
Satu minggu telah berlalu terhitung sejak kencan manis yang Reynof lakukan dengan Chelsea, atau lebih tepatnya Emily. Dan hari-harinya kembali disibukkan dengan banyaknya agenda yang sudah super padat. Namun hubungannya dengan Chelsea sudah semakin membaik dan tak lagi dihiasi pertengkaran terlalu banyak. Karena ketika Reynof merasa kesal dan cemburu, gadis itu lantas menenangkan, alih-alih mengajaknya bertengkar layaknya dulu.
Mengenai ketakutan Reynof pada kemungkinan akan berpisah dengan si Jiwa, tentu saja masih terus mengganggunya setiap malam. Tak jarang ia mencari berbagai informasi yang berkaitan dengan fenomena perpindahan jiwa. Namun yang didapatkannya hanya berbagai spekulasi belaka, sekaligus artikel-artikel sinopsis drama dan film saja. Tak ada satu pun data konkret yang bisa membantunya, mungkin karena kejadian itu memang benar-benar di luar nalar manusia. Seandainya ada orang yang memiliki nasib sama seperti Emily yang hidup di tubuh Chelsea setelah mati, mungkin orang itu pun memilih untuk menyembunyikan kenyataan karena takut di anggap gila.
Sampai saat ini pun, Reynof benar-benar tidak tahu jalan keluar untuk terus memiliki Chelsea yang adalah Emily. Karena jika jiwa mereka tertukar kembali, dalam artian jiwa Chelsea yang asli muncul, perasaan Reynof dipastikan tak lagi sama. Entahlah. Saat ini Reynof benar-benar mengakui bahwa dirinya hanyalah manusia biasa. Bukan dewa, bukan monster, bukan raja. Ia hanya sekadar manusia yang diberikan banyak harta dan tahta di sebuah kerajaan bisnis besar.
“Tuan, apa Anda masih kesulitan untuk tidur?” Kayla yang saat ini mendampingi Reynof menggantikan Ruben yang tetap memiliki banyak agenda lain untuk mengurus perusahaan peminjaman uang milik Reynof, lantas bertanya.
Sebab Reynof memang kerap lesu dan tak jarang terkantuk-kantuk. Kayla hanya khawatir dan sudah pasti kesal, sebab menurutnya Chelsea lagi-lagi membuat Reynof sulit untuk beristirahat. Tak ada satu pun pemikiran positif di benak Kayla jika sudah berkaitan dengan Chelsea. Mungkin dirinya memang sudah mengalah dan lantas tahu diri, serta tidak lagi mendekati Reynof apalagi membuat Chelsea cemburu, tetapi sampai kapan pun kebenciannya terhadap Chelsea tak akan sekalipun menepi.
Reynof berangsur menatap Kayla, sekretarisnya yang tak jarang memberikan perhatian berlebih padanya. Kayla yang juga cukup cekatan serta peka, meski level Chelsea alias Emily tentu lebih tinggi, membuat Reynof terus memercayai wanita bertubuh seksi itu kendati tak jarang wanita itu kerap bersikap menyebalkan.
“Bagaimana dengan jadwalku?” tanya Reynof yang memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Kayla.
“Satu jam lagi, Anda harus menemui Mr. Gaspard Cassel bersama ....” Kayla menelan saliva lalu menghela napas. “Bersama Nona Chelsea. Banyak media yang sudah mengetahui rencana pertemuan Anda dengan Mr. Cassel, Tuan. Dan tampaknya hal itu akan menjadi salah satu berita besar. Beberapa pengusaha yang juga turut dalam rencana mega proyek pun akan hadir dalam pertemuan tersebut. Sepertinya Anda akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk memenuhi pertemuan tersebut, Tuan. Dan saya sudah mengosongkan jam Anda untuk hari ini, selain agenda penting itu.”
Reynof tersenyum. ”Terima kasih, Kayla. Panggil Ruben secepat mungkin. Kalian bertiga harus bersamaku di agenda itu dan lakukan saat ini juga.”
“Baik, Tuan.”
Kayla merundukkan tubuhnya dan memutuskan untuk meninggalkan ruangan tuannya itu.
Sepeninggalan Kayla, senyuman yang terlukis di bibir Reynof semakin melebar. Terlepas dari kecemasan serta ketakutannya mengenai kemungkinan ia akan berpisah dengan si Jiwa, saat ini ada sedikit rasa senang. Reynof senang karena rencana Chelsea yang notabene adalah Emily sudah mulai menunjukkan progress yang signifikan.
Kerja sama dengan Gaspard Cassel sudah berada di genggaman. Nora pasti akan kalang kabut, seandainya wanita itu dianggap bodoh karena telah membukakan pintu untuk Reynof yang sudah jelas-jelas pihak dari perusahaan pesaing, di mana Reynof pun langsung mendapatkan kerja sama dengan pihak yang menolak Nora secara mentah-mentah. Jika orang berpikiran negatif, tentu Reynof akan dianggap telah menusuk Nora dari belakang.
Karena nyatanya pun, Gaspard Cassel tidak hanya memiliki rencana pertemuan dengan mendiang Emily saja, melainkan juga beberapa pengusaha lainnya. Yah, namanya juga proyek besar, tentu saja melibatkan banyak pihak yang terhormat. Namun di saat pengusaha lain bisa, Nora justru gagal, bahkan sebelum melakukan pertemuan.
“Aku ingin merayakan keberhasilan yang Chelsea dapatkan, tapi dengan apa? Di keadaan super sibuk seperti ini, pasti kami tak lagi bisa berkencan. Lalu haruskah aku memberikan dia hadiah? Tas? Perhiasan? Pakaian?” gumam Reynof di sisa waktunya sebelum menyibukkan diri sepanjang hari ini. “Tapi, seleranya sangat tinggi. Aku khawatir jika hadiahku tak bisa membuatnya senang.” Ia menghela napas setelahnya.
Bak memiliki telepati yang bisa mengerti meski tidak saling bertatap mata, Chelsea mendadak datang tepat ketika Reynof memikirkan dirinya. Gadis itu sempat mengetuk pintu dan sekarang sudah memasuki ruangan milik sang tuan. Detik itu juga, Reynof langsung bangkit dari duduknya. Ia berjalan untuk menyambut Chelsea yang juga sedang menghampirinya.
__ADS_1
Reynof melebarkan kedua lengannya sembari berharap agar Chelsea bersedia untuk menerima dekapannya. Namun tentu saja Chelsea yang notabene adalah Emily langsung menolak apa yang Reynof inginkan, dan membuat kedua lengan Reynof langsung terjatuh lemah.
”Mari kita berangkat!” ucap Chelsea antusias.
Reynof yang kini telah memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku celana, serta sudah berjalan untuk mendekati Chelsea, lantas berkata, “Ke mana? Kau tampak bersemangat sekali, Nona.”
”Ya! Aku sudah tidak sabar! Aku ingin kabar kerja sama kita segera beredar!”
“Kau ingin melihat wajah wanita itu menjadi pucat pasi?”
Chelsea mengangguk mantap. “Ya! Dan tak hanya itu saja, dia pasti akan dihujat habis-habisan oleh semua orang! Bayangkan saja, di saat dia gagal, juga justru berhasil! Dia pasti akan dianggap bodoh karena sudah percaya pada kita! Karena nyatanya pun Pano Diamond serta Neverley selalu bersaing, bukan?Tapi, tanpa pertimbangan apa pun, Nora justru menerima tawaran kerja sama dari kita, bahkan sampai berpikir kita bisa ikut mendongkrak namanya! Aduuuh, aku sungguh sudah tidak sabar. Dia pasti berpikir kita sudah menusuknya dari belakang! Dan aku ingin kau segera merampas Pano Diamond, Tuan Reynof! Aku tidak mau perusahaanku ... ah, maksudku perusahaan itu hancur di tangan wanita itu.”
”Perusahaanmu tak akan hancur, karena aku akan menjaganya nanti,” sahut Reynof untuk ucapan super panjang dan antusias yang baru saja Chelsea katakan. Di mana analisa Chelsea mengenai Nora pun sama seperti yang Reynof pikirkan.
”Eh? Apa?” Chelsea tidak salah dengar, 'kan? Reynof mengatakan 'perusahaanmu'.
Reynof menggeleng pelan. “Maksudku perusahaan sahabatmu.”
Chelsea tertawa dengan perasaan kecut. Ia pikir Reynof sudah percaya bahwa dirinya adalah Emily. Namun rupanya sampai saat ini, pria itu masih saja meragu. Belakangan ini pun, Reynof tidak pernah menyebut nama Emily lagi. Mungkin Reynof sudah yakin ingin memercayai kenyataan yang mana. Yah, tak masalah bagi Chelsea, toh, Reynof terus menjaganya dan bahkan semakin memperlembutkan sikap padanya.
Reynof sendiri memutuskan untuk terus bungkam, tentu saja demi menjaga identitas jiwa Emily di dalam raga Chelsea. Dan satu alasan lain muncul. Alasan tersebut berkaitan dengan ketakutan Reynof. Ia takut jika suatu hari, sosok Chelsea bertanya, 'siapa itu Emily?', di saat Reynof kerap menyebut nama asli si Jiwa. Karena Reynof belum tentu sanggup menerima kenyataan jika ia mengetahui jiwa mereka sudah tertukar kembali.
”Apa kau tak ingin memberiku kecupan semangat, Nona?” celetuk Reynof sembari mencondongkan wajahnya ke arah Chelsea, di mana gadis itu langsung memundurkan kepala.
Chelsea memicingkan mata. ”Tidak mau. Ini di kantor!” tandasnya.
”Tapi, di dalam ruangan ini hanya ada kita saja.”
”Pokoknya tidak mau! Aku ingin kita segera berangkat. Kita tidak boleh telat, Tuan Reynooop!”
“Reynof, Chelsea!” tegas Reynof. Detik berikutnya, ia meraih tubuh Chelsea dan ia peluk seerat mungkin. “Setelah belakangan ini kerap ke tempat ibumu, caramu memanggilku semakin parah ya?”
__ADS_1
“Aduh, lepaskan aku. Sekarang setelah jarang marah-marah, kau melampiaskan kekesalanmu dengan mendekapku ya, Tuan Reynop?”
“Sebab aku tidak bisa melakukan apa pun, selain memelukmu.”
”Hei, Tuan? Semakin hari, kau semakin imut saja ya?”
“Mana ada!”
“Kenapa kau marah? Justru menggemaskan, tahu! Tapi, ... jangan bersikap seimut itu pada orang selain aku, ya?”
Mata Reynof memicing tajam. “Memangnya kenapa? Apa aku juga tidak boleh jika melakukannya di hadapan Kayla?”
“Sangat tidak boleh!" tegas Chelsea. “Benar-benar tidak boleh!”
“Kendati sudah mau bersikap manis, kau tetap ingin mengendalikan keadaan ya, Nona? Kau cemburu?”
”Bu-bukan seperti itu!” tepis Chelsea. ”Aku sudah manut padamu, dan tidak mencoba mengendalikanmu lagi. Aku hanya ingin kau sembuh dari sifat playboy-mu. Jadi jangan genit pada wanita lain, selain aku! Apalagi Kayla, huh! Dia menyebalkan. Aku hanya akan diejek jika kau bersikap manis padanya! Bukan karena cemburu atau apa, aku hanya tidak mau kalah saja!”
”Ya, ya, ya.” Reynof menunjukkan ekspresi meremehkan.
Chelsea mendengkus kesal. Ia lantas mencubit lengan Reynof dengan keras, sampai pria itu mengaduh kesakitan. Chelsea mendesak agar Reynof memercayai ucapannya. Perdebatan manis mereka yang berisik, membuat telinga mereka tak mendengar suara dari arah lain. Yang mana, seseorang telah mengetuk pintu ruangan, dan tak lama berselang orang itu masuk. Yakni Ruben yang baru kembali, karena sebelum Kayla menghubunginya, ia sudah berada dalam perjalanan menuju Neverley Group.
”Ah! Ma-maaf,” ucap Ruben kikuk sendiri setelah melihat kemesraan Reynof dan Chelsea. Ia merundukkan badan dan berencana untuk pergi.
Chelsea mengambil kesempatan itu untuk melepaskan diri dari dekapan Reynof. Di mana setelah berhasil, ia langsung mengejar Ruben. ”Tuan Ruben, mari kita berangkat! Tuan Reynof akan menyusul kita sebentar lagi!” ucapnya.
”Gadis nakal, padahal masih ada waktu untuk berduaan,” gumam Reynof yang pada akhirnya memilih manut. Karena sepertinya Chelsea alias Emily memang sudah tidak sabar. Ia pun bergerak untuk mempersiapkan diri serta mengambil berkas yang sebelumnya telah ia siapkan bersama Kayla.
Setelah keluar dari ruangan Reynof dan bergegas untuk mengambil materinya sendiri, mata Chelsea berubah lebih tajam. Ia sama sekali tidak menyapa Kayla yang sedang duduk di bangku sekretaris di depan ruang kerja sang tuan. Setelah bersikap penuh kegembiraan, Chelsea harus kembali serius. Di mana setelah ini pun ia tidak akan main-main lagi untuk membalas perbuatan Nora. Dan setelah kesibukannya agak merenggang, ia akan benar-benar memasuki rumahnya, karena ternyata Ronald juga tidak becus bekerja.
Sepertinya pria itu tetap membatasi pergerakan karena masih takut jika diusir oleh Nora, atau tindakan jahatnya juga ketahuan, apalagi saat ini Nora berencana melimpahkan segala kesalahan padanya. Membuat Chelsea tidak ingin bersikap lebih lunak, dan ia harus segera turun tangan untuk menjalankan teror yang sudah ia susun.
__ADS_1
***