
Langit biru kini telah berubah menjadi jingga. Diandra merenggangkan otot-ototnya yang terasa penat setelah seharian ini bekerja keras.
Ia memutuskan untuk pulang ke rumah dan melanjutkan pekerjaan kantornya esok hari.
Hari ini Diandra ada janji dengan dokter spesialis saraf. Dia ingin berkonsultasi mengenai kelumpuhan yang diderita ayahnya selama bertahun-tahun itu.
Dengan diantarkan oleh sopir pribadinya, merekapun berangkat menuju tempat praktek dokter tersebut.
Tak lebih dari setengah jam mereka telah tiba disana. Diandra langsung menemui sang Dokter sebab telah membuat janji temu sebelumnya.
Seorang pria dengan rambut yang telah mulai beruban menyambut kedatangannya. Kebetulan Dokter itu juga merupakan kenalan dari orang tuanya.
Diandra menjelaskan apa yang terjadi pada Papanya, ia meminta beberapa saran dari Dokter untuk kesembuhan Papanya.
Dokter menjelaskan bahwa stroke yang dialami oleh Papa Diandra kemungkinan disebabkan karena pecahnya pembuluh darah yang ada di otak.
Dokter menyarankan agar Papa Diandra dibawa untuk pemeriksaan lebih lanjut. Namun, karena keadaan yang belum memungkinkan, Diandra meminta beberapa resep obat terbaik dan bagaimana melakukan terapi rawat jalan.
Dokter menyarankan agar ia selalu menyemangati sang ayah agar cepat sembuh. Dukungan dari orang terdekat juga merupakan kunci terpenting bagi kesembuhan pasien.
Setelah selesai berkonsultasi, ia memutuskan untuk segera pulang ke rumahnya.
Badannya terasa pegal, selain aktivitas yang cukup banyak di kediaman Adijaya, nyatanya tumpukan file dikantor juga menguras otaknya.
Bayangkan saja, beberapa hari ini Lilian memerintahkannya menyapu, membersihkan halaman, memasak, mencuci dengan tangan, menyetrika, mengepel , menguras kolam renang tanpa boleh dibantu oleh pelayan yang lain.
__ADS_1
Pekerjaan yang hampir seumur hidup belum pernah dilakukannya. Yah, dia berasal dari keluarga kaya raya dimana semua pekerjaan sudah dikerjakan oleh beberapa pelayan dirumahnya.
***
" Bos, mobilnya sudah keluar dari rumah sakit. " ujar seseorang menelpon atasannya.
" Bagus. Cegat mereka dijalanan sepi. Habisi gadis itu dan buang mayatnya ke jurang. Ingat ! Lakukan pekerjaan kalian dengan rapi. " perintah dari seberang telepon.
" Baik, Bos. "
Sekawanan orang berpakaian hitam segera mengikuti mobil Diandra yang mulai meninggalkan area rumah sakit. Mereka sedikit menjaga jarak supaya tidak terlalu mencolok.
Diandra yang terlalu lelah tak kuasa menahan kantuknya. Ia memejamkan netranya sesaat untuk mengurangi rasa kantuk yang melanda.
Sang sopir melajukan mobil dengan kecepatan sedang agar sang atasan bisa beristirahat dengan nyaman.
Tanpa berpikir panjang, sang sopir segera membangunkan atasannya.
" Nona, Nona! Bangun. Ada yang mengikuti kita dari belakang. " teriak sang sopir cemas.
Diandra berusaha meraih kesadaran, ia melihat ke arah belakang. Benar saja, beberapa motor mengikuti mereka dari belakang dan sekarang semakin mendekat.
" Kurang ajar! Siapa mereka? "
Diandra mencengkram pakaian bawahnya karena kesal. Ia mencoba untuk tenang, dan berpikir bagaimana caranya untuk meloloskan diri. Sekarang Pak sopir berusaha keras untuk menaikkan laju kecepatan mobilnya.
__ADS_1
Ia segera menghubungi Jonathan untuk membawa beberapa anak buah mereka menuju lokasinya saat ini.
Namun, berkali-kali ia mencoba untuk menghubungi, tapi nomor Jonathan justru tidak aktif sekarang.
" Hah, Kemana jonathan? Disaat genting seperti ini malah nomornya tidak aktif." gerutunya kesal sambil memencet tombol matikan panggilan begitu kencang.
Jonathan saat ini telah selesai berkencan dengan seorang wanita di sebuah hotel. Setelah olahraga panas yang ia lalui, iapun tertidur karena lelah.
Tanpa dirinya sadari, teman wanitanya ternyata telah mematikan ponselnya. Ia juga menaruh obat tidur di minuman Jonathan sehingga lelaki itu terlelap begitu saja.
Wanita itu segera menghubungi seseorang,
" Aku telah memberinya obat tidur, kau bisa mengirim sisa imbalanku sekarang. " ucapnya pada seseorang diseberang sana.
" Baiklah, Lady. Aku senang kau bisa menyelesaikan tugasmu dengan baik. " ucap seseorang dari seberang telepon.
Wanita itu segera meninggalkan kamar hotel agar jejaknya tidak diketahui oleh Jonathan.
" Bye pria tampan, tenagamu boleh juga. Tapi uangmu aku lebih suka. " ia menguras isi dompet Jonathan sebelum pergi.
Sedang penelpon tadi sangatlah senang sebab rencananya berjalan lancar.
" Sebentar lagi,, sebentar lagi aku pasti akan mendapatkan seluruh harta keluarga Mulawarman. Ha..ha..Ha.." seringainya penuh kemenangan.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like, koment, rate n vote seikhlasnya buat karya terbaruku. Makasih dukungannya😍