
Rencana Fabian untuk mendekati Nora terbilang nyaris sukses besar, setelah sejauh ini ia bisa mulai mengakrabkan diri pada wanita itu. Karena memang tak serta merta langsung mengubah sikap gugup dan canggungnya, membuat Fabian tak dicurigai sama sekali. Menurut Chelsea pun, Fabian tidak boleh langsung peduli atau sok dekat, Fabian harus membuat Nora yang menawarkan kedekatan terlebih dahulu. Dan nyatanya cara tersebut berhasil, di mana akhirnya Nora mulai memercayai Fabian daripada Ronald ataupun orang lain.
“Fabian, terima kasih karena kau sudah mewakili aku untuk berbicara dengan mereka belakangan ini,” ucap Nora sembari bangkit dari duduknya. Detik berikutnya, ia berjalan untuk menghampiri Fabian yang sejak lima menit lalu telah berdiri menghadap dirinya.
Nora menghentikan langkah di hadapan Fabian, sementara tubuhnya bersandar pada meja kerjanya. Ia menatap Fabian yang masih berdiri tegak sekaligus tampak profesional. ”Ayolah, kita hanya sedang berdua saja. Lagi pula, sebentar lagi jam makan siang telah tiba. Kita kan sudah jauh lebih dekat, jadi kau tak perlu lagi bersikap sekaku itu, Fabian!” celetuknya mengingatkan jika seandainya Fabian memang melupakan tentang kesepakatan untuk saling bersahabat.
”Tenang saja, aku masih ingat kok, No ... ra,” jawab Fabian lalu tersenyum lebar. Senyumannya itu selalu terlihat manis. Salah satu gigi yang tidak rata dengan gigi-gigi yang lain membuat semakin menawan, dan ia yakin parasnya tersebut cukup membuat Nora kerap menelan saliva. ”Kau akan makan siang di mana? Di kantor seperti sebelum-sebelumnya atau sudah berani makan di luar?”
“Kau mau menemaniku makan di luar?” sahut Nora.
Fabian menghela napas tanpa menghapus senyumannya. ”Saya memang harus selalu menemani Anda, Nona Muda,” jawabnya.
“Hahaha. Sekarang aku jadi geli kau memanggilku sedemikian rupa, Fabian.”
Nora masih tertawa ketika ucapannya telah selesai. Sikap Fabian memang cukup sederhana, tetapi percayalah, sikap pria itu memberikan kesan yang sangat istimewa. Fabian juga tergolong sopan, dan tidak seperti pria lain yang melihat Nora dengan pandangan nakal. Dan satu keistimewaan lain dari sosok Fabian adalah kepintaran Fabian, dan bagaimana Fabian selalu tahu batasan. Jauh sekali jika dibandingkan dengan Ronald yang sungguh tidak tahu diri.
Kini Nora mengerti mengapa Emily mempertahankan Fabian selama bertahun-tahun, setelah sebelumnya Fabian hanyalah anak yatim-piatu yang menjadi teman kecil. Dan tidak hanya aset serta perusahaan, sekarang kepemilikan atas Fabian sudah jatuh ke tangan Nora. Semua permasalahan yang sempat melanda pun telah diatasi oleh pria itu demi menjaga nama dan jabatan Nora di Pano Diamond.
Nora sama sekali tidak mengetahui jika saat ini dirinya sedang dikelabui. Ada sosok Emily yang masih hidup di tubuh orang lain, yang ingin membuat hidup Nora naik turun bagaikan rollercoaster. Setelah dijatuhkan sampai frustrasi, Chelsea alias Emily mengirim Fabian untuk membuat Nora kembali tersenyum lebar. Namun setelah mendapatkan sesuatu yang memang harus didapatkan, Chelsea sekaligus juga Fabian akan menjatuhkan Nora sampai jurang terdalam dari sebuah penderitaan. Dan untuk langkah terakhir, Nora tidak akan lagi diselamatkan.
Tak berselang lama, Nora menarik telapak tangan Fabian. Ia membawa pria itu untuk bergegas keluar dari ruangan. Lagaknya sungguh seperti gadis SMA yang baru kasmaran. Namun bisa jadi dirinya memang sedang kasmaran, di saat baru kali ini ia menemukan pria yang sangat berbeda dengan pria-pria lain yang pernah dekat dengannya. Tujuan Nora selama ini hanyalah sebatas nafsu dari kenakalannya. Ia sendiri tidak pernah tahu apakah dirinya pernah jatuh cinta pada sesosok pria yang spesial. Sepertinya malah belum pernah, karena selama dirinya hidup dan sejak kematian ayahnya, ia hanya terpaku pada rasa marah, iri, dan bencinya terhadap keluarga Rukmana terutama pada Emily yang bak putri raja.
Fabian terpaksa mengikuti keinginan Nora demi kelancaran misinya, yang jika Nora benar-benar mampu ia kendalikan, ia pun akan segera mendapatkan bukti untuk menghukum wanita itu dan suami Emily.
__ADS_1
***
“Wajahmu tampak kusut, Nona, ada apa?” tanya Reynof pada Chelsea, ketika dirinya dan gadis atau wanita itu baru saja duduk di sebuah restoran setelah sempat menemui seorang kolega. ”Apa ada yang mengganggumu?”
Chelsea berangsur menatap Reynof. Rasa ragu menyelimuti dirinya. Ia yang sedang tak enak hati karena belakangan ini Ronald terus menelepon bahkan mengirimkan ratusan pesan memang membuatnya pusing. Padahal Ronald tidak biasanya bersikap sedemikian rupa. Namun ketika ingin mencari tahu apa yang terjadi, Chelsea malah disibukkan dengan berbagai hal. Belum lagi, ketika sempat bertanya, Ronald malah ingin segera bertemu dengan dirinya. Dan pada akhirnya Chelsea menjadi muak lalu memutuskan untuk benar-benar mengabaikan pria itu terlebih dahulu.
“Tidak kok, aku baik-baik saja,” jawab Chelsea yang memilih menutupi alasan sebenarnya di balik perubahan moodnya hari ini.
Selain karena tidak ingin membuat Reynof cemas atau bahkan marah-marah, Chelsea juga ingin menjaga kondisi emosi Reynof yang masih harus mengerjakan banyak hal yang melibatkan kerja sama dengan Gaspard Cassel. Sebagai sosok yang sejatinya adalah Emily, dan sempat bersikeras untuk membujuk Gaspard Cassel agar berkenan menemui dirinya dan sampai meminta pengusaha dari Prancis itu untuk merahasiakan rencana kedatangan ke negara ini, Chelsea tidak mau hal yang sudah ia capai yang meski harus menggunakan Neverley Group menjadi hancur.
Reynof memicingkan mata dan menaruh curiga. “Jangan berbohong, Chelsea!” katanya tegas.
”Tidak, Tuan Reynof! Kalaupun aku terlihat pucat, mungkin karena efek tamu bulanan.”
Ternyata dia juga masih dapat jatah bulanan, meskipun tinggal di tubuh itu ya? Segala sesuatu yang terjadi pada tubuh itu, berarti Emily juga bisa merasakannya, bukan? Apa ... itu artinya antara si Jiwa dan tubuh sudah saling terikat satu sama lain? Apa masih ada kesempatan bagi Emily untuk bertahan dan menjadi satu-satunya jiwa yang tinggal di tubuh itu? Tapi, ... jiwa Chelsea yang asli ke mana? Tunggu! Kalau yang namanya bertukar jiwa, bukankah jiwa yang satu juga akan masuk ke tubuh yang lain? Yang artinya jiwa Chelsea masuk ke dalam tubuh Emily. Tapi, kemudian tubuh Emily malah tidak bisa bertahan dan membuat jiwa Chelsea turut mati ...?
”Ah ....” Reynof memejamkan matanya setelah mengucapkan banyak dugaan di dalam batinnya. Senyum kecut pun terulas di bibirnya, ketika ia menyadari analisanya masih terlalu jauh dan tidak masuk akal.
Chelsea mengernyitkan dahi dan berangsur heran ketika menatap ekspresi aneh di wajah Reynof. Sepertinya Reynof tidak memercayai pengakuannya yang sedang tidak enak badan karena tamu bulanan. Ah, pria itu memang tak jarang bersikap menyebalkan!
“Aku serius, Tuan Reynof! Aku tidak berbohong! Aku kan masih gadis usia hampir dua puluh satu tahun, dan bukan wanita menopause!” celetuk Chelsea yang kesal sendiri.
Reynof membuka matanya dan menatap Chelsea dengan terkejut. ”Iya, aku tahu. Siapa yang bilang tak percaya padamu?” sahutnya.
__ADS_1
”Kau! Memangnya siapa lagi?! Dari ekspresimu pun terlihat jika kau sedang meremehkanku!”
”Oh, astaga, Nona!” Reynof menggeleng-gelengkan kepalanya hingga mengusap wajahnya dengan telapak tangannya yang kosong. “Wanita kalau sedang di situasi itu memang sensitif, suka berpikir jauh, dan mudah marah ya?”
”Memang benar! Ditambah ketika ada seorang pria yang malah tak percaya pada ucapanku!”
“Aku percaya, Chelsea! Sungguh percaya!”
“Lalu kenapa kau malah berekspresi seaneh itu? Kau menggelengkan kepalamu sembari memejamkan mata dan tersenyum-senyum meremehkan!”
“Tidak, Nona! Maksudku, aku memang berekspresi seperti yang kau katakan, tapi bukan untukmu!”
”Kau berbohong!”
“Ck!”
Reynof yang jengkel sampai mendecapkan lidah. Kalau saja bukan di restoran yang meski tidak terlalu ramai, tetapi masih ada beberapa pengunjung, ia pasti sudah menghukum Chelsea yang justru tak percaya padanya.
Dan baiklah, demi kebahagiaan si Jiwa yang betul-betul Reynof cintai, Reynof akan menahan rasa kesalnya. Ia juga tak akan marah-marah lagi. Meskipun dituduh tak percaya oleh gadis atau wanita yang malah tak mempercayainya, ia akan berusaha tegar demi kebahagiaan wanita itu.
”Kita makan dulu, nanti kau boleh melanjutkan omelanmu lagi padaku, Nona,” ucap Reynof yang hanya dibalas helaan napas oleh Chelsea, setelah akhirnya Chelsea mulai berkenan untuk menyentuh hidangan.
***
__ADS_1