorot yang tajam, ketika salah satu tangannya kembali menekan perutnya.


Meski perutnya masih melilit, Chelsea memutuskan untuk mengambil langkah. Ia sudah membuat keputusan dan ia harus menemui Ronald. Barangkali bukti itu memang bisa ia rebut. Namun, Chelsea tentu tak gegabah. Ia harus mengatur strategi, karena saat ini dirinya tidak bisa mengganggu Reynof yang sedang rapat penting dan sepertinya masih lama. Daripada bukti itu lenyap, Chelsea harus mencoba merebutnya terlebih dahulu!

__ADS_1


***


__ADS_2