Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya

Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya
Sulitnya Membujuk Reynof


__ADS_3

“Kau benar-benar ingin menemui sekretaris itu, Nona?” tanya Reynof pada Chelsea yang saat ini berada di dalam ruang kerjanya dan tengah berdiri di hadapannya, sementara ia tetap duduk di singgasananya.


Reynof memang masih enggan setuju setelah sebelumnya Chelsea meminta izin untuk berbicara dengan Fabian terlebih dahulu. Bahkan gadis itu sampai menahan Fabian di Neverley dan meminta Nora untuk kembali ke Pano Diamond lebih dulu.


Chelsea menahan Fabian dengan alasan karena Reynof harus berdiskusi dengan Fabian yang lebih kompeten dibandingkan dengan Nora, tentu bukan tanpa alasan. Ia ingin agar Nora kembali ke Pano Diamond sendirian ketika mental Nora masih dalam keadaan terguncang. Sebagai sosok Emily yang juga pernah memimpin Pano Diamond, Chelsea masih ingat tentang kebiasaan para petinggi yang akan langsung mengadakan konferensi ketika ada masalah besar atau ketika terjadi sesuatu yang betul-betul mengejutkan.


Dan Chelsea yakin, saat ini Nora tengah disidang. Ia yang tidak mau membuat Fabian turut disalahkan oleh para petinggi, akhirnya memutuskan untuk menahan sekretaris itu tanpa persetujuan dari Reynof terlebih dahulu. Tentu saja Reynof marah, dan bahkan sempat menariknya keluar dari ruangan tamu beberapa saat yang lalu. Dan meski Chelsea sempat memberikan ketenangan bagi Reynof, tetapi sekarang pria yang tergila-gila padanya malah kembali kesal.


”Aku pun membutuhkan Sekretaris Fabian, Tuan Reynof,” ucap Chelsea menjawab ucapan Reynof yang sempat ia biarkan mengambang tanpa jawaban.


“Untuk apa? Apa kau merindukannya?” sahut Reynof.


Chelsea yang awalnya menundukkan kepala, kini langsung menatap Reynof. Ada rasa heran yang menyelinap ke dalam hatinya, tatkala Reynof menduga bahwa dirinya merindukan Fabian, yang tentu saja tidak dikenal oleh sosok Chelsea yang asli. ”Maksudmu bagaimana?”


“Tidak.” Reynof menghela napas. “Aku pikir kau hanya ingin menemui Ronald saja, tapi tak kusangka masih ada pria lain yang ingin kau temui. Dan hal itu membuatku cukup jengkel. Seharusnya kau tahu tentang perasaanku, Nona.”

__ADS_1


Senyum tipis lantas terulas manis di bibir Chelsea. “Maafkan aku karena lagi-lagi membuatmu kesal, Tuan Reynof. Tapi, percayalah aku selalu ingat bahwa aku adalah milikmu. Dan selama kesepakatan kita masih berjalan, aku tidak akan melirik pria lain.”


”Hanya sampai kesepakatan ketika selesai, maksudmu? Dan kau ingin pergi dari sisiku?” Reynof mengepalkan kedua telapak tangannya dengan sangat kuat. Ia pun sampai menggertakkan gigi. Hatinya yang sudah dirundung cemburu semakin kesal ketika Chelsea berkata soal kesepakatan.


Chelsea menelan saliva. Kalau saja ia hidup di tubuhnya sendiri, tentu ia bisa berkata bahwa dirinya tidak akan pergi dari sisi Reynof sampai kapan pun. Namun nyatanya, dirinya hanyalah sebatas jiwa asing yang menumpang di dalam raga seorang Chelsea Indriyana. Sayangnya, ia justru keceplosan mengungkapkan clue atas rencananya ketika Reynof masih dalam keadaan sedang kesal-kesalnya.


Dengan hati-hati Chelsea mengulas senyumannya lagi. Detik berikutnya, Chelsea meraih jemari Reynof dan lantas menggenggamnya. “Aku akan berada di sisimu. Tenang saja. Aku hanya salah bicara,” ucapnya menenangkan. “Jadi, agar aku tidak selalu menemui pria lain, tolong izinkan aku menjalankan apa yang seharusnya aku jalankan demi rencanaku, Tuan. Mengenai Fabian, kau seharusnya tahu. Betapa dia sangat kesal dan tertekan karena sosok dan karakter Nora. Dan hal itu bisa aku manfaatkan untuk memanipulasi dirinya, agar dia pun bisa membantuku dalam rencana ini, mengingat kesetiaannya pada Emily.”


Reynof menghela napas lagi. Meski raut dan karakternya kasar. Nyatanya ia justru selalu lemah tak berdaya ketika Chelsea menjanjikan sesuatu yang membuatnya benar-benar senang. Apalagi gadis yang selalu bersikap pasif terhadap dirinya itu mulai memberanikan menggenggam jarinya, bahkan belakangan ini Chelsea sudah mulai membuka hati untuk dirinya. Dan tentu saja, Reynof yang tak mau kehilangan keterbukaan Chelsea harus membuat Chelsea alias Emily merasa senang atas keputusannya.


Pada akhirnya, Reynof memutuskan untuk menganggukkan kepala, sebagai isyarat bahwa ia sudah benar-benar memberikan izin atas permintaan gadis kesayangannya tersebut. Hal itu langsung membuat Chelsea tersenyum lebar sekaligus merasa sangat berterima kasih. Keduanya lantas berpisah ketika Chelsea mulai mengambil langkah.


Sebentar lagi jam operasional akan usai, untuk beberapa karyawan dari divisi yang tidak diharuskan lembur tentu saja akan segera berhamburan keluar. Oleh sebab itu, Chelsea tidak boleh terlalu lama merenung serta menimbang-nimbang keinginannya. Ia pun bergegas untuk menemui sekretarisnya kala dirinya masih hidup sebagai Emily.


“Tuan Fabian?” ucap Chelsea di hadapan Fabian yang masih duduk sembari tertunduk. ”Apa Anda bersedia untuk berbicara dengan saya di kafe terdekat?” lanjut Chelsea tanpa banyak basa-basi.

__ADS_1


Fabian berangsur mendongakkan kepala, lalu menatap wajah cantik dengan make-up tipis itu. Detik berikutnya, ia memutuskan untuk bangkit dari duduknya, lalu menghela napas berat. ”Ya. Saya pun memiliki beberapa hal yang ingin saya bicarakan dengan Anda, Nona Chelsea.”


“Mari.”


Keduanya berjalan beriringan, dengan posisi Chelsea yang memimpin di depan. Arah tujuan mereka adalah sebuah basemen, tempat di mana mobil mereka masih terparkir. Dan meski akan ke kafe yang sama, keduanya berpikir akan menyetir masing-masing.


Singkat cerita, setelah mengarungi perjalanan yang memakan waktu tak sampai sepuluh menit, Chelsea dan Fabian sudah duduk di salah satu meja di sebuah kafetaria. Keadaan kafetaria yang masih sepi, apalagi di bagian lantai kedua, membuat Chelsea memutuskan untuk bertandang di sana.


Chelsea dan Fabian pun sudah memesan kopi dengan aroma sesuai selera masing-masing. Namun kopi yang dipesan oleh Chelsea sungguh membuat Fabian lagi-lagi harus teringat pada sosok Emily. Kopi hitam aroma nangka, menjadi salah satu sajian yang paling Emily sukai, dari sekian rasa kopi kesukaan Emily lainnya.


“Apakah ... Anda merasa tertekan bekerja di bawah kepemimpinan Nona Nora, Tuan Fabian?” tanya Chelsea membuka pembicaraan.


Fabian menatap gadis itu dengan tatapan yang sama sekali tidak bersahabat. ”Kenapa memangnya? Apakah saya harus mencurahkan isi hati saya pada Anda, Nona Chelsea?” sahutnya ketus.


”Tidak, bukan begitu.” Chelsea langsung gugup. ”Saya hanya ... melihat Anda cukup tertekan. Saya—”

__ADS_1


“Nona Chelsea, kenapa Anda selalu muncul di hadapan kami?” sela Fabian dengan cepat. ”Sekali lagi, saya ingin membahas pertemuan awal kita. Kenapa Anda berada di area pemakaman Nyonya Emily, dan bahkan sampai mengetahui nama saya? Kenapa pula Anda menatap kediaman Nyonya Emily dan mengatakan bahwa dua penghuni rumah yang tersisa adalah orang-orang berbahaya? Lalu Anda pun mendadak datang ke Pano Diamond, untuk apa? Dan di antara dua sekretaris yang Tuan Reynof miliki, kenapa harus Anda yang selalu dilibatkan dengan kami? Lalu mengapa Anda begitu membenci Nona Nora secara pribadi, terlepas dari apa pun keburukan Nona Nora di dalam perusahaan?”


***


__ADS_2