
Untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar, terkadang memang harus mengorbankan hal yang jauh lebih besar. Seperti halnya Chelsea yang akhirnya tak hanya menjadi seorang pelayan, melainkan juga budak ranjang. Ia sama sekali tidak membenarkan keputusan yang ia ambil tersebut.
Namun situasi membuat Chelsea terpaksa harus melakukan hal bodoh itu. Ia sendiri tidak tahu kapan jiwanya akan diusir pergi dari raga yang ia tinggali saat ini. Chelsea yang asli bisa datang kapan saja. Oleh sebab itu, Chelsea yang sejatinya adalah Emily merasa waktunya terlalu mepet untuk terus menunda apa yang bisa ia lakukan untuk membalas dendam sekaligus mengungkap kematiannya sendiri.
Dan pagi ini setelah empat hari harus menunggu, akhirnya Chelsea bisa datang ke perusahaan Pano Diamond Group yang tentu saja tidak asing baginya, sebagai pemilik sebenarnya atas perusahaan itu. Sebuah buket bunga yang indah telah Chelsea bawa sebagai ucapan selamat teruntuk Nora yang baru saja naik jabatan.
Sayangnya sebelum bertemu dengan Nora, Chelsea justru harus menemui sebuah kesulitan. Kesulitan tersebut adalah ketika dirinya kembali bertemu dengan Fabian. Sekretaris pribadinya saat masih hidup sebagai Emily tersebut sedang menghentikan langkah kakinya tepat di hadapan ruang kerja Nora yang hendak ia datangi, dan saat ini pria itu tengah berdiri di hadapannya.
"Siapa kau? Kenapa ada di sini? Kenapa kau terus muncul di tempat-tempat milik Emily? Sudah aku bilang, jawab aku, Nona! Katakan kau itu siapa?! Dan sekarang kenapa kau ada di sini? Apa yang sebenarnya kau incar?!" ucap Fabian yang di setiap pertemuan selalu mempertanyakan tentang identitas gadis yang memang terlihat muda itu.
Chelsea menelan saliva. Bingung, juga merasa bersalah. Sekali lagi, ia tidak bisa mengaku bahwa dirinya adalah Emily dengan alasan yang masih sama. Fabian tak akan percaya dan dirinya akan dianggap gila.
Mata Fabian semakin tajam, dan langkahnya terayun maju, membuat Chelsea otomatis mundur sembari menelan saliva karena tertekan. Wajah tampan Fabian tampak marah dan penuh kecurigaan. Wajar saja. Pria itu sangat waspada. Apalagi Chelsea memang hadir di tempat-tempat yang seharusnya tidak ia singgahi dengan raga yang bukan miliknya.
"Aku tak akan segan menuntutmu, jika ternyata kau adalah seorang penguntit. Jadi, sebelum aku membuat laporan, katakan siapa dirimu sebenarnya dan apa alasanmu terus-terusan muncul?!" Fabian sudah kehilangan kesabaran atas rasa penasaran yang tak kunjung mendapatkan jawaban. Dan baginya gadis itu tetap mencurigakan.
Mata Chelsea mengerjap-ngerjap. Dalam kekalutan itu, ia tidak tahu harus bagaimana selain berkata, "Fabian ... aku ... a-aku—"
"Nona Chelsea Indriyana!" Tiba-tiba suara Nora terdengar ketika wanita itu melebarkan pintu ruangan, sampai membuat ucapan Chelsea harus terpotong begitu saja.
"Selamat pagi, Nona Nora" ucap Chelsea sembari membungkukkan badan.
Beruntungnya Nora pun muncul di saat Chelsea nyaris membuat dirinya dianggap gila oleh Fabian. Dengan senyum penuh kebahagiaan, Nora menyambut keberadaan Chelsea dan lantas meminta Chelsea untuk memasuki ruangan itu. Meski sejujurnya saat ini tubuh Chelsea diserang gemetar, pada akhirnya ia tetap melangkah memasuki ruang kerja yang selalu ia datangi ketika menjabat sebagai pimpinan utama. Dan sekarang, tak hanya harus merelakan ruangan kesayangan peninggalan ayahnya itu, ia pun harus menghadapi para pembunuhnya.
Dan ternyata, Ronald pun tengah berada di dalam ruangan tersebut. Noda lipstik di pipi Ronald membuat Chelsea yakin bahwa pria itu dan Nora belum lama ini telah bercumbu. Sungguh pasangan yang memuakkan dan pecandu hal 'intim'! Pasangan yang serasi sekaligus kejam, setelah membunuh Emily, keduanya justru terlihat lebih bahagia, seolah-olah tidak ada satu pun rasa bersalah yang bernaung di dalam hati mereka.
"Selamat pagi, Tuan ...?" Chelsea berlagak lupa nama suaminya sendiri. Ronald Rostian yang dulu sangat ia cintai, yang dulu pernah ia anggap sebagai penyelamat hidup, karena pria itu telah membantunya bangkit dari keterpurukan setelah kematian Bowo Rukmana dan Asri Dewidanti.
__ADS_1
Mata Chelsea terasa panas, dadanya bergemuruh hebat. Rasanya ubun-ubunnya ingin segera meledak. Kedua telapak tangan Chelsea mengepal erat, dirinya mencoba bertahan agar tidak sampai menangis. Ia sudah sampai menyerahkan dirinya pada Reynof demi pencapaian ini. Dan jika sampai ada sebulir saja air mata, semua rencananya bisa saja gagal total. Chelsea tidak mau semuanya berakhir sia-sia.
"Selamat pagi, Nona. Saya Ronald, kakak sepupu ipar Nora, sekaligus suami mendiang Emily," ucap Ronald sembari mengulurkan tangannya.
Chelsea menatap uluran tangan Ronald yang dulu selalu membelai dirinya. Tangan yang selalu mendekap tubuhnya sekaligus mengusap air mata kesedihannya. Namun tangan itu juga yang membuatnya harus mati sia-sia.
"Salam kenal, Tuan Ronald, saya Chelsea Indriyana, salah satu sekretaris Tuan Reynof dan ditugaskan untuk membahas rencana kerja sama dengan Nona Nora yang terhormat," ucap Chelsea dan sama sekali tidak menyambut telapak tangan Ronald, tetapi ia mengangguk santun penuh hormat.
Mendapat penolakan atas jabat tangan, Ronald cukup tersinggung. Namun ia hanya terdiam sembari menelan saliva.
Nora bertepuk tangan dan berjalan ke arah ruang tamu di ruang kerjanya itu. "Sungguh suatu kehormatan karena kami mendapatkan permintaan kerja sama yang begitu menjanjikan," ucap Nora. Detik berikutnya, ia menunjuk ruang tamu itu dengan kedua tangannya. "Silakan duduk, Nona, kita bisa memulainya dengan cepat, bukan? Karena ... ah, maafkan saya, sebentar lagi saya ada rapat lain."
Sebegitu senangnya Nora menunjukkan bahwa dirinya sudah sukses berada di tahta tertinggi. Gesturnya sudah membuktikan bahwa saat ini dirinya sedang pamer. Mungkin sosok Chelsea yang masih muda begitu remeh di matanya. Tanpa ia sadari bahwa Chelsea sejatinya adalah Emily, kakak sepupunya sendiri. Tentu saja Chelsea muak, bahkan desakan untuk menghajar Nora, terutama Ronald sudah begitu besar. Namun beruntungn akal sehatnya masih berjalan dengan baik.
Gegabah tak akan membuat Chelsea untung, melainkan justru buntung. Oleh sebab itu, ia harus lebih bersabar kendati perutnya sudah melilit mual. Mungkin ia juga sudah mengidap trauma dan ketakutan, karena ia harus bertatap muka serta berbicara dengan suami yang telah membunuhnya, sekaligus adik sepupu yang turut andil atas hal itu.
Kegirangan terus ditampakkan oleh Nora dan juga Ronald. Keduanya begitu mudah dibodohi. Mereka tergiur hanya karena janji manis dan nama besar Reynof, tanpa menyadari bahwa mereka bisa saja dijebak jika tidak hati-hati. Kalau Chelsea yang ada di posisi Nora, sudah pasti dirinya akan lebih teliti serta berpikir dengan lebih detail. Tak hanya keuntungan, melainkan juga risiko dan kerugian.
Ada banyak celah yang bisa Reynof manfaatkan untuk menjatuhkan Pano Diamond Group, oleh sebab itu, Emily tidak pernah berkenan untuk menjalin hubungan dengan pria itu. Namun berbeda dengan Nora yang tampaknya sedang membutuhkan pengakuan agar dipandang berhasil setelah menjadi pimpinan utama.
"Kami tentu saja membutuhkan persetujuan dari Anda sekaligus para petinggi perusahaan Anda, Nona Nora, kami tidak ingin ada masalah internal di perusahaan Anda yang membuat pihak kami merasa dirugikan. Mengingat Nyonya Emily yang selalu enggan bekerja sama dengan kami, kami yakin beliau punya pemikiran tersendiri, termasuk juga karena disebabkan oleh pendapat-pendapat dari para petinggi Pano Diamond Group lainnya," jelas Chelsea.
Nora menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat. "Tidak! Tidak akan ada, Nona! Saya jamin semua pihak saya sudah setuju!" jawabnya. Dan ia memang tidak mau kehilangan kesempatan yang bisa mendobrak namanya di Pano Diamond Group, di saat masih banyak pihak yang meragukan dirinya.
"Apakah Nyonya Emily juga akan membuat keputusan yang sama jika mendapatkan penawaran ini, Nona?"
Nora menelan saliva. "I-itu ... seperti yang Anda katakan, kakak saya selalu menolak, jadi tidak mungkin."
__ADS_1
"Beliau terkenal sebagai pimpinan yang sangat cerdas, bahkan nama besar beliau sudah begitu tersohor. Apa Anda tak ingin mempertimbangkan apa yang beliau putuskan kala beliau masih hidup?"
"Tidak, kenapa harus? Sekarang sudah berbeda. Saya yang berkuasa, jadi—"
"Nora ...!" Ronald menyentil Nora agar kekasihnya itu tidak asal berbicara.
Namun Chelsea tidak ingin kehilangan kesempatan untuk melakukan serangan pertama. "Berkuasa? Bagaimana bisa Anda mengatakan hal itu, seolah Anda sudah menanti posisi Nyonya Emily menjadi milik Anda? Dan lagi, yang lebih berkuasa biasanya para petinggi. Mereka bisa saja melengserkan Anda dari tahta dengan banyak cara, jika Anda tidak bekerja dengan baik."
Ucapan Chelsea sungguh membuat jantung Nora seperti ditusuk menggunakan benda tajam. "Saya ini sedang berkabung, Nona Chelsea! Kok Anda justru menganggap saya memang sengaja menanti kepemilikan atas posisi kakak saya? Justru apa yang sedang saya dapatkan saat ini merupakan sebuah beban, dan saya hanya berusaha bekerja dengan baik!"
"Oh! Maafkan saya jika ucapan saya justru menyinggung. Soalnya sejak awal Anda tampak bahagia sekali. Siapa yang tahu jika Anda sudah tak lagi berkabung setelah mendapatkan kedudukan Nyonya Emily. Jujur saja, masih ada banyak pihak yang menganggap kecelakaan Nyonya Emily itu terdapat banyak kejanggalan. Karena setahu saya pun, Nyonya Emily dikenal dengan gaya hidupnya yang sehat. Beliau bahkan tak pernah menyentuh alkohol. Mmm ... tapi, kematian beliau justru dianggap kecelakaan tunggal karena mabuk berat. Bukankah hal itu sangat aneh dan—"
Tiba-tiba saja Nora menggebrak papan meja sampai berdiri dari duduknya. "Jangan lancang, Nona Muda! Memangnya Anda tahu apa? Kenapa justru membahas orang yang sudah tiada, bahkan sampai menaruh curiga pada saya? Saya tidak pernah menginginkan posisi ini sama sekali, apalagi menunggu kematian kakak saya sendiri! Memangnya Anda se-yakin apa kalau kakak saya tidak menyukai alkohol sama sekali? Dia tidak hidup sesehat itu! Dan kematiannya sama sekali tidak aneh!"
"Hah? Benarkah? Jadi, selama ini, Nyonya Emily hanya pencitraan saja, dong? Dan kematian beliau tidak aneh?" Chelsea menutup mulutnya, berlagak melongo. "Waaah! Tapi ... Nona, saya kan tidak mengatakan bahwa Anda telah menunggu kematian kakak Anda? Saya hanya berpendapat saja, barang kali Anda memang menginginkan posisi beliau setelah beliau tiada, bukan saat beliau masih hidup. Kenapa Anda berpikir jauh sekali? Saya tidak selancang itu untuk menuduh Anda macam-macam kok. Saya juga tidak sampai hati hendak menuduh Anda telah membunuh Nyonya Emily kok, jadi jangan emosional seperti itu. Saya hanya ingin tahu saja tentang beberapa lingkup karakter calon partner bisnis perusahaan tuan saya."
"Kau sendiri yang membuat api, jadi wajar jika aku merasa tersinggung!" Nora merasa dipermalukan, tidak, tetapi lebih tepatnya dirinya seperti dijebak.
"Nora!" Ronald menarik tubuh Nora agar Nora lekas duduk kembali. Kemudian ia menatap Chelsea kemudian berkata, "Maafkan kami, Nona Chelsea. Keadaan Nora belum sepenuhnya stabil setelah kepergian kakaknya. Dia masih agak sensitif jika membahas soal mendiang istri saya, karena belakangan ini kami juga tertekan oleh penilaian banyak orang."
Chelsea menghela napas. "Jika memang tidak berkenan untuk membahas mendiang Nyonya Emily, bukankah bisa mengalihkan pembicaraan saja, daripada marah-marah? Lagi pula, saya kan hanya berpendapat. Misalnya pendapat saya salah, ya tolong dimaklumi dan diperbaiki dengan lebih santun. Kalau Nona Nora begitu emosional hanya karena sepercik api, bagaimana beliau bisa bertahan dalam bisnis yang tak selalu berjalan dengan lancar? Lagi pula, Neverley Group menawarkan kerja sama, bukan karena butuh. Melainkan karena demi memberikan bantuan untuk membuat Nona Nora bisa membuktikan pencapaian ketika baru naik jabatan. Hal itu Tuan Reynof lakukan karena hubungan beliau dengan Nyonya Emily di masa lalu."
"Hah? Apa?" Wajah Ronald begitu kebas. "Me-memangnya Emily pernah menjalin hubungan dengan Tuan Reynof?"
Chelsea memutuskan untuk bangkit dari duduknya. "Hubungan yang sangat spesial pastinya. Ah, karena Nona Nora masih tampak terguncang, sepertinya saya langsung undur diri saja. Untuk kesepakatan baru tolong hubungi pihak kami nantinya. Karena Tuan Reynof yang akan langsung turun tangan. Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu, Nona Nora dan Tuan Ronald."
Sesaat setelah membungkukkan badan di hadapan pasangan bodoh itu, Chelsea langsung melenggang keluar. Ia meninggalkan bekas ruang kerjanya kala masih hidup sebagai Emily dengan perasaan campur-aduk. Ia senang lantaran sudah bisa membuat Nora tersinggung, termasuk juga Ronald yang pasti mulai kalang kabut setelah ada orang yang menganggap kecelakaan Emily banyak kejanggalan. Ronald pasti lupa bahwa sang istri sama sekali tak pernah menyantap minuman keras, tetapi entah dirinya atau Nora malah mencekoki Emily dengan wine berkadar alkohol sangat tinggi.
__ADS_1
***