
Mata Ronald menatap pintu kamar pengantinnya yang sempat ia huni bersama Emily selama satu bulan, terhitung sejak pernikahannya terjadi sampai saat mendiang istrinya itu mati. Cukup merinding ketika membayangkan tubuh Emily tersungkur dengan darah yang mengucur dari kepala. Sebagai sang pelaku pembunuhan, tentu saja Ronald begitu teringat akan aksi kejinya terhadap sang istri. Dan hal itu menjadi kali kedua baginya dalam menghilangkan nyawa orang lain.
Ronald menghela napas bersamaan dengan gerakan kedua telapak tangannya yang mengepal erat. Matanya yang tadinya begitu fokus kini berangsur ia pejamkan. Hanya berkisar beberapa detik saja, Ronald kembali membuka matanya dan meraih handel pintu kamar itu. Sebelum Nora pulang, ia sudah harus berhasil mengambil salah satu barang peninggalan Emily.
Rencana Ronald untuk membuat Chelsea terkesima padanya masih tetap ada. Lagi pula, ia sudah berjanji pada gadis itu bahwa dirinya akan memberikan kenang-kenangan terakhir yang pernah Emily miliki selama masih hidup.
"Ketika Chelsea bisa merasa terkesan, atau malah ingin bertemu denganku lagi nantinya, pasti aku tak akan bosan," gumam Ronald sesaat setelah memasuki kamar tersebut. "Apalagi saat ini aku sedang jengkel pada Nora yang egois dan kerap kelepasan."
Langkah Ronald terus terayun maju, sampai berpijak pada bekas di mana tubuh Emily tersungkur. Ronald menelan saliva dengan susah-payah. Tak butuh waktu lama bagi bulu kuduknya untuk berdiri tegak, saking merindingnya.
"Emily, kau sudah tidak ada di sini, 'kan?" gumam Ronald sembari menatap ke sekeliling kamar.
Padahal kamar itu pernah menjadi tempat Ronald bermesraan dengan Emily, ketika pria itu pun juga terpesona berkali-kali pada visual Emily yang memang nyaris sempurna. Andai saja Emily tidak datang di malam ketika Ronald kembali bersama Nora untuk kesekian kalinya, dan setelah sekian lama, mungkin saja Emily masih bernapas sampai saat ini. Padahal Ronald hanya mencuri waktu untuk bersama Nora, ketika Emily pamit keluar kota. Sayang sekali, Emily justru merencanakan kejutan konyol demi merayakan pernikahan yang baru menginjak usia satu bulan.
Helaan napas terdengar tengah Ronald lakukan, bersamaan dengan perubahan ekspresi di wajahnya. "Jangan marah padaku. Aku juga terpaksa melakukan hal itu. Kau telah mengusirku dari rumah ini, dan aku tidak bisa pergi setelah apa pun yang aku lakukan demi masuk ke kediamanmu. Bahkan ... aku juga terlibat dalam kematian kedua orang tuamu, Emily. Aku sudah menjadikan diriku seorang pembunuh demi menjadi pria kaya, jadi, kau harus lebih mengerti ya?"
__ADS_1
Ronald berdeham dan mencoba untuk mengusir hawa dingin yang membuatnya merinding. Meski ia sempat berkata seolah-olah roh Emily masih ada di sana, ia pun yakin bahwa hantu itu tidak pernah ada di dunia ini. Kemudian, Ronald berjalan ke arah ruang tersembunyi yang merupakan tempat penyimpanan barang-barang milik Emily, baik tas, sepatu, accessories, maupun pakaian. Kamar tersebut memanglah sangat luas. Tak hanya ada ruang tidur dan ruangan tersembunyi, melainkan juga terdapat kamar mandi pribadi. Kamar itu bahkan lebih besar ketimbang rumah milik keluarga Ronald.
Sesampainya di ruangan tersembunyi tersebut, Ronald mulai mengamati satu per satu lemari penyimpanan. Dari lemari pakaian, tas, hingga tas. Ronald tahu betul bahwa mendiang istrinya begitu tergila-gila pada tas-tas branded yang mahal. Emily mengaku tas cantik akan menunjang penampilan, meskipun hanya memakai pakaian murahan.
Mengingat pengakuan yang sempat Emily katakan di masa lalu lantas membuat senyum Ronald tersungging lebar. "Benar juga. Chelsea pasti akan senang jika mendapatkan tas branded. Barang kali dia juga ingin mengenalku lebih jauh karena kebaikan hatiku sebagai suami Emily yang rela memberikan tas super mahal," gumamnya disertai keyakinan yang amat besar.
Detik berikutnya, Ronald menggeser pintu lemari yang dibuka secara digeser. Ia menatap satu per satu tas milik mendiang istrinya yang berjumlah puluhan. Memang wanita kaya yang luar biasa, sampai rela menggelontorkan puluhan bahkan ratusan juta uang demi barang yang sebenarnya satu saja tak akan cepat habis. Padahal ketika menjadi karyawan kantor, gaji Ronald tak sebesar harga tas-tas tersebut. Apalagi untuk pendapatan ayah Ronald yang bekerja sebagai sekuriti hanya mencapai UMR saja dan akan cukup bahkan kurang untuk keperluan satu bulan.
"Ck, ck, ck, pada akhirnya kau mati hanya membawa tubuhku saja, Istriku Sayang," ucap Ronald lalu menyeringai. "Sekarang semua asetmu telah dimiliki oleh sepupumu sendiri. Bahkan aku yang merupakan suami sekaligus algojomu sama sekali tak mendapatkan bagian apa pun. Jadi, jika kau masih ada di sini, aku harap kau lebih mampu untuk memaafkan aku."
"Hei! Apa yang kau lakukan di kamar itu, Ronald?" Mendadak terdengar suara Nora yang sampai membuat kedua pundak Ronald terangkat, sementara pria itu baru saja menutup pintu. Dan saat ini, Nora pun hendak menuju kamar kakak sepupunya demi mencari berkas penting yang berkaitan dengan perusahaannya.
"Apa kau sedang merindukan Emily? Kau habis marah-marah padaku, lalu mendadak teringat Emily yang begitu romantis padamu itu, 'kan?" lanjut Nora ingin menyelidiki. Kekesalannya karena tak dibela setelah berdebat dengan Chelsea memang masih ada sampai sekarang. Bahkan Ronald meninggalkannya tanpa kembali untuk sekadar menenangkan dirinya sampai jam kerja habis. "Lalu apa yang hendak kau lakukan dengan tas itu? Kau ingin menjualnya untuk berfoya-foya?!"
Ronald yang sempat terkejut memutuskan untuk menenangkan dirinya. Ia harus mencari alasan agar Nora bisa mempercayai dirinya. Gawat jika Nora kesal dan sampai memutuskan dirinya, tentu saja ia tidak akan menjadi pria kaya lagi setelah putus dari wanita itu.
__ADS_1
"Tenanglah, Nora. Aku mengambil tas ini bukan untuk dijual, tapi buat apa disimpan dan justru membuat kita terus merinding?" ucap Ronald sembari berjalan ke arah kekasihnya. Dan ketika sudah berhadapan dengan Nora, ia kembali berkata, "Kau tahu apa yang telah kau lakukan tadi pagi, bukan?"
"Jangan membahas masalah tadi pagi jika kau hanya ingin menyalahkan aku lagi! Sudah aku katakan, anak kecil itu yang memulai duluan, Ronald! Bukan aku! Dia bahkan begitu kurang ajarnya dengan menaruh curiga padaku!" tukas Nora.
"Aku tidak ingin menyalahkan dirimu lagi, tapi sikapmu yang kelepasan tadi memang tak sepatutnya kau lakukan, Sayang." Ronald menjatuhkan tas beserta paperbag itu dan lantas menangkup kedua pipi Nora. "Bersabarlah untuk apa pun serangan yang kau dapatkan. Dan biarkan aku memperbaikinya. Kau tahu? Aku menemukan fakta bahwa Chelsea adalah penggemar berat Emily. Mungkin karena kecintaannya terhadap Emily, dia menjadi penuh kecurigaan. Dia bahkan sampai kesal padamu yang justru marah-marah. Oleh sebab itu aku mengejarnya agar dia tidak melaporkan kemarahanmu pada Reynof Keihl Wangsa."
Mata Nora mengerjap-ngerjap. "K-kau yakin mengejarnya demi hal itu? Bukan karena dia masih lebih muda dariku dan cantik?"
"No, no, sama sekali bukan karena itu." Ronald menyahut sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. "Bahkan bagiku kau lebih cantik daripada dia. Dan percayalah, aku mengambil salah satu tas Emily karena aku berjanji akan memberikannya barang peninggalan Emily, itu semua agar dia tidak melaporkan kemarahanmu pada Tuan Reynof yang akan merugikan dirimu. Ingat, Sayang, kau masih butuh sesuatu untuk membuktikan diri dan memperkuat posisimu. Dan mungkin saja, saat ini hanya Reynof yang bisa membantumu."
Nora berangsur melunak setelah diberikan penjelasan oleh Ronald. Seluruh kekesalan yang terus ia rasakan di sepanjang hari ini mulai menepi, tergantikan oleh rasa terima kasih. Dan demi menebus kesalahannya tersebut, Nora memutuskan untuk memeluk Ronald, ingin membuktikan bahwa dirinya sudah tak lagi kesal.
Namun sesuatu yang berbeda justru Ronald rasakan. Hatinya memang lega, tetapi juga masih jengkel. Wajahnya yang tak terlihat oleh mata Nora, karena wanita itu memeluk dirinya, justru memasang ekspresi masam.
***
__ADS_1