
Chelsea terpaksa membohongi Reynof lantaran ia sudah kebacut penasaran. Dengan menggunakan alasan palsu yang menyatakan Dahlia sangat ingin bertemu dengannya di jam makan siang, Chelsea bergegas untuk pergi ke rumah sakit. Beruntungnya Reynof tidak terlalu mengintrogasinya lagi, karena di saat yang bersamaan, Reynof memiliki agenda penting untuk melakukan pertemuan dengan salah seorang kolega. Yah, meski Chelsea harus membiarkan Kayla yang menemani Reynof, yang penting dirinya bisa pergi menemui Ronald yang sudah merengek untuk bertemu dengan dirinya sejak tadi pagi.
Chelsea pun sudah memarkir mobilnya di area parkir rumah sakit. Ia sempat mengunjungi ibunya, dan menghasut agar dua orang pelayan yang ditugaskan untuk menjaga Dahlia mengatakan bahwa dirinya berada di rumah sakit itu di sepanjang jam makan siang, seandainya Reynof memang bertanya. Untuk masalah Ronald, Chelsea sudah meminta pria jahat tersebut agar berkenan datang ke salah satu restoran biasa yang ada di sekitar rumah sakit. Dan saat ini ... Chelsea telah bertemu dengan suaminya ketika ia masih hidup sebagai Emily.
“Anda tampak muram, Tuan, ada apakah gerangan? Saya tidak menyangka Anda menghubungi saya di pagi hari. Dan sekali lagi maafkan saya, lantaran saya tidak langsung menjawab panggilan dari Anda karena memang sibuk. Yah, saya memang selalu sibuk, bahkan meski matahari baru saja terbit dari ufuk timur,” ucap Chelsea kemudian tersenyum ramah. Sikapnya yang super dingin ketika menghadapi Reynof berubah menjadi lebih santun.
Namun bukan berarti Chelsea bersikap seramah itu pada Ronald, karena pria itu adalah suaminya. Ia hanya sedang bersandiwara! Bahkan meski ia harus menjadi seorang badut, jika demi memanipulasi Ronald, tentu saja ia akan melakukannya.
“Saya ... mulai tadi pagi, telah bekerja di Pano Diamond secara resmi, Nona,” ucap Ronald dengan wajah yang tetap masam, meskipun untuk saat ini ia sudah merasa sedikit senang lantaran Chelsea berkenan untuk bertemu dengan dirinya. Detik berikutnya, Ronald mengusap tengkuk bagian belakang sembari berkata, “Saya tidak punya tempat untuk bercerita. Saya hanya sedang kalut dan bingung. Dan yang ada di dalam pikiran saya hanya Anda, Nona. Saya selalu teringat pada sosok istri saya jika bertatap muka dengan Anda.”
Wajah Chelsea langsung kebas. Mungkinkah Ronald mengenali dirinya? Jika memang demikian, bagaimana hal itu bisa terjadi? Apakah karena gesture tubuhnya yang tetap sama meskipun sudah hidup di raga Chelsea? Ataukah cara berbicara atau tatapan matanya?
Chelsea tidak tahu, dan ia cukup cemas saat ini. Reynof yang mencurigai seluruh kemampuan apiknya dan bahkan telah mendengar pengakuannya bahwa dirinya adalah Emily saja, masih bimbang untuk menganggapnya sebagai Emily. Jika Reynof masih enggan untuk percaya, tak mungkin Ronald bisa langsung mengenali siapa yang hidup di dalam raga Chelsea hanya karena gerakan tubuh saja, bukan? Chelsea berharap demikian—jangan sampai Ronald mengenalinya sebelum semua rencananya berhasil!
“Ke-kenapa Anda bilang begitu, Tuan? Dari sisi mana dari diri saya sampai bisa membuat Anda teringat pada mendiang istri Anda, Tuan?” tanya Chelsea memastikan dengan penuh hati-hati.
__ADS_1
“Mm, mungkin karena Anda adalah penggemar berat mendiang istri saya,” sahut Ronald berbohong.
Karena pada kenyataannya, Ronald hanya ingin membuat Chelsea merasa bangga. Dan tujuannya menemui Chelsea, bukan hanya sekadar untuk mendekati, melainkan juga melegakan hati setelah Nora membuatnya serasa di ujung tanduk akhir-akhir ini.
“Ah! Begitu!” Wajah Chelsea yang kebas sudah menjadi lebih cerah ketika Ronald mengatakan alasan yang tidak terlalu membahayakan dirinya. “Dan, mm ... bukankah itu berita yang bagus? Maksud saya, seharusnya Anda senang setelah bekerja di perusahaan mendiang istri Anda. Tapi, kenapa wajah Anda malah tampak muram begitu, Tuan Ronald? Apa ... ada sesuatu hal yang buruk yang telah terjadi? Atau mungkin saja karena Anda terlalu merindukan Nyonya Emily?”
“Tentu saja saya merindukan Emily, Nona Chelsea. Sangat merindukannya.”
Ronald tersenyum tipis. Sebuah senyum yang membuat Chelsea lantas mengerjapkan matanya. Mengapa senyum pria itu tampak tulus? Pertanyaan tersebut sempat hadir di benaknya, tetapi tak lama berselang, ia langsung teringat bahwa Ronald adalah seorang penipu. Dan sebagai Emily, Chelsea sudah sukses tertipu dalam kurun waktu lebih dari satu tahun! Ia tidak akan mudah tertipu seperti dulu. Bahkan saat ini, mungkin dirinya sudah tidak mampu memercayai siapa pun lagi, termasuk Reynof yang sudah memberikan banyak bantuan serta janji.
“Jadi, yang membuat Anda gusar memang karena kerinduan tersebut, Tuan?” selidik Chelsea lebih dalam.
Ronald menghela napas, kemudian menggelengkan kepalanya. “Bukan karena hal itu saja, melainkan karena sikap adik sepupu ipar saya.”
“Hah? Maksud Anda Nona Nora?!”
__ADS_1
Kali ini, Ronald mengangguk mengiyakan. “Benar. Dan aah, tidak, seharusnya saya tidak membicarakan masalah ini dengan Anda.”
“Kenapa? Apa Anda tidak percaya pada saya? Padahal saya pikir kita sudah menjalin sebuah hubungan pertemanan. Saya paham betul, kepergian Nyonya Emily pasti membuat Anda kesepian dan terluka, oleh sebab itu, saya berinisiatif untuk menjadi teman Anda, Tuan, tapi ternyata ....” Chelsea berlagak menyesal dan sedih. “Kita memang belum sampai sedekat itu, ya? Itu artinya, saya juga tidak berhak untuk mengetahui kisah hidup Nyonya Emily dari suami beliau sendiri, ya? Sayang seka—“
“Anda boleh mengetahuinya kok!” potong Ronald dengan cepat. “Sungguh boleh! Anda boleh menanyakan apa pun tentang Emily pada saya!”
“Kita kan belum—“
“Kita akan dekat jika Anda berkenan, Nona Chelsea!”
Chelsea tersenyum lebar. “Kalau begitu, tolong buktikan kedekatan kita sebagai teman, Tuan Ronald. Dengan cara menceritakan hal yang membuat Anda gusar. Saya berjanji, tidak akan mengungkap cerita Anda pada siapa pun!”
Ronald lantas menatap Chelsea yang sudah menangkup kedua pipi. Mata indah gadis itu tampak berbinar-binar, dan parasnya benar-benar imut sekaligus cantik sekali. Kalau diperhatikan lebih saksama, Chelsea memiliki sedikit kemiripan dengan mendiang Emily. Sikap manis, senyum, hingga caranya merayunya betul-betul mirip. Membuat Ronald sampai tersenyum-senyum sendiri. Ia berpikir, sepertinya Chelsea tidak hanya sekadar mengidolakan Emily, melainkan sudah terlanjur terobsesi. Jika obsesi gadis itu sudah berada dalam level parah, bisa saja saat ini, Chelsea tidak hanya ingin memiliki semua benda peninggalan Emily, melainkan juga suami Emily. Jika dugaan Ronald benar, waaah! Tentu saja ia akan merelakan dirinya untuk dimiliki gadis itu.
“Baiklah, saya akan menceritakan apa yang terjadi, Nona Chelsea. Sebagai bukti pertama bahwa kita memang sudah memiliki kedekatan. Dan saya harap, Anda benar-benar menepati janji Anda untuk menyimpan semua cerita saya. Sebab Nora masih membutuhkan bantuan dari tuan Anda, akan fatal jadinya jika Nora sampai kehilangan kesempatan itu, hanya karena cerita saya. Mau bagaimanapun, dia memiliki tanggung jawab besar saat ini, dan saya tidak mau merusaknya, sebab perusahaan yang dia jaga adalah perusahaan mendiabg istri saya,” jelas Ronald.
__ADS_1
***