
“Selamat malam, Nora!” seru Ronald yang masih berpakaian setelan kerja lengkap, termasuk tas yang masih ia jinjing. Saat ini ia baru memasuki ruang makan setelah sempat mencari Nora di kamar, tetapi tidak ia temukan.
Nora menoleh malas ke arah Ronald yang baru datang. Matanya yang sayu mulai sibuk menatap kedatangan mantan kekasihnya itu, di waktu bersamaan ia pun menggigit bibirnya yang pucat. Malas sekali menghadapi pria yang menolak ia minta untuk menemani tidur, sampai membuatnya berakhir tidur di kamar tamu bersama dua orang pelayan. Menyebalkan sekali, bukan, ketika Nora sudah menjadi ratu, tetapi ia malah berada di satu kamar dengan pelayan rendahan! Dan semua gara-gara penolakan dari Ronald yang sok jual mahal. Padahal sebelum putus, pria itu selalu mengemis servis-an.
Tanpa persetujuan dari Nora, Ronald lantas mengambil sikap duduk di kursi di seberang sekaligus di hadapan wanita itu. Mata Ronald langsung menatap piring Nora yang masih dipenuhi full nasi, sebab bentuk nasi yang dituang ke dalam piring itu masih cukup rapi. Pun dengan lauk dan sayuran yang tampaknya belum Nora sentuh sama sekali. Ketika Ronald baru masuk, Nora memang terlihat sedang melamun alih-alih menyantap hidangan yang telah tersaji.
Oh, sungguh! Perasaan Ronald sangat puas. Akhirnya ia bisa menyiksa wanita yang telah membuangnya bak sampah itu. Meski ide Chelsea cenderung kekanak-kanakan, nyatanya ide tersebut malah memberikan dampak luar biasa buruk bagi mental Nora. Ini sih namanya keberuntungan tak terduga. Ronald tinggal mengeksekusi untuk langkah yang lebih lebar.
“Hei, kudengar kau benar-benar tidak masuk kerja ya? Kenapa?” tanya Ronald berlagak bodoh.
Nora menghela napas berat. “Jangan berlagak bodoh, Ronald!” sahutnya.
”Hahaha!” Ronald tertawa lebar dan berlanjut cukup lama. Memang sungguh puas setelah keinginannya untuk membuat Nora kapok menjadi kenyataan. ”Kau takut pada hantu Emily?”
“Tidak!” Nora menggertakkan gigi ketika matanya bergerak ke kanan maupun kiri. Saat ini dirinya sedang menyembunyikan rasa malunya. “Kemarin malam aku hanya terlalu mabuk. Seandainya bukan karena mabuk, aku rasa kau terlibat dalam kehadiran hantu Emily. Iya, 'kan?”
”Apa maksudmu, Sayangku?” sahut Ronald dengan ketus, dan salah satu alisnya terangkat. Ia pun segera menyandarkan punggungnya sekaligus bersikap angkuh. “Maksudmu aku sengaja menakut-nakutimu? Mana mungkin, Sialan!”
“Kau bisa saja menyewa jasa seseorang untuk menjadi hantu!”
__ADS_1
”Kau gila, Nora, sungguh konyol sekali analisamu itu. Kalau memang sudah gila, ya gila saja. Tak usah menyalahkan orang lain! Aku tidak melakukan apa pun! Aku bahkan tak punya uang, bagaimana aku bisa membayar jasa orang?!”
”Kau bisa membayar belakangan setelah menjual tas Emily, 'kan?!”
“Hei, hei, ayolah cerdas sedikit! Datanglah ke kamarku dan pastikan tas itu, tas itu masih ada! Kau juga bisa memastikan di forum penjualan, tas itu belum terjual dan aku tidak tahu kapan terjualnya. Tak mungkin seseorang menunggu bayarannya terlalu lama!”
Wajah Nora langsung muram. Mulutnya langsung terkunci rapat, karena jawaban Ronald sungguh membuatnya tak lagi bisa berkata-kata. Sepertinya memang benar, bahwa tadi malam dirinya sedang mengalami halusinasi karena terlalu banyak menenggak minuman. Herannya mengapa harus Emily yang datang sebagai sosok di halusinasinya? Apakah karena sebelumnya ia terlalu memikirkan dan marah pada mendiang kakak sepupunya itu?
Nora menghela napas lalu berangsur menjatuhkan kepalanya di atas meja makan. Ia sudah tidak berselera untuk melakukan apa pun. Bekerja pun tak lagi bersemangat seperti sebelumnya. Padahal ia sudah mendapatkan Pano Diamond sampai harus membunuh Emily sekaligus kedua orang tua kakak sepupunya itu, tetapi ada saja kendala yang membuat kebahagiaan barunya tak lagi sempurna.
Eksekusi harus segera Ronald lakukan. Bukan mengenai pembunuhan, melainkan demi mendapatkan hal yang jauh lebih besar. Untuk kali ini ia tidak akan mengikuti apa kata Chelsea, sebab ia pun memiliki jalan sendiri. Sudah saatnya berbelok arah. Gadis itu hanya akan sekadar menjadi teman ceritanya. Karena setelah mengetahui kedekatan Chelsea dengan Reynof yang sampai mengantarkan Chelsea, membuat Ronald harus lebih berhati-hati. Ia tidak boleh salah langkah lagi, tetapi ia harus tetap menjalin hubungan baik dengan Chelsea bahkan juga Reynof.
“Hei, Nora. Kau mau bersepakat denganku?” celetuk Ronald untuk memulai aksinya.
”Mmm ....” Ronald menghela napas. “Soal posisi di perusahaan, termasuk juga kondisi mentalmu, mm ... apa kau yakin kau masih bisa memimpin perusahaan?”
Dahi Nora mengernyit. Sedetik kemudian, ia segera menegakkan tubuhnya. “Apa maksudmu berkata seperti itu? Kau ingin menyepelekan aku dan berharap aku benar-benar dilengserkan?! Hei! Walaupun aku sedang memburuk, mereka tidak akan bisa menurunkanku dari jabatan itu, Ronald! Ingat, aku penguasanya di sini!”
”Dengar dulu! Aku belum selesai berbicara!” tegas Ronald. “Sekarang situasi sedang memanas, Nora. Banyak orang yang meragukan dirimu. Belum lagi dengan isu-isu yang beredar sekarang. Penggemar Emily masih meminta kasus kematian Emily dibuka kembali. Kita harus bersatu lagi untuk mempertahankan apa yang sudah kita miliki, Nora!”
__ADS_1
Nora menelan saliva. “Aku ... tidak percaya padamu!"
”Memangnya aku percaya padamu, begitu? Aku tahu kau ingin melimpahkan segalanya padaku, 'kan? Tapi lihat siapa yang sekarang diragukan, Nora? Kau! Bukan aku! Padahal jika kau membiarkan aku memimpin perusahaan, kau bisa santai bak ratu di rumah tanpa melakukan apa pun. Kau bisa berbelanja dan menikmati hidup! Tapi karena pada dasarnya kau ini memang serakah dan bodoh, akhirnya kau termakan senjatamu sendiri!”
“Diamlah, Ronald, aku tidak membutuhkan ceramah darimu!”
“Aku hanya memberi saran untuk kita berdua. Jika kau memercayakan jabatan itu padaku, aku akan memperbaiki segalanya, Nora.”
“Cih! Memangnya kau mampu? Sekolah saja masih tinggi sekolahku!”
“Aku tahu, tapi nyatanya kau lebih bodoh dariku, bukan?! Meski pendidikanmu tinggi, kau itu tidak belajar dengan baik. Kau selalu keluyuran dan lebih sering main pria di klub malam. Setidaknya aku pernah bekerja di perusahaan, dan aku pernah bertukar pikiran dengan Emily yang pintar!”
Nora mengumpat keras, kemudian berkata, ”Berhentilah membawa-bawa nama Emily, Sialan!”
“Kenapa? Kau takut dihantui olehnya lagi? Atau kau memang merasa tak mampu mengalahkan Emily?”
”Diam!” tegas Nora sembari bangkit sekaligus menggebrak meja makan sampai suara piring-piring yang terguncang lantas terdengar. “Aku tidak akan menyerahkan posisi itu padamu! Jangan pernah berharap lebih, Ronald! Saat ini kau sangat membenciku, dan kau bisa mengkhianatiku, bahkan membuangku!”
Kini giliran Ronald yang bangkit. “Silakan saja. Tapi jika kau memang pintar, seharusnya kau tak perlu khawatir, sebab saat ini orang-orang tahunya kaulah ahli waris yang sah. Jika aku mendadak membuangmu, pasti aku akan dicurigai. Dan aku tentu saja aku tidak sebodoh itu untuk membunuh diriku sendiri, Nora. Setidaknya pertimbangkan dulu tawaranku karena ini semua demi kita. Ketika aku bisa memperbaiki situasi perusahaan, orang-orang akan melupakan guncangan yang sempat terjadi, termasuk juga sosok Emily. Kau tinggal menerima laporan sembari duduk manis, tanpa harus bekerja dengan situasi panas yang menyerang dirimu. Tapi jika kau masih saja menolak, jangan pernah meminta bantuan dariku, atau bahkan membawa-bawa namaku jika kau kena masalah, Nora.”
__ADS_1
Ronald tidak akan membiarkan Nora pergi duluan, karena hal itu akan melukai harga dirinya. Dan tentu saja setelah berbicara panjang lebar, ia segera mengambil langkah untuk pergi. Dan kepergian Ronald membuat Nora dilanda kegamangan. Ia betul-betul bingung, takut, tetapi juga sulit untuk memercayai pria yang telah ia khianati. Ia sudah terlalu angkuh, dan sekarang sedang direndahkan.
***