Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya

Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya
Anda Siapa?


__ADS_3

Reynof langsung bergegas turun dari mobilnya, sesampainya ia di sebuah vila besar di Pulau Dewata. Dengan tergopoh-gopoh ia berjalan ke arah pintu utama dari bangunan mewah dan indah tersebut. Meski beberapa kali sempat tersandung dan tubuh kurusnya hampir jatuh, Reynof sama sekali tidak berkenan untuk memperlambat derap kakinya.


Beruntung, kehadiran Reynof yang memang bukan orang biasa langsung disambut hangat oleh para staf yang bertugas. Mereka bahkan berkenan untuk memandu Reynof ke suatu tempat, yang telah diatur oleh Fabian. Ya, di tempat itulah, Chelsea tengah berada. Namun wanita itu masih belum mengetahui kehadiran pria bernama Reynof Keihl Wangsa tersebut.


”Nona Chelsea ada di taman kaca tersebut, Tuan Reynof,” ucap seorang pria tua dengan logat khas pulau tersebut. Ia begitu santun dan ramah. Sikapnya benar-benar menunjukkan sifat budi pekerti yang baik.


Reynof menatap pria tua itu lalu menelan saliva. Sebuah rumah kaca kecil tersaji di bagian belakang dari vila tersebut. Ruben yang turut hadir pun tidak tahu menahu. Vila itu bukan sekadar bangunan mewah biasa. Pantas saja, Emily bisa meraup keuntungan yang besar dan menyimpan keberadaan aset tersebut dari orang lain, demi mencegah adanya berbagai masalah di Pano Diamond.


“Tuan, Anda harus masuk dan berbicara dengan Nona Chelsea. Sebenarnya, beliau tidak tahu tentang kedatangan Anda. Karena saya, Tuan Fabian, hingga para tetua yang mengurus tempat ini sepakat untuk merahasiakan rencana kedatangan Anda. Saya harap Anda bisa tabah, seandainya beliau bukanlah wanita yang Anda cari,” ucap Ruben lalu menghela napas untuk melegakan sedikit perasaannya.


Reynof tidak menyahut, karena terus menatap pintu masuk kayu dari rumah kaca itu. Perasaannya campur-aduk, hingga membuat lidahnya kelu. Satu tahun ia membiarkan Chelsea, lebih tepatnya Emily pergi meninggalkannya. Dan sekarang, ia tidak tahu apakah jiwa Emily masih bertahan hidup atau malah sudah tergantikan.


”Silakan, Tuan Besar,” ucap si Pria Tua sembari melebarkan pintu. ”Beliau masih sibuk mengurus bunga-bunga.”


Reynof menelan saliva. Dan sesaat setelah menghela napas, ia memutuskan untuk melangkahkan kakinya. Semerbak aroma yang wangi langsung menyambut kedatangannya. Ia ingat Chelsea alias Emily tak menyukai bunga, tetapi kali ini wanita itu justru ada di rumah kaca yang dihuni puluhan atau malah ratusan jenis bunga?


Kenyataan itu membuat Reynof dilanda kecemasan. Kalau sosok Chelsea yang sekarang tidak membenci bunga, bukankah ... ada kemungkinan jiwa Emily memang sudah tiada? Membayangkan hal itu, langkah Reynof terhenti. Tubuhnya gemetar, ketika keringatnya juga mulai bercucuran. Ia tak siap, dan seharusnya ia tidak mengikuti saran Ronald. Oh, andai saja waktu bisa diputar, ia akan tetap berada di dalam kamarnya. Kalau saja Ronald dan Kayla tidak terus-terusan bersujud di hadapannya selama kurang lebih dua mingguan, sungguh Reynof tak akan pernah terbang ke pulau yang cantik itu.


“Pak Erwin?” Suara halus seorang wanita mendadak terdengar. Dan tentu saja sosok Chelsea yang berkata menyebut nama si pria tua tersebut. Namun alih-alih Erwin, ia malah menatap pria lain.


Reynof memberanikan diri untuk menatap Chelsea. Wanita itu semakin cantik, meskipun rambutnya tak sepanjang di satu tahun yang lalu. Gaun manis berwarna putih dengan gambar bunga matahari memberikan kesan cerah dan bahagia pada diri Chelsea. Namun ... siapa jiwa yang ada di dalam tubuh cantik itu sekarang?


”Chelsea?” ucap Reynof. Tertatih-tatih, ia berjalan menghampiri Chelsea. “Kau masih ingat aku, 'kan? Kau masih mengenal diriku, 'kan?”


Chelsea menelan saliva. Kakinya bergerak mundur di saat Reynof semakin mendekatinya. ”Anda ... siapa ya?” tanyanya.


Pertanyaan singkat yang Chelsea lontarkan seketika saja membuat langkah Reynof kembali terhenti. Matanya melebar, tetapi tubuhnya kian gemetar. Ia sudah berusaha untuk mempersiapkan diri, tetapi ketika Chelsea tak mengenalinya, mengapa rasanya sakit sekali?

__ADS_1


”Kau ... benar-benar tak mengenaliku?” tanya Reynof ingin lebih memastikan.


Chelsea menelan saliva. Pandangan matanya meluruh, menatap lantai ubin. “Tidak, saya tidak mengenali Anda, Tuan.”


”Apa kau yakin? Tak bisakah kau mendekat dan memastikan siapa diriku?” Reynof masih saja menawar. ”Chelsea, tapi aku ... aku mengenal tatapan matamu. Tatapan mata yang sama seperti kau yang aku kenal sebelumnya.”


”Tuan, saya sung—”


“A-apakah karena sekarang aku kurus dan buruk rupa, sehingga kau tak dapat mengenaliku sama sekali? A-apa karena diriku sudah kelihatan tua, sampai kau tak mau kenal denganku lagi, Nona?"


Mata dan pipi Reynof telah dibanjiri air mata, meskipun ia tidak sampai merengek layaknya anak TK. Wajahnya yang sangat tirus dan cekung itu semakin terlihat memilukan saja. Nyatanya ia memang tidak sanggup menerima kenyataan bahwa jiwa Emily sudah tiada. Inilah yang ia takutkan selama ini. Perkara mencari Emily bukanlah sesuatu yang sulit, tanpa Ruben pun, Reynof bisa melakukannya. Namun sejak awal, Reynof benar-benar takut jika kehilangan si Jiwa yang ia cintai.


Tubuh Reynof meluruh. Ia duduk bersimpuh, dengan kepala yang tertunduk. Sementara kedua telapak tangannya sudah menyatu satu sama lain, seperti seseorang yang sedang memohon maaf lahir dan batin. “Aku Reynof, Chelsea, sekarang aku memang jelek dan tua. Tapi aku tetap pria yang sama. Aku benar-benar tidak bisa kehilanganmu. Tak bisakah kau mengenali diriku? Aku harus bagaimana? Apa lebih baik aku mati saja? Toh, aku tak akan bisa bertahan hidup lebih lama dengan kondisi kesehatanku yang terus memburuk. Aku harus bagaimana? Kumohon jelaskan padaku!”


“Ugh ...!” Chelsea mengeluh sembari memejamkan matanya yang sudah berair. Pedih sekali melihat sosok pria di hadapannya yang terlihat tak berdaya. Sulit baginya dalam membuat keputusan.


”Tuan Reynof. Kenapa kau tak bisa bertahan dan hidup bahagia? Bukankah aku sudah memintamu untuk mencari kebahagiaan?” ucap Chelsea yang notabene tetaplah Emily. Detik berikutnya, ia turut mendudukkan diri, meski tidak sampai bersimpuh di lantai layaknya Reynof.


Mata Reynof langsung melebar. Ia tercenung diam dalam beberapa detik, hingga akhirnya ia berangsur mendongak dan menatap Chelsea. ”Kau ...?”


”Aku Emily,” sahut Chelsea. ”Mau kau percaya atau tidak, aku ini Emily. Kau selalu bersikap ambigu setiap aku bertanya kau itu menganggapku sebagai siapa, Reynof Keihl Wangsa. Meski tak masuk akal, aku ini adalah Emily. Roh yang hidup menumpang di tubuh ini. Dan saat ini, aku masih belum mendapatkan kepastian kapan diriku akan menghilang, Tuan Reynof. Itu sebabnya aku tak bisa berada di sisimu lagi.”


Reynof masih tak berkata-kata, melainkan berusaha mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah wanita di hadapannya. Dan matanya masih enggan untuk menghentikan buliran bening yang sekarang sudah mewakili rasa haru daripada kesedihannya.


Chelsea alias Emily membantu mendekatkan tangan Reynof ke wajahnya. Sesaat setelah menempelkan tangan kurus itu di salah satu pipinya, Chelsea berkata, ”Wajah ini, tubuh ini, bukanlah milikku. Aku bukan Chelsea Indriyana. Aku hanyalah roh orang mati,” katanya.


”Memangnya kenapa? Siapa pun dirimu, asalkan kau tetap wanita yang aku kenal satu tahun yang lalu, kau tetaplah orang yang mampu merubah diriku, Nona. Aku sudah berubah, aku benar-benar telah menjadi orang yang lebih baik! Satu minggu sebelum hari ini, kau sudah menerima suratku, bukan? Aku akan menyerahkan kembali perusahaanmu, dan aku sudah berubah! Dan aku juga telah mengatakan bahwa aku ingin kau menjadi pendamping hidupku!” sahut Reynof emosional.

__ADS_1


Chelsea menyingkirkan tangan Reynof lalu memutuskan untuk bangkit. Ia berjalan ke arah lain dan saat ini tengah membelakangi Reynof. “Aku bisa pergi lagi, Tuan Reynof. Dan aku tidak tahu kapan waktuku akan pergi. Mungkin setelah bersamamu lagi, aku malah tiada, bagaimana? Bukankah kau akan kembali terluka?”


Grep!


Dekapan erat menjerat tubuh Chelsea dari arah belakang. Dan tentu saja, Reynof yang tengah bersikap demikian. ”Kau sudah bertahan sampai sejauh ini, bukankah ada kesempatan bagimu untuk tetap hidup lebih lama? Tak bisakah kau berada di sisiku lagi, Nona? Kita akan cari jalan keluarnya bersama-sama. Aku bahkan rela mencari orang pintar dari negara mana pun yang akan membantuku untuk membagi sisa, atau menyerahkan seluruh sisa umurku padamu. Chelsea, tidak, maksudku Emily, aku mencintaimu. Aku sungguh mencintaimu!”


”Mencintaiku?” Jujur saja, Chelsea merasa terharu. Sungguh hebat, pria yang dulunya kejam itu menyatakan cinta padanya. Kondisi Reynof yang kurus dan tampak buruk, juga telah membuktikan bahwa Reynof memang sangat terpukul atas kepergiannya. Namun Chelsea masih saja meragu. ”Kau mencintai aku atau Chelsea?”


”Kau, Emily!” Cepat, Reynof menyahut. ”Aku percaya bahwa kau adalah Emily sejak lama. Tapi aku terlalu takut untuk mengakuinya. Aku tidak siap jika kau mendadak tak mengenaliku lagi. Setiap malam yang aku lihat adalah sosok aslimu, dan juga foto-foto kebersamaan kita di pantai pada saat itu. Aku sungguh mencintai dirimu yang sebenarnya, meski kau tak lagi berada di ragamu sendiri. Seharusnya memang begini, bukan? Seharusnya aku memperjuangkanmu daripada terus diam. Lalu jika kita kembali bersama, kita bisa menyaksikan pemberitaan tentang kedua pembunuh yang sebentar lagi akan dieksekusi itu.”


”Tapi, Tuan Reynof, gadis ini tidak bersalah. Aku tak mungkin merebut tubuhnya.”


Reynof menggigit bibir bawahnya. ”Tak bisakah kau memikirkan aku saja? Aku mohon ... aku berjanji aku akan mengurus diriku menjadi lebih baik lagi. Aku berjanji aku tidak akan sejelek ini lagi. Tapi aku mohon, lihat aku, temani aku, dan pikirkan aku saja, Emily.”


Chelsea alias Emily tidak dapat membendung air matanya. Karena nyatanya tidak hanya Reynof saja yang kesulitan. Sejak memutuskan untuk pergi dan membawa Dahlia ke vila itu, Chelsea memang sempat terpuruk. Ia tidak bisa melupakan Reynof. Pikirannya terus diisi oleh pria itu. Kalau saja tidak ada Dahlia yang masih harus ia tenangkan, mungkin Chelsea juga akan kehilangan berat badan layaknya Reynof sekarang. Meski tak berselera, selama ini ia tetap berusaha untuk makan dengan teratur, agar ibu dari pemilik tubuh tak sampai mencemaskan dirinya.


Namun sungguh, sejak menerima surat dari Reynof, hati Chelsea semakin berantakan. Pertama kali menatap Reynof yang tampak kurus tadi pun, diri Chelsea sempat terguncang. Ia merasa bersalah dan juga rindu. Ia sungguh ingin memeluk pria itu!


"Aku merindukanmu, aku sungguh merindukanmu, Tuan Reynof.” Chelsea yang sudah kalah dari gengsi dan juga pertahanannya, bergerak memutar badannya. Di dalam dekapan Reynof, ia menjatuhkan dirinya, sementara kedua tangannya pun tengah memeluk erat pinggang pria itu. ”Aku juga mencintaimu. Tapi, di sisi lain aku juga takut jika menyakitimu, Tuan. Aku juga bingung harus bagaimana.”


Tangisan Chelsea semakin deras, sampai membuatnya sesenggukan. Reynof pun begitu, meskipun tak sampai histeris layaknya Chelsea. Erat sekali keduanya berpelukan, dan tak jarang Reynof memberikan kecupan. Dahaga dari rasa rindu memang sangatlah besar. Setelah satu tahun, akhirnya mereka berjumpa dan saling menyatakan perasaan. Namun, ... masih ada satu hal yang belum dapat Reynof dan Chelsea pastikan.


Ruben sampai turut sesak, sebagai saksi yang masih berada di sekitar rumah kaca. Ia memang tidak pergi dari tempat itu ketika si Pria Tua sudah pergi lebih dulu, karena khawatir tentang kemungkinan tuannya akan tumbang dan jatuh pingsan. Namun ia justru dibuat turut sedih sekaligus terharu oleh momen pertemuan Reynof dan Chelsea, lebih tepatnya Emily, dari balik pintu yang masih setengah terbuka.


“Aku harap ada jalan untuk mereka,” gumam Ruben.


***

__ADS_1


__ADS_2