
Chelsea sudah sampai di lokasi yang telah ditentukan oleh Ronald. Namun bukan kafe, bukan pula sebuah restoran, melainkan sebuah gedung terbengkalai yang terbilang jauh dari pemukiman. Keadaan tempat itu tentu saja membuat Chelsea bergidik sekaligus overthinking. Ia sama sekali tidak menduga Ronald akan meminta bertemu di tempat ini, dan sudah pasti keputusan Ronald memang wajib dicurigai.
Chelsea yang sudah berangsur turun dari mobilnya, kini menelan saliva. Matanya yang indah sibuk menatap ke segala sisi dari gedung buruk rupa tersebut. Ada sejumlah keraguan yang membuatnya ingin sekali melarikan diri. Namun di sisi lain, ia sudah berjalan sejauh ini. Lagi pula, Ronald pasti sudah mengintainya dan tak akan membiarkannya kabur begitu saja.
Ronald, apa yang kau rencanakan? Apa yang kau inginkan dariku sampai memintaku datang ke tempat ini? Kau tak akan membunuhku untuk kedua kalinya, bukan? Batin Chelsea bertanya-tanya.
”Hei, Nona Chelsea!” Suara Ronald tiba-tiba terdengar. Pria itu berjalan dari area dalam gedung tersebut. Lagaknya sangat angkuh, kendati sebuah senyum lebar terus terlukis di bibirnya. ”Kemarilah, Nona, dan mari kita bicara.”
“Tidak bisakah kita berbicara di sini saja?" tanya Chelsea dan sejujurnya sudah mulai gelisah.
Ronald menghentikan langkah tepat di hadapan Chelsea, kemudian berangsur mengerutkan keningnya. “Kenapa? Waaah, Anda tampaknya takut, ya? Why? Bukankah kita sudah lebih dekat? Dan hal yang harus kita bicarakan adalah sesuatu yang rahasia lho. Bahaya jika ada orang yang mendengar!”
”Tuan Ronald, saya—”
Ucapan Chelsea terhenti ketika Ronald mendadak menyambar lengannya. Di mana setelah itu, Ronald lantas berkata, “Bersikaplah seberani saat Anda merayu saya dengan sikap centil Anda itu, Nona! Ikuti saya, atau Anda tidak akan pulang selamanya!”
”Lepaskan saya!”
”Diamlah, Anak Kecil!”
Sial! Chelsea tidak bisa berbuat banyak. Tangannya terlanjur ditarik paksa dan secara tenaga, tentu saja ia kalah dari pria itu. Perasaan Chelsea sungguh tak enak. Dan sepertinya ia sudah salah bertindak. Mau bagaimanapun, Ronald adalah seorang pembunuh. Pria itu bisa membahayakan Chelsea alias Emily untuk kedua kalinya. Namun ... mungkinkah Ronald berani, setelah mengetahui bahwa Chelsea memiliki hubungan khusus dengan Reynof yang tak tertandingi?
Bagaimana ini? Aku salah perkiraan, batin Chelsea gelisah. Sebisa mungkin ia terus memompa otaknya agar bisa mencari jalan keluar dari situasi yang sudah terlanjur menjebaknya. Ia memang pintar, tetapi tubuhnya terlalu lemah jika harus melawan secara fisik. Selama hidup sebagai Emily, Fabian-lah yang selalu bertugas menjaganya, bahkan ketika ada orang jahat, Fabian yang akan melawan. Apalagi ketika harus hidup sebagai Chelsea Indriyana yang bertubuh lemah, bahkan ketika mendapat jatah bulanan saja sampai melilit kesakitan.
“Lepaskan saya!” tegas Chelsea sembari mengibaskan cengkeraman tangan Ronald dari lengannya, setelah ia merasakan adanya kerenggangan dari jemari pria itu.
Perlawanan Chelsea cukup membuahkan hasil. Di ruang utama gedung terbengkalai tersebut, akhirnya Ronald menghentikan langkah. Namun Ronald tak serta merta langsung bersikap lunak dan ramah seperti sebelum-sebelumnya. Pria di hadapan Chelsea tersebut tampak marah dan kecewa. Sepertinya, ... memang ada sesuatu yang Ronald ketahui, dan bisa jadi hal tersebut penting sekali.
”Kenapa Anda bersikap sekasar ini pada saya, Tuan Ronald? Hanya karena berpikir bahwa saya ingin menghancurkan Pano Diamond, Anda sampai sekasar ini? Bukankah hal itu hanyalah sebatas spekulasi Anda sendiri?!” ucap Chelsea yang sudah terlanjur emosi. Suaranya terdengar gemetar, dan ia memang sudah cukup ketakutan.
Senyuman lebar yang terlukis di bibir Ronald langsung menghilang. Ia mengambil langkah untuk mendekati Chelsea, ketika gadis itu justru melangkah mundur. “Bagaimana tidak marah, jika Anda malah akan menghancurkan perusahaan yang ingin saya miliki?! Dan selama ini Anda hanya menipu saya, bukan?”
__ADS_1
“Me-menipu bagaimana?!”
”Jujur saja, Chelsea! Apa yang telah kau lakukan itu sudah terbaca olehku!” Ronald mengumpat kasar. Dan hampir saja ia menampar pipi Chelsea, saat gadis itu malah menunjukkan ekspresi ketakutan yang memuakkan. “Berikan benda itu padaku, Chelsea!”
“Benda apa maksud Anda?”
“Jangan pura-pura tidak tahu!”
“Saya benar-benar tidak tahu!”
Dugh!
Punggung Chelsea menabrak dinding kotor gedung itu. Ronald menyeringai. Sekarang Chelsea sungguh tak akan bisa kabur lagi. Ia sendiri sudah membawa sesuatu untuk berjaga-jaga ketika Reynof mendadak datang. Namun tampaknya, Chelsea memang tidak memberitahu Reynof sama sekali. Yah, cukup menguntungkan bagi Ronald. Dan ia harus segera mendapatkan ponsel cadangan yang sudah Chelsea curi!
”Serahkan ponsel itu,” ucap Ronald yang tak lagi berbahasa formal.
Mata Chelsea melebar, menatap wajah Ronald yang tampak mengerikan. Dan ponsel? Mengapa pria itu membahas soal ponsel? Apakah Ronald mengetahui jika ponsel Chelsea dipasangi aplikasi pelacak oleh Reynof? Lalu apakah sekarang Ronald ingin mencegah kedatangan Reynof? Seandainya memang begitu, sungguh, usaha Ronald akan sia-sia karena tak hanya di ponsel saja sebuah pelacak terpasang, melainkan juga mobil Chelsea.
“Ponselmu dan ponsel milik istriku. Kau sudah mencuri ponsel milik istriku, 'kan?!” Suara Ronald meninggi. “Jika kau mencuri ponsel itu demi menghasut para petinggi Pano Diamond untuk meminta mereka membelot, kau sudah melakukan kesalahan besar, Chelsea. Karena aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi! Serahkan padaku, atau kau akan mati!”
“Mati? Oh kejam sekali Anda ini, Tuan Ronald!” balas Chelsea turut geram, meski tetap ketakutan. ”Kenapa Anda sampai menuduh saya melakukan pencurian demi menghancurkan Pano Diamond? Kenapa juga harus dengan mencuri ponsel, ketika tuan saya pun mampu menghancurkan perusahaan itu tanpa embel-embel ponsel atau benda apa pun! Kalau mau menuduh, setidaknya pikir dengan akal sehat dulu!”
“Kurang ajar sekali kau, Bocah!” Ronald menarik kerah kemeja di balik blazer yang Cheslea kenakan. Detik berikutnya, ia terpaksa mengambil pisttol yang sudah ia bawa, karena Chelsea tampaknya memang sulit diatasi. “Tak usah berpura-pura lagi, dan tak usah sok ceramah, serahkan ponsel itu padaku, Sialan!”
Mata Chelsea langsung melebar di detik di mana Ronald menodongkan pisttol ke kepalanya. Ia sama sekali tidak menyangka situasinya akan seperti ini. Ronald memang seorang pembunuh, tetapi jika bertindak gegabah begini, bukankah Ronald sama saja bunuh diri?
Chelsea sempat berpikir, dirinya mungkin tidak akan baik-baik saja setelah memutuskan untuk menemui Ronald. Namun karena ingin sekali menangkap Ronald dan mendapatkan bukti, ia membuat keputusan itu tanpa banyak pertimbangan. Ia sudah salah langkah! Tadinya ia pikir, Ronald hanya akan meleccehkan jika memang sangat kesal, tetapi pria itu justru sampai membawa senjata api.
”Anda ... memangnya Anda tidak takut pada tuan saya? Apa Anda ingin mati?!” ucap Chelsea berusaha mengulur waktu demi menyelamatkan nyawanya sendiri. Ia tidak mau mati untuk kedua kalinya di tangan orang yang sama.
Ronald menyeringai. ”Kenapa aku harus takut? Jika kau mati, aku tinggal membuang jasadmu tanpa sepengetahuan siapa pun. Bahkan Reynof mungkin saja tak akan tahu. Lagi pula, jika aku tidak bisa mendapatkan perusahaan itu, aku sama saja sudah hancur, Nona. Jadi, cepat serahkan ponsel milik istriku. Serahkaaan, Sialan!”
__ADS_1
”Kau ....” Mata Chelsea mendelik. Lehernya terasa sakit saking kuatnya tarikan tangan Ronald di kerah kemejanya yang sampai membuatnya tercekik. “Kau ingin melakukan hal itu padaku lagi, Ronald? Kau ingin membuang jasadku di sungai itu lagi? Kau ingin menyamarkan kematianku dengan sebuah kecelakaan lagi? Kenapa harus begitu, Ronald? Padahal aku sangat mencintaimu. Aku bahkan menabung untuk memberikan aset besar untukmu, Ronald. Tapi, kenapa kau malah membunuhku, Sialan!”
Chelsea yang sudah putus asa dan berpikir mungkin tidak akan selamat, akhirnya mengungkapkan jati dirinya. Rencana Ronald yang ingin membuang jasadnya memang sukses membuatnya terbawa perasaan. Bulir-bulir air mata pun sudah menodai kedua pipinya, dan wajahnya semakin memerah tatkala jerat tangan Ronald semakin membuatnya sulit bernapas.
Di sisi lain, kalimat yang Chelsea katakan tentu saja membuat Ronald terperanjat. Ia sangat kaget, bagaimana bisa gadis cilik yang baru saja ia gertak itu malah mengetahui segala tragedi kematian Emily, bahkan sampai bertindak seperti Emily? Tangan Ronald bergetar, ketika matanya yang berkaca-kaca mendadak melihat paras Emily di wajah Chelsea.
”Kenapa kau membunuhku, Ronald?! Padahal kau bilang, kau mencintaiku! Ya, aku Emily! Aku Chelsea! Kenapa? Kau kaget?! Tuhan berada di pihakku, Ronald! Tuhan membuatku tetap hidup! Kau ingat, ada gadis yang turut ditemukan setelah jasadku? Gadis itu adalah Chelsea, tapi yang sekarang hidup aku, Ronald. Istrimu, Emily Panorama Rukmana!” ucap Chelsea. ”Jika kau ingin membunuhku, bunuh lagi saja, Ronald! Dan aku akan kembali hidup di tubuh orang lain, dan saat itu akulah yang akan membunuhmu! Aku akan terus membunuhmu, Ronald!”
Tangan Ronald gemetaran. Ia berangsur mundur ketakutan, bahkan sampai jatuh terduduk. Lepasnya cengkeraman Ronald, membuat Chelsea bisa bernapas lebih lega. Namun ia masih tidak kuasa untuk tetap berdiri, yang akhirnya membuat tubuhnya turut tumbang.
“Jangan bertindak seperti istriku, Sialan!” tegas Ronald yang masih saja sulit berdiri. Kakinya begitu lemas. Ia benar-benar melihat sosok Emily dari sosok diri Chelsea. Entah. Mungkin, hal itu hanya sekadar halusinasi karena rasa bersalahnya. Namun mau bagaimanapun, gadis itu memang terlalu mirip dengan Emily dan membuat Ronald menjadi tak berdaya.
”Ronald, pada saat itu aku sungguh mencintaimu,” ucap Chelsea. Air matanya masih terus keluar. “Aku membelikan hadiah sepatu keluaran baru yang paling mahal. Aku memesan kue sesuai logo tim bola yang kau sukai. Aku sengaja berbohong jika aku akan bekerja ke luar kota, demi bisa memberikan kejutan untukmu. Tapi kau malah mendua dengan sepupuku sendiri. Kau tahu betapa sakit hatiku saat itu? Dan setelah sakit hati, kau malah membuatku benar-benar mati.”
Chelsea menatap Ronald dengan wajah lunglai. ”Kenapa ... aku mencintai penipu sepertimu, Ronald? Kenapa aku sangat memercayaimu dan melakukan segalanya untuk membahagiakanmu? Bahkan aku ingin kau memegang kendali atas perusahaanku jika nanti kita punya anak. Sebesar itulah aku mencintaimu, Ronald! Tapi, sekarang, ketika aku hidup di tubuh ini, aku sadar bahwa aku memang bodoh, sangat bodoh!”
”Berhenti! Berhentilah! Berhenti!” ronta Ronald.
Ronald sampai menepuk-nepuk kedua telinganya. Rasa bersalah telah sukses mengobrak-abrik perasaannya. Jika Chelsea adalah Emily dan entah bagaimana hal itu bisa terjadi, ia benar-benar tidak tahu harus bersikap seperti apa lagi. Ronald malu dan takut.
“Chelsea!” Suara seseorang mendadak terdengar. Adalah Reynof yang sudah berlari cepat setelah melihat Chelsea terduduk lemah, bersama Ronald yang juga masih terduduk tak berdaya. ”Kau tak apa-apa?” tanya Reynof sesaat setelah memeluk Chelsea yang sudah berhasil ia hampiri.
Melihat kedatangan Reynof, keadaan hati dan perasaan Ronald semakin kacau balau. Hilanglah sudah rasa malu dan bersalah, karena pada akhirnya ketakutannya jauh lebih besar. Ronald tidak mau mati atau sekadar dipenjara pun, ia tidak mau. Ia sudah membuat dirinya sendiri menjadi seorang pembunuh, tak hanya membunuh istrinya melainkan juga kedua orang tua istrinya. Dan ia tidak mau semua perjuangannya itu berakhir sia-sia.
Ronald berangsur bangkit ketika Reynof dan Chelsea masih sibuk berbincang. Detik berikutnya, ia meluruskan kedua lengannya dan menodongkan pisttol ke arah mereka. Jika ia hancur, maka mereka juga harus hancur! Begitu pikirnya. Pisttol yang awalnya untuk jaga-jaga jika Reynof datang, pada akhirnya berguna untuk hal yang sudah ia pikirkan sejak awal. Rupanya Chelsea memang tidak bisa dipercaya, karena Chelsea masih tetap menghubungi sang tuan.
”Tidak ... tidaaak!” pekik Chelsea dengan mata membelalak ketika Ronald menarik pelatuk pisttol tersebut.
Reynof menoleh ke arah Ronald sebentar, dan langsung mendekap erat tubuh Chelsea. “Kau ... harus tetap hidup, Nona,” lirihnya.
DOOOR!
__ADS_1
***